Tampilkan postingan dengan label Vegetarian Buddhist Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vegetarian Buddhist Article. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2016

VEGETARIAN menurut ajaran Buddha

Ajaran Buddha sebenarnya tidak mengecam ataupun menganjurkan praktik vegetarian. Di dalam sutta-sutta, Sang Buddha tidak mengatakan bahwa praktik vegetarian adalah benar atau salah. Di dalam ajaran Buddha, seseorang bebas untuk memilih apa yang akan mereka jadikan makanan, baik itu sayuran maupun daging. Menkonsumsi makanan penting sekedar untuk bertahan hidup dalam jangka waktu lama. Mengenai hal ini Sang Buddha pernah berkata, "Semua makhluk hidup bertopang pada makanan". 

Sebelum munculnya ajaran Buddha, ada banyak brahmana dan pertapa yang percaya bahwa kesucian hanya dapat tercapai dengan jalan mengatur dengan ketat apa yang mereka makan. Berdasarkan pandangan itu mereka hanya makan nasi dan sayuran dalam jumlah yang sangat sedikit. Bahkan sering kali mereka tidak makan apa pun. Mereka percaya bahwa dengan cara ini, yang semacam penyiksaan diri, kesucian dapat tercapai. Sang Buddha menolak konsep penyucian diri dengan jalan semacam itu. 

Sang Buddha tidak menganggap bahwa vegetarian merupakan praktik moralitas. Bahkan praktik vegetarian sama sekali bukan bagian dari moralitas (sila) yang merupakan salah satu faktor dari Jalan Mulia Beruas Delapan. 

Sang Buddha menganjurkan kepada semua murid-Nya untuk mempraktikkan Dhutanga. Dhutanga secara harfiah diartikan sebagai latihan untuk menghancurkan kekotoran batin. Praktik vegetarian tidaklah termasuk dalam faktor dhutanga, yang berarti bukan merupakan faktor penting untuk mengakhiri penderitaan. Oleh karenanya, Sang Buddha tidak mendorong para murid-Nya untuk menjadi vegetarian. Tetapi Beliau menyarankan mereka untuk bersikap terkendali dalam hal makan. 

Pada masa kehidupan Sang Buddha, dalam Kanon Pali (Pacittiya Pali, Vinaya Pitaka) disebutkan bahwa ada lima jenis makanan yang biasa disajikan sebagai menu sehari-hari dan juga biasa didanakan kepada para bhikkhu, yaitu nasi, bubur beras, terigu rebus, ikan, dan daging. Selain dari lima jenis makanan di atas, disebutkan pula sembilan jenis makanan yang lebih istimewa, yaitu makanan yang dicampur dengan mentega cair, mentega segar, minyak, madu, sirup gula, ikan, daging, susu, dan dadih. 

Sembilan jenis makanan tersebut umumnya ditemukan di kalangan keluarga kaya dan mereka juga mendanakannya kepada para bhikkhu. Para bhikkhu diperbolehkan menerima makanan itu bila didanakan oleh para umat awam, namun mereka akan dikatakan melanggar vinaya jika dengan sengaja meminta makanan tersebut kepada umat, tanpa disertai alasan tertentu, yaitu ketika mereka sedang sakit. 

Dari hal-hal di atas dapat diketahui bahwa ikan dan daging sudah biasa dikonsumsi sejak masa hidup Sang Buddha. Sang Buddha dan para murid-Nya hanya makan dari hasil pindapatta. Sang Buddha sendiri memakan daging dan memperkenankan para murid-Nya berlaku serupa, dengan catatan bahwa daging tersebut tidak khusus disediakan atau dibunuh untuk Beliau dan para bhikkhu. 

Sebagai pendukung, ada beberapa contoh yang membuktikan bahwa daging sudah biasa dikonsumsi sebelumnya dan Kanon Pali menyebutkan bahwa ada beberapa macam daging yang didapati dalam mangkok (patta) Sang Buddha. 

Pada suatu ketika, di sebuah hutan, segerombolan perampok membunuh seekor sapi untuk dimakan. Pada saat yang sama, di hutan itu seorang bhikkhuni arahat bernama Uppalavamna sedang duduk bermeditasi di bawah pohon. Ketika melihat bhikkhuni tersebut, kepala gerombolan perampok menganjurkan anak buahnya untuk tidak mengganggu. Dia sendiri menggantungkan sepotong daging sapi di cabang pohon, mempersembahkannya kepada bhikkhuni ini, dan berlalu. Bhikkhuni Uppalavamna kemudian mengambil potongan daging tersebut dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha (Nissaggiyapacittiya Pali, Vinaya Pitaka). 

Pada peristiwa lainnya, Sang Buddha dalam perjalanan menuju Kusinara (hari terakhir sebelum Sang Buddha Parinibbana). Cunda, perajin emas dari Pava, mempersembahkan makanan terhadap Sang Buddha, termasuk sukaramaddava di dalamnya. Sukaramaddava berarti daging babi berusia setahun yang dijual. Daging babi semacam ini lunak dan kaya gizi. Meskipun kata sukaramaddava ini ditafsirkan dalam banyak arti, namun arti seperti di atas didukung oleh Y.M. Buddhagosa, penulis kitab Komentar Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya. 

Di dalam bukunya Y.M. Buddhagosa menyebutkan penafsiran pengajar-pengajar lain tentang sukaramaddava. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah semacam susu beras atau puding beras susu; beberapa lagi menyebutkan bahwa itu adalah semacam obat penguat (tonik). Belakangan ini, beberapa pelajar vegetarian menyebutkan bahwa sukaramaddava adalah sejenis jamur. 

Jadi kita mendapati adanya daging dalam mangkok Sang Buddha dan murid-Nya, tetapi Sang Buddha menganjurkan untuk menghindari memakan sepuluh jenis daging. Kesepuluh jenis daging tersebut adalah daging manusia, daging gajah, daging kuda, daging anjing, daging ular, daging singa, daging harimau, daging macan tutul, daging beruang, dan daging serigala atau hyena (Mahavagga Pali, Vinaya Pitaka). 

Seorang Bhikkhu dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi sepuluh macam daging tersebut karena beberapa alasan yang secara ringkas tercantum di kitab Komentar Vinaya (Samattpasadika) seperti berikut ini. Daging manusia tidak seharusnya dimakan karena berasal dari spesies yang sama. Daging gajah dan kuda tidak seharusnya dimakan karena mereka adalah peliharaan dari seorang raja. Sedangkan daging anjing dan ular dikarenakan mereka termasuk jenis hewan yang menjijikkan, kelompok terakhir adalah singa, harimau, dan sebagainya, tidak seharusnya dimakan karena mereka tergolong binatang berbahaya dan jika dimakan bau daging binatang tersebut bisa membahayakan para bhikkhu yang bermeditasi di hutan. 

Meskipun Sang Buddha mengizinkan para pengikut-Nya untuk menkonsumsi daging kecuali kesepuluh jenis di atas, Beliau memberlakukan tiga persyaratan, yaitu seorang bhikkhu tidak diperbolehkan menerima daging apabila: 

1. Melihat secara langsung pada saat binatang tersebut dibunuh.
2. Mendengar secara langsung suara binatang tersebut pada saat dibunuh.
3. Mengetahui bahwa binatang tersebut dibunuh khusus untuk dirinya. 

Karena Sang Buddha dan para murid-Nya bersikap non-vegetarian, tidak sedikit tokoh keagamaan lainnya yang mencela Sang Buddha. Sebagai contoh, suatu ketika kepala suku Vajji yang bernama Siha mengundang Sang Buddha dan murid-Nya untuk makan siang. Siha mempersembahkan nasi dan lauk, termasuk daging yang dibelinya di pasar. Sekelompok pertapa Jain mendengar bahwa Siha mempersembahkan nasi campur daging kepada Sang Buddha. Mereka mencela Sang Buddha maupun Siha, mereka memfitnah: "Siha, sang kepala suku, telah membunuh binatang besar untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Sang Buddha, dan sekalipun Sang Buddha mengetahuinya, Ia tetap saja memakan daging tersebut (Siha-senaoati Sutta, Anguttara Nikaya). 

