Tampilkan postingan dengan label Penjelasan Sutra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penjelasan Sutra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2016

Bait 12

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan


Bait sutra :



fó
wèn
yuán
tōng

wǒ
wú
佛
問
圓
通
,
我
無

xuǎn
zé

dōu
shè
liù
gēn

選
擇
;
都
攝
六
根
,
jìng
niàn
xiāng
jì

dé
sān

淨
念
相
繼
,
得
三

mó
dì

sī
wéi
dì
yī

摩
地
,
斯
為
第
一
。


Penjelasan :


25 kesempurnaan tanpa rintangan, setiap metode adalah yang terunggul. Pintu Dharma tidak ada yang tinggi dan rendah, ibarat para pasien, setiap penyakit yang diderita mereka tidaklah sama, maka obat yang dipakai juga tidak sama, sehingga obat yang tepat sasaran adalah obat terbaik. Tak peduli pintu Dharma yang mana saja, jika cocok digunakan oleh diri sendiri dalam melatih diri, maka ini adalah pintu Dharma terunggul.


Kesempurnaan tanpa rintangan maksudnya adalah harmoni atau keselarasan, dan menembus tanpa rintangan, sempurna tanpa rintangan adalah pencerahan besar, tak peduli pernah atau tidak pernah belajar juga dapat memahaminya, dapat mengetahui masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang, serta kondisi batin insan lain.


Hati kita dengan hati insan lain adalah sama, namun mengapa saat kini kita tidak dapat mengetahui isi pikiran orang lain, ini dikarenakan kita masih memiliki rintangan. Ibarat air yang bergelombang, tidak dapat memantulkan bayangan dengan jelas. Jika airnya tenang maka kemampuan asal kita dapat pulih kembali, bukan hasil dari melatih diri atau belajar, karena jika sesuatu yang tidak dimiliki oleh jiwa sejati anda, maka dengan cara apapun anda tidak mungkin dapat memperolehnya.


Mengapa Bodhisattva Mahasthamaprapta mengatakan tidak memiliki pilihan lain, Beliau hanya memilih “mengendalikan enam landasan indria, dengan pikiran suci melafal nama Buddha berkesinambungan”.  Asalkan melafal nama Buddha berkesinambungan maka dapat mengendalikan enam landasan indria. 


Master Ou Yi berkata bahwa pintu Dharma pelafalan Amituofo tidak ada yang khusus, hanya terletak pada keyakinan, tekad dan pengamalan saja. Buddha berkata bahwa jika ada praktisi yang melafal Amituofo, disebut samadhi menakjubkan yang mendalam dan tertinggi.


Master Lian Chi lahir pada Dinasti Ming. Permulaannya beliau belajar tentang ajaran, kemudian mempelajari aliran Dhyana. Ajaran Konfucius dan Tao juga dipahaminya dengan mendalam, namun ketika usianya lanjut beliau menfokuskan diri melafal Amituofo, dan mendapat gelar sebagai guru sesepuh Aliran Sukhavati yang kedelapan.  Master Lian Chi berkata bahwa praktisi yang melafal Amituofo dengan kesungguhan hati, melepaskan kemelekatan jiwa raga, adalah dana besar.  Tidak timbul lobha, dosa dan moha adalah merupakan pengamalan sila besar. Tidak melakukan perhitungan dengan orang lain adalah kesabaran (ksanti) besar. Tidak terputus dan dapat menfokuskan diri adalah ketekunan (virya) besar. Tidak dikendalikan oleh pikiran khayal adalah samadhi besar. Tidak terpengaruh oleh orang lain sehingga timbul keraguan adalah kebijaksanaan (prajna) besar. 


Mengenai berdana, ditinjau dari sisi melatih diri adalah hal yang sangat penting. Maka itu saya jadi teringat akan jalinan jodoh saya dalam belajar Buddha Dharma yang sangat bagus, sosok guru yang saya temui semuanya adalah para senior yang hebat. Pada usia 26 tahun saya mulai belajar Buddha Dharma, guru saya yang pertama adalah Professor Fang Dongmei, kemudian ketika mulai mengenal ajaran sutra saya mengunjungi Master Zhang-jia untuk meminta bimbingan dari beliau. 


Pertama kali kami bertemu, saya mengajukan pertanyaan :”Ajaran Mahayana sangat bagus, adakah cara agar saya dapat memasukinya dengan cepat?” Kemudian Master menatap ke arah diriku, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Beliau menatap diriku dan saya juga menatap dirinya. Setelah diam selama setengah jam, beliau menjawab : “Ada!” Setelah itu beliau diam kembali, sekitar 5 menit kemudian baru berkata lagi : “Dapat mengikhlaskan dan merelakan”. Seluruh sikap beliau berada dalam samadhi. Saya bertanya lagi : “Darimana saya harus memulainya?” Lagi-lagi beliau terdiam dan saya harus menanti jawaban beliau dengan lama dan sabar. Kemudian beliau menjawab : “Berdana”. Hari pertama kami bertatap muka selama lebih dari dua jam hanya sempat berbincang beberapa kalimat ini.


Akhirnya ketika berpamitan beliau mengantar saya sampai ke pintu depan, dan berkata padaku : “Hari ini saya menyampaikan padamu “dapat mengikhlaskan dan merelakan”, semoga kamu dapat mengamalkannya selama 6 tahun. Akhirnya saya berhasil mengamalkannya. Enam paramita Bodhisattva, berdana adalah paramita pertama. Segalanya harus dapat dilepaskan, Bodhisattva sejak membangkitkan niat permulaan sampai mencapai KeBuddhaan, hanya ada satu yakni berdana.



Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung



Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記



Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 11

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan


Bait sutra :



jīn
yú
cǐ
jiè

shè
niàn
今
於
此
界
,
攝
念

fó
rén

guī
yú
jìng
tǔ

佛
人
,
歸
於
淨
土
。



Penjelasan :


Tiga kalimat ini menjelaskan bahwa tugas Bodhisattva datang ke dunia ini adalah untuk mengajari para makhluk, agar menerima dan mengamalkan ajaran, setiap insan memiliki kesempatan mencapai pencerahan, menyempurnakan KeBuddhaan.  


Dunia ini adalah dunia yang dipenuhi lima kekeruhan, terutama pada masa kini kekeruhan semakin bertambah cepat dan dalam, terasa lobha, dosa, moha, keangkuhan dan kecurigaan manusia semakin meningkat. Akibatnya akan mengundang bencana dan malapetaka, manusia masa kini seharusnya meningkatkan mawas diri.


Tanah suci menunjuk pada Alam Sukhavati, tidak ada di tata surya, juga tidak ada di Galaksi Bima Sakti. Upasaka senior Huang Nian-zu beranggapan bahwa Galaksi Bima Sakti hanyalah sebuah satuan dunia saja. Sedangkan wilayah pengajaran satu Buddha dapat mencakup sepuluh miliar Galaksi Bima Sakti. Alam Sukhavati berjarak dari alam ini sepuluh triliun Alam Buddha, ada sebuah alam yang maha luas bernama Alam Sukhavati, merupakan wilayah pengajaran Buddha Amitabha, bagaimana cara untuk menuju ke sana? Praktisi sekalian yang telah membaca sutra Mahayana juga mengetahui bahwa untuk sampai ke Alam Sukhavati bukanlah hal sulit.


Karena seluruh alam semesta yang tanpa batas ini adalah terwujud dari pikiran kita, maka itu tak peduli berapa jauh jaraknya, juga tidak melampaui  batas pikiran kita. Maka itu dalam sebersit niat pikiran dapat mencapai Alam Sukhavati. Kecepatan dari niat pikiran kita, tiada yang dapat sebanding dengannya. Kecepatan cahaya saja per detik hanya dapat mencapai tiga ratus ribu kilometer, sedangkan kecepatan pikiran hanya dalam waktu sekejab, tidak perlu sedetik, sudah dapat menjelajahi seluruh alam semesta yang tanpa batas ini. Buddha memberitahukan kita ini adalah kemampuan manusia. Buddha hanya mengajarkan kita untuk mengembalikan kemampuan asal kita, jika menganggap bahwa Buddha dapat memberikan sesuatu kepada kita, ini adalah omong kosong, maka itu dikatakan bahwa Ajaran Buddha sama sekali tidak ada kepercayaan takhayul.


Bumi di semesta alam tampak sangat kecil, agama lainnya percaya pada alam surga, menurut Ajaran Buddha surga bukanlah hanya satu saja, namun ada 28 alam surga, masing-masing memiliki kondisi yang berbeda, di dalam sutra Buddha dijelaskan secara terperinci. Lingkungan kehidupan kita yang sesungguhnya sangatlah luas, setiap planet di luar angkasa memiliki hubungan dengan kita. Ada rekan yang memberitahukan padaku peneliti negara barat menggunakan cara ilmiah, dapat mengetahui masa lampau seseorang, telah membuktikan bahwa manusia mengalami tumimbal lahir, ada orang yang pada masa lampaunya tinggal di sebuah tempat, ada pula yang masa lampaunya adalah hewan, ada juga yang berasal dari planet lain yang terlahir ke bumi.


Ruang memiliki luas yang tanpa batas, manusia planet bumi juga mungkin bertumimbal lahir di planet lain. Maka itu disebut alam ini adalah tempat perantauan, sedangkan Alam Sukhavati adalah kampung halaman kita. Di dunia ini kita hanya tinggal sementara saja, setelah sampai di Alam Sukhavati, kita memiliki usia tanpa batas, waktu yang panjang barulah kampung halaman. Ketika tersesat kehilangan arah, setelah tercerahkan tidak ada yang tidak ingin kembali ke jalan yang benar, semuanya akan bertekad lahir ke Alam Sukhavati.  


Bodhisattva Mahasthamaprapta dengan kekuatan tekad dan kewibawaanNya memberkati para praktisi Nian Fo, namun para praktisi juga dapat timbul kerisauan, kemunduran dan juga ada yang sampai berubah. Ini bukan kekuatan Bodhisattva yang bermasalah, namun adalah rintangan karma dan tabiat sendiri yang terlalu berat. Buddha dan Bodhisattva tidak mungkin memaksa seorang praktisi harus bertindak bagaimana, jika Beliau memiliki niat sedemikian, maka hatiNya tidak suci lagi. Buddha dan Bodhisattva adalah guru, seharusnya kita menerima dan mengamalkan ajaranNya.


“Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan” hanya terdiri dari 244 aksara, setelah memahami maknanya  dan  mengamalkannya,  akan memperoleh pemberkatan dari Bodhisattva Mahasthamaprapta. Melatih diri dengan metode yang tertera dalam sutra ini pasti takkan mengalami kemunduran, dengan sendirinya ketrampilan akan menjadi mahir, saat menjelang ajal Bodhisattva Mahasthamaprapta pasti datang menjemput.


Praktisi Nian Fo harus memiliki tiga bekal yakni yakin, bertekad dan mengamalkan. Jika melafal Amituofo hanya di mulut saja, namun pikirannya melayang ke mana-mana, maka Bodhisattva Mahasthamaprapta takkan mempedulikan praktisi sedemikian. Melatih Ajaran Sukhavati harus memenuhi syarat tiga bekal tersebut. Keyakinan adalah yakin sepenuhnya pada Buddha Amitabha. Bertekad adalah membangkitkan tekad terlahir ke Alam Sukhavati. Mengamalkan adalah melafal Amituofo.

  

 Di dalam Shurangama Sutra pada bagian kelima, Buddha Sakyamuni bertanya kepada para siswaNya, metode mereka masing-masing dalam melatih diri sehingga mencapai kesempurnaan tanpa rintangan, dengan metode praktis apa sehingga memasuki samadhi. Kemudian meminta mereka satu persatu menjawabnya. Seluruhnya ada 25 Bodhisattva yang memberikan jawaban, sehingga menghimpun seluruh pintu Dharma yang tak terhingga dan tanpa batas ke dalam 25 kategori besar, setiap kategori diwakili oleh seorang Bodhisattva.  Bodhisattva Mahasthamaprapta mewakili pintu Dharma pelafalan nama Buddha. Beliau memberikan jawaban kepada Buddha Sakyamuni sebagai berikut :   
  
 

Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung


Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記


Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 10


Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Bait sutra :

wǒ
běn
yīn
dì

yǐ
niàn
我
本
因
地
,
以
念

fó
xīn

rù
wú
shēng
rěn

佛
心
,
入
無
生
忍
;


Penjelasan :

Melafal nama Buddha yang terpenting adalah melafalnya di hati, mulut dan hati harus terjalin dan menyatu. Jika hanya bersuara saja tiada gunanya, harusnya mulut melafal namun hati ikut terjalin, tidak boleh menggunakan pikiran diskriminasi melafalnya, namun melafalnya dengan “mengendalikan enam landasan indria” dan pikiran tak tergoyahkan.

25 Bodhisattva yang tertera di Surangama Sutra merupakan Bodhisattva Dharmakaya,  Mereka tidak memiliki pikiran khayal lagi, namun pikiran sejatinya telah muncul. Walaupun kita tidak mampu mencapai kondisi batin serupa Mereka, namun tetap harus belajar, yang terpenting adalah melafal Amituofo dengan setulusnya.

Dasar dari melatih diri ada tiga yakni yang pertama adalah belajar, tujuannya untuk membantu kita menghapus tabiat dan noda pikiran. Misalnya seorang praktisi tidak boleh mengkonsumsi lima jenis sayuran yang berbau tajam, yakni bawang, bawang putih, allium, daun bawang, bawang bombay. Lima macam sayuran ini membawa dampak negatif karena itu disebut sayuran daging. Jika dikonsumsi dalam keadaan mentah akan mudah menimbulkan amarah, dan jika telah masak akan meningkatkan hormon, mengundang gairah.

Yang kedua adalah melatih diri dengan kesungguhan hati, terlebih dulu harus mengamalkan sila, dari lima sila yang terpenting adalah berbohong, mengaku telah mencapai tingkatan kesucian tertentu. Seperti Master Yanshou adalah jelmaan Buddha Amitabha di dunia ini, ketika identitasnya terbongkar dia segera wafat. Bhiksu Karung muncul pada masa Dinasti Song Selatan, merupakan jelmaan Bodhisattva Maitreya, begitu selesai membongkar identitasnya sendiri, dia segera wafat. Jadi bila ada yang mengaku dirinya adalah jelmaan Buddha atau Bodhisattva, namun selesai membongkar identitas sendiri namun tidak pergi-pergi, itu pasti adalah menyamar.

Yang ketiga adalah meningkatkan kemajuan, dengan kekuatan samadhi dan prajna memutuskan jodoh buruk, tidak henti mengejar kemajuan, menjauhi tabiat dan noda pikiran.

Waktu yang lalu melihat dunia ini adalah dunia yang dipenuhi kekeruhan, namun sekarang pikiran telah suci, maka itu melihat dunia ini adalah dunia yang suci, pikiran suci maka alam pun jadi suci, segala kondisi muncul dari pikiran. Ada praktisi yang mengeluh bahwa setelah melafal Amituofo, bentuk-bentuk pikiran yang timbul bertambah banyak, sesungguhnya dalam keseharian bentuk-bentuk pikiran juga begitu banyak, hanya kita tidak menyadarinya.

Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記

Sumber : Cahaya Sukacita 

Sabtu, 18 Juni 2016

Bait 09


Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Bait sutra :

rú
rǎn
xiāng
rén

shēn
yǒu
如
染
香
人
,
身
有

xiāng
qì

cǐ
zé
míng
yuē

香
氣
;
此
則
名
曰
:
xiāng
guāng
zhuāng
yán

香
光
莊
嚴
。

Penjelasan :

Pada bait sebelumnya Bodhisattva Mahasthamaprapta telah membabarkan pada kita caraNya melatih diri dan hasilnya, kini Beliau akan memberitahukan pada kita nama dari pintu Dharma ini, yakni “kewibawaan semerbak keharuman dan cahaya”. Tindakan dan ucapan Buddha berasal  dari pikiran yang suci, karena itu takkan timbul kesalahan, dapat menjadi sila di dunia. Bila ucapan dan tindakan kita dapat sesuai dengan sila maka ibarat insan yang terhembus keharuman dupa.  

Kita tidak mampu membaca keseluruhan isi Tripitaka, apalagi kehidupan jaman sekarang yang begitu sibuk, maka itu kita memilih Sutra Usia Tanpa Batas, bila dapat membaca dan memahaminya, ini sudah sangat bagus.

Dalam Avatasamka Sutra tertera bahwa keharuman Bodhicitta dapat menghapus lobha, dosa, moha dan kilesa lainnya. Bodhi adalah pencerahan. Bodhicitta dapat melenyapkan lobha, dosa, moha keangkuhan, kecurigaan dan pandangan sesat, sehingga para makhluk dapat menyempurnakan kebijaksanaan, sejuk tanpa noda pikiran. Manfaat Bodhicitta sangat luas dan besar, mencakup angkasa luas. Hari ini kita menjadi begitu mudah tersinggung, hanya mementingkan diri sendiri, maka itu berputar di enam alam tumimbal lahir, tidak dapat keluar.  Enam alam tumimbal lahir berasal dari pikiran sesat kita, jika kesesatan hilang maka maha ribu dunia juga takkan ada lagi. Perbedaan orang awam dan orang suci hanya pada sesat dan tercerahkan.  

Master Xu Yun setahun hanya mandi satu kali saja, dan juga mencukur rambutnya satu kali saja. Kabarnya pakaian dan raganya menebar keharuman. Sedangkan kita baru tiga hari tidak mandi, baunya sungguh menusuk.

Jika kita melihat di sebuah vihara ada terpasang plak tulisan “Ruang Semerbak Cahaya”, maka kita segera tahu bahwa ini adalah vihara yang mengamalkan Ajaran Sukhavati.

Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記


Catatan :

Insan yang terhembus keharuman dupa adalah perumpamaan untuk praktisi yang melatih Ajaran Sukhavati, praktis Nian Fo terhembus jasa kebajikan Buddha, ibarat penjual dupa, tanpa terasa dirinya juga ikut terhembus keharuman dupa, jasa kebajikan Buddha memenuhi diri sang praktisi.

Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 07


Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Bait sutra :

  
ruò
zhòng
shēng
xīn

yì
fó

若
眾
生
心
,
憶
佛
、
niàn
fó

xiàn
qián
dāng
lái

念
佛
,
現
前
當
來
,
bì
dìng
jiàn
fó

必
定
見
佛
,

Penjelasan :

Bila kita mengamati isi sutra dengan seksama, poin pentingnya adalah pikiran yang terfokus, bukan hanya dalam melafal Amituofo diperlukan pikiran terfokus, namun dalam kehidupan keseharian juga diperlukan pikiran terfokus, melafal Amituofo adalah cara untuk melatih pikiran terfokus. Selain nama Buddha kita tidak memiliki niat yang lain. Setiap lafalan saling berkesinambungan, tercapailah samadhi, di mana saja dan kapan saja, dalam kondisi suka maupun duka dapat mempertahankan pikiran terfokus. Setelah ketrampilan melafal Amituofo telah mahir maka memiliki kemampuan untuk menaklukkan noda pikiran, dengan pikiran terfokus ini juga dapat terlahir ke Alam Sukhavati pada tanah suci tingkatan pertama. Para sesepuh terdahulu memuji pintu Dharma ini adalah memuji poin ini, dengan sedikit kemahiran dapat melampaui Trailokya (Kamaloka, Rupaloka dan Arupaloka).  Saat kini atau kelak pasti mencapai KeBuddhaan.

  
Di dalam Avatamsaka Sutra tertera Sudhana mengunjungi senior Yu-xiang yang suka jalan-jalan ke pasar (shopping), di sana dia melatih samadhi. Namun bagi praktisi senior dan praktisi pemula tentunya berbeda, praktisi pemula harus berusaha menjauhkan diri dari keramaian. Masa kini jika dapat memperoleh keberhasilan dalam melatih diri maka prestasinya lebih tinggi daripada praktisi jaman dahulu, namun jika gagal maka kemundurannya juga begitu cepat.  

Mimpi bertemu Buddha adalah tanda baik, namun jika sesekali saja tidaklah masalah, jika keseringan maka dikhawatirkan itu adalah jebakan Mara. Praktisi aliran Sukhavati dilindungi oleh para Buddha dan Bodhisattva, Mara takkan berani datang mengganggu. Di dalam Shurangama Sutra dijelaskan secara terperinci bahwa praktisi Nian Fo di saat menjelang ajal, harus menanti penjemputan dari Buddha Amitabha, jika melihat Buddha atau Bodhisattva lain datang menjemput jangan ikut denganNya, hanya menanti Buddha Amitabha saja, segala kondisi baik yang muncul tidak perlu dipedulikan. Sesepuh pertama aliran Sukhavati Master Hui Yuan ketika menjelang ajal berkata bahwa sepanjang hidupnya telah tiga kali bertemu Buddha Amitabha dan Alam Sukhavati, kondisinya serupa dengan yang tertulis di dalam sutra.

Ada praktisi yang sepanjang hidupnya melafal Amituofo namun tidak berhasil terlahir ke Alam Sukhavati, faktor penyebabnya ada 4 yakni :

1. Tidak menfokuskan diri.

Para guru sesepuh memahami ajaran semua aliran dengan baik, namun setelah mengenal Ajaran Sukhavati, mereka melepaskan yang lainnya, menfokuskan diri melatih Ajaran Sukhavati. Karya Master Lian Chi adalah “Catatan Ringkas Amitabha Sutra” dan karya Master Ou Yi adalah “Penjelasan Amitabha Sutra”. Master Yin Guang sendiri hanya mengandalkan satu sutra yakni Amitabha Sutra dan satu nama Buddha yakni Amituofo, yang lainnya sama sekali tidak ada.

2. Tidak memiliki keyakinan sepenuhnya

Walaupun melatih Ajaran Sukhavati dan melafal Amituofo, namun tidak yakin sepenuhnya akan terlahir ke Alam Sukhavati. Asalkan hanya ada sedikit saja keraguan, saat menjelang ajal jika memiliki berkah, tidak sakit dan pikiran masih sadar, maka hanya dapat terlahir di tanah pinggiran. Bagi yang kurang memiliki berkah, kesadarannya tidak jelas, ketika keraguannya timbul, maka tidak dapat terlahir ke Alam Sukhavati. Jika ingin menghapus rintangan ini, maka harus lebih memahami sutra dan kisah nyata para praktisi yang telah terlahir ke Alam Sukhavati.

3. Tidak memiliki tekad untuk terlahir ke Alam Sukhavati.

Tidak berniat terlahir ke Alam Sukhavati dan melafal Amituofo, menganggap cara ini untuk mengumpulkan berkah, kelak akan menjadi setan yang kaya, ada juga yang ingin ke surga untuk menikmati kesenangan, mengharapkan berkah di alam surga dan manusia.

4. Tidak mampu melepaskan kemelekatan.

Mendambakan kesenangan di alam manusia dan alam surga. Rupaloka dan Arupaloka juga mendambakan kenikmatan samadhi. Selama ada lobha pasti ada rintangan, tidak dapat terlahir ke Alam Sukhavati. 

Praktisi yang  melatih Ajaran Sukhavati, Mara tidak berani datang mengganggu. Faktor penyebab yang pertama adalah kekuatan pikiran, yakni seperti yang tertera dalam sutra ini “mengingat dan melafal nama Buddha”. Yang kedua adalah kekuatan jiwa KeBuddhaan, nama Buddha yang kita lafal adalah jiwa KeBuddhaan diri sendiri.  Kesucian, kesetaraan, maha maitri karuna adalah Buddha. Yang ketiga adalah pemberkatan dari tekad para Buddha. Dengan adanya kekuatan dari tekad para Buddha di sepuluh penjuru dan tiga masa, maka sebesar apapun kekuatan yang dimiliki Mara juga tidak berani datang mengganggu.

Tabiat telah dibina sejak banyak kalpa yang lampau, seperti selalu timbul niat jahat, mengalami mimpi buruk, semua ini adalah karma buruk masa lampau, harus serius bertobat, dengan setulusnya melafal Amituofo adalah pertobatan sejati. Melafal Amituofo juga dapat menyembuhkan pikiran  khayal. Kehidupan tidaklah kekal, segala kekayaan dan kemewahan di dunia ini adalah kerisauan, walaupun ada yang menawarkan padaku untuk menduduki tahta Raja Maha Brahma, saya juga tidak sudi. Penyakit juga merupakan salah satu faktor kemunduran, janganlah dipedulikan, lebih baik merenungkan kewibawaan rupa Buddha. Master Ci Yun dari Dinasti Qing berkata, karma manusia sungguh berat, ketika semua jenis sutra, mantra dan metode pertobatan tidak mampu mengeliminasinya, cara terakhir adalah dengan menggunakan sepatah nama Buddha untuk mengeliminasinya, cara yang paling efektif adalah melafal nama Buddha.  

Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記


Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 06


Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Bait sutra :

zǐ
ruò
yì
mǔ

rú
mǔ
子
若
憶
母
,
如
母

yì
shí

mǔ
zǐ
lì
shēng

憶
時
,
母
子
歷
生
,
bù
xiāng
wéi
yuǎn

不
相
違
遠
。

Penjelasan :

Andaikata ibunda dan sang anak saling memikirkan dan tidak terpisah, tentunya akan terjalin, pasti akan bertemu Buddha. Kita harus memahaminya dengan mendalam, mengapa melafal Amituofo dapat terlahir ke Alam Sukhavati, mengapa para Buddha di sepuluh penjuru memuji Buddha Amitabha.

Walaupun Ajaran Mahayana mengajarkan anda untuk melampaui tumimbal lahir, apakah anda dapat melakukannya?  Untuk keluar dari tumimbal lahir harus melenyapkan kilesa (noda pikiran),  jika tidak memutuskan kilesa, segala kebijaksanaan disebut kebijaksanaan sesat, hanya berkembang pandangan dan pengetahuan sesat. Master Qing-liang berkata : “Belajar namun tidak mengamalkan, hanya akan mengembangkan pandangan sesat”.  Buddha berkata bila masih memiliki perasaan suka duka dan nafsu keinginan, maka akan terlahir di Kamaloka, tidak dapat mencapai Rupaloka, setelah memutuskan segala nafsu keinginan barulah dapat mencapai Alam Brahma tingkat pertama. Namun jika ada orang lain yang mengucapkan sepatah kata yang membuatmu tidak senang, jika di hatimu masih ada sedikit perasaan tidak senang, maka anda tidak mungkin dapat mencapai Alam Brahma tingkat pertama.

Di dalam biografi Master An Shigao, tertera sebuah bait yang menceritakan pada suatu hari dia menuju ke Jiang-nan untuk menyelamatkan temannya. Temannya ini telah menjadi raja naga, di kehidupan lampaunya adalah seorang Bhiksu, memahami sutra dan suka berdana. Suatu hari ketika dia sedang berpindapata, nasi dan sayur yang diterima tidak bagus, dalam hatinya merasa tidak nyaman, maka itu timbul sebersit niat pikiran benci, setelah meninggal dunia terlahir ke alam binatang, menjadi ular sanca (ular piton) yang besar, di Sungai Sembilan menjadi raja naga. Oleh karena dia memahami sutra sehingga memiliki kebijaksanaan, sangat sakti, sehingga banyak umat yang datang bersembahyang memujanya. Hanya saja kebenciannya masih parah, kapal mana yang tidak memberi persembahan kepadanya, maka dia akan membuat kapal tersebut menjadi terbalik dan kesusahan. Sehingga ular ini menjelang ajalnya pasti tejatuh ke neraka.     

Cobalah kalian pikirkan, hanya karena tidak puas pada hasil pindapata, timbul sebersit niat pikiran benci, harus menerima akibat demikian, maka itu kita harus lebih meningkatkan mawas diri. Melatih diri adalah melenyapkan lobha, dosa dan moha, melatih pikiran suci, setara, maitri karuna dan sukacita, barulah dapat memperbaiki tabiat diri.

Semua pintu Dharma itu bagus, namun sayangnya kita sendiri tidak mampu memutuskan kilesa. Sedangkan dengan melafal sepatah Amituofo dapat menaklukkan lobha, dosa, moha, keangkuhan, nafsu keinginan serta kilesa lainnya, tidak takut timbulnya niat pikiran, hanya saja takut terlambat menyadarinya. Begitu niat pikiran timbul, maka niat pikiran berikutnya adalah melafal Amituofo, setiap lafalan saling menyambung, melafal Amituofo dapat berhasil atau tidak adalah terletak pada poin ini. Tidak boleh melafal Amituofo sambil membiarkan noda pikiran terus muncul, setiap hal harus memperhitungkan dan tidak bisa merelakan. Setelah memahami kebenaran baru dapat menaklukkan kilesa. Hal ini harus dibina dalam keseharian, pertama harus membaca sutra, di dalam sutra Buddha membabarkan kebenaran yang ada pada alam semesta dan kehidupan manusia. Tujuan membaca sutra adalah agar kita dapat mengikhlaskan dan merelakan, kemudian sepatah nama Buddha ini membantu kita melampaui Trailokya (Kamaloka, Rupaloka dan Arupaloka).  

Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記

Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 05

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

  
Bait sutra :

shí
fāng
rú
lái

lián
niàn
十
方
如
來
,
憐
念

zhòng
shēng

rú
mǔ
yì
zǐ

眾
生
,
如
母
憶
子
;

ruò
zǐ
táo
shì

suī
yì
若
子
逃
逝
,
雖
憶

hé
wéi
何
為
?

Penjelasan :

Kasih sayang antara seorang ibunda dan anak tunggalnya sungguh erat, tiada seorang ibu yang tidak memikirkan anak-anaknya. Sejak jaman dahulu kala, hati seorang ibunda begitu merindukan anaknya, walaupun dia tahu bahwa anak-anaknya tidak pernah memikirkannya, namun sang ibu senantiasa menaruh anak-anaknya di lubuk hatinya yang paling dalam. Diibaratkan Buddha adalah sang ibu, kasih sayangNya tidak hanya satu kehidupan saja.

Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記

Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 04

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan
  

Bait sutra :

  
pì
rú
yǒu
rén

yì
zhuān
譬
如
有
人
,
一
專

wéi
yì

yì
rén
zhuān
wàng

為
憶
,
一
人
專
忘
;

rú
shì
èr
rén

ruò
féng
如
是
二
人
,
若
逢

bù
féng

huò
jiàn
fēi
jiàn

不
逢
,
或
見
非
見
。

èr
rén
xiāng
yì

èr
yì
二
人
相
憶
,
二
憶

niàn
shēn

rú
shì
nǎi
zhì
念
深
;
如
是
乃
至

cóng
shēng
zhì
shēng

tóng
yú
從
生
至
生
,
同
於

xíng
yǐng

bù
xiāng
guāi
yì

形
影
,
不
相
乖
異
。

Pertama-tama adalah Buddha memikirkan para makhluk, sedangkan para makhluk tidak memikirkan Buddha, andaikata kedua belah pihak saling memikirkan tentunya akan terjalin. Ayahbunda memikirkan anaknya cuma untuk satu kehidupan saja, kelahiran mendatang belum tentu dapat berjumpa kembali, walaupun berjumpa kembali juga tidak saling mengenali lagi. Buddha tidak pernah berhenti memikirkan para makhluk, Hati Buddha ini hanya dapat dipahami oleh insan yang telah mencapai KeBuddhaan.

Buddha berkata bahwa segalanya tercipta dari pikiran. Pikiran adalah pengendali, setelah melafal Amituofo untuk kurun waktu yang lama, maka pikiran dipenuhi maitri karuna, wajah jadi damai. Tukang ramal selalu mengatakan, rupa berubah mengikuti perubahan pikiran. Master Shandao berkata : “Perbedaan sembilan tingkatan kelahiran di Alam Sukhavati terletak pada jalinan jodoh yang berbeda”. Ada praktisi yang begitu mendengar pintu Dharma melafal Amituofo, langsung timbul keyakinan, segera menfokuskan diri melafal Amitufo, ini adalah praktisi yang akar kebajikannya telah masak, dalam satu kelahiran ini dia pasti akan berhasil. Bagi praktisi yang akar kebajikannya belum masak, bertemu jodoh sangat erat hubungannya. Andaikata saat menjelang ajal dapat bertemu dengan kalyanamitra  (sahabat Dharma) yang dapat menuntunnya melafal Amituofo dan bertekad lahir ke Alam Sukhavati, serta pikirannya tak tergoyahkan, mungkin menggerakkan akar masa lampaunya, menfokuskan pikiran melafal Amituofo, dalam waktu singkat memperoleh keberhasilan.

    

Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記

Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 03

LĺPenjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

  
Bait sutra :
   
bǐ
fó
jiào
wǒ

彼
佛
教
我
,
niàn
fó
sān
mèi

念
佛
三
昧
。

Melafal Amituofo kuncinya terletak pada pikiran yang terfokus, bila timbul bentuk-bentuk pikiran adalah tidak terfokus. Sebagian besar praktisi pemula melafal Amituofo dengan tidak terfokus.

Metode melafal Amituofo adalah pikiran terfokus pada nama Buddha Amitabha, tidak timbul keraguan, tidak mencampurnya dengan yang lain, tidak terputus. Inilah yang dimaksud Bodhisattva Mahasthamaprapta dengan melafal berkesinambungan.

Menfokuskan pikiran melafal Amituofo adalah samadhi pelafalan nama Buddha, kondisi batin yang dicapai berbeda-beda, kemahirannya juga berbeda. Sesepuh terdahulu berkata : “Asalkan dapat bertemu Buddha Amitabha, tidak perlu merisaukan pencerahan lagi”. Bertemu Buddha Amitabha dengan sendirinya pencerahan dapat tercapai, maka itu metode melafal nama Buddha lebih luar biasa daripada Dhyana.

Melafal sepatah Amituofo telah mencakup nama seluruh Buddha. Nama sesungguhnya dari Sutra Amitabha adalah Sutra Yang Dilindungi Oleh Seluruh Buddha. Seluruh Buddha membabarkan Amitabha Sutra kepada semua makhluk. Buddha membabarkan sutra sesuai dengan kemampuan pencerapan masing-masing, sutra terpenting telah diterjemahkan dalam Bahasa Mandarin, salah satunya adalah “Amitabha Sutra”, dapat diterima semua kalangan baik pintar maupun tidak. Sehingga semua makhluk dapat setara memperoleh penyelamatan, maka itu Master Shandao berkata : “Tathagata bersukacita muncul di dunia, hanya untuk membabarkan lautan tekad Buddha Amitabha”. Buddha hanya demi satu hal sehingga muncul di dunia ini, namun mengapa masih membabarkan berbagai pintu Dharma lainnya, ini karena para makhluk tidak percaya pada pintu Dharma Sukhavati, hanya pintu Dharma ini yang dalam satu kelahiran mencapai KeBuddhaan. Praktisi yang menyadari bahwa kesempatan untuk mencapai KeBuddhaan telah datang, maka segera menfokuskan diri meyakini pintu Dharma ini. Praktisi sedemikian adalah sangat jarang.

Saya melafal Amituofo adalah melafal nama Buddha yang ada di hatiku. Buddha Amitabha adalah makhluk suci yang berada di hati setiap makhluk. Hati Buddha dan hati makhluk adalah satu.
       

Saya selalu menekankan agar para praktisi dapat membaca Sutra Usia Tanpa Batas sebanyak 3000 kali, tujuannya untuk melatih kesucian pikiran, dengan keyakinan yang teguh dan suci kemudian melafal Amituofo, dapat mencapai pencerahan, memperoleh KeBodhian tertinggi, dalam satu kelahiran dapat melakukannya. Ada kutipan yang menarik dari ceramah Master Tan Xu di Hongkong, ada praktisi yang menfokuskan diri melafal sepatah nama Buddha, ketika ajalnya menjelang, ada yang pergi dengan cara berdiri atau duduk, ada kejadian nyatanya, mereka mampu melakukannya. Seberapa dalam akar kebajikan yang dimiliki hanya diri sendiri yang mengetahuinya, jika masih ada keraguan maka tidak mencukupi. Semua kewajiban dikerjakan namun setelah selesai dikerjakan tidak memikirkannya lagi, dalam hati hanya ada sepatah Amituofo.

  
Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記


Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 02


Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan


Bait sutra :


wǒ
yì
wǎng
xí

héng
hé
我
憶
往
昔
,
恆
河

shā
jié

yǒu
fó
chū
shì

沙
劫
,
有
佛
出
世
,
míng
wú
liàng
guāng

shí
èr
名
無
量
光
;
十
二

rú
lái

xiāng
jì
yì
jié

如
來
,
相
繼
一
劫
。
qí
zuì
hòu
fó

míng
chāo
其
最
後
佛
,
名
超

rì
yuè
guāng

日
月
光
;


Bodhisattva Mahasthamaprapta memberitahukan pada kita tentang riwayat belajarNya, pada masa lampau kalpa yang tak terhingga ada Buddha yang bernama Cahaya Tak Terhingga, ada 12 Buddha yang muncul dalam satu kalpa. Di dalam Bab 12 Sutra Usia Tanpa Batas tertera : “Buddha Amitabha memiliki cahaya nan cemerlang,melampaui cahaya sang surya dan rembulan,ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan juta kali lipat. CahayaNya adalah yang paling terunggul. Rajanya diantara para Buddha, maka itu Buddha Amitayus ( Buddha usia tak terbatas),juga mendapat sebutan Buddha cahaya tak terhingga”.

Cahaya para Buddha dapat menyinari sampai sejauh mana, adalah berdasarkan pada besar kecilnya tekad dan jasa kebajikan Mereka masing-masing sewaktu melatih diri di masa lampau. Para Buddha yang melihat hasil dari 48 tekad Buddha Amitabha dan kewibawaan Alam Sukhavati, tentu saja mendukung dan memberikan pujian, maka itu membantu Buddha Amitabha menuntun para makhluk di sepuluh penjuru alam agar semuanya bertekad terlahir ke Alam Sukhavati. 

Di dalam Sutra Usia Tanpa Batas tertera Buddha Amitayus ( Buddha usia tak terbatas),juga mendapat sebutan Buddha cahaya tak terhingga;juga disebut Buddha cahaya tanpa batas, Buddha cahaya tanpa rintangan, Buddha dengan cahaya tiada bandingnya ;juga disebut Cahaya kebijaksanaan, Cahaya yang senantiasa menyinari, Cahaya suci, Cahaya sukacita, Cahaya pembebasan, Cahaya kedamaian, Cahaya yang melampaui sinar surya dan rembulan, Cahaya tak terbayangkan.


Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung
  

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記





Sumber : Cahaya Sukacita 

Bait 01




Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Bait sutra :

dà
shì
zhì
fǎ
wáng
zǐ

大
勢
至
法
王
子
,

yǔ
qí
tóng
lún
wǔ
shí

與
其
同
倫
五
十

èr
pú
sà

jí
cóng
zuò

二
菩
薩
,
即
從
座

qǐ

dǐng
lǐ
fó
zú

起
,
頂
禮
佛
足
,
ér
bó
fó
yán

而
白
佛
言
:








Penjelasan :

Di dalam “Sutra Asked by Visesacinta Brahma Deva (Siyi Jing)”  tertera bahwa : “Di tempat mana Saya (Bodhisattva Mahasthamaprapta) menapakkan kakiKu, maka tiga ribu maha ribu dunia dan istana Mara akan berguncang, maka itu disebut Mahasthamaprapta”. Diantara  “Tiga Suciwan Alam Sukhavati (Buddha Amitabha, Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta), Bodhisattva Mahasthamaprapta mewakili kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang sempurna barulah dapat memiliki kebajikan yang paling luar biasa berwibawa, dengan demikian barulah dapat mengguncang tiga ribu maha ribu dunia dan istana Mara.

Di dalam Amitāyurdhyāna-sūtra tertera bahwa “Ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta berjalan, semua yang ada di sepuluh penjuru alam akan berguncang, ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta  duduk, negeri tujuh mustika, akan bergoyang sesaat”.  

Di dalam sutra Buddha Sakyamuni membabarkan, Buddha Amitabha di Alam Sukhavati pada suatu saat kelak juga akan memasuki Parinirvana, hanya saja waktunya akan sangat panjang sekali. Buddha Sakyamuni membabarkan bahwa andaikata para makhluk di sepuluh penjuru alam telah mencapai tingkatan Pratyeka Buddha, semuanya memiliki kemampuan gaib setara dengan Maudgalyayana, menghabiskan waktu selama puluhan ribu bahkan ratusan juta tahun juga tidak bisa menghitung usia Buddha Amitabha. Alam Sukhavati sungguh istimewa menakjubkan, takkan ada masa Dharma sejati, Dharma kemiripan, masa berakhirnya Dharma dan jaman lenyapnya Dharma. Setelah Buddha Amitabha memasuki Parinirvana, Bodhisattva Avalokitesvara segera mencapai KeBuddhaan untuk meneruskan tugasNya. Setelah Bodhisattva Avalokitesvara memasuki Parinirvana, Bodhisattva Mahasthamaprapta mencapai KeBuddhaan. Jika ada insan yang ragu pada Buddha Dharma, maka Buddha juga memasuki Parinirvana, untuk apa kita pergi ke sana? Yang memasuki Parinirvana adalah nirmānakāya, sedangkan Dharmakāya Nya tidak muncul dan tidak lenyap, sambhogakāya mengalami muncul dan lenyap. Di Alam Sukhavati di tanah suci tingkatan paling bawah dan yang kedua Buddha Amitabha yang kita lihat adalah nirmaṇakāya, sedangkan di tanah suci tingkatan tiga yang kita lihat adalah sambhogakāya, dan di tanah suci tertinggi (nitya-sthita) yang kita lihat adalah Dharmakaya. Di dalam  sutra Bhagava Sakyamuni sering berkata, waktu yang dibutuhkan insan awam untuk mencapai KeBuddhaan adalah tiga asaṃkhyeya kalpa besar, terlahir ke Alam Sukhavati memperoleh usia tanpa batas, karena itu tidak perlu takut Buddha Amitabha akan memasuki Parinirvana.

Di dalam Amitāyurdhyāna-sūtra tertera : “Dengan cahaya kebijaksanaan menyinari segalanya, sehingga terbebas dari tiga alam penderitaan, memperoleh kekuatan tertinggi”. Bodhisattva  Mahasthamaprapta melatih diri dengan cara melafal nama Buddha secara berkesinambungan. Para praktisi di sepuluh penjuru alam yang melafal Amituofo dan bertekad terlahir ke Alam Sukhavati ketika menjelang ajalnya,  Bodhisattva Mahasthamaprapta akan ikut dengan Buddha Amitabha datang menjemput praktisi tersebut. Beliau juga digelar Pangeran Dharma, Dia adalah calon Buddha. Calon Buddha yang pertama adalah Bodhisattva Avalokitesvara, dan Bodhisattva Mahasthamaprapta adalah calon Buddha yang kedua.

Bagaimana cara Bodhisattva Mahasthamaprapta melatih diri, yakni dengan melafal Amituofo,  perlu diketahui bahwa sepatah nama Buddha ini memiliki jasa kebajikan yang tak terbayangkan. Bodhisattva Mahasthamaprapta memiliki satu tujuan dengan  Buddha Amitabha, para praktisi di sepuluh penjuru yang melafal Amituofo adalah sahabat Bodhisattva Mahasthamaprapta. Setiap praktisi yang melatih pintu Dharma pelafalan Amituofo boleh disebut sebagai Bodhisattva Mahasthamaprapta.

Walaupun pintu Dharma tidak ada yang tinggi maupun rendah, asalkan tepat sasaran, semuanya adalah bagus. Namun bagi yang akar kebijaksanaannya tidak cukup tajam maka dikhawatirkan sulit memperoleh hasil. Hanya pintu Dharma pelafalan Amituofo dimana semua orang dapat melafalnya,  baik berjalan, berdiri, duduk atau berbaring, setiap saat takkan terputus, membantu kita agar terlepas dari tumimbal lahir, maka itu praktisi Nian Fo memiliki kebijaksanaan sejati yang tertinggi.

Dikutip dari :

Penjelasan Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafal Nama Buddha Dengan Sempurna Tanpa Rintangan

Oleh : Master Chin Kung

Sumber : 大勢至菩薩念佛圓通章親聞記

Sumber : Cahaya Sukacita