Tampilkan postingan dengan label Dhamma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dhamma. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2018

36 jenis Arus Nafsu

Notes :

Yang dimaksud dengan 36 jenis arus nafsu adalah sebagai berikut.
Tanha/craving/nafsu keinginan ada 3 :
- kāma-taṇhā : nafsu keinginan akan nafsu indria
- bhava-taṇhā : keinginan untuk “menjadi” atau “ada”
- vibhava-taṇhā : keinginan untuk “tidak menjadi” atau "tidak ada" atau

Ada 6 landasan (ayatana) internal : yaitu melalui :
mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran.

Ada 6 landasan (ayatana) external : yaitu melalui :
bentuk/forms, suara/bunyi, bebauan, rasa, sentuhan, dan ide/bentuk-bentuk pikiran.

3 jenis tanha yang melalui 6 landasan internal diatas -> menghasilkan 18 jenis tanha.
3 jenis tanha yang melalui 6 landasan external diatas -> menghasilkan 18 jenis tanha.
Sehingga total ada 36 jenis arus nafsu. 

Sumber: www.sariputta.com

Selasa, 16 Oktober 2018

MEMECAHKAN MASALAH By Ven Ajahn Brahm.

Sudah berapa banyakkah Anda mencoba memecahkan “masalah”? Anda akan terus mencoba memecahkannya bukan hanya sampai Anda meninggal dalam kehidupan ini saja, namun selama berapa banyak masa kehidupan Anda selanjutnya, lagi dan lagi. Alih-alih, pahamilah bahwa dunia ini hanyalah permainan indra-indra saja. Hanyalah lima khanda (kelompok kemelekatan bentuk (rupakkhandha), kelompok kemelekatan perasaan (vedanakkhandha), kelompok kemelekatan pencerapan (sannakkhandha), kelompok kemelekatan bentuk-bentuk pikiran (sankharakkhandha), dan kelompok kemelekatan kesadaran (vinnanakkhandha).”
(Digha Nikaya 22) yang melakukan urusan mereka; itu tidak ada urusannya dengan Anda. Itu hanya orang, orang biasa, dunia hanya dunia biasa.

Terkadang di vihara kami, Anda melihat serombongan besar burung kakatua. Mereka sangat berisik. Beberapa orang mengatakan jika mereka tidak menyukai suara kakatua, namun entah Anda suka atau tidak suka akan suara kakatua, burung-burung itu tetap saja ribut, jadi mengapa kita sendiri yang tidak melepaskan keterlibatan kita di dalamnya?

Sebagai seorang meditator, saya dahulu sering bertanya kepada diri saya sendiri, “Mengapa suara bisa mengusik saya?” Apakah itu suara burung di luar atau suara seseorang sedang batuk atau membanting pintu di balai utama, mengapa saya bisa mendengarnya? Mengapa saya tidak mampu melakukan hal yang sama dengan mata saya yang tertutup, yaitu mencari “kelopak” dan menutupi telinga saya? Melalui perenungan suara dan memahami bagaimana kerjanya, menjadi cukup jelas bahwa satu-satunya alasan saya mendengarnya adalah karena saya keluar dan mendengarkannya. Ada keterlibatan yang aktif dengan dunia suara. Itulah sebabnya suara itu dapat mengusik saya. Ajahn Chah guru saya dahulu sering mengatakan bahwa bukan suara itu yang mengusik Anda; Andalah yang mengusik suara itu. Itu suatu ungkapan yang sangat mendalam, dan itu banyak berarti bagi saya. saya menggunakan ungkapan itu untuk memahami sifat suara dan mengapa suara terdengar begitu mengusik.

Ketika seseorang memanggil Anda babi, idiot, atau apa pun, Anda tidak perlu mendengarnya. Kita mendengarnya karena kita sendiri yang tertarik kepadanya; kita terlibat dengannya dan melekat pada dunia suara itu. Namun jika kita menyadari bahwa suara itu datang sesuai sifat alaminya, saat itulah kita mengalami nibbida (ketidakmelekatan). Ada suara indah, suara gila, dan suara burung. Sebagian burung bersuara merdu dan sebagian lagi dapat merusak kuping, seperti gagak, suaranya sangat mengerikan. Namun itu bukanlah salah gagak; memang begitulah suara alaminya mereka, sama halnya dengan vihara: sebagian anagarika (bhikkhu) seperti gagak dan sebagian seperti burung bulbul sebagian bhikkhu bicara dengan indah, sebagian bicara dengan mengerikan. Itulah alaminya mereka, itu saja. Itu tidak ada hubungannya dengan kita, dan karena itulah kita semestinya melepaskan diri dari keterlibatan.

Ketika kita bisa melepaskan keterlibatan dari hal-hal ini melalui nibbida (ketidakmelekatan), mereka akan memudar. Duka memudar ketika sebab duka memudar. Dunia indriya mulai pupus lenyap ketika kita tidak begitu peduli untuk mengubahnya. Ketika kita melepas keterlibatan diri darinya dengan nibbida (ketidakmelekatan), kita merasa muak dengan dunia indra, dan mulai menolaknya. Ini karena nibbida (ketidakmelekatan) muncul dari melihat dunia sebagaimana adanya, dengan itu, kita bergerak ke arah yang berbeda dibandingkan dengan penghuni dunia lainnya yang masih satu dunia dengan kita.

Sumber: Dhamma Kehidupan

Senin, 30 April 2018

TINGKAT KESUCIAN

Disusun oleh : Tanhadi

Tingkat kesucian dalam agama Buddha dapat dibagi dalam dua golongan :

·       Puthujjana - Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum mencapai tingkat kesucian.

·       Ariya-puggala - Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang setidak-tidaknya telah mencapai tingkat kesucian pertama.

Setiap orang yang belum menapaki jalan kesucian dikenal sebagai puthujjana, yang secara harafiah berarti "orang awam". Jika dibandingkan dengan orang yang telah menapaki jalan kesucian (ariya-magga), maka puthujjana akan terkesan "gila" atau "kacau", oleh karena belum memiliki keseimbangan batin.

1.  Empat Tingkat Kesucian

Buddhisme mengenal empat jenis orang suci(ariya) yang terdiri dari Sotapanna (Skt Srotapanna), Sakadagami (Skt Sakrdagamin),Anagami, dan Arahat.

2.  Derajat kesucian ini didasarkan atas jumlah belenggu (samyojana) yang telah mereka patahkan. Aliran Theravada mengenal adanya sepuluh belenggu yang menyebabkan para makhluk terus berputar-putar dalam samsara.

Kesepuluh belenggu itu adalah:

1.  Sakkayaditthi  : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.

2.  Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.

3.  Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.

4.  Kamaraga : Nafsu Indriya.

5.  Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.

6.  Ruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. (rupa-raga).

7.  Aruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk.

8.  Mana = Ketinggian hati yang halus, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain .

9.  Uddhacca = Bathin yang belum seimbang benar.

10.  Avijja = Kegelapan bathin, Suatu kondisi batin yang halus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).

1.     Sotapanna

Kebanyakan umat Buddhis berusaha melatih sila dasar dan menjadi sempurna hanya dalam diri orang-orang yang telah mendekati tingkatan Sotapanna (Skt Srotapanna), dimana kata ini secara harafiah berarti "Pemasuk Arus". Pada tingkatan Sotapanna, seorang mendapatkan sekilas pandangan yang pertama atas Nibbana dan mulai menapaki jalan kesucian.

Seorang Sotapanna diyakini telah mematahkan tiga belenggu pertama (Samyutta-Nikaya) , yaitu :

1.  Sakkayaditthi  : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.

2.  Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.

3. Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.

Tetapi Ia belum berhasil membebaskan dirinya dari hawa nafsu. la telah terbebas dari kelahiran kembali sebagai makhluk neraka, hantu, binatang, atau asura. la dipastikan menjadi Arahat setelah mengalami kelahiran kembali maksimum tujuh kali lagi (Anguttara-Nikaya).

Belenggu pertama dihancurkan dengan penembusan mendalam ke dalam Empat Kebenaran mulia dan Sebab Musabab yang Saling Bergantungan. Belenggu kedua dihancurkan karena ia telah "melihat" dan "terjun ke dalam" Dhamma (Majjhima-Nikaya). Belenggu ketiga dihancurkan karena kendati moralnya murni, namun ia menyadari bahwa itu saja masih belum memadai untuk mencapai Nibbana.

  

Ada tiga macam Sotapanna :

a)   Ekabiji Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali sekali lagi.

b)   Kolamkola Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali dua atau tiga kali lagi.

c)   Sattakkhattuparana Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali tujuh kali lagi.

2.     Sakadagami

Dengan memperdalam penembusan pandangan terangnya, seseorang bisa mencapai tingkatan Sakadagami ("Yang Hanya Kembali Sekali Lagi"). Seorang Sakadagami telah mematahkan tiga belenggu Sotapanna(Sakkayaditthi, Vicikiccha , Silabbataparamasa) dan melemahkan belenggu-belenggu Anagami , yaitu :

4.  Kamaraga : Nafsu Indriya.

5.  Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.

Seorang Sakadagami dilahirkan kembali maksimum sekali lagi di dalam dunia alam nafsu keinginan (kamadhatu) sebagai manusia atau makhluk surga tingkat bawah sebelum mencapai Nibbana.

3.     Anagami

Seorang Anagami ("Yang Tidak Terlahir Kembali") telah mematahkan sepenuhnya kelima belenggu (Sakkayaditthi, Vicikiccha , Silabbataparamasa, Kamaraga dan Vyapada). Ia tidak lagi dilahirkan di alam nafsu (manusia). Namun pencapaiannya belumlah memadai untuk menjadikannya seorang Arahat, dan bila ia belum sanggup untuk menjadi seorang Arahat pada kelahiran berikutnya, maka ia akan terlahir kembali di surga pertama dari "lima kediaman suci"(Alam Suddhavasa), atau surga-surga terhalus dan termurni di antara surga-surga di Alam Berwujud. Hanya seorang Anagami- lah yang dilahirkan di sana. Di surga ini ia akan mengembangkan penembusannya hingga mencapai tingkat kesucian Arahat dan mencapai parinibbana.

Ada lima macam Anagami :

1.  Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan pertama dari masa kehidupan mereka  ( Antaraparinibbayi ).

2.  Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan kedua dari masa kehidupan mereka ( Antaraparinibbayi ).

3.  Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha keras ( Sasankhara parinibbayi )

4.  Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha ringan ( Asankhara parinibbayi)

5.  Mereka yang mencapai alam kehidupan akanittha, yaitu alam kehidupan yang tertinggi    (Uddham-soto-akanitthagami)

Dua yang pertama digolongkan berdasarkan atas masa kehidupan mereka, sedangkan yang ketiga dan keempat berdasarkan usaha-usaha mereka, sedangkan yang kelima ditandai melalui alam tujuan mereka.

4.     Arahat

Seorang Arahat telah mematahkan seluruh sepuluh belenggu ini , sehingga dengan demikian mengakhiri dukkha dan semua kelahiran kembali dalam pengalaman Nibbana yang penuh kebahagiaan. Seorang Arahat mempunyai kemampuan terbang dengan tubuh jasmaninya, sedangkan tingkatan-tingkatan yang lebih rendah daripadanya hanya dapat terbang dengan menggunakan kesadarannya.

Catatan:

- Untuk Belenggu ruparaga dan aruparaga, Apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III atau Jhana IV , maka ia dilahirkan di Alam bentuk (rupa-raga).

Lima Samyojana/Belenggu pada Sotapanna dan Anagami dikenal sebagai lima belenggu rendah atau Orambhagiya-samyojana, Lima samyojana berikutnya pada Belenggu arahat dikenal dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhagiya-samyojana.

Orambhagiya-samyojana dan Uddhambhagiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat.

oooOOooo

Selasa, 31 Oktober 2017

Atthasila

8 Sila / Atthasila tersebut diuraikan sebagai berikut :

1.Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami
Bertekad melatih diri untuk menghindari menyakiti dan membunuh mahluk hidup apapun juga.

2.Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami
Bertekad melatih diri untuk menghindari mengambil barang yang tidak diberikan / diijinkan (mencuri).

3.Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami
Bertekad melatih diri untuk menghindari hubungan seksual.

4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami
Bertekad melatih diri untuk menghindari ucapan / kata-kata tidak benar, yang kasar, memfitnah dan menyakiti mahluk lain (berbohong).

5.Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami
Bertekad melatih diri untuk menghindari segala minuman keras (serta bahan-bahan lainnya) yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran.

6.Vikala-bhojana veramani sikkhapadam samadiyami
Bertekad melatih diri untuk menghindari makan makanan di waktu yang salah, yaitu lewat tengah hari. Pengertian di sini adalah bahwa seseorang tidak boleh makan setelah lewat tengah hari hingga subuh/dinihari. Patokannya adalah untuk tengah hari, ketika matahari tepat di atas kepala atau pukul dua belas, dan untuk subuh/dinihari adalah ketika tanpa lampu, seseorang dapat melihat garis tangannya sendiri atau ketika matahari terbit. Jadi seseorang boleh makan (berapa kali pun) hanya pada waktu dinihari/subuh sampai tengah hari (sekitar jam 12).

7. Naccagita-vadita-visukadassana malagandha-vilepana dharana-mandana vibusanatthana veramani sikkhapadam samadiyami
Bertekad melatih diri untuk menghindari menari, menyanyi, bermain musik, melihat permainan / pertunjukan, tidak memakai bunga-bungaan, wangi-wangian dan alat kosmetik yang lain untuk tujuan menghias / mempercantik diri.

8. Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami
Bertekad melatih diri untuk menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi, besar dan mewah.

Puasa dalam agama Buddha sedikit berbeda dan diperbolehkan minum. Dalam agama Buddha puasa itu di sebut Uposatha. Puasa ini tidak wajib bagi umat Buddha, namun biasanya dilaksanakan dua kali dalam satu bulan (menurut kalender buddhis dimana berdasarkan peredaran bulan), yaitu pada saat bulan terang dan gelap(bulan purnama). Namun ada yang melaksanakan 6 kali dalam satu bulan, tetapi puasa (uposatha) tersebut tidak wajib.
Uposatha artinya hari pengamalan (dengan berpuasa) atau dengan pelaksanaan uposatha-sila pada hari atau waktu tertentu (dapat disebut hari uposatha). Puasa tersebut dilaksanakan dengan menjalani uposatha-sila.
Jadi, puasa (uposatha) seorang umat Buddha dinyatakan sah, apabila ia mematuhi ke-8 larangan tersebut seperti yang tertulis di atas. Jika salah satu larangan tersebut dilanggar—baik sengaja atau tidak— berarti ia puasanya (uposatha-nya) tidak sempurna.

Kapan umat Buddha menjalankan puasa atau uposatha?
Hari Uposatha adalah setiap tanggal 1, 8, 15 dan 23 menurut penanggalan lunar (bulan) hari uposatha di sebut juga uposathadivasa yaitu hari suci dan hari penuh berkah, meski bukan bersifat wajib diharapkan pada hari uposatha para upasaka dan upasika melatih diri dengan menjalankan atthanga uposathasila yaitu 8 (delapan) peraturan yang harus dijalankan pada hari uposatha.

Minggu, 22 Mei 2016

Buddha Mencapai Pencerahan Sempurna

Setelah istirahat singkat, Buddha melanjutkan perjalanan akhirNya menuju hutan sala milik kaum Malla dekat Kusinara, tempat peristirahatan terakhirNya. Setibanya di sana, Buddha dengan penuh perhatian murni dan sangat sadar berbaring di sisi kananNya di antara kedua pohon sala kembar. Para dewa dari sepuluh ribu tata dunia datang untuk melihat Tathagata dan memberi penghormatan.

Sebelum parinibbana, Buddha menahbiskan siswa terakhir, Subhadda si petapa kelana dan membimbingnya bermeditasi dengan cara tepat. Dalam waktu singkat, ia mencapai kesucian Arahatta dan merupakan orang terakhir yang menjadi Araha saat Buddha masih hidup.

Kemudian, Buddha menyampaikan pesan terakhirNya, "Vayadhammā saṅkhārā appamādena sampādethā"
"Segala hal yang terkondisi pasti akan hancur. Berjuanglah dengan penuh kesadaran."

Setelah itu, seluruh hutan sala sunyi senyap. Pada waktu jaga terakhir malam hari*, pada hari bulan purnama bulan Vesakha 543 SM, pada umur 80 tahun Yang Tercerahkan wafat tanpa meninggalkan sisa apapun.

*Malam waktu jaga terakhir : sekitar pukul 02.00-06.00

--------------------------------------------------------------------------------

Meskipun Buddha telah lama parinibbana, namun bagi ia yang mempraktikkan dan melihat Dhamma, maka ia melihat Buddha

Rabu, 18 Mei 2016

54 WEJANGAN SUCI NAN HAI KU PU SHA

1.Kesibukan yang melelahkan tetapi hati merasa senang dan berbahagia.

2.Walaupun sibuk masih bisa tenang sehingga letih badan tidak begitu terasa.

3.Terhadap urusan membina diri harus bergegas tetapi jangan terburu-buru, badan dan jasmani harus rileks jangan tegang, menemukan masalah apapun hati bisa tenang, berderma sesuai dengan kerelaan hati.

4.Memberikan keleluasaan kepada orang lain seperti memberikan kemudahan kepada diri, hal ini sama dengan menanam ladang rejeki.

5.Kelapangan dada harus besar, keakuan harus diperkecil, sehingga dalam menyelesaikan tugas tidak banyak menemui rintangan.

6.Kebutuhan sebenarnya tidak banyak, tetapi keinginan sangat berlebihan, kemelekatan ini yang menjadi lautan penderitaan.

7.Orang yang mudah terpengaruh oleh lingkungan adalah orang awam, sebaliknya hati nurani seseorang yang bisa merubah suatu kondisi adalah orang suci.

8.Senantiasa bersyukur, dengan suka rela mengamalkan pemikiran, dana dan tenaga.

9.Orang yang aktif bekerja tahan diuji, orang yang bertanggung jawab tentu banyak dikritik, dapat bertahan atas ketidakpuasan orang lain, bisa menimbulkan kesabaran, dalam kritikan terkandung kata-kata bernilai bagaikan batu giok.

10.Harus dapat melepaskan baru bisa memikul tanggung jawab, mampu memikul dan melepaskan, itulah kehidupan manusia yang bebas.

11.Dalam kehidupan ini coba belajar mempunyai pemikiran, bila dapat memiliki adalah sangat baik, kalau tidak juga tidak ada masalah, dengan demikian akan merubah penderitaan menjadi kebahagiaan.

12.Kebutuhan, sesuatu yang pantas dan bisa diperoleh harus diperjuangkan.

13.Bila semakin banyak mengetahui kekurangan diri sendiri, maka kemajuan akan lebih pesat, dan semakin teguh dalam keyakinan.

14.Hanya dengan mengalami sendiri pahit getirnya kehidupan, maka akan termotivasi untuk maju.

15.Ucapan yang sudah diujung bibir harus dipikir terlebih dahulu, bukan tidak boleh diucapkan, tetapi harus hati-hati saat berbicara.

17.Yang semestinya dimiliki; diperbolehkan, tetapi yang tidak pantas dan tidak boleh dimiliki; jangan!

18.Kurangi kebiasaan mencela, lebih banyak memuji, ini adalah cara terbaik untuk mengurangi dosa yang diakibatkan oleh mulut.

19.Kesuksesan ada tiga tahapan yaitu sesuai jodoh; sayangi jodoh dan ciptakan jodoh.

20.Dengan kearifan senantiasa luruskan yang menyimpang, dengan hati yang welas asih memberikan keleluasaan kepada orang lain.

21.Sayangilah jodoh yang kita miliki, kalau tidak memiliki harus menciptakan, bila waktu belum tiba jangan dipaksakan.

22.Arti kehidupan yang sesungguhnya adalah menerima balasan karma, menunaikan ikrar dan berikar lagi.

23.Kehidupan manusia yang bermakna adalah memberikan pelayanan kepada orang lain, hidup yang bernilai adalah bisa dengan hormat mengabdi.

24.Yang semestinya memaafkan, maafkanlah, ini adalah kesetiaan dan kemurahan hati.

25.Berhadapan dengan masalah yang pelik hendaklah dengan kearifan dan welas asih untuk menyelesaikan, tidak memperhitungkan untung rugi, sehingga kerisauan menjadi berkurang.

26.Semakin mempunyai hati yang welas asih, semakin tinggi kearifan dan hasil juga semakin banyak.

27.Masa lalu sudah lewat, masa depan masih impian, yang terpenting adalah manfaatkan saat ini.

29.Kearifan bukan pengetahuan, bukan perdebatan, tetapi melampaui kemelekatan dalam diri.

29.Orang yang giat dan rendah hati mendapatkan nilai sempurna, sebaliknya keakuan semakin besar, hati semakin tidak tentram.

30.Orang yang puas diri tahu kapan harus berhenti dan tidak memalukan, orang yang tahu untuk berhenti tidak akan bahaya bahkan lebih langgeng.

31.Semua tindakan yang paling mendasar diawali dengan kesabaran, dalam Sad Paramitha, kesabaran merupakan point pertama, dengan kesabaran dapat menghapus semua kejahatan, dengan kesabaran dapat terhindar dari bencana, dapat mengendalikan amarah baru bisa melakukan hal besar.

32.Kita harus bertanggung jawab dan mengatur dengan baik segala yang ada dalam alam semesta, jika tidak memikul tanggung jawab ini sulit memiliki kader yang berbakat, jika tidak mengatur dengan baik tidak bisa mendapat dukungan orang banyak.

33.Busur kalau kaku bisa patah, orang yang angkuh banyak mendapat rintangan, orang yang bijaksana tampak lugu, orang yang rendah hati akan dihormati, orang yang menyombongkan diri justru menimbulkan keraguan.

34.Seorang pembina diri yang berbakat merupakan aset yang paling berharga untuk wadah Ketuhanan, ia berakhlak, memiliki kemampuan menangani masalah dan mampu mengembangkan diri.

35.Seorang pembina diri yang mempunyai karakter baik akan memiliki kharisma.

36.Membimbing orang untuk mencapai ketenangan harus dengan menanamkan sifat lugu kedalam diri, yang terpancar keluar adalah kepintaran. Kalau tidak bersikap bodoh dan tuli sulit menjadi mertua, hidup ini sebaiknya bersikap lugu.

37.Orang yang sederhana selalu memiliki hati yang gembira, orang yang tidak pernah puas selalu merasa kurang.

38.Bila terlalu antusias bisa merugikan; sering mengeluh tidak timbul kearifan, jangan karena gembira lalu banyak berbicara, jangan karena ingin cepat sehingga menghalalkan segala cara.

39.Bila umat bersuka cita, maka Yang Tercerahkan pun ikut gembira, bila Yang Tercerahkan bergembira, umat manusia lebih bahagia lagi.

40.Terkumpulnya niat baik akan membentuk kekuatan yang besar, pertahankanlah terus keindahan ini.

41.Jika bukan satu keluarga tidak akan masuk ke rumah yang sama, kalau sudah menjadi satu keluarga berarti sudah tidak ada orang luar, semakin merasa diri sendiri adalah keluarga, harus belajar untuk mengalah, memahami dan memikul tanggung jawab, lakukan lebih banyak pekerjaan dari pada orang lain, baru bisa menjadi panutan.

42.Menghadapi kesulitan yang berat harus dipikirikan dengan baik cara yang paling tepat, air bisa berbalik arah jika mendapat tekanan, api yang disiram akan membara, manusia yang tertekan akan menjadi kacau.

43.Bersama orang yang bersifat kerdil juga dapat memupuk budi luhur kita, semakin dipermalukan kita semakin tegar, dapat menghilangkan dosa karma. Kalau tidak bertemu orang kerdil yang merugikan kita, bagaimana bisa mengukur seberapa besar kelapangan hati kita.

44.Gunakan kelebihan orang, maklumi kekurangan orang, demi kebersamaan yang besar, lupakanlah kepentingan pribadi, orang yang welas asih membicarakan tentang kesetiakawanan bagaikan sutra sejati.

45.Manusia punya kelebihan dan kekurangan, hendaknya memberikan tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing, hadapi masalah dengan kerendahan hati.

46.Lahir, tua, sakit, mati adalah hukum alam, siapapun tidak bisa menghindarinya.
Setiap kelahiran dosa yang terkumpul, semakin lama semakin banyak, siapapun tidak dapat terlepas dari hal itu, semua ini akibat dari karma yang terbentuk dari "hati manusia", sehingga membutuhkan ketulusan agar waspada dan mentaati pantangan.

47.Skenario kehidupan terbentuk dari akumulasi perbuatan di masa lampau, terimalah dengan gembira, hadapi setiap saat dengan realistis, jangan berkeluh kesah, dengan pintu hati yang terbuka maka nasib pun berubah.

48.Dengan kesungguhan hati bertobat barulah bisa mencabut akar kerisauan dan kebodohan batin.

49.Membina diri adalah merubah kebiasaan, bila kebiasaan buruk bisa dihilangkan baru dapat bersosialisai dengan orang lain.

50.Begitu timbul niat dalam hati akan ada keinginan memiliki, jika bisa didapat akan bahagia, jika tidak akan menderita, dapat atau tidak dapat sudah menanam karma, jika bisa menghilangkan sifat ini kita akan berkembang lebih dari yang sebenarnya.

51.Jika dalam hati ada Yang Tercerahkan, maka dalam melaksanakannya akan ada tata krama, dalam tata krama bisa membangkitkan kita untuk introspeksi dan mengasihi umat manusia.

52.Biarlah pembinaan diri yang agung ini menyebarkan kabar baik dari surga, setiap tempat yang dilewati para pembina diri meninggalkan jejak, dengan kehangatan menggugah setiap orang, bencana jauh hati manusia pun tentram.

53.Welas asih yang besar dapat membuka jalan, perasaan senasib dan sependeritaan bisa menjadi jembatan, kearifan yang besar dapat menjadi magnit dan menenangkan hati, sifat keprimanusiaan yang besar dapat menggugah, sifat satria yang besar tidak membeda-bedakan, ikrar yang besar dapat menahan hinaan, teguh dalam melaksanakan akan membuat kita tegar.

54.Saat kebajikan dan kebaikkan lebih besar daripada kekuatan karma, bisa mengubah bencana menjadi keharmonisan, hati welas asih bisa meredam segala cobaan iblis dan menjauhkan segala kesesatan, hati yang gembira memohon keinginan akan terwujud, hati yang sukarela berderma akan mendapat keselamatan.

Senin, 09 Mei 2016

Munculnya Kemelekatan

Namaste Sotthi Hontu.

"-Munculnya Kemelekatan-"

Ven Ajahn Chah

         Ketika suasana hati sedang menyenangkan disana akan muncul kemelekatan, dan kita pasti akan menyukainya. Dan pada saat susana hati tidak menyenangkan, kita juga akan melekatinya, disana kan muncul perasaan tidak suka. Keduanya adalah jalan yang salah, bukanlah jalan seorang yang melatih Dhamma. Mereka adalah jalan duniawi, yang hanya mencari kesenangan dan kebahagiaan saja, serta menghindari ketidak-senangan dan penderitaan. Orang bijaksana mengetahui akan hal ini, dan akan meninggalkan dua jalan ekstrim itu, ia tidak akan tergoyahkan oleh kesenangan dan ketidaksenangan, kebahagiaan maupun penderitaan.

          Ketika mereka hadir ia tidak melekat, tapi membiarkan hal-hal itu berlalu sesuai hakikat mereka. Inilah pandangan benar. Saat seseorang mengetahui hal ini sepenuhnya, tumbuhlah kebebasan, kebahagiaan dan penderitaan tidak berarti lagi bagi mereka yang telah mencapai pencerahan.

          Buddha mengatakan bahwa mereka yang telah memperoleh pencerahan akan jauh dari segala kekotoran. Namun bukan berarti mereka melarikan diri dari kekotoran. Mereka tidak lari kemana-mana. Kekotoran tetap berada disana. Beliau membandingkannya dengan daun teratai didalam kolam. Daun dan air ada bersamaan, mereka berhubungan, tetapi daun tidak menjadi basah karena air. Air dalam hal ini kekotoran, sedang daun teratai adalah pikiran yang tercerahi.

            Pikiran mereka yang menjalani latihan pun sama, tidak lari kemana-mana, baik, buruk, bahagia, menderita, benar atau salah muncul disana, dan pikiran mengetahui semuanya. Meditator hanya mengetahui, hal-hal ini tidak masuk kedalam pikirannya. Ia tidak mempunyai kemelekatan, ia benar-benar telah terlatih. Menggunakan kata ia benar-benar terlatih adalah bahasa yang lazim kita gunakan. Dalam bahasa Dhamma, kita katakan kalau ia membiarkan pikirannya mengikuti jalan tengah.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.

Rabu, 04 Mei 2016

Nibbana

Nibbana
Sumber Tulisan: Artikel Buddhis

Nibbana merupakan sesuatu yang tak dipahami oleh pemikiran biasa. Usaha menjelaskan Nibbana dalam bahasa keduniawian akan mengalami kegagalan, karena Nibbana tidak bersifat duniawi, malah berlawanan. Mengatakan bahwa Nibbana sama dengan ini dan sama dengan itu ibarat menggambarkan kucing sama dengan harimau.

Nibbana bukanhlah kemusnahan. Mungkinkah Sang Buddha meninggalkan kerajaan, istri, anak, dan keluarga hanya untuk mencapai sesuatu yang musnah? Nibbana bukan suatu keberadaan. Nibbana berada di luar keberadaan dan ketidak beradaan, di mana kedua aspek itu bersyarat, mutlak, dan tidak dapat digambarkan sebagai keberadaan maupun ketidak beradaan.

Nibbana ya Nibbana. Sabda Sang Buddha dalam Udana:

"Itulah tempatnya dimana tiada tanah maupun air, tiada api maupun udara, bukan dunia ini pun bukan dunia lain, tanpa matahari maupun bulan. Aku nyatakan pada kalian, disana tidak ada yang datang maupun pergi, tak ada yang tetap maupun timbul, tanpa awal tanpa akhir,tanpa perkembangan, tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak diciptakan, dan yang mutlak.

Saat dalam kedalaman dan keheningan pikiran, Yang Suci Bijaksana mencapai kebenaran, Ia terlepas dari kegembiraan dan rasa sakit, dari yang berbentuk dan tidak berbentuk. Di mana air, tanah, dan udara tidak ditemukan. Tiada bintang maupun matahari yang bersinar, bulan tidak lagi memancarkan cahayanya. Namun, kegelapan tidak ada disana."

Setelah Parinibbana, Sang Tathaghata tidak dapat dikatakan ada, juga tidak dapat dikatakan tidak ada. Tidak dapat pula dikatakan ada baik kedua-duanya ada dan tidak ada. Tidak bisa pula dikatakan ada atau tidak ada. Di dalam Milanda Panha disebutkan, "Tidak di tempat yang terlihat di timur, selatan, barat, atau utara, di atas, di bawah, atau di luar di mana Nibbana berada, walau demikian Nibbana adalah milik orang yang mengatur hidupnya dengan benar, berbicara dengan benar, dan memiliki pengertian benar di manapun dia hidup."

Nibbana bukanlah sesuatu yang tercipta dengan sendirinya, juga bukan sesuatu yang diciptakan.

"Di mana tidak terdapat 4 unsur air, tanah, api, dan angin, di situlah Nibbana."

"Di mana ke-4 unsur yang mengikat, membentang, membakar, dan bergerak tidak lagi ditemukan, di situlah Nibbana."

"Oh, para bhikkhu, seperti sungai-sungai yang mencapai samudra dan derasnya hujan yang jatuh dari langit, tak ada kekurangan atau kelebihan yang dapat teramati pada samudra, demikian pula bahwa banyak para bhikkhu yang memasuki Nibbana tak bersisa, tak ada kekurangan atau kelebihan di dalam Nibbana," kata Sang Buddha.

Dinyatakan dalam Visudhi Maggha:

"Kesedihan memang ada, tak ada yang disedihkan, tidak ada pelaku pelaku di sana, tidak ada hasil perbuatan ditemukan, Nibbana ada, tetapi tak ada si 'pencari'. Jalannya ada, tetapi si penempuh tidak sesungguhnya ada"

Nibbana berada di luar jhana , karena di sana api keserakahan, kebencian dan kegelapan batin beserta semua gangguan yang menyertai, hambatan dan penderitaan berakhir. Demikianlah, Nibbana sendiri abadi, bahagia, dan patut didambakan Laksana seorang yang menderita penyakit kulit yang menimbulkan rasa gatal, dan Nibbana seperti kebahagiaan saat penyakitnya telah disembuhkan. Kebahagiaan sementara didapatkan ketika ia menggaruk, tetapi kuku yang segera menginfeksi menjadi sebab yang memperpanjang penyakit penyakit tersebut. Seperti itulah kerinduan akan nafsu membawa kepuasan sementara yang akan memperpanjang lingkaran kelahiran kembali.

Begitulah Nibbana di mana 108 kemelekatan, usia tua, penyakit, kematian, penyesalan, rasa sakit, keputusasaan dan kesedihan, dihentikan sepenuhnya. Demikianlah, saat kondisi tertinggi tercapai, kita akan memahami bagaimana kehidupan bahagia yang kita rindukan itu tak pernah diperoleh. Mimpi kita akan berakhir. Tidak akan ada lagi angan-angan. Prahara berakhir. Perjuangan hidup selesai. Proses alamiah akan berhenti. Maka, sang roda kereta kehidupan akan patah. Keinginan untuk hidup berakhir. Dasar sungai akan mengering. Tiada air lagi yang mengalir.

Tidak akan roda yang patah itu bergulir. Inilah akhir kesedihan. Inilah pelepasan akhir. Yang tersisa hanya NIBBANA.

Sadhu...Sadhu...Sadhu...

Jumat, 29 April 2016

Uposatha dan Atthasila

Written by Laurens Kwoo

Seseorang tidak sepatutnya membunuh makhluk lain atau mengambil barang yang tidak diberikan;

Ia seharusnya tidak mengucapkan kebohongan atau menjadi peminum dari minuman keras;

Ia seharusnya berpantang dari hubungan sexual;

Ia seharusnya tidak makan di malam hari, di waktu yang tidak tepat;

Ia seharusnya tidak mengenakan kalung bunga atau wewangian;

Ia seharusnya tidur di kasur jerami, tikar sederhana yg terbentang di lantai  —

karena inilah delapan faktor dari Uposatha

yang telah dinyatakan oleh Yang Terbangkitkan

Menuju pada akhir dari penderitaan dan ketegangan.

 

Bulan & matahari, keduanya indah untuk dilihat,

Memancarkan cahaya kemanapun mereka pergi,

& mencerai-beraikan kegelapan kemanapun mereka bergerak di angkasa,

Mencerahkan angkasa, menerangi ruang-ruang.

  Dalam jangkauannya ditemukan kekayaan:

          mutiara, kristal, permata pirus,

          batu keberuntungan, platinum, emas murni,

          & emas yang dimurnikan yang disebut 'Hataka.'

          Meskipun demikian — semua ini seperti sinar dari semua bintang ketika dibandingkan dengan bulan —

tidaklah sepadan bahkan seperenambelasnya dibandingkan dengan delapan faktor Uposatha.

 

Jadi siapapun — laki-laki atau perempuan —

yang dilengkapi dgn kebajikan-kebajikan dari delapan faktor Uposatha ini,

telah melakukan perbuatan bermanfaat, menghasilkan kebahagiaan,

melampaui celaan, menuju pada kondisi surgawi

- Muluposatha Sutta: Akar-akar dari Uposatha, Anguttara Nikaya 3.70 -

 

Uposatha atau dalam bahasa Sansekerta Upavasatha adalah hari yang penting dalam tradisi Buddhis. Hari Uposatha adalah hari dimana umat perumah tangga menjalankan praktik Atthasila (menjalankan delapan sila) dan para Bhikkhu akan mengulang Patimokha (aturan-aturan kebhikkhuan/vinaya).

Upavasatha juga dikatakan merupakan akar kata dari puasa dalam bahasa Indonesia yang berasal dari kata 'upavāsa' (baca: upawaasa) atau upavassa' (baca : upawassa) yang terdiri dari kata upa = dekat/mendekat; vāsa atau vassa = berdiam/tinggal.

Hari uposatha mengacu pada penanggalan bulan gelap dan bulan terang.

Hari itu digunakan sebagai acuan bagi umat perumah-tangga untuk masuk ke dalam praktik memegang 8 aturan moralitas (Attha= delapan ; sila: moralitas).

Berikut ini adalah 8 aturan moral yang dilaksanakan oleh umat perumah-tangga atau upasaka dan upasika:

1. Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup.

2.Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan.

3. Abrahmacariya veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari perbuatan tidak suci.

4. Musavada veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar.

5. Suramerayamajja pamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari minuman memabukkan hasil penyulingan atau peragian yang menyebabkan lemahnya kesadaran.

6. Vikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari.

7. Nacca-gita-vadita-visukkadassana mala-gandha-vilepana-dharana-mandana-vibhusanathana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad melatih diri menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan pergi melihat pertunjukkan, memakai, berhias dengan bebungaan, wewangian, dan barang olesan (kosmetik) dengan tujuan untuk mempercantik tubuh

8. Uccasayana-mahasayana veramani sikkhapadam samadiyami

Aku bertekad untuk melatih diri menghindari penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan besar (mewah).

Apa perbedaan dengan Pancasila yang selama ini kita kenal? Pancasila merupakan aturan moral dasar/kebiasaan baik (pakati sila) yang wajib dipegang teguh oleh seorang Upasaka/upasika. Sedangkan jika kita lihat pada Atthasila terdapat 3 aturan tambahan dan ada perubahan pada sila ketiga yaitu:Kamesumicchacara menjadi Abrahmacariya.

Abrahmacariya mengacu pada absensi dari melakukan hubungan sexual secara total. Sedangkan pada Pancasila masih memperbolehkan terjadinya hubungan sexual selama dengan pasangan sah masing-masing.

Lalu pada Vikalabhojana veramani sikkhapadam samadiyami:

Aku bertekad melatih diri menghindari makan makanan setelah tengah hari. Maksudnya adalah tidak makan setelah lewat dari siang hari, dan hanya diperbolehkan untuk minum minuman seperti madu, air gula, jus (dgn catatan buahnya tidak boleh lebih besar dari satu kepalan tangan), khusus untuk susu tidak diperkenankan diminum setelah lewat dari tengah hari. Kita hanya boleh makan lagi pada esok hari, subuh ketika matahari mulai terbit, jadi bukan setelah lewat jam 12 malam.

Mengenai sila ke 7 dan 8, plus sila sebelumnya yaitu sila ke 6 sebenarnya jika kita perhatikan tambahan tiga sila ini mengatur pada apa yang kita rasakan, dengar, lihat, cium, sentuh. Inilah mengapa Atthasila juga disebut sebagai Indriya-samvara sila atau latihan pengendalian pintu Indera. Atthasila merupakan sebuah upaya dimana seseorang meraih kendali atas inderanya. Pada umumnya manusialah yang dikendalikan oleh keinginan-keinginan dari nafsu-nafsu indera yg terus meminta dan menagih tanpa ada batas akhirnya sehingga inilah yang membuat seseorang terbutakan oleh keinginan dan kehilangan kebijaksanaan.

Sila merupakan faktor dari latihan (sikkhapada) dan fondasi dari pengembangan batin atau meditasi, tanpa sila yang kokoh maka sangat sulit bagi kita untuk mengembangkan kemampuan batin kita. Fungsi dari sila itu sendiri adalah untuk membersihkan perbuatan, dengan aturan latihan dan penahanan diri sesuai dengan aturan moralitas yang dipegang.

Sila merupakan dasar perlindungan sejati seseorang dan merupakan jalan untuk merubah diri kita dengan mengembangkan disiplin moral. Prinsip Sila adalah hiri: rasa malu berbuat jahat danotappa: rasa takut akan akibat dari perbuatan jahat. Atau ada juga prinsip yang disebut sebagai attanam upamam katva  yang berarti:

“Dengan mempertimbangkan diri sendiri sama seperti orang lain dan orang lain sama seperti dirinya sendiri.

Dalam hal ini seorang pengikut yang mulia bercermin:

'Disinilah aku, sangat mencintai kehidupanku, tidak ingin untuk mati, sangat mencintai kesenangan dan menolak rasa sakit.

Seandainya seseorang harus menghilangkan kehidupanku, hal ini tidak akan menjadi hal yang menyenangkan dan menggembirakan bagiku.

Jika aku, pada giliranku, harus menghilangkan kehidupan orang lain, kehidupan yang sangat dicintai oleh orang itu, tidak menginginkan untuk mati, orang lain sangat mencintai kesenangan dan menolak rasa sakit, hal itu tidak akan menjadi hal yang menyenangkan dan menggembirakan baginya.

Bagi kondisi yang tidak menyenangkan atau menggembirakan bagiku haruslah tidak menyenangkan dan menggembirakan bagi yang lainnya: dan kondisi tidak menyenangkan bagiku, bagaimana bisa aku menimbulkan hal itu pada orang lain?'

Sebagai hasil dari perenungan yang demikian, ia sendiri berpantang dari mengambil kehidupan makhluk-makhluk dan ia mendorong orang lain juga untuk berpantang, dan berbicara dalam pujian mengenai berpantang.

Samyuttanikaya, 55, No. 7

Lebih lanjut dalam Maha parinibbana Sutta – Digha Nikaya, Sang Buddha membabarkan mengenai manfaat dari Sila:

-          Melalui kewaspadaan terus-menerus dalam dirinya , ia memperoleh banyak kekayaan

-          Reputasi yang baik karena perbuatan yang terkendali akibat praktik dari sila.

-          Perkumpulan apapun yg ia masuki baik Brahmana, Khattiya, perumah-tangga ataupun petapa, ia memasukinya dengan penuh percaya diri & ketenangan

-          Ia meninggal dengan tenang dan tidak bingung

-          Setelah meninggal terlahir dalam kondisi bahagia di surga

Moralitas adalah perlindungan sejati seseorang. Setelah melakukan apa yang bajik dan baik, Ia tidak akan menyesal atau menyalahkan dirinya, dan orang bijaksana tidak menyalahkannya. Moralitas adalah dasar tertinggi untuk keamanan, fondasi untuk ketekunan dan sebuah berkah.

Buddha Dhamma adalah ajaran yang berisikan praktik dan bukan ajaran untuk diyakini, untuk itu sangat penting bagi kita untuk meraih manfaat Dhamma itu sendiri dengan mempraktikkan ajaran. Dhamma akan melindungi mereka yang mempraktikkannya. Dengan mempraktikkan Sila maka kita juga mencegah lenyapnya Dhamma sejati seperti yang diungkapkan oleh Sang Buddha dalam Samyutta Nikaya 16.13:

”Lima hal inilah Kassapa, yang menyebabkan lenyapnya Dhamma yang sejati. Apakah yang lima itu?

Ketika para bhikkhu, bhikkhuni, pengikut awam pria dan wanita tidak memiliki rasa hormat pada Buddha. Mereka tidak memiliki rasa hormat pada Dhamma. Mereka tidak memiliki rasa hormat pada Sangha. Mereka tidak memiliki rasa hormat pada pelatihan diri (Vinaya, Sila). Dan mereka tidak memiliki rasa hormat pada pencapaian konsentrasi”

Sila merupakan faktor utama dalam tahapan berlatih (sikkha) sebelum seseorang mengembangkan Samadhi (konsentrasi) dan Panna (kebijaksanaan). Untuk itu sangat penting melatih dan mengembangkan moralitas kita agar kita dapat terus mengembangkan kualitas batin kita menuju ke arah yang lebih baik hingga tercapainya Nibbana.

”Jika engkau menyayangi dirimu,

maka jgnlah membelenggu dirimu sendiri dengan kejahatan,

Karena kebahagiaan tidaklah mudah didapat bagi mereka yang melakukan perbuatan yang salah.

Ketika ditangkap oleh akhir kehidupan, saat engkau meninggalkan alam kehidupan sebagai manusia, apa yg sebenarnya engkau miliki? 

Apa yang kau bawa di sepanjang perjalanan?

Apa yang mengikuti di belakangmu seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan bendanya.

Keduanya, baik kebajikan & kejahatan yang engkau lakukan disini:

Itulah milikmu yang sejati, yang akan kau bawa sepanjang perjalananmu;

Itulah yang mengikuti di belakangmu seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan bendanya.

Karena itu lakukanlah apa yang terpuji, sebagai sebuah timbunan harta di kehidupan mendatang.

Perbuatan bajik adalah penyokong bagi semua makhluk ketika mereka muncul/lahir di dunia lainnya.

 Samyutta Nikaya 3.4 - Piya Sutta

Selamat mempraktikkan Atthasila di hari Uposatha.

Kamis, 21 April 2016

Bodhisattva Maitreya

Namo Buddhaya

~ Bodhisattva Maitreya akan menjadi Samyaksambuddha setelah usia rata-rata manusia mencapai 80.000 (84.000) tahun ~

Sumber Tulisan : Sinar Dharma [Copas]
OLeh: Ching Ik dan Hendrick

Tidak Ada yang Dapat Mengungguli Ketika mencapai Pencerahan Sempurna, Buddha Sakyamuni mengatakan “Sungguh menakjubkan, setiap makhluk hidup memiliki hakikat Buddha, hanya karena tertutup oleh delusi dan kemelekatan sehingga tidak menyadarinya.” Meskipun Buddha disebutkan sebagai manusia teragung, yang memahami segenap penjuru alam, guru para dewa dan manusia, namun kedudukan Buddha bukanlah monopoli satu orang, bukan pula penguasa atas kaum manusia.

Menjadi Buddha adalah perjuangan dan tujuan tertinggi setiap individu. Sedangkan memberi persembahan kepada Buddha dapat berarti memberi persembahan yang apresiasif bahwa setiap diri kita memiliki potensi yang setara dengan kemuliaan Buddha. Oleh karena itu, sebelum muncul Buddha Sakyamuni, dunia ini telah pernah muncul Buddha-Buddha lain tak terhitung banyaknya di masa lalu yang tak terhingga. Setelah kemangkatan Buddha Sakyamuni pun, pada masa yang akan datang akan muncul lagi Buddha lain di dunia ini. Lalu siapakah bakal Buddha berikut setelah era Buddha Sakyamuni, inilah yang akan diperkenalkan di dalam profi l berikut. Dialah Yang Ariya Bodhisattva Maitreya.

Nama Maitreya mengandung arti cinta kasih. Konon nama beliau disebut Ajita yang artinya ‘tidak ada yang dapat mengungguli’, sedangkan Maitreya adalah nama marga. Bagaimana kisah munculnya nama ini dan asal usul Maitreya membangkitkan ikrar bodhicitta? Kejadiannya bermula ketika Buddha Sakyamuni sedang berkunjung ke sebuah kerajaan. Saat itu Maitreya juga berada di sana sebagai seorang putra brahmana yang mendatangi Buddha untuk memberi penghormatan. Sekelompok brahmacari (pertapa) melihat sosok Maitreya memiliki 32 tanda fisik unggul dengan tubuh memancarkan cahaya gemilang. Merasa sangat aneh dan takjub melihat hal ini, mereka lalu bertanya pada Buddha, di hadapan Buddha manakah Maitreya pernah membangkitkan bodhicitta untuk pertama kalinya hingga memiliki tubuh cahaya yang sedemikian cemerlang yang hampir tidak berbeda dengan tubuh Bhagava? Pada kesempatan itulah Buddha menceritakan sebuah kisah kilas balik pada masa kalpa tak terhingga yang telah lampau. Saat itu terdapat seorang Buddha bernama Buddha Maitreya. Seorang brahmana bernama Sarvanyanaprabhasa mengajak Buddha Maitreya beradu debat. Karena tidak mampu mengungguli Buddha Maitreya, Brahmana akhirnya menyerah kalah dan memohon menjadi siswa Buddha Maitreya. Pada kesempatan itulah Brahmana Sarvanyanaprabhasa membangkitkan Abhinihara, yakni tekad mencapai Pencerahan Sempurna yang sama seperti Buddha Maitreya, juga berharap memiliki nama yang sama pula yakni Maitreya.

Siapakah Brahmana Sarvanyanaprabhasa? Tidak lain adalah Bodhisattva Ajita Maitreya. Pengukuhan Menjadi Samyaksambuddha Ada beberapa Sutra yang menceritakan mengenai pengukuhan Buddha tentang Bodhisattva Maitreya menjadi bakal Buddha berikutnya. Salah satu kisah yang ditafsirkan sebagai awal pengenalan ini terdapat pada kitab Madhyamagama – bagian Shuo Ben Jing.

Hal ini dikisahkan ketika Buddha mengunjungi wilayah Benares di Taman Rusa Isipatana. Saat itu, YA Aniruddha bersama para bhiksu lainnya sedang berbincang Dharma. Karena itu, Buddha menghampiri para bhiksu dan bertanya, “Oh para bhiksu, apa yang sedang kalian perbincangkan di aula pertemuan ini?” Para bhiksu menjawab, “Bhagava, kami sedang berbincang Dharma bersama YA Aniruddha mengenai hal-hal masa lalu, karena itulah kami berkumpul di aula pertemuan ini.” Buddha lalu berkata, “Apakah kalian ingin mendengar wejangan Dharma yang menyangkut hal-hal masa akan datang?”

Para bhiksu dengan gembira menyahut, “Bhagava, inilah saat yang tepat, Oh Sugata, inilah saat yang tepat.” Buddha lalu berkata, “Oh para bhiksu, dengarkan dan renungkanlah baik-baik, Aku akan menjabarkannya. Oh para bhiksu, jauh di masa yang akan datang, usia kehidupan manusia akan mencapai 80.000 tahun. Saat itu, wilayah Jambudwipa ini sangat makmur. Rakyatnya hidup harmonis, begitu juga dengan kota- kota dan desanya saling berdekatan hingga seekor ayam pun sanggup terbang ke kota tetangganya. Wanita di kehidupan saat itu menikah ketika berusia 500 tahun. Jenis penyakit yang muncul pun hanya sebatas sakit panas, dingin, buang air besar dan kecil, nafsu keinginan, makan dan minum, usia tua.

Pada saat itu juga, hidup seorang raja Cakravartin (penguasa dunia) bernama Luo. Raja Cakravartin memerintah dengan bijaksana. Kondisi dunia pada saat itu penuh dengan kedamaian.” “Oh para bhiksu, jauh di masa yang akan datang, ketika usia kehidupan manusia mencapai 80.000 tahun, akan muncul seorang Buddha dengan nama Buddha Maitreya, Tathagata, Arhat, Samyaksambuddha, Sugata, yang memahami segenap alam, guru para dewa dan manusia, penjinak nafsu, Bhagava yang maha mulia.

Setelah Buddha mengucapkan pengukuhan ini, salah seorang bhiksu bangkit dari tempat duduknya. Beliaulah Bodhisattva Maitreya yang dikukuhkan oleh Buddha. Bhiksu Maitreya bersujud dan beranjali di hadapan Buddha sambil berkata bahwa beliau akan mencapai tingkat Samyaksambuddha pada masa mendatang.

Buddha kemudian mengukuhkan pernyataan Bhiksu Maitreya, “Bagus, bagus, oh Maitreya. Engkau membangkitkan batin yang sangat menakjubkan dengan berkata akan membimbing para makhluk hidup. Seperti yang telah engkau pikirkan dan ucapkan di hadapanKu.”

Kemudian sekali lagi Buddha menyatakan kembali kepada Maitreya, “Oh Maitreya, ketika usia kehidupan manusia 80.000 tahun, Engkau akan mencapai Kebuddhaan, dengan nama Buddha Maitreya, Tathagata, Arhat, Samyaksambuddha, Sugata, yang memahami segenap alam, guru para dewa dan manusia, penjinak nafsu, Bhagava yang maha mulia. Dikelilingi oleh para makhluk, sama seperti Aku sekarang sebagai Tathagata, Arhat, Samyaksambuddha, Sugata, yang memahami segenap alam, guru para dewa dan manusia, penjinak nafsu, Bhagava yang maha mulia, dikelilingi oleh para makhluk.”

Buddha kemudian meminta Ananda mengambilkan jubah emasNya [1] untuk diberikan kepada Bhiksu Maitreya dan meminta Maitreya mendanakan jubah tersebut kepada Triratna secara simbolis.

Demikian ramalan ini diberikan kepada bhiksu Maitreya. Pengukuhan tentang sosok Maitreya tampak cukup menarik perhatian para siswa Buddha. Ketika berada di Taman Anathapindika, YA Ananda juga menanyakannya, begitu juga YA Sariputra memohon kepada Buddha saat berada di puncak Gunung Grdhakuta.

Pada kesempatan lain, YA Upali juga menanyakan hal seputar Maitreya ketika berada di Taman Anathapindika. Bodhisattva Maitreya juga hadir di pesamuan ini. Pada saat itu Buddha memancarkan cahaya gemilang yang memunculkan visual para Buddha, yang mana visual para Buddha ini kemudian menguncarkan berbagai dharani agung.

Setelah Bodhisattva Maitreya mendengar dharani ini, seketika juga menguasai metode tersebut. Akan tetapi, karena YA Upali tidak memahami tingkatan batin Maitreya, maka beliau pun bertanya kepada Buddha, “Oh Lokanatha, Lokanatha pernah berkotbah tentang Ajita (Maitreya) akan menjadi Buddha pada masa yang akan datang. Seperti diketahui bahwa Ajita masih beridentitas sebagai manusia biasa yang masih belum mengikis tuntas noda-noda batin, lantas di alam manakah dia akan dilahirkan setelah kehidupan ini? Meskipun telah menjalani kehidupan monastik, dia tidak juga mempraktikkan samadhi dan tidak mengikis noda batin, namun Bhagava secara pasti mengukuhkannya akan mencapai Kebuddhaan. Setelah akhir hidupnya, ke manakah dia akan dilahirkan?”

Buddha lalu berkata kepada Upali, “Dengarkan dan renungkanlah baik-baik, sekarang di hadapan pesamuan ini, Tathagata, Yang memiliki pengetahuan sempurna, akan mewejangkan Pengukuhan tentang Bodhisattva Maitreya Mencapai Anuttara Samyaksambuddha. Terhitung dua belas tahun dari sekarang, usia kehidupannya akan berakhir dan dipastikan terlahir di Surga Tusita.”

Pada kesempatan itu pula Buddha mewejangkan praktik yang perlu dijalani bagi mereka yang hendak terlahir di Surga Tusita mengikuti Bodhisattva. “Bagi bhiksu atau semua orang yang tidak merasa jijik terhadap kehidupan samsara, sementara sangat senang dapat terlahir di alam surga, dan merasa senang dengan pikiran Pencerahan Sempurna, ataupun berkehendak menjadi siswa Maitreya, maka lakukanlah jenis praktik vipasyana, yang mana praktik ini hendaknya dijalani dengan menaati Lima Sila, Delapan Sila maupun Sila Penuh. Dengan batin dan jasmani yang bersih lalu tanpa mencari Jalan Pemutusan [2], mempraktikkan Sepuluh Perbuatan Baik, lalu secara seksama merenungkan kebahagiaan menakjubkan dari alam Surga Tusita. (Dengan motivasi ini) maka mempraktikkan vipasyana seperti ini disebut vipasyana yang benar, selain dari praktik ini maka disebut vipasyana tidak benar [3].

” Mendengar tentang kegemilangan surga Tusita dan kejadian-kejadian luar biasa dari Bodhisattva Maitreya membuat YA Upali merasa semakin tertarik hingga beliau menanyakan lebih detil lagi tentang kapan waktunya Bodhisattva akan dilahirkan di Tusita.“Oh Bhagava, Surga Tusita ternyata memiliki peristiwa sukacita yang demikian menakjubkan, jadi kapan tepatnya Mahasattva meninggalkan Jambudvipa ini untuk terlahir di Surga tersebut ?” “Oh Upali, Maitreya adalah anak dari seorang brahmana bernama Pravari yang dilahirkan di desa Kapali, wilayah Benares. Dua belas tahun kemudian di bulan kedua tanggal 15, beliau akan kembali ke tempat kelahirannya. Di tempat itulah beliau akan duduk bersila bagaikan orang yang memasuki samadhi, lalu tubuhnya memancarkan cahaya emas keunguan yang sangat cemerlang dan seketika itu juga terlahir di Surga Tusita. Peninggalan relik tubuh jasmaninya seperti rupang emas yang kokoh tanpa goyah sedikitpun, dan di tengah lingkaran cahaya jasmaninya terdapat aksara bertuliskan ‘Shurangama Samadhi Prajna Paramita’ yang bersinar cemerlang.

” Kapankah Bodhisattva Maitreya Menjadi Samyaksambuddha? Setelah terlahir di Surga Tusita, Bodhisattva Maitreya memiliki 32 tanda-fisik unggul dan 80 ciri indah yang hampir tidak berbeda dengan seorang Buddha. Beliau duduk di atas singgasana teratai dan setiap saat memutar roda Dharma kepada para dewa lainnya agar berjalan di jalur cita-cita Anuttara Samyaksambodhi. Demikian terus hingga usia kehidupan mencapai 4.000 tahun surga Tusita atau 56 koti laksa tahun manusia, Maitreya baru meninggalkan Tusita dan terlahir kembali ke alam manusia untuk mencapai Pencerahan Sempurna. Beberapa golongan ekstrem menyatakan bahwa Maitreya telah hadir di antara kita, atau Maitreya akan hadir dalam waktu dekat. Bahkan beberapa ratus tahun terakhir ini banyak orang yang mengaku sebagai titisan Maitreya. Pandangan dan interpretasi ini tentu sangat tidak bersesuaian dengan agama Buddha.

Buddha yang akan datang baru akan mengajarkan Dharma apabila ajaran Buddha sebelumnya telah punah. Baik Sutta Theravada ataupun Sutra Mahayana menyebutkan Bodhisattva Maitreya akan menjadi Samyaksambuddha setelah usia rata-rata manusia mencapai 80.000 atau 84.000 tahun.

5.000 tahun setelah Buddha Parinirvana adalah masa-masa di mana dunia semakin kacau dan kejahatan semakin merajalela, hingga umur rata- rata manusia hanya mencapai 10 tahun. Dalam paham Mahayana, emanasi Bodhisattva Maitreya akan muncul pada zaman terpuruk tersebut untuk mengajarkan dasar-dasar kebajikan dan moralitas sehingga umur rata-rata manusia dari 10 tahun kembali bertambah mencapai 84.000 tahun atau tepatnya sampai pada masa 560.000.000 tahun setelah Buddha Sakyamuni Parinirvana, Bodhisattva Maitreya akan turun ke dunia manusia menjadi Samyaksambuddha.

Dalam Buddhavaca Maitreya Upapadyante Tusita Dhyana Sutra [Sutra Buddha Membabarkan Bodhisattva Maitreya Terlahir di Alam Tusita] ada dikatakan: “Setelah usia Maitreya genap 560.000.000 tahun menurut penanggalan Jambudvipa (bumi), beliau akan meninggalkan istana Surga Tusita lagi, kemudian ditumimbal lahirkan di Dunia Sahaloka.”

Lalu berdasarkan ucapan Buddha di dalam Sutra Buddhavacana Maitreya Bodhisattva Sutra, Bodhisattva Maitreya kelak akan terlahir di alam manusia setelah 567.000.000 tahun bumi, mencapai Penerangan Sempurna di bawah pohon Long Hua (Nagapuspa) di Taman Puspavana di luar kota Ketumat, sesuai dengan umur makhluk yang terlahir di Surga Tusita (jangka waktu kehidupan di Surga Tusita adalah 567.000.000 tahun manusia).

Yogi Shabkar juga berkata, “Di masa depan yang merupakan masa wabah penyakit, peperangan dan kelaparan, ketika usia rata-rata manusia telah berkurang hanya menjadi 10 tahun saja, Seorang yang Berjubah Saffron, seorang emanasi dari Maitreya, akan muncul. Kagum, semua orang akan bertanya- tanya, “Apakah Buddha Maitreya telah hadir?” dan bertanya “Kenapa engkau memakai jubah Dharma yang sangat indah warnanya? Kenapa engkau sangat tampan?” “Setelah melalui praktik kesabaran”, jawab sang emanasi dan ia menambahkan, “Janganlah melakukan perselisihan, praktekkanlah kesabaran.” Ketika orang-orang melakukan tindakan ini, jangka hidup mereka akan bertambah, pertama dari 10 tahun menjadi 20 tahun, kemudian bertahap sampai akhirnya mencapai 80.000 tahun. Kemudian [pada saat itu] Buddha Maitreya akan hadir dan memutar Roda Dharma.”

Sutra-sutra Mahayana tidak mengatakan bahwa Bodhisattva Maitreya akan mencapai Samyaksambuddha setelah 2.500 tahun [500 tahun kelima], namun sutra-sutra tersebut sebenarnya menyebutkan bahwa akan ada emanasi Bodhisattva Maitreya yang muncul di bumi ketika masa 2.500 tahun Ketika masa 5.000 tahun setelah Buddha Parinirvana, jadi bukan sebagai Samyaksambuddha. Maka belumlah pantas bila saat ini menyebut Maitreya sebagai seorang Buddha Sempurna.

Pertemuan Asanga dan Bodhisattva Maitreya

Ajaran Bodhisattva Maitreya yang sesungguhnya dalam agama Buddha dapat ditemukan dalam ajaran Yogacara/Vijnanavada, yang sesungguhnya tidak berbeda dengan ajaran Buddha Sakyamuni. Maitreya mewejangkan kembali sabda Buddha Sakyamuni tentang ajaran “Hanya Kesadaran” yang merupakan Pemutaran Roda Dharma [Dharmacakra] yang ketiga.

Asanga, umat Buddhis yang sangat berdedikasi, berlatih meditasi visualisasi Maitreya selama 12 tahun di sebuah goa, tetapi karena tak memperoleh hasil apa-apa, ia pergi meninggalkan goa tempatnya bermeditasi. Dalam perjalanan, Asanga melihat seekor anjing tua yang sedang sekarat dengan bagian bawah tubuh terluka dikerumuni banyak belatung. Rasa welas asih yang sangat besar muncul dalam diri Asanga. Ia berpikir, “Anjing ini akan mati bila belatung tidak dikeluarkan, namun belatung-belatung akan mati bila dikeluarkan begitu saja. Karenanya aku akan memotong daging dari tubuhku untuk makanan belatung, maka selamatlah baik anjing maupun belatungnya.”

Apabila ia memindahkan dengan jarinya, maka belatung-belatung akan mati terbunuh. Dengan sebilah pedang, ia memotong dagingnya sendiri. Kemudian ia memejamkan mata, menunduk dan berusaha mengeluarkan belatung-belatung itu dengan lidahnya, namun tidak dapat mencapainya. Saat membuka mata, Arya Maitreya nampak berdiri di hadapannya dengan mahapurusha-lakshana yang agung. Takjub, Asanga berkata sambil bercucuran air mata: “Oh Ayahku! Pelindungku! Selama bertahun- tahun aku melakukan beratus-ratus usaha namun tidak membawa hasil. Ketika aku haus dan didera penderitaan, mengapa engkau tidak menurunkan hujan amrita dari samudra awan kemuliaanmu? Mengapa engkau hanya menunjukkan belas kasih yang kecil kepada kami?”

Arya Maitreya menjawab, “Sebagaimana ungkapan, meskipun raja dari para dewa menurunkan hujan, biji yang mati tak akan bertunas. Demikian pula meskipun para Buddha muncul, Ia tak terlihat oleh mereka yang kurang kebajikannya. Aku telah berada bersamamu sejak awal, Aku tidak pernah terpisah denganmu, tapi karena terhalang oleh karmamu, engkau tak dapat melihatKu. Sebaliknya, setelah noda dan rintanganmu dimurnikan oleh pelatihan mantramu yang banyak dan oleh welas asihmu sehingga berani memotong dagingmu sendiri, kini dirimu dapat melihatKu.” Arya Maitreya kemudian berkata, “Tetapi untuk membuktikan kebenaran pernyataan ini bagimu, gendonglah dan bawa Aku ke kota!”

Asanga membawa Bodhisattva ke kota, namun tidak ada satu orang pun yang melihat Arya Maitreya, kecuali seorang wanita tua melihat Asanga menggendong bangkai anjing [4]. Karena penglihatannya itu, ia mendapatkan keberuntungan yang tiada akhir. Seorang tukang tembikar melihat kaki Arya Maitreya, segera ia berada dalam keadaan samadhi dan mencapai banyak siddhi. Pada saat itu Asanga juga mencapai samadhi “kesadaran akan keberadaan.”

“Apa keinginanmu sekarang?” tanya Maitreya Bodhisattva. “Memulihkan ajaran Mahayana,” jawab Asanga. “Baiklah pegang ujung jubahku.” Arya Asanga mengikuti nasehat tersebut dan pergi ke Surga Tusita, berada di sana selama 50 tahun manusia mendengarkan Dharmadesana dari Arya Maitreya dan sangat paham baik makna maupun kalimat demi kalimat. Ia mendengarkan “Lima Dharma Maitreya” yang dibukukan di Dharmankura Vihara di Veluvana. Kelima teks tersebut adalah Abhisamayalamkara, Mahayanasutralamkara, Dharmadharmatavibhanga, Madhyantavibhanga, dan Uttaratantra Shastra [Ratnagotravibhanga].

Emanasi Maitreya di Asia

Dalam tradisi Buddhisme Tiongkok, rupang Bodhisattva Maitreya lebih banyak dikenal orang dalam wujud perawakan gemuk dengan perut buncit yang tertawa riang. Mengapa penggambaran wujud Maitreya demikian unik dan jauh berbeda dari bentuk Bodhisattva Mahasatva umumnya? Hal ini berkaitan dengan beberapa kisah para bhiksu yang diyakini sebagai emanasi Bodhisattva Maitreya.

Entah kebetulan atau tidak, bhiksu-bhiksu itu memiliki ciri- ciri yang hampir sama, yakni berperawakan gemuk. Di antaranya adalah kisah tentang Bhiksu Fu yang hidup pada masa dinasti Liang. Beliau adalah penasihat Kaisar Liang Wudi dan sering memberi bimbingan Dharma kepada Kaisar.

Menjelang kemangkatannya, Bhiksu Fu berkata, “Saya datang dari Surga tingkat ke-4 (Tusita), bertujuan untuk membimbing kalian. Untuk berikutnya akan menggantikan Sakyamuni.”

Dari ucapan inilah diyakini beliau adalah emanasi Bodhisattva Maitreya. Kemudian pada masa Dinasti Lima Kerajaan, di wilayah Mingzhou, kabupaten Fenghua, ada seorang bhiksu yang berperawakan gemuk dengan perut buncit. Setiap hari selalu membawa sebuah kantong kain yang besar di jalanan dan sering tertawa lebar. Orang-orang memanggilnya Bhiksu Budai (Kantong Kain).

Beliau berpindapata kepada siapa saja, dan bila ada yang memberinya arak dan daging, maka akan memasukkannya ke dalam kantong kain. Pada musim dingin, lantai bersalju menjadi alas tidurnya, saat bangun, pakaiannya tidak menjadi basah. Bila beliau mengenakan sandal dari rumput basah sambil berlari-lari di tengah keramaian, maka semua orang akan tahu bahwa hujan akan tiba. Bila mengenakan sandal berukuran tinggi sambil tidur di atas jembatan, maka pertanda cuaca akan kembali cerah. Ketika menjelang mangkat di Vihara Yuelin, beliau berbaring di atas batu sambil berkata, “Maitreya oh Maitreya yang sesungguhnya, jelmaannya ratusan ribu wujud. Setiap saat membimbing orang, namun orang-orang tidak mengenalnya.”

Sedangkan di Tibet, ada dua guru yang dikenal sebagai emanasi Maitreya yaitu Tai Situpa Rinpoche dan Sangye Nyenpa Rinpoche yang berasal dari silsilah Karma Kagyu. Di Korea, Maitreya beremanasi sebagai seorang remaja pria Hwarang. Di Jepang, ada tempat yang diidentikkan dengan Surga Tusita yaitu Gunung Koya tempat Bhiksu Kukai bermeditasi menunggu kedatangan Arya Maitreya. Sedangkan menurut tradisi Mahayana, Mahakashyapa juga bermeditasi di gunung Kukkutapada [Jizu Shan di Tiongkok] menunggu kedatangan Arya Maitreya.

Guru-guru Buddhis seperti Arya Bhavaviveka juga berikrar untuk menjaga tubuh mereka sampai kedatangan Bodhisattva Maitreya. Demikian pula dari Maha Bhiksu Xuanzang di masa Dinasti Tang, hingga era kontemporer seperti Master Xuyun, Taixu dan Yinshun adalah tokoh-tokoh yang berikrar terlahir di Surga Tusita mendampingi Bodhisattva Maitreya. Sebagai seorang calon Buddha yang akan datang, waktu kedatangan Maitreya menjadi topik yang cukup hangat di kalangan umat Buddha.

Namun sebenarnya sudah jelas sekali seperti yang dinyatakan Buddha Sakyamuni bahwa jangka waktu kemunculan Maitreya masih lama. Namun beberapa golongan ekstrem menyatakan bahwa Maitreya telah menjadi Buddha, hal ini tentu sudah tidak sesuai dengan esensi yang ingin disampaikan Buddha ketika mengungkapkan pengukuhan Maitreya. Lagi pula selama ajaran Buddha masih eksis, mempraktikkan Dharma yang nyata dan ada di depan mata jauh lebih realistis dan sudah sepatutnya dilakukan alih-alih menyatakan bahwa Buddha berikutnya telah muncul.

Pada dasarnya, diperkenalkannya seorang bakal Buddha memiliki pesan inspiratif, yakni bahwa setiap makhluk hidup, termasuk diri kita, juga adalah bakal Buddha yang akan datang.Itulah mengapa dikatakan bahwa setiap makhluk memiliki hakikat Buddha dalam dirinya. Hakikat inilah yang perlu kita pulihkan kembali, tentu dengan meneladani kualitas- kualitas yang dimiliki oleh para Ariya bijaksana, salah satunya adalah Bodhisattva Maitreya. Semoga dengan diperkenalkannya Bodhisattva Maitreya dapat membekali kita untuk dapat membangkitkan ikrar agung dan belajar mempraktikkan cinta kasih seperti yang nama yang melekat pada nama Bodhisattva Maitreya

. -------------------------------------------------

[1]Jubah yang terbuat dari benang emas jahitan Mahaprajapati Gotami.

[2] Jalan Pemutusan merujuk pada pencapaian Arahat (memutus samsara). Bila seseorang memilih terlahir di Tusita, maka tidak menempuh Jalan Arhat dulu, karena itu dikatakan “tanpa mencari jalan pemutusan”.

[3] Bukan menampikkan metode vipasyana yang lain, jadi maksudnya adalah bila mempraktikkan metode vipasyana ini maka harus mengikuti prinsip-prinsip yang telah diajarkan seperti di atas.

[4] Yang kita tangkap dari cerita ini, anjing yang sekarat itu sebenarnya adalah emanasi Bodhisattva Maitreya.

Jumat, 17 Juli 2015

Penggolongan Dhamma

PENGGOLONGAN DHAMMA) JILID I

GIHI PATIPATTI (Praktik Umat Awam)

CATUKKA – KELOMPOK EMPAT

I. Empat macam Kammakilesa – perbuatan-perbuatan buruk:

Panatipata : menyebabkan kematian makhluk-makhluk hidup.

Adinnadana : mengambil barang-barang yang tidak diberikan oleh pemiliknya, berkelakuan seperti yang dilakukan oleh pencuri.

Kamesu-micchacara : kelakuan salah berkenaan dengan seks.

Musavada : ucapan tidak benar, berbohong.

Empat jenis perbuatan ini tidak pernah dipuji oleh para Samana.

D. III. 181.

II. Empat macam Apayamukkha – sebab-sebab yang membawa keruntuhan.

Seorang yang suka menggoda wanita.

Seorang pemabuk.

Seorang penjudi.

Bergaul dan menjadi kawan orang jahat.

Seseorang janganlah melakukan empat macam hal-hal buruk ini

A. IV 287.

III. Empat macam Ditthadhammikatthapayojana – hal-hal yang berguna pada saat sekarang.

Utthanasampada : rajin dan bersemangat di dalam bekerja mencari nafkah.

Arakkhasampada: penuh hati-hati, dengan kata lain, menjaga dengan hati-hati kekayaan apapun yang telah diperoleh dengan kerajinan dan semangat, tidak membiarkannya mudah hilang atau dicuri. Juga terus menjaga cara bekerja sehingga tidak mengalami kemunduran atau kemerosotan.

Kalyanamittata : memiliki teman-teman baik, dan tidak bergaul dengan orang-orang jahat.

Samajivita : menempuh cara hidup yang sesuai dengan penghasilan, tidak terlalu kikir dan juga tidak terlalu boros.

A. IV 285.




IV. Empat macam Samparayikattapayojana – hal-hal yang berguna di masa yang akan datang.

Saddhasampada : memiliki keyakinan, dengan kata lain, percaya pada hal-hal yang harus dipercayai, seperti mempercayai bahwa berbuat baik akan memberikan akibat baik, dan berbuat jahat akan memberikan akibat buruk.

Silasampada : memiliki sila, dengan kata lain, menjaga perbuatan-perbuatan secara jasmani dan secara ucapan dengan baik dan pantas, tanpa kesalahan.

Cagasampada : memiliki kemurahan hati, sehingga dapat memberikan kebahagiaan pada orang-orang lain.

Paññasampada : memiliki kebijaksanaan, karena itu mengetahui hal-hal seperti: apa yang buruk dan apa yang baik; apa yang benar dan apa yang salah; apa yang berguna dan apa yang tidak berguna.

A. IV. 288.




V. Empat macam teman palsu:

mereka yang mengajak berkawan untuk tujuan menipu.

mereka yang hanya manis di mulut saja.

mereka yang memuji-muji dan membujuk.

mereka yang mendorong seseorang untuk menuju ke jalan yang membawa pada kerugian dan kehancuran.

Empat macam orang-orang ini, bukanlah teman-teman sejati; mereka adalah teman-teman palsu, dan seseorang janganlah bergaul dengan mereka.

D. III. 186.

Mereka yang mengajak kawan untuk tujuan menipu mempunyai empat ciri:

Mereka hanya memikirkan tentang apa yang akan mereka peroleh dalam bersahabat dengan kita.

Mereka memberi sedikit dan berpikir bagaimana untuk memperoleh banyak.

Apabila mereka berada di dalam bahaya mereka akan melakukan hal-hal bagi kita (sehingga memperkokoh persahabatan dan saling melindungi).

Mereka bergaul dengan kita hanya karena mereka tahu bahwa pergaulan itu memberikan keuntungan pada mereka.

Mereka yang hanya manis di mulut saja mempunyai empat ciri:

Mereka selalu membicarakan hal-hal yang telah lampau dan tidak berguna.

Mereka cenderung membicarakan hal-hal yang belum terjadi.

Mereka membantu mengerjakan hal-hal yang tidak berguna.

Apabila diminta untuk membantu, mereka selalu mengatakan tidak dapat membantu (dengan bermacam-macam alasan untuk menghindari).

Mereka yang memuji-muji dan membujuk, mempunyai empat ciri:

Jika kita berbuat jahat, mereka akan setuju dan membenarkannya.

Jika kita berbuat baik, mereka akan setuju dan membenarkannya.

Di hadapan kita mereka akan memuji-muji kita.

Di belakang kita mereka akan mencela kita.

Mereka yang mendorong seseorang untuk menuju ke jalan yang membawa pada kerugian dan kehancuran, mempunyai empat ciri:
Mereka mengajak kita untuk minum-minuman yang memabukkan.

Mereka mengajak kita untuk berkeliaran di malam hari.

Mereka membuat kita melekat untuk mengejar kesenangan-kesenangan.

Mereka membuat kita menjadi seorang penjudi.

VI. Empat macam teman sejati:

Seorang teman yang mampu membantu di dalam berbagai cara.

Seorang teman yang mempunyai rasa simpatik baik di dalam suka maupun di dalam duka.

Seorang teman yang memperkenalkan kita pada hal-hal yang berguna.

Seorang teman yang memiliki perasaan bersahabat.

D. III. 187.

Empat macam orang-orang ini adalah teman-teman sejati, dan seseorang seharusnya bergaul dengan mereka:

Seorang teman yang mampu membantu di dalam berbagai cara, mempunyai empat ciri:

Ia melindungi seorang kawan yang lengah.

Ia melindungi harta kekayaan seorang kawan yang lengah.

Apabila ada bahaya, ia dapat memberikan perlindungan.

Apabila ada suatu pekerjaan yang akan dilakukan, ia membantu dengan menawarkan lebih banyak bantuan daripada yang diminta.

Seorang teman yang mempunyai rasa simpatik baik dalam suka maupun di dalam duka, mempunyai empat ciri:

Ia membuka hal-hal rahasia mengenai dirinya kepada kawannya.

Ia menjaga rahasia kawannya, tidak membiarkan mereka bocor.

Ia tidak meninggalkan kawannya pada saat mengalami banyak kesukaran.

Ia mungkin bahkan mengorbankan hidupnya demi kawannya.


Seorang teman yang memperkenalkan kita pada hal-hal yang berguna, mempunyai empat ciri:

Ia mencegah kita untuk berbuat jahat.

Ia menganjurkan kita untuk berbuat hal-hal yang baik

Ia memberitahukan kita tentang hal-hal yang belum pernah kita dengar sebelumnya.

Ia memberitahukan kita tentang metode untuk mencapai alam-alam kebahagiaan.


Seorang teman yang memiliki perasaan persahabatan, mempunyai empat ciri:

Ia ikut merasakan duka apabila kawannya menderita.

Ia ikut merasakan suka apabila kawannya berbahagia.

Ia menghadapi mereka yang mencela kawannya.

Ia membenarkan mereka yang memuji kawannya.


VII. Empat macam Sanghavatthu – sifat-sifat yang menjadikan suasana persahabatan :

Dana : memberi dan membagi barang-barang pada orang lain yang pantas untuk menerimanya.

Piyavaca : berdiskusi atau membicarakan hal-hal dengan ucapan yang menyenangkan dan halus.

Atthacariya : melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain.

Samanattata : memiliki ketenangan batin dan tanpa kesombongan.

Empat sifat-sifat mulia ini akan selalu menarik hati orang lain.

A. II. 32.


VIII. Empat macam Sukha bagi umat awam:

Sukha yang timbul karena memiliki kekayaan.

Sukha yang timbul karena mempergunakan kekayaan.

Sukha yang timbul karena tidak mempunyai hutang.

Sukha karena tidak melakukan pekerjaan yang tercela.



A. II. 69.

IX. Empat keinginan yang dimiliki orang di dunia dan yang dapat dicapai oleh mereka walaupun dengan kesukaran apabila mereka mau menempuh dengan jalan benar:

Semoga saya menjadi kaya dan semoga kekayaan terkumpul padaku dengan cara benar dan pantas.

Semoga saya beserta sanak keluarga dan kawan-kawan dapat mencapai kedudukan sosial yang tinggi.

Semoga saya selalu berhati-hati di dalam kehidupan ini, sehingga saya dapat berusia panjang.

Apabila kehidupan di dalam dunia ini telah berakhir, semoga saya dapat dilahirkan di alam bahagia.

A. II. 65.


X. Empat macam Dhamma yang menyebabkan seorang dapat mencapai keinginan-keinginan seperti disebutkan di atas :

Saddhasampada : dikaruniai dengan keyakinan.

Silasampada : dikaruniai dengan kelakuan bermoral.

Caga sampada : dikaruniai dengan kemurahan hati.

Paññasampada : dikaruniai dengan kebijaksanaan.


XI. Suatu keluarga kaya tidak dapat mempertahankan kekayaannya untuk waktu yang lama, karena empat hal:

Mereka tidak mencari dan menambah barang-barang yang telah hilang.

Mereka tidak memperbaiki barang-barang yang telah rusak.

Mereka tidak bersikap sederhana dalam mempergunakan kekayaannya.

Mereka memilih orang yang mempunyai sila buruk untuk membantu mengurus rumah tangga.

Siapapun juga yang ingin menjadikan keluarga mereka teguh dan kuat serta bersatu harus menghindari empat hal ini.

A. II. 240.


XII. Empat Dhamma bagi umat awam (kepala rumah tangga):

Sacca : memiliki kejujuran dan menepati janji kepada orang-orang.

Dama : mengetahui cara mengendalikan pikirannya sendiri.

Khanti : memiliki kesabaran di dalam menghadapi setiap kemalangan.

Caga : bermurah hati dan memberi sesuatu kepada orang-orang yang pantas dan sesuai untuk diberi.

S. I. 215.

                       

Kamis, 06 Maret 2014

Tingkat Kesucian

Ada 4 macam tingkat kesucian : 

1. Sotapanna (pemasuk arus) : hanya akan ada maksimum 7 kelahiran lagi baginya dan tidak akan lahir ke alam rendah. Mereka disebut pemasuk arus / pemenang arus, karena ia telah memasuki arus yang menuju ke Nibbana. Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama; sakkaya-ditthi, vicikiccha, dan silabataparamasa.
Sotapatti adalah tingkat kesuciannya, orangnya disebut sotapanna.

2. Sakadagami (hanya akan ada 1 kelahiran lagi baginya sebagai manusia).  Mereka telah mematahkan 3 belenggu pertama, dan melemahkan belenggu ke 4 dan ke 5.

3. Anagami (tidak akan lahir kembali menjadi manusia, tetapi di alam Suddhavasa). Mereka telah mematahkan 5 belenggu pertama.

4. Arahat (tiada kelahiran lagi baginya di manapun juga). Mereka telah mematahkan semua belenggu di atas.

Empat tingkatan kesucian :
1. Sotapanna (Pemenang arus/7 kali kembali ke alam manusia), Jika hendak mencapai tingkat kesucian pertama ini harus menghapus :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbata Paramasa)

2. Sakadagami (1 kali kembali ke alam manusia), Jika hendak mencapai tingkat kesucian kedua ini harus menghapus :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa) Memperlemah
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)

3. Anagami (Mahluk suci yang tidak kembali lagi), harus menghapuskan :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa)
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)

4. Arahat (Seorang yang telah mencapai Nibbana), menghapus 10 Belenggu, yaitu :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa)
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)
f. Kemelekatan

Ada 10 belenggu (dasa samyojana) :
1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal (sakkaya-ditthi).
2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan lampau dan kehidupan yang akan datang, juga tentang hukum sebab akibat (vicikicchā).
3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan (silabbata-parāmāsa).
4. Nafsu indriya (kāma-rāga).
5. Dendam atau dengki (vyāpāda).
6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (rūpa-rāga).
Alam bentuk (rūpa-rāga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhāna I, Jhāna II, Jhāna III atau Jhāna IV.
7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (arūpa-rāga). Alam tanpa bentuk (arūpa-rāga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Arūpa Jhāna I, Arūpa Jhāna II, Arūpa Jhāna III atau Arūpa Jhāna IV.
8. Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain (māna).
9. Kegelisahan (uddhacca). Suatu kondisi batin yang haus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).
10. Kebodohan atau ketidak-tahuan (avijjā).

Perenungan 32 unsur tubuh (dvatimsakara) terdiri dari 20 jenis padat dan 12 jenis cair, terbagi menjadi 6 kelompok:
1. rambut kepala, bulu badan, kuku, gigi, dan kulit
2. daging, otot-otot, tulang-tulang, sumsum, dan ginjal
3. jantung, hati, selaput paru-paru, limpa, dan paru-paru 4. usus, isi perut, lambung, tinja, dan otak
5. empedu, lendir, nanah, darah, keringat, dan lemak
6. air mata, minyak, ludah, ingus, pelumas sendi, dan air seni.

Debat Ajaran Sang Buddha

Buddha diam saja walaupun jelas-jelas keduanya yang berdebat tentang ajaran Beliau berada persis di belakang rombongan tersebut. Ketika Buddha mengetahui pembicaraan tersebut, Beliau berkata : “Para bhikkhu, jika seseorang menghina – Ku, Dhamma (ajaran Buddha), atau Sangha (perkumpulan para bhikkhu), kalian tidak boleh marah, tersinggung, atau terganggu akan hal itu. Jika kalian marah atau tidak senang akan penghinaan itu, maka itu akan menjadi rintangan bagi kalian. Karena jika orang lain menghina – Ku, Dhamma atau Sangha, dan kalian marah atau tidak senang, dapatkah kalian mengetahui apakah yang mereka katakan itu benar atau salah ?” “Tidak, Bhagava” jawab para bhikkhu.
“Jika orang lain menghina – Ku, Dhamma atau Sangha maka kalian harus menjelaskan apa yang tidak benar sebagai tidak benar, dengan mengatakan : ‘Itu tidak benar, itu salah, itu bukan jalan kami, itu tidak ada pada kami’” “Jika orang lain memuji – Ku, Dhamma atau Sangha, kalian tidak boleh gembira, bahagia atau senang akan hal itu. Jika kalian gembira, bahagia, atau senang akan pujian itu maka itu akan menjadi rintangan bagi kalian. Jika orang lain memuji – Ku, Dhamma atau Sangha, kalian harus mengakui kebenaran sebagai kebenaran, dengan mengatakan : ‘Itu benar, itu tepat sekali, itu adalah jalan kami, itu ada pada kami” Brahmajala Sutta

Dengan demikian, Buddha mengajarkan agar para pengikut – Nya tidak terbawa emosi positif atau negatif saat seseorang memuji ataupun merendahkan ajaran Beliau, melainkan menjelaskan mana yang benar dan mana yang tidak benar atas pandangan terhadap ajaran Buddha tersebut sehingga dapat membebaskan agama Buddha dari pandangan salah orang-orang yang tidak tahu atas ajaran – Nya.

Selasa, 11 Februari 2014

Alam Semesta Dalam Buddhisme


Para ilmuwan dewasa ini menyatakan bahwa alam semesta merupakan serangkaian pengembangan, penciutan, pengerutan dan penghancuran berupa ledakan besar (Big Bang) yang berlangsung secara terus menerus tanpa akhir).

Sang Buddha telah mengajarkan hal yang sama 2500 tahun yang lalu, berikut adalah apa yang beliau ungkapkan di dalam Bhayaberava Sutta:

" Ketika pikiranku yang terkonsentrasi dengan demikian termurnikan, tidak tercela, mengatasi semua kekotoran, dapat diarahkan, mudah diarahkan, serta tenang, Aku memusatkannya pada kelahiran-kelahiran yang lampau, satu, dua, ...ratusan, ribuan, banyak kalpa dari penyusutan dunia, banyak kalpa pengembangan dan penyusutan dunia".
1 kalpa yg lazim dipakai adalah 139.600.000 tahun.

Alam Semesta

Menurut pandangan Buddhis, alam semesta ini luas sekali. Dalam alam semesta terdapat banyak tata surya yang jumlahnya tidak dapat dihitung.

Hal ini diterangkan oleh Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan bhikkhu Ananda dalam Anguttara Nikaya sebagai berikut :

Ananda apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu (tata surya kecil) ? ....... Ananda, sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Di dalam seribu tata surya terdapat seribu matahari, seribu bulan, seribu Sineru, seribu jambudipa, seribu Aparayojana, seribu Uttarakuru, seribu Pubbavidehana ....... Inilah, Ananda, yang dinamakan seribu tata surya kecil (sahassi culanika lokadhatu).

*Ananda, seribu kali sahassi culanika lokadhatu dinamakan "Dvisahassi majjhimanika lokadhatu".

Ananda, seribu kali Dvisahassi majjhimanika lokadhatu dinamakan "Tisahassi Mahasahassi Lokadhatu".

Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat memperdengarkan suara-Nya sampai terdengar di Tisahassi mahasahassi lokadhatu, ataupun melebihi itu lagi.

Sesuai dengan kutipan di atas dalam sebuah Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu terdapat 1.000 x 1.000 = 1.000.000 tata surya.
Sedangkan dalam Tisahassi Mahasahassi lokadhatu terdapat 1.000.000 x 1.000 = 1.000.000.000 tata surya.
Alam semesta bukan hanya terbatas pada satu milyard tata surya saja, tetapi masih melampauinya lagi. Ajaran ini benar-benar sesuai dengan kosmologi modern.

Buddha juga telah mengajarkan aneka bentuk galaksi yang ada di alam semesta ini sebagaimana yang ada pada Avatamsaka Sutra bab 4:
" Putra-putra Buddha, sistem-sistem dunia tersebut memiliki aneka bentuk dan sifat-sifat yang berbeda. Jelasnya, beberapa diantaranya bulat bentuknya, beberapa diantaranya tidak bulat dan tidak pula segi empat. Ada perbedaan yang tak terhitung. Beberapa bentuknya seperti pusaran, beberapa seperti gunung kilatan cahaya, beberapa seperti pohon, beberapa seperti bunga, beberapa seperti istana, beberapa seperti makhluk hidup, beberapa seperti Buddha..."Galaksi yang berbentuk seperti pusaran termasuk galaksi kita sendiri, bima sakti, dan galaksi terdekat yaitu Andromeda. Galaksi yang berbentuk seperti makhluk hidup termasuk di antaranya galaksi Nebula Kepala Kuda (horse head nebula). Hal yg paling mengagumkan adalah Sang Buddha telah mengetahui berbagai bentuk galaksi yang keberadaan galaksi-galaksi tersebut baru bisa diketahui para ilmuwan dewasa ini dengan teleskop yang paling canggih.

Sebuah bait dari Salistamba Sutra ayat 37 : "Lebih jauh lagi Sariputra, hal tersebut bagaikan rembulan pada langit yang indah, yang berjarak 42.000 yojana dari bumi".

Yojana merupakan jarak yang ditempuh oleh pasukan berkuda dalam waktu sehari(kurang lebih 10km). Dengan demikian 42.000 yojana = 420.000 km. Hal ini sangat dekat jaraknya dengan penghitungan sains yang mengatakan jarak bumi ke bulan adalah kurang lebih 400.000 km. Akurasi dalam penghitungan jarak bumi ke bulan bisa dianggap luar biasa untuk zaman 2500 tahun yang lalu.

Buddha menyatakan bahwa terjadi empat fase dalam kehidupan suatu sistem dunia yaitu fase kekosongan, fase pembentukan, kediaman, dan kehancuran. Masing-masing fase tersebut memakan waktu yang sangat lama, dimana di dalam bahasa Buddhis disebut memakan waktu 20 kalpa menengah. Menurut Buddhisme, pembentukan planet bumi memerlukan 20 kalpa menengah, dimana satu kalpa memakan waktu 139.600.000 tahun.

Berdasarkan rujukan ini, maka masa pembentukan planet bumi (fase pembentukan) memerlukan waktu 2.780.000.000 tahun atau hampir 3 milyar tahun lamanya. Intinya, menurut Buddhisme, pembentukan planet bumi ini memerlukan waktu milyaran tahun, bukan enam hari atau enam ribu tahun. Para ahli astrofisika dan ahli geologi setuju bahwa umur bumi bukan ribuan tahun melainkan sudah milyaran tahun.2,78 milyar tahun belum termasuk fase kediaman (adanya makhluk yg berdiam). Fase kediaman menurut Buddhisme, sudah memasuki pertengahan kalpa ke 11.

Bila digabungkan dengan fase pembentukan, maka total umur bumi menurut Buddhisme adalah 4.38 milyar tahun (2.78 milyar +(11.5 x 139.600.000)). Adapun menurut estimasi ahli geologi, umur bumi adalah sekitar 4.55 milyar tahun. Kedekatan kedua angka tersebut benar-benar telah mencengangkan banyak orang.

Awal Kehidupan di Muka Bumi

Sudah semenjak zaman dahulu kala, manusia telah berusaha untuk mengetahui asal usulnya. Rasa ingin tahu inilah yang kemudian mendorong mereka untuk menciptakan aneka mitos mengenai penciptaan alam semesta ini. untuk memuaskan rasa ingin tahunya mereka mengarang aneka dongeng. Sayang sekali bahwa ternyata tidak ada satupun dongeng tersebut yang benar.

Berikut adalah sabda Sang Buddha yang ada di Aganna Sutta yang merupakan sutra ke 27 dari Digha Nikaya:
"Pada waktu itu semuanya merupakan suatu dunia yang terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, bulan maupun pertengahan bulan belum ada, tahun-tahun maupun musim-musim belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja.."
Sang Buddha telah mengatakan bahwa kehidupan berawal dari air. pernyataan ini tidak bertentangan dengan sains yang mengatakan bahwa bumi pada awalnya berbentuk cair.

Pada saat bumi baru terbentuk, masih terdapat kabut yang disebabkan oleh proses pendinginan bumi. oleh karena itu adanya kabut tebal tersebut, maka matahari dan bintang belum tampak, belum tampak disini bukan berarti belum ada. Hal ini tidak bertentangan dengan sains yang mengatakan bahwa matahari lebih tua dari pada bumi. Demikian juga dengan pernyataan Buddha bahwa makhluk-makhluk yang pertama tidak berjenis kelamin.

Kalau kita mempertimbangkan kondisi masyarakat pada ribuan tahun yang lalu yang masih terbelenggu oleh dongeng dan mitos, maka ajaran Buddha terlihat sudah sangat jauh ke depan.Sang Buddha bukanlah seorang ilmuwan, Buddha menggunakan metoda intuisi dan penembusan langsung untuk memahami corak fenomena dengan kekuatan batin, lain halnya dengan pendekatan ilmiah yang memerlukan perangkat lunak dan keras dalam mencapai suatu kesimpulan.

Tak TerhinggaAgama Buddha juga mengemukakan tentang ketidakterbatasan waktu, berikut adalah kutipan dari pertanyaan seorang Buddhis kepada Sang Buddha di dalam Samyuta Nikaya XV:5:
"Dapatkah ia dilukiskan, O, Bhagavat (Sang Buddha), dengan sebuah perumpamaan?"
"Bisa, wahai Saudara," demikianlah yang dikatakan Bhagavat, 'bayangkanlah sebuah gunung karang curam, yang panjang, lebar, dan tingginya, masing-masing satu yojana, tanpa sedikitpun retakan, tidak berongga, suatu massa batu yang padat, dan seseorang akan datang pada akhir tiap abad, dan dengan sutera halus Kasi menggosok gunung batu tersebut aus seluruhnya, atau habis seluruhnya, masih lebih lama satu kalpa. Demikianlah lamanya satu kalpa...demikianlah banyak kalpa telah berlalu, banyak ratusan kalpa, banyak ribuan kalpa, banyak ratusan ribu kalpa telah berlalu...Bagaimana ini? Tak terhitunglah awal mula itu, wahai Saudara,...Waktu yang paling awal tidak dapat diketahui keberadaannya...."
Menurut Buddhisme, fenomena tidak lahir secara spontan, melainkan melalui proses penyatuan dan penggabungan aneka sebab-musabab dan kondisi-kondisi tertentu.

Dalam Avatamsaka Sutra bab 37 tertera:
"Sebagaimana dengan miliaran planet, alam semesta tidaklah terbentuk hanya karena satu kondisi saja, tidak oleh satu fenomena saja, alam semesta hanya dapat terbentuk oleh aneka sebab-musabab dan kondisi-kondisi yang tak terhitung.

Kiamat

Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur dan tidak ada. Tapi hancur leburnya bumi kita ini atau kiamat bukanlah merupakan akhir dari kehidupan kita. Karena di alam semesta ini tetap berlangsung pula evolusi terjadinya bumi. Lagi pula, bumi kehidupan manusia bukan hanya bumi kita ini saja tetapi ada banyak bumi lain yang terdapat dalam tata surya - tata surya yang tersebar di alam semesta ini.

Kiamat atau hancur leburnya bumi kita ini menurut Anguttara Nikaya, Sattakanipata diakibatkan oleh terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya dengan berlangsungnya musim kemarau yang panjang ini muncullah matahari yang kedua, lalu dengan berselangnya suatu masa yang lama matahari ketiga muncul, matahari keempat, matahari kelima, matahari keenam dan akhirnya muncul matahari ketujuh. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi kita terbakar hingga menjadi debu dan lenyap bertebaran di alam semesta.

Pemunculan matahari kedua, ketiga dan lain-lain bukan berarti matahari-matahari itu tiba-tiba terjadi dan muncul di angkasa, tetapi matahari-matahari tersebut telah ada di alam semesta kita ini. Dalam setiap tata surya terdapat matahari pula.

Menurut ilmu pengetahuan bahwa setiap planet, tata surya, dan galaxi beredar menurut garis orbitnya masing-masing. Tetapi kita sadari pula, karena banyaknya tata surya di alam semesta kita ini, maka pada suatu masa garis edar tata surya kita akan bersilangan dengan garis orbit tata surya lain, sehingga setelah masa yang lama ada tata surya yang lain lagi yang bersilangan orbitnya dengan tata surya kita. Akhirnya tata surya ketujuh menyilangi garis orbit tata surya kita, sehingga tujuh buah matahari menyinari bumi kita ini. Baiklah kita ikuti uraian tentang kiamat yang dikhotbahkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu:Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati .....Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada .....Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yanglama, matahari ketiga muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu dan Mahi surut, kering dan tiada .....Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta, dan Mandakini surut, kering dan tiada .....Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut 100 yojana*, lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana dan surut 700 yojana. Air maha samudra tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam, lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudra tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima, empat, tiga, dua dan hanya sedalam tinggi seorang saja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

Para bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak kaki sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa dari maha samudra hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul. Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.

Demikianlah, para bhikkhu, semua bentuk (sangkhara) apa pun adalah tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikkan, bebaskanlah diri kamu dari semua hal.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung terbakar, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.

Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukkan oleh amukan nyala yang berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa. Demikian pula bumi maupun debu tidak tersisa sama sekali.


Sabbe satta bhavathu sukhitatta
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.