Berdasarkan Jainisme, memakan daging adalah hal yang salah. Mereka berpandangan bahwa seseorang yang memakan daging akan mewarisi setengah karma buruk yang dibuat oleh si pembunuh hewan itu. Si pembunuh membunuh hewan karena si pemakan memakan daging. Sebelum menjadi pengikut Sang Buddha, Siha adalah pengikut Mahavira, pendiri Jainisme. 

Suatu ketika, seorang tabib bernama Jivaka mengunjungi Sang Buddha dan memberitahukan tentang berita yang didengarnya. "Yang mulia, ada yang mengatakan bahwa beberapa bintang telah dibunuh untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada Pertapa Gotama. Pertapa Gotama menerimanya sekalipun mengetahui bahwa binatang itu khusus dibunuh untuk-Nya. Yang Mulia, mohon dijelaskan apakah yang mereka katakan itu benar atau tidak." 

Sang Bhuddha menolak kebenaran berita tersebut dan menjelaskan, ''O Jivaka, barang siapa yang terlibat dalam pemotongan hewan untuk diambil dagingnya dan dipersembahkan kepada-Ku dan para murid-Ku, orang itu akan melakukan banyak kejahatan karena lima hal: 

dengan tujuan berdana, orang itu memerintahkan agar seekor binatang dibawa untuk dibunuh; binatang itu mengalami kesakitan dan derita ketika ditarik dengan paksa; perintah untuk membunuh binatang itu; binatang itu mengalami kesakitan dan derita ketika dibunuh; ia menyulitkan Aku dan murid-murid-Ku dengan mempersembahkan makanan yang tidak sesuai untuk kami." (Jivaka Sutta, Majjima Nikaya) 

Sang Buddha mengizinkan untuk mengkonsumsi daging asalkan bebas dari ketiga syarat di atas, karena memakan daging bukanlah perbuatan buruk, seperti halnya perbuatan membunuh makhluk hidup. Karena itu Sang Buddha menolak kepercayaan bahwa orang yang makan daging akan ikut mewarisi perbuatan buruk dari orang yang membunuh hewan. 

Bhikkhu Devadatta, sepupu Sang Buddha, yang selalu menentang Sang Buddha, pada suatu ketika datang dan meminta Sang Buddha untuk tidak mengizinkan para bhikkhu mengkonsumsi daging dan ikan sepanjang hidup mereka, dan apabila hal itu dilanggar maka mereka dinyatakan bersalah. Dengan tegas Sang Buddha menolak permintaan Devadatta ini (Culavagga Pali, Vinaya Pitaka). 

Sehubungan dengan konsumsi daging, Amagandha Sutta adalah sutta yang sangat penting. Sutta yang termasuk dalam Sutta Nipata, Khudaka Nikaya, ini untuk pertama kalinya dibabarkan oleh Buddha Kassapa dan kemudian dikatakan ulang oleh Buddha Gotama. 

Pada suatu ketika, seorang pertapa yang menjalani vegetarian mendatangi Sang Buddha dan menanyakan apakah Sang Buddha memakan amagandha atau tidak. Sang Buddha bertanya kepada pertapa itu, "Apakah amagandha itu?", dan pertapa itu menjawab bahwa amagandha adalah semacam daging. Amagandha secara harfiah berarti bau daging, dalam hal ini berkonotasi sesuatu yang busuk, menjijikkan, dan kotor. Karena itulah pertapa ini memakai istilah amagandha. 

Selanjutnya Sang Buddha menjelaskan bahwa sesungguhnya daging bukanlah amagandha, tetapi segala jenis kekotoran batin dan semua bentuk perbuatan jahatlah yang semestinya disebut amagandha. Sang Buddha berkata: 

Membunuh, menganiaya, memotong, mencuri, berdusta, menipu, kepura-puraan, berzinah, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Jika seorang tidak terkendali hawa nafsunya, serakah, melakukan tindakan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak jujur, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Jika seseorang berlaku kasar dan kejam, suka memfitnah, pengkhianat, tanpa belas kasih, sombong, kikir, dan tidak pernah berdana, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Kemarahan, kesombongan, keras kepala, bermusuhan, munafik, dengki, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berhubungan dengan hal-hal yang tidak baik, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. Jika seseorang bermoral buruk, menolak membayar hutang, pengumpat, penuh tipu daya, penuh dengan kepura-puraan, inilah yang disebut amagandha, bukannya memakan daging. 

Menurut ajaran Buddha, pemurnian dari kekotoran batin (kilesa) adalah hal yang sangat penting untuk mencapai Nibbana. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membersihkan pikiran, kemurnian pikiran hanya dapat dicapai melalui pengembangan kebajikan dalam diri masing-masing, yaitu melalui pengembangan moralitas (sila), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna). Kita tidak akan menjadi ternoda atau menjadi suci dengan makan daging atau sayuran. 

Telah disebutkan di atas bahwa Sang Buddha tidak pernah menganjurkan para pengikut-Nya untuk menjadi vegetarian atau non-vegetarian, namun Beliau menyarankan mereka untuk bersikap terkendali dalam hal makan (bhojana mattannuta). Apa pun yang Anda konsumsi, baik daging maupun sayuran, Anda harus mengendalikan diri terhadap rasa dari makanan itu untuk mencegah timbulnya kemelekatan pada makanan tersebut (rasatanha). 

Kemelekatan terhadap rasa dapat dikikis dengan jalan mengembangkan ketidakmelekatan terhadap makanan atau melalui perenungan tujuan makan (paccavekkhana). 

Seorang bhikkhu seharusnya mengkonsumsi makanan bukan dengan tujuan kenikmatan, bukan untuk mendapatkan kekuatan khusus, bukan untuk mengembangkan bagian tubuh agar tampak menarik, dan bukan untuk mempercantik diri. Tetapi hendaknya sekedar demi kelangsungan hidup, memelihara kesehatan, dan memungkinkan mereka tetap bisa menjalankan kehidupan suci (Apannaka Sutta, Anguttara Nikaya). 

Di dalam Puttamamsupama Sutta, Sang Buddha menjelaskan bagaimana seharusnya seorang bhikkhu merenungkan makanan mereka dengan mengibaratkan kabalikara sebagai daging anak sendiri. Semua jenis makanan, daging atau sayuran, disebut sebagai kabalikara. 

Sang Buddha memberi perumpamaan, "Ada sepasang suami istri dengan satu-satunya anak bayi mereka sedang menempuh perjalanan jauh. Di tengah perjalanan mareka kehabisan bekal makanan dan tidak mampu meneruskan perjalanan tanpa makanan. Di tengah cekaman bayangan kematian karena kelaparan, gagasan buruk muncul dalam pikiran mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk membunuh bayinya dan memakan dagingnya. Selanjutnya mereka meneruskan perjalanan dengan penuh kesedihan karena telah membunuh anak satu-satunya." 

Setelah memberikan perumpamaan tersebut, Sang Buddha menjelaskan artinya melalui tanya-jawab, "O Bhikkhu, bagaimana pendapatmu? Apakah suami istri itu memakan daging bayi sendiri untuk tujuan kenikmatan (davaya), untuk mendapatkan kekuatan khusus (madaya), untuk mengembangkan bagian tubuh agar tampak menarik (mandanaya), atau untuk mempercantik diri (vibhusanaya)?" Para bhikkhu menjawab, "Tidak Yang Mulia. Mereka tidak akan memakan daging anaknya karena tujuan-tujuan itu." Sang Buddha bertanya lagi, "Apakah mereka makan hanya dengan tujuan agar dapat meneruskan perjalanan mereka?" "Benar, O Yang Mulia". 

Menurut sutta di atas, hendaknya seseorang merenungkan makanannya seolah seperti daging anak sendiri. Dengan melakukan perenungan semacam ini seseorang bisa mengurangi kehausan atau kemelekatan terhadap rasa dari makanan. 

Selanjutnya, mari kita bahas mengenai makanan ditinjau dari sudut pandang Empat Kesunyataan Mulia. Menurut ajaran Buddha, makanan termasuk materi, yang berkaitan dengan agregat materi (rupa khanda). Agregat materi adalah suatu jenis penderitaan. Karena itulah makanan juga subjek dari penderitaan. Ini salah satu hal yang harus dimengerti secara benar (parinneyya). Makanan bukanlah suatu hal yang harus dihancurkan (na pahatabba). Nafsu terhadap rasa yang ditimbulkan oleh makanan itu adalah sebab dari penderitaan (dukkhasamudaya). Sebab inilah yang harus dihancurkan (phatabba). Hilangnya nafsu terhadap rasa dari makanan adalah berakhirnya penderitaan (dukkhanirodha). Inilah yang harus dicapai (sacchikatabba). Merenungkan makanan secara benar agar bebas dari kemelekatan terhadap makanan adalah jalan menuju berakhirnya penderitaan (dukkha nirodha gamini patipada). Inilah yang seharusnya dikembangkan dalam diri masing-masing (bhavetabba). 

Menurut ajaran Buddha, berakhirnya penderitaan adalah hal yang paling penting. Hal ini hanya bisa tercapai dengan jalan melenyapkan hawa nafsu atau kehausan (tanha). Oleh karenanya, Anda harus berupaya untuk mencabut akar dari kehausan, kemelekatan terhadap rasa yang ditimbulkan oleh apa pun yang kita makan untuk mencapai akhir dari penderitaan. Nibbana adalah tujuan akhirnya. Anda bebas menjadi vegetarian ataupun non-vegetarian. Tetapi hal penting yang harus Anda upayakan adalah melatih diri untuk menghilangkan kemelekatan terhadap rasa dari makanan yang Anda makan sehari-hari. 

Yangon, Januari 2003 
--------------------------------------
Sumber:
Buddhism & Vegetarianism, Ven. Sayadaw U. Nandamala
Penyadur: Yulianti, B.Dh. (Diploma),
Penyunting: Handaka Vijjananda (Founding Chairman of Ehipassiko Foundation, Yangon). 



VEGETARIAN – DHARMA CINTA KASIH DAN KASIH SAYANG

Berikut adalah Kutipan Bab 13, buku tulisan Sutradharma Tj. Sudarman, MBA dalam bukunya yang berjudul Tiga Guru Satu Ajaran – Kehidupan dan Ajaran Kebenaran Siddharta Gautama, Confucius, dan Lau Zi.

Manusia merupakan pancaran semangat Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang dapat menuntunnya mencapai Pencerahan dalam kehidupannya saat ini. Ajaran Sang Buddha yang memiliki kekuatan revolusioner selalu mengarahkan perdamaian dunia dan kebahagiaan semua makhluk di dunia dengan semboyan suci yaitu Cinta Kasih [Maitri/Metta] dan Kasih Sayang [Karuna].

Sang Buddha bersabda, 
“Aku memiliki Cinta Kasih kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, kepada yang berkaki duapun Aku memiliki Cinta Kasih. Aku Memiliki Cinta Kasih kepada makhluk-makhluk berkaki empat, kepada yang berkaki banyakpun Aku memiliki Cinta Kasih.”(Anguttara Nikaya, II, 72).

“ Bila seseorang memiliki pikiran Cinta Kasih, ia merasa kasihan kepada semua makhluk di dunia, yang ada di atas, di bawah dan di sekelilingnya, tak terbatas di manapun.” (Jataka, 37)

 Kemajuan batin akan dapat kita kembangkan apabila kita senantiasa diliputi pikiran yang penuh Cinta Kasih serta bersikap penuh Kasih Sayang.

“Kembangkanlah pikiran yang penuh Cinta Kasih; bersikaplah penuh Kasih Sayang dan terlatih dalam sila. Bangkitkan semangatmu, bersikaplah teguh, senantiasa mantap dalam membuat kemajuan” (Theragatha, 979)

Apakah Perlu Vegetarian?

Apakah seorang Buddhis dalam menjalankan sila-sila khususnya sila tidak melakukan pembunuhan [pranatipata vairamanya/panatipata veramani], sebaiknya juga menjadi seorang vegetarian yaitu tidak memakan makhluk bernyawa? Bagaimanakah caranya agar dapat menghindari larangan perdagangan makhluk hidup [sattva vanijya/satta vanijja], dan perdagangan daging binatang [mamsa vanijya/mamsa vanijja]?

Pertanyaan tersebut masih sering merupakan suatu hal yang kontroversial dalam berbagai aliran Buddhisme. Dari sejarah kemunculan ajaran Sang Buddha pada masa kerajaan kebudayaan Hindu di India, maka dapat dimaklumi bahwa para umat Hindu adalah vegetarian yang taat karena konsep ahimsa dan reinkarnasi yang dianut, dimana apa yang dimakan juga akan menciptakan karma baru, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada jamannya Buddha Gautama, tentunya kehidupan masyarakat pada saat itu juga sebagian besar merupakan vegetarian. 

Manu, penyusun kitab Hindu pertama menulis,
”Daging, tidak bisa didapatkan tanpa menyakiti makhluk hidup lain, dan apabila seseorang menyakiti makhluk yang memiliki kesadaran maka orang itu tidak bisa mendapatkan kebahagiaan surgawi. Karena itu biarlah semua tidak makan daging.”

Beberapa aliran Buddhisme tidak berpendapat bahwa apa yang dimakan merupakan syarat mutlak untuk mencapai Pencerahan, dimana yang lebih dipentingkan adalah pikiran, ucapan dan perbuatan. Para bhikkhu dalam Buddhisme Theravada(khususnya di negara-negara Thailand, Myanmar, Sri Lanka, Kamboja, Laos) melakukan permintaan dana makanan dari rumah ke rumah [pindapatta] memakan apa saja yang diberikan, dan lebih mementingkan menahan keinginan makan dengan makan hanya satu kali sehari sebelum lewat jam siang. Namun perlu juga kita sadari, bahwa umat awam yang mengenal baik cara berdana apalagi kepada anggota Sangha, tentunya akan menghindari memberikan dana dari hasil penyiksaan ataupun pembunuhan makhluk hidup [savajja dana] karena jenis dana seperti ini tidaklah akan menghasilkan pahala yang baik malah sebaliknya, kalaupun berbuah akan menyebabkan malapetaka bagi si pemberi dana.

Demikian juga terdapat argumentasi bahwa makanan terakhir yang dipersembahkan oleh Cunda, si pandai besi, adalah makanan istimewa yang bernamasukaramaddava yang berarti ‘kaki babi’, sehingga disimpulkan bahwa Buddha Gautama memakan kaki babi yang empuk. Padahal kita tahu juga banyak sekali nama makanan ataupun tumbuhan yang menyerupai nama binatang karena ciri-cirinya, seperti jambu monyet, lidah buaya, kumis kucing, jamur kuping, daun kaki kuda, rumput lidah lembu, longgan (mata naga), dsb. Literatur yang ada memperlihatkan bahwa sukaramaddava adalah sejenis jamur yang empuk dan sangat sulit ditemukan karena tumbuhnya tersembunyi di hutan belantara, dan diketahui babi hutan sangat menyenangi jamur tersebut dimana biasanya dengan gampang dapat ditemukannya dengan cara dikais keluar menggunakan kakinya, sehingga dinamakan ‘jamur kaki babi’.

Berbagai catatan di kitab suci haruslah kita hayati secara intuitif untuk sampai kepada pendapat apakah benar vegetarian itu perlu dikembangkan dalam latihan spiritual kita. Ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa vegetarian itu adalah tawaran dari Devadatta, saudara sepupu Buddha Gautama yang terkenal ambisius dan jahat tersebut. Dalam cerita Devadatta sendiri dapat kita maklumi bahwa Devadatta dengan kelicikannya mencoba mengadu-dombaSangha dengan mengajukan lima aturan kepada Sang Buddha agar dapat diterapkan (jadi bukan hanya ketentuan vegetarian saja), dimana membuat posisi Sang Buddha sulit utk memutuskannya. Diantara kelima aturan yang diajukan oleh Devadatta, sebenarnya terdapat dua ketentuan yang memang mudah dilakukan oleh bhikkhu saat itu seperti hidup dari dana yang diterima dan tidak boleh memakan ikan atau daging (vegetarian), dan kemungkinan besar telah dijalankan. Namun tiga ketentuan lainnya agak sulit utk diputuskan oleh Sang Buddha, yaitu bhikkhu selamanya harus hidup di hutan; mengenakan jubah dari bekas sampah dan kuburan; dan hidup di kaki pohon. Devadatta yakin bahwa apabila Sang Buddha menolak permintaannya, maka akan banyak bhikkhu yang mendukung dia serta menyatakan bahwa Sang Buddha tidak berwelas asih (menolak vegetarian) dan senang hidup dalam kemewahan (tidak terbatas dari kehidupan dana yg diterima saja). Sedangkan apabila Sang Buddha menerima aturan yg diajukan tsb, maka berarti Sang Buddha menerapkan pola kehidupan menyiksa diri (tinggal di hutan, memakai pakaian bekas dari sampah dan kuburan, dan hidup di kaki pohon). Namun Sang Buddha yang penuh kebijaksanaan, mengatakan kepada para bhikkhu tanpa secara tegas menolak ataupun menerima aturan-aturan tersebut.

Pendapat yang mengatakan bahwa apabila kita tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak mengetahui bahwa daging binatang yang kita makan itu telah disembelih untuk kita makan, adalah merupakan suatu pendapat yang sangat tidak beralasan. Coba kita bayangkan apabila ada seseorang tiba-tiba mati dan tentunya sanak keluarganya akan menanyakan kenapa orang tersebut mati sehingga akan dilakukan visum untuk mengetahui kematiannya tersebut. Tentunya lain kalau kita sedang memakan daging, jelas sekali kita ataupun orang lain tidak perlu menanyakan darimana daging ini berasal, karena secara logika umum sudah jelas daging tersebut berasal dari hasil penyembelihan hewan yang masih hidup sebelumnya. Sehingga semua orang juga maklum bahwa terdapat satu makhluk hidup yang telah dibunuh beberapa waktu yang lalu, dan jelas sekali disadari oleh mereka bahwa makhluk hidup tersebut pasti menjerit, meronta, dan menangis pada saat mengetahui ajalnya sudah akan berakhir.

Buddhisme Tantrayana yang berkembang di Tibet dengan keadaan alam di sana tidak menekankan kepada para bhikkhunya untuk melakukan vegetarian secara mutlak. Tetapi apabila para bhikkhuTantrayana melakukan perjalanan keluar dari Tibet, dimana apabila tersedia makanan vegetarian, maka para bhikkhu tersebut diharuskan melakukan vegetarian. Diceritakan juga bahwa Marpa dan murid utamanya Milarepa merupakan tokoh yang cukup dikenal dalam sejarah Buddhisme Tibet juga senang makan daging. Namun hal tersebut tidak didukung oleh bukti yang cukup. Dalai Lama ke-14, Y.M. Tenzin Gyatso adalah seorang vegetarian yang taat. Mungkin kita juga perlu merenungkan apa yang dikatakan oleh Jamgon Khungtrul Rinpoche, ”Jangan dengan sengaja mengambil kehidupan (membunuh) makhluk hidup apapun, walaupun itu adalah seekor semut; karena untuk hal yang menyangkut kehidupan, tidak ada istilah ‘besar’ atau ‘kecil’.”  Sehingga sering para bhikkhu Tibet dalam membangun rumah ataupun mencangkul tanah, terlihat lebih banyak menyita waktu untuk memindahkan terlebih dahulu cacing-cacing ke tempat yang aman sebelum melakukan pekerjaannya tersebut.

Buddhisme Mahayana dengan Bodhisattva silanya mengharuskan para bhikshu/ni untuk melakukan vegetarian demikian juga pesan-pesan yang disampaikan kepada umatnya. Buddhisme Mahayana yang memuja Avolakitesvara Bodhisattva [Guan Yin Pu Sa] sebagai Bodhisattva yang penuh Kasih Sayang, menyakini bahwa dengan tidak memakan makanan bernyawa secara tidak langsung juga mencegah pembunuhan makhluk bernyawa sehingga akan dapat menimbulkan sifat Kasih Sayang dan Cinta Kasihsebagaimana prinsip-prinsip pokok ajaran Sang Buddha.

Hal ini juga tersebut dalam Lankavatara Sutra “ Dengan kekhawatiran akan timbulnya kelaliman atas makhluk hidup, sepatutnya Bodhisattva dalam berlatih diri untuk mencapai Kasih Sayang berpantang makanan daging.”

Demikian juga dalam Brahmajala Sutra terdapat sabda berikut,  “Siswa Sang Buddha tidak boleh dengan sengaja makan daging makhluk hidup, karena kalau ia berbuat demikian, maka ia menghancurkan benih-benih Maha Kasih Sayang dan Sifat Kebuddhaan. Ia menyebabkan orang-orang yang bertemu padanya menghindarinya. Karenanya semua Bodhisattva harus pantang makan daging makhluk apapun, sebab makanan hewani merupakan sumber dosa-dosa yang tak terhingga.”

Sang Buddha Menyadarkan Nelayan

Suatu ketika, ada seorang nelayan yang tinggal di dekat gerbang utara kota Savatthi. Suatu hari, melalui kemampuan batin luar biasa, Sang Buddha melihat bahwa telah tiba saatnya bagi nelayan itu untuk mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Maka dalam perjalanan pulang dari berpindapatta, Sang Buddha bersama dengan para bhikkhu, berhenti di dekat tempat dimana Ariya sedang menangkap ikan. Ketika nelayan itu melihat Sang Buddha, dia melemparkan alat penangkap ikannya kemudian datang dan berdiri di dekat Sang Buddha. Sang Buddha mulai menanyakan nama-nama para bhikkhu di hadapan si nelayan, dan akhirnya, Beliau menanyakan nama nelayan itu.

Ketika si nelayan menjawab bahwa namanya adalah Ariya, Sang Buddha berkata bahwa para orang mulia (Ariya) tidak melukai makhluk hidup apapun, tetapi karena si nelayan membunuh ikan-ikan maka dia tidak layak menyandang nama Ariya.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut (Dhammapada, 270),  “Seseorang tidak dapat disebut Ariya (orang mulia) apabila masih menyiksa makhluk hidup. Dia yang tidak lagi menyiksa makhluk-makhluk hiduplah yang dapat dikatakan mulia".

Nelayan Ariya mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khobah Dharma Sang Buddha berakhir.

Manfaat Vegetarian

Banyak orang yang tersaru dengan kata vegetarian yang dikira berasal dari kata vegetable (sayur-sayuran). Sebenarnya vegetarian itu berasal dari bahasa latin‘vegetus‘ yang berarti ‘aktif’, ‘yang hidup’, ‘teguh’, ‘bergairah’, dan ‘kuat’. Di Inggris kataVeget ini sempat dipakai untuk mengatakan seseorang yang kuat dan sehat.

Menurut penemuan Victor Stephan Sussman dalam bukunya ‘The Vegetarian Alternative‘ , USA: Rodale Press Emmaus, 1978, bahwa orang-orang Inggris dan Amerika sudah memulai vegetarian sejak tahun 1840 dengan prakarsa oleh Pendeta Sylvester Graham (penemu roti Graham crackers), Ellen White (salah seorang pendiri gereja ‘Advent Hari Ke-7), dan John H.Kellog (ahli bedah dan pendiri Sanatorium Battle Creek). Di India dan Tiongkok, vegetarianisme sudah ada jauh sebelum masehi. Para pengikut Sekte Jaisme yang merupakan aliran Hinduisme tertua di India , adalah vegetaris, dimana bertujuan untuk menghormati dan menaruh kasih sayang kepada semua makhluk hidup. Mereka mempunyai disiplin ajaran yang kuat, dilarang membunuh makhluk apapun, tetapi mereka meminum susu dan produk yang terbuat dari susu. Para penganut agama Masehi Advent Hari Ketujuh, juga vegetaris, tidak meminum alkohol, merokok ataupun makan atau minuman yang merangsang, Mereka berpendapat bahwa tubuh manusia adalah rumah Tuhan [A Temple of God] sehingga janganlah menjadikan tubuh manusia ini sebagai kuburan hewan. Demikian juga beberapa ajaran mistik kuno Yunani dan para pengikut Pythagoreanisme, Manichaeanisme, dan Sikhisme yang sangat menekankan vegetarian karena konsep reinkarnasi dan hukum karma yang dianut ajaran tersebut. Kaum Essenes yang dikenal sebagai kaum spiritual ‘orang suci berjubah putih’, ataupun ‘putra cahaya’, hidup di Qumran, sekitar Laut Mati, Jerusalem , yang hidup pada eranya Yesus Kristus, juga menganut doktrin hukum Karma, sehingga terkenal sebagai vegetaris yang taat.

Terlepas dari itu semua, bahwa sesuai dengan hasil survey yang pernah dilakukan, diketahui dalam tubuh seorang atlit yang vegetarian lebih baik daya tahannya daripada yang non-vegetarian. Hal ini juga dibuktikan oleh Carl Lewis, seorang vegetarian yang terkenal sebagai juara lari kelas dunia.Demikian juga ditinjau dari sudut kesehatan, dimana makanan daging mengandung lemak jenuh berkolesterol tinggi serta berita-berita mengenai hewan-hewan tertentu yang terjangkit virus yang membahayakan manusia, seperti kasus virus sapi gila [madcow disease] di Eropa (tahun 1997) kasus virus flu unggas yang menyerang ayam dan bebek di Hong Kong (1998). Demikian juga dengan kasus virus babi Jepang [Japanese encephalitis virus] yang melanda Malaysia sebagai negara penghasil ternak babi terbesar di dunia (tahun 1999), telah mengubah selera makan kebanyakan orang Amerika, Eropa dan Asia menjadi vegetarian atau mengurangi konsumsi daging dalam menu harian mereka. Di Indonesia, pada sekitar bulan Mei 1999, diberitakan bahwa residu obat antibiotik(penisilin, makrolida dan tentrasiklin) dan pestisida di dalam hewan peliharaan sangatlah mengkhawatirkan. Hal ini sesuai dengan hasil riset dari Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (PPMSOH), dimana residu yang terdapat pada hewan peliharaan tersebut apabila dikomsumsi sebagai daging dalam menu harian , maka dapat berdampak kanker hati , gagal ginjal, kebutaan, meningitis dan gangguan hoemapoetik (akibat timah hitam). Selain itu juga dapat berdampak pada kekebalan tubuh terhadap antibiotik yang kemungkinan bisa juga menyebabkan mutasi (genetik) kuman (‘Suara Pembaharuan‘ tanggal 1 Mei 1999). Terakhir kasus dioksin yang menggoyangkan kembali daratan Eropa, dimana menurut penelitian terdapat hampir seluruh produk makanan yang berasal dari hewani tercemardioksin, suatu kelompok 75 senyawa kimia yang berasal dari resin mengandung dioksin khlorin yang kebanyakan terdapat dalam bahan-bahan plastik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan salah satu jenisdioksin, yaitu tetrachlorodibenzo-p-dioxin, sebagai karsinogenik kelas satu, atau penyebab kanker buatan manusia yang paling berbahaya dan beracun. Sehingga pemerintah Belgia, Belanda, Perancis, dan kebanyakan negara-negara lainnya di dunia (termasuk di Indonesia) mengumumkan untuk menarik semua produk-produk asal hewani yang diproduksi dari Belgia (‘Kompas’, tanggal 17 Juni 1999).

Ada kekhawatiran juga bahwa dengan makanan vegatarian yang terdiri dari sayur-sayuran, buah-buahan, kentang, umbi-umbian, jamur, kacang-kacangan dan lain sebagainya , tidaklah cukup untuk menghasilkan proteinyang dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk dapat hidup secara sehat. Tempe dan tahu yang dibuat dari kacang kedelai telah diteliti mengandung sumber protein yang sangat baik untuk tubuh manusia selain dapat mencegah kanker payudara. Demikian juga kacang-kacangan lainnya seperti kacang panjang, diketahui sangat bermanfaat untuk para penderita kencing manis. Sudah banyak hasil penelitian yang mengklasifikasikan protein tumbuh-tumbuhan lebih besar kandungannya dari protein hewani. Sehingga tidak terdapat alasan yang cukup untuk kita harus menghindari memakan makanan non-hewani karena takut tidak terpenuhi kebutuhan protein. Tidaklah mengherankan apabila sekarang kita dapat menjumpai adanya rumah-sakit yang menyediakan makanan khusus vegetarian bagi pasiennya. Demikian juga terdapat banyak sekali dokter yang selalu menyarankan pasiennya untuk mengurangi makanan daging dengan memakan lebih banyak sayuran dan buah-buahan.

Memang sangat sulit untuk kita yang sudah terbiasa mengkonsumsi daging dalam menu kita agar dapat menjadi seorang vegetarian. Urusan menikmati makanan enak merupakan kesenangan duniawi yang mendapatkan tempat di urutan kedua setelah kenikmatan seksualitas. Makanan daging yang memang lebih enak dibandingkan dengan makanan non-hewani, sering mengarahkan seorang pemangsa daging ini mencoba berbagai variasi daging yang tidak pada umumnya, seperti kodok, burung dara, ular, biawak, tikus muda, buaya, monyet, penyu, harimau, cecak, kecoa, jangkrik, dan sebagainya. Daging-daging demikian sering dimakan bersama arak tertentu dimana, dengan tanpa didukung oleh suatu bukti penyelidikan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, diklaim mampu membangkitkan sifat kejantanan seorang lelaki ataupun menambah keberanian seseorang. Sehingga hal ini sering dijadikan alasan oleh para kaum pendukung makanan hewani dengan mengaburkan pandangan kemajuan batin seseorang yang dapat dikaitkan dari diet makanan non-hewani. Berbagai argumentasi berusaha diciptakan dari peninggalan kitab-kitab suci hanya semata-mata untuk mempertahankan pendapat tersebut. Dimana tanpa mereka sadari, hal tersebut telah mengukung pendapat yang dibuatnya, sehingga akhirnyapembunuhan berbagai makhluk hidup terus berlangsung setiap saat hanya semata-mata untuk kepuasan para pemakan daging.

Walaupun demikian, terdapat juga banyak pendapat yang setelah menapaki jalur spiritual murni, menyadari bahwa kebiasaan memakan daging dan meminum arak sangatlah tidak baik untuk kemajuan batin seseorang. Khususnya para pendukung ajaran yang mempercayai hukum karma dan kelahiran kembali, mempercayai akan menerima akibat dari perbuatan memakan daging. Demikian juga para pendukung curahan sifat Kasih yang murni terhadap seluruh makhluk hidup sebagai suatu eksistensi yang mempunyai hak hidup di alam semesta ini dengan alasan bagaimana mereka mampu bertemu Yang Maha Pengasih apabila mereka memangsa ciptaanNya juga. Walaupun tumbuh-tumbuhan juga memiliki unsur kehidupan, namun dalam memilih makanan, para pendukung vegetarian tersebut senantiasa berusaha memakan makanan yang berasal dari kesadaran yang paling rendah dimana hanya menyebabkan penderitaan yang sedikit sekali seperti tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan jelas sekali tidak memiliki kaki, tangan, sisik, ekor, darah ataupun alat pencernaan. Apabila kita memotong sebatang kangkung , maka kangkung tersebut masih akan dapat tumbuh lagi menjadi dua tiga cabang yang tentunya tidak bisa dilakukan dengan apabila kita memenggal kepala seekor sapi. Beberapa rekan yang telah berhasil menjalani kehidupan vegetarian memberikan tenggang waktu 2 minggu bahkan sampai 2 bulan untuk melihat berhasil tidaknya seseorang menjadi vegetarian. Mereka pada umumnya memberikan pendapat yang sangat positif sesudah menjalani kehidupan vegetarian seperti kesehatan yang stabil, kesabaran, konsentrasi dalam meditasi, dan sebagainya

Secara biologi, dapat kita ketahui bahwa usus manusia bukanlah diciptakan untuk mengkonsumsi daging [carnivora] karena usus manusia sangatlah panjang sehingga dikhawatirkan apabila mengkonsumsi daging akan menimbulkan penimbunan yang terlalu lama di usus [colon] sehingga mengalami pembusukan yang dapat menyebabkan kanker usus. Demikian juga, kita tidak perlu harus memperlakukan perut kita itu sebagaitempat pembakaran bangkai binatang [crematorium].

Terdapat hasil survey yang telah dilakukan, bahwa apabila suatu masyarakat dalam suatu negara tertentu menggantikan pola kehidupan peternakan dengan pertanian, maka terdapat curva efisiensi ekonomi yang cenderung sangat menguntungkan dari sisi pendapatan dan lingkungan hidup.

Berbagai Pola Vegetarian

Kebiasaan makan daging sebenarnya telah terbentuk sejak kecil, sehingga memang tidak gampang untuk dapat mengganti begitu saja pola makan daging yang telah terbentuk tersebut.

Dalam penerapan pola vegetarian, terdapat beberapa alternative yang sebenarnya dapat juga merupakan suatu tahapan dalam mewujudkan latihan vegetarian dari pemula kemudian menjadi vegetarian murni [vegan] , yaitu:

Vegetarian hari tertentu [semi vegetarian], dimana seseorang itu hanya mengkonsumsi daging pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat pesta atau tidak mengkonsumsi daging pada hari-hari tertentu, misalnya pada tanggal lunar 1 dan 15.

(I) Vegetarian dengan pantangan daging tertentu [partial vegetarian], dimana tidak memakan daging tertentu misalnya daging merah yang berasal dari hewan mamalia seperti lembu, kambing, dan babi.

(II) Vegetarian dengan pantangan semua daging termasuk seafood tetapi boleh telur dan susu beserta hasil produknya [lacto ovo vegetarian / lactovarian].

(III) Vegetarian dengan pantangan semua daging dan telur tetapi boleh susu dan hasil produk susu [lacto vegetarian / lactarian]

(IV) Vegetarian murni dgn tidak memakan, meminum ataupun memakai semua produk dari makhluk hidup [strict vegetarian/total vegetarian/vegan]

Situasi krisis ekonomi yang sedang melanda berbagai negara belakangan ini dapat juga merupakan suatu kondisi yang tepat untuk segera mengubah pola diet vegetarian dengan mengurangi pembelian daging ayam, babi, sapi, dan kambing yang harganya jauh lebih mahal daripada tahu, tempe, kentang, dan jagung.

Pola makan vegetarian ini sangatlah cocok untuk dipromosikan oleh segala umat beragama yang penuh kasih dan cinta akan kebahagiaan dan kedamaian bagi semua makhluk hidup di muka bumi ini. Kita dapat juga melihat contoh para Guru Agung spiritual terdahulu yang kebanyakan menjalani hidup vegetarian, bahkan dalam bukunya John Davidson, The Gospel of Jesus – In Search of His Original Teachings, diargumentasikan bahwa Yesus dan murid-murid utamaNya termasuk adikNya, James adalah vegetarian. Dapat diteliti juga dalam Kitab Kejadian 1:29, dimana Allah bersabda, “Lihatlah Aku telah berikan kepadamu tumbuh-tumbuhan berbiji, memenuhi permukaan bumi, dan pohon-pohon berbuah, itulah semua bagimu sebagai makananmu.”  Demikian juga disabdakan,  
“Anda tidak boleh memakan daging yang berdarah sebab kehidupan berada dalam darah.” (Kitab Kejadian 9:4). 

Yohanes yang juga dikenal vegetarian karena hanya memakan madu hutan dan locust (sejenis pepohonan berbiji yg dinamakan locust tree[Ceratonia siliqua] atau dikenal juga ‘St.John’sBread’, namun dalam berbagai alkitab di Indonesia diterjemahkan sebagai belalang). Dalam surat Paulus kepada jemaat di Roma tersirat juga pesan vegetarian, “Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.”(Roma 14:20-21). Dalam Al Q’uran terdapat larangan memakan daging binatang yang mati ataupun darah binatang, demikian juga adanya larangan untuk memakan daging dari binatang yang disembelih secara tidak halal (tanpa basmallah). Murid paling terkemuka Nabi Muhammad, kemenakannya sendiri, menasihatkan kepada murid-muridnya, “Jangan jadikan perut kalian itu kuburan binatang.” Tentunya kenyataan seperti ini dapat mengarahkan kita untuk menjalani kehidupan vegetarian yang tidak akan menimbulkan keragu-raguan kita dalam hal memakan makanan non-hewani. Tidak kurang dari itu semua, kita dapat juga melihat kehidupan para Guru Agung spiritual jaman sekarang seperti Supreme Master Ching Hai, Sathya Sai Baba, Maharaj Gurinder Singh Ji, Gurumayi Chidvilasananda, Dalai Lama Tenzin Gyatso, Jidhu Krisnamurti, dan masih banyak lagi guru-guru spiritual lainnya yang menjalani kehidupan vegetarian (strict vegetarian/vegan) dengan berlandaskan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang luar biasa. Guru Sejati, Supreme Master Ching Hai yang sejak kecil telah menjadi vegetarian mengatakan, “Jika seseorang benar-benar baik hati, mengapa ia masih makan daging makhluk lainnya? Melihat mereka menderita seharusnya ia tidak tega memakannya! Pemakan daging tidak mengenal welas asih, jadi bagaimana ini dapat dilakukan oleh seorang yang baik hati?”

Mudah-mudahan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, akan makin banyak terdapat makanan sajian vegetarian di berbagai pojok makanan (food-court), restoran dan tempat-tempat lainnya di Indonesia sebagaimana sering kita lihat di luar negeri. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memulai memakan vegetarian dengan mengatakan susah untuk memperoleh makanan vegetarian. Kita harus menyadari bahwa , ‘makan adalah untuk hidup, bukanlah hidup untuk makan’.

Tokoh Terkemuka Dunia yang Vegetarian dan Vegan: Para Filsuf dan Pemimpin Spiritual Paramahansa Yogananda (Guru Spiritual India), Socrates (Filsuf Yunani), Yesus Kristus dan Umat Kristen Awal, Konfusius (Filsuf Cina), Budha Sakyamuni, Lao Tzu (Filsuf Cina), St. Fransiskus dari Assisi (Orang Suci Kristen, Italia), Thich Nhat Hanh (Biksu Buddha/Penulis Vietnam), Yogi Maharishi Mahesh (Penulis, Filsuf, Pemimpin Meditasi Transendental, India), Leo Nikolayevich Tolstoy (Filsuf Rusia), Pythagoras (Ahli Matematika/Filsuf Yunani), Zoroaster (Pendiri Ajaran Zarathustra, Iran), Muhammad Al-Ghazali (Orang Suci Sufi dan cendekiawan Islam, Iran), Muhammad Rahiim Bawa Muhaiyadeen (Orang Suci Sufi dan pengarang Islam, Sri Lanka), Bulleh Shah (Orang Suci Muslim Sufi), dll. Penulis, Seniman dan Pelukis Leonardo Da Vinci (Pelukis Italia), Ralph Waldo Emerson (Penulis Esai dan Penyair AS), George Bernard Shaw (Penulis Irlandia), John Robbins (Penulis AS), Mark Twain (Penulis AS), Albert Schweitzer (Filsuf, Dokter, dan Musisi Jerman), Plutarch (Penulis Yunani), Voltaire (Penulis Prancis), Sadegh Hedayat (Novelis Iran), dll. Ilmuwan, Penemu, dan Insinyur Charles Darwin (Ahli Flora dan Fauna dari Inggris), Albert Einstein (Ilmuwan Jerman), Thomas Edison (Ilmuwan/Penemu AS), Sir Isaac Newton (Ilmuwan Inggris), Nikola Tesla (Ilmuwan/Penemu Amerika keturunan Serbia), Henry Ford (Pendiri Ford Motors AS), dll. Politisi, Negarawan, dan Aktivis Susan B. Anthony (Pemimpin Pergerakan Hak Pilih Wanita AS), Mahatma Gandhi (Pemimpin Hak Warga Sipil India), Coretta Scott King (Pemimpin dan Aktivis Hak Warga Sipil AS, istri dari Dr. Martin Luther King Jr.), Presiden Janez Drnovsek dari Slovenia, Dr. A. P. J. Abdul Kalam (Presiden India), Dr. Manmohan Singh (Perdana Menteri India), Dennis J. Kucinich (Anggota Konggres AS), dll. Aktor, Bintang Film, dan Bintang TV Pamela Anderson (Aktris AS), Ashley Judd (Aktris AS), Brigitte Bardot (Aktris Prancis), John Cleese (Aktor Inggris), David Duchovny (Aktor AS), Danny Devito (Aktor AS), Cameron Diaz (Aktris AS), Richard Gere (Aktor AS), Daryl Hannah (Aktris AS), Dustin Hoffman (Aktor AS), Katie Holmes (Aktris AS), Steve Martin (Aktor AS), Demi Moore (Aktris AS), Ian McKellen (Aktor Inggris), Tobey Maguire (Aktor AS), Paul Newman (Aktor AS), Gwyneth Paltrow (Aktris AS), Joaquin Phoenix (Aktor AS), Steven Seagal (Aktor AS), Brooke Shields (Aktris/Model AS), Jerry Seinfeld (Aktor AS), Naomi Watts (Aktris AS), Kate Winslet (Aktris Inggris), dll. Bintang Pop dan Musisi Joan Baez (Penyanyi Lagu Rakyat AS), George Harrison (Musisi Inggris, Anggota The Beatles), Paul Mc Cartney (Musisi Inggris, Anggota The Beatles), Ringo Starr (Musisi Inggris, Anggota The Beatles), Bob Dylan (Musisi AS), Michael Jackson (Bintang Pop AS), Morrissey (Penyanyi Inggris), Olivia Newton John (Penyanyi Inggris – Australia), Sinead O’Connor (Penyanyi Irlandia), Pink (Penyanyi AS), Prince (Bintang Pop AS), Justin Timberlake (Penyanyi Pop AS), Tina Turner (Bintang Pop AS), Shania Twain (Penyanyi Kanada), Vanessa Williams (Penyanyi Pop AS), dll. Atlet Olahraga Billie Jean King (Juara Tenis AS), Bill Walton (Pemain Basket AS), Carl Lewis (Peraih Medali Emas 9-kali pada Olimpiade Cabang Atletik, AS), Edwin C. Moses (Peraih Medali Emas 2-kali dalam Cabang Atletik, AS), Elena Walendzik (Juara Tinju dari Jerman), Alexander Dargatz (Atlet, Juara Binaraga, Dokter Jerman), dll. Model Christie Brinkley (Supermodel AS), Christy Turlington (Supermodel AS), dll.

Dan daftar ini akan terus bertambah, kunjungi…http://AL.Godsdirectcontact.org.tw/vg-vipTrackback URL :http://al.godsdirectcontact.org.tw/bbs/tb.php/al/162

Share this:

Share

Kamis, 19 Mei 2016

Vegetarianisme dalam Ajaran Buddha

Oleh Brunhild Hekate

Ajaran Buddha memiliki tiga sekolah filosofi utama – Theravada, Mahayana, dan Vajrayana – dan ujian dangkal dari tiga sekolah ini (atau kendaraan) mengungkapkan apa yang nampak seperti pandangan yang bertentangan mengenai praktek vegetarianisme. Akan tetapi, sebelum melompat pada kesimpulan, ingatlah bahwa Sang Buddha adalah Guru yang paling ahli dan maha tahu, diajarkan berdasarkan kapasitas dan disposisi mental individu yang beragam, dan karena itu menciptakan ilusi berbeda dan pandangan bertentangan – yaitu, bila seseorang tidak melakukan investigasi penuh dan penelitian mengenai pandangan Buddha tentang vegetarianisme.

Buddha dan pengikutnya makan daging yang dipersembahkan kepada mereka oleh tuan rumah atau pemberi sedekah bila mereka tidak memiliki alasan untuk mencurigai bahwa hewan tersebut telah disembelih khusus untuk konsumsi mereka. Bahkan, mereka menerima dan makan apa saja yang dipersembahkan, karena mereka mempraktekan ketidak-terikatan dengan makanan.

Buddha dia menetapkan vegetarianisme pada Sangha karena Dia mengetahui bahwa banyak yang menginginkan daging tidak akan dapat memeluk ajaran Buddha. Akan tetapi, sesudah mereka meniti jalan ini, pikiran mereka ditransformasi untuk menjadi vegetarian. Sudah pasti, banyak Shravaka yang telah menerima sumpah Pratimoksha menjadi Bodhisattva, dan sejalan dengan hal ini mengembangkan kasih dan menggenerasikan Bodhicitta. Mereka kemudian berhenti makan daging. Karena itu tidak benar mengkategorikan Shravaka sebagai non-vegetarian.

Dalam konteks Mahayana, makan daging dilarang. Sutra Lankavatara, ditulis pada abad empat atau lima setelah masehi, sangat menganjurkan hal ini. Dalam beberapa kitab suci Mahayana, contoh: Mahayana Jataka, sang Buddha jelas mengindikasikan bahwa makan daging tidak baik dan menciptakan karma buruk.

Pengembangan Bodhicitta adalah esensi dari praktek Mahayana. Setelah menjadi penganut Buddha, seseorang memohon perlindungan dalam Buddha dan peraturan pertama adalah tidak membunuh. Calon Bodhisattva dilatih untuk mengembangkan tekad untuk tidak makan daging karena daging hewan pernah menjadi ibu yang mencintai kita tanpa syarat, sebaik ibu kita pada kehidupan yang ini.

Sang Buddha sendiri menekankan hal ini berulang-kali. Hewan, serangga, dan kerang adalah makhluk hidup dan masing-masing dari mereka, pada suatu ketika, adalah ibu kita; semuanya menghargai hidup dan memiliki perasaan; karena itu mereka berhak dihormati seperti makhluk hidup. Apakah kita akan makan daging ibu kita?

Konsumsi daging, dianggap sebagai makanan biasa dan dimakan tanpa renungan secara berkala, mengimplikasikan tidak adanya kesadaran dan ketidak-pedulian terhadap penderitaan makhluk yang tidak sesuai dengan pelatihan pikiran calon Bodhisattva.

Mengembangkan kasih dan kesensitivan terhadap penderitaan makhluk lain adalah tujuan kita dan dengan kesadaran ini, keinginan untuk mengeksploitasi dan memakan mereka musnah. Latihan menjadi Bodhisattva, seseorang harus ingin bertransformasi dan berdasarkan skala transformasi ini beradaptasi dengan diet tumbuhan yang hanya merupakan penyesuaian kecil dari moralitas baik yang bangkit.

Terlebih, makan daging mendukung industri yang menyebabkan kekejaman ekstrim terhadap penderitaan jutaan hewan dan seorang yang penuh kasih akan berharap mengakhiri semua penderitaan ini. Dengan menolak makan daging, orang tersebut dapat melakukan hal ini. Tantra Kalachakra dan komentar tertinggi menjelaskan bahwa:

Bila tidak ada pemakan daging, tidak akan ada penyembelih hewan.

Di Tibet, ketika dataran tinggi dan iklim tidak cocok untuk bertanam, penganut Buddha Tibet yang mempraktekan jalan Vajrayana makan daging untuk memenuhi kebutuhan gizi. Akan tetapi, hal ini tidak berarti konsumsi daging dibenarkan dalam Vajrayana.

Lama Tsongkhapa, pendiri sekolah Gelugpa Buddha Tibet, telah menyebutkan berulang kali dalam kumpulan karyanya dan memberikan alasan logis dan kutipan kitab suci bahwa, bila seseorang mengerti baris demarkasi antara apa yang diperbolehkan dan disarankan, orang tersebut akan mengerti bahwa Sutra dan Tantra semua berbicara satu suara. Karena itu apa yang digariskan di kitab suci seperti Sutra Lankavatara yang terkenal juga diaplikasikan kepada praktisi Tantrik dari tradisi Vajrayana. Akan tetapi, Lama Tsongkhapa membuat pengecualian mengenai apa yang disarankan bagi mereka yang tidak berpendirian kuat, sudah tua dan ketika ada kelangkaan makanan, jadi dia akan bertahan dan memberi manfaat bagi makhluk lain.

Dorje Shugden, pelindung ajaran Lama Tsongkhapa akan sangat senang bila praktisi Dorje Shugden mengikuti ajaran tidak melakukan kekerasan, dan tidak membunuh seperti seperti tidak makan daging, menjadi vegetarian dan hidup dalam keharmonisan dengan Ibu bumi.

Fungsi Pelindung Perdamaian Dunia Dorje Shugden adalah membantu dan menciptakan situasi kondusif bagi calon Bodhisattva untuk dilatih dengan etika murni dan mengembangkan pikiran tertinggi pencerahan, sehingga doktrin Tsongkhapa akan berkembang. Dengan menerapkan tindakan baik seperti tidak membunuh, pahala besar akan diakumulasi, dan karena itu Dorje Shugden dapat menempatkanmu dalam bimbingan dan perlindungannya, dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain sampai pencerahan.

Alam hewan, satu dari enam alam keberadaan dimana kita semua lahir

Tinjauan tentang makan daging dalam Mahayana

Pertentangan Tradisi Buddhisme?

Polemik seputar masalah vegetarian dalam tubuh agama Buddha telah berlangsung lama, hingga sekarang pun masih terus menjadi sebuah perdebatan yang hangat. Jika diperhatikan, terlihat jelas bahwa perbedaan pendapat ini berhubungan dengan masalah sektarian/tradisi. Argumentasi apapun yang dikemukakan oleh masing-masing tradisi tidak terlepas dari pijakan pada sumber literatur yang diyakini mewakili ajaran asli Buddha. Kesemuanya sama-sama meyakini sumber kitab suci masingmasing, sehingga berbagai teori maupun alasan yang dipaparkan selalu berjalan di dalam sistem logika yang diboncengkan pada sistem ajaran masing-masing tradisi. Demikianlah sehingga timbul persepsi bahwa ajaran Buddha sehubungan dengan permasalahan makan daging dalam Sutta-Sutta Theravada dan Sutra-Sutra Mahayana adalah bertentangan. Bahkan umat awam dengan sangat mudahnya mencap bahwa bhikkhu Theravada boleh makan daging, sedangkan bhiksu Mahayana harus vegetarian. Padahal jika mau merujuk pada rangkaian visi ajaran masing-masing tradisi, maka kita akan dapat menemukan sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya apa yang dikemukakan oleh dua garis tradisi besar Buddhisme, Theravada dan Mahayana, adalah tidak bertentangan.

Kita harus tahu, jika berbicara tentang ajaran Buddha dari sudut pandang tradisi Theravada, maka fokus utama dari tradisi ini terletak pada usaha untuk meraih tingkat kesucian Arahat. Seorang praktisi yang menjalankan pelatihan diri dalam sistem tradisi ini akan berusaha meraih apa yang dicita-citakan dengan berpegang pada tiga kerangka dasar pelatihan yakni Sila, Samadhi dan Panna. Tradisi Theravada meyakini bahwa dari serangkaian sistem tiga pelatihan ini, kesucian batin yang tercapai tidak memiliki kaitan dengan apa yang dimakan, baik berupa daging maupun sayur-sayuran. Hal ini dipertegas oleh Buddha saat mewejangkan Dhamma kepada seorang tabib bernama Jivaka.

Namun pada kesempatan lain, Buddha menginstruksikan kepada para siswa bahwa meskipun tidak ada larangan, namun ada ketentuan yang berlaku dalam hal memakan daging. Artinya adalah bahwa dalam hal ini Buddha menerapkan satu aturan dasar tata tertib. Di sini terlihat jelas bahwa memang tidak ada larangan secara eksplisit, namun tidak berartiboleh makan daging secara bebas. Buddha hanya mengizinkan para bhikkhu memakan tiga daging murni (tri-koti-suddha-mamsa), yakni

   pertama, daging dari hewan yang tidak dilihat ketika dibunuh;
    kedua, daging dari hewan yang tidak kita dengar ketika dibunuh;
    dan ketiga, daging dari hewan yang tidak secara khusus dibunuh untuk disajikan kepada kita.
Bhiksu Yijing dalam perjalanannya mencatat bahwa para bhiksu di India menerima dana makanan berupa tiga daging murni.

Buddha Tidak Melarang Makan Daging?

Berbicara tentang tiga daging murni, baik Theravada maupun Mahayana memiliki pandangan serupa. Arya Bhavaviveka (500-578 M), pendiri Svatantrika Madhyamika, salah satu aliran Mahayana, pernah menulis dalam karya beliau Madhyamakahrdaya-karika bahwa tidak ada larangan bagi seseorang untuk memakan daging, namun dengan syarat harus memenuhi aturan tiga daging murni. Bhavaviveka juga mengatakan: “Tindakan memakan daging dengan tujuan sebagai nutrisi, obat bagi penyakit atau sebagai pemulih kelaparan tidak menyebabkan karma buruk.” Di sini dikatakan kita boleh mengonsumsi daging atas dasar alasan kesehatan, bukan mengejar kenikmatan daging.

Pun maksud dari “pemulih kelaparan” di sini bukan sekedar lapar terus makan daging, tetapi merujuk pada kondisi bila terjadi bencana kelaparan maka daging diperlukan untuk memulihkan kondisi mereka yang tertimpa bencana kelaparan tersebut.

Master Hsuan Hua, sesepuh Chan aliran Weiyang yang sangat menganjurkan vegetarian, juga berkata,“Jika kalian tidak melihat binatang tersebut dibunuh, tidak mendengar jeritannya ketika meninggal dan jika binatang tersebut tidak dibunuh sebagai makanan khusus untukmu, maka dalam kasus seperti itu, jika tubuhmu lemah, maka engkau dapat memakan daging tersebut.” (Tanya Jawab di Oregon). Jadi ketika tubuh lemah dan sakit, makan daging dibolehkan, asal daging tersebut tetap termasuk dalam tiga jenis daging murni.

Di Tibet, udaranya sangat dingin dan daerahnya sulit ditanami sayur mayur, sehingga tidak heran kalau para bhiksu di sana tidak vegetarian. Walaupun makan daging, tapi ini dengan tujuan untuk melangsungkan hidup di bawah kondisi yang mengharuskan mereka melakukan hal itu.

Lalu, atas dasar apa Buddha menetapkan ketentuan tiga daging murni? Ini bisa kita simak dalam Sutra Mahayana Mahaparinirvana.

   

Quote

Kasyapa berkata lagi: “Mengapa Anda awalnya mengizinkan para bhiksu untuk memakan tiga daging murni?”[Buddha:]”O Kasyapa! Tiga jenis daging suci ini diberikan [diberlakukan] mengikuti kebutuhan pada saat [keadaan] itu.”

Dari sini bisa diketahui, ternyata Buddha menetapkan ketentuan tiga daging murni berdasarkan sudut pandang tertentu atas kondisi tertentu.

Selain ketentuan tiga daging murni, Buddha juga menetapkan ketentuan makan lima daging murni dan pantangan makan sepuluh jenis daging. Yang dimaksud dengan lima daging murni adalah selain tiga daging murni yang tersebut di atas, masih ditambahkan lagi dua jenis daging murni lain, yakni daging hewan yang telah mati dengan sendirinya dan daging dari hewan yang menjadi sisa makanan burung bangkai. Ini adalah ketentuan yang sesuai bagi para siswa yang karena faktor lingkungan yang menyebabkan tidak mendapatkan atau sulit menerima persembahan makanan dari umat. Faktor lingkungan ini merujuk pada siswa yang sedang melakukan perjalanan pembabaran Dhamma yang jauh dari lokasi hunian manusia, melakukan pelatihan diri menyendiri di hutan atau gunung terpencil, dan semacamnya.

Tentang sepuluh jenis daging yang dilarang bagi para siswa, dalam kitab Theravada Pali Mahavagga, Vinaya Pitaka, tercatat sebagai berikut: manusia, gajah, kuda, anjing, hyena, ular, beruang, singa, harimau, dan macan tutul.

Sedang dalam Dharmaguptaka Vinaya (Vinaya Empat Bagian) melarang memakan daging gajah, kuda, naga, anjing, singa, harimau, macan tutul, manusia dan dua spesies beruang. Mahasanghika Vinaya memberikan daftar: daging manusia, naga, gajah, kuda, anjing, burung, elang, babi hutan, kera dan gajah.

Sepuluh jenis daging tersebut adalah yang secara absolut dilarang untuk dikonsumsi dalam agama Buddha. Meskipun mungkin dalam situasi tertentu termasuk dalam kondisi tiga jenis daging murni, namun tetap tidak boleh untuk dikonsumsi.

Alasan melarang memakan sepuluh jenis daging ini secara ringkas tercantum di kitab Komentar Vinaya (Samantapasadika). Daging manusia tidak seharusnya dimakan karena berasal dari spesies yang sama. Daging gajah dan kuda tidak seharusnya dimakan karena mereka adalah peliharaan dari seorang raja. Sedangkan daging anjing dan ular dikarenakan mereka termasuk jenis hewan yang menjijikkan, kelompok terakhir adalah singa, harimau dan sebagainya, tidak seharusnya dimakan karena mereka tergolong binatang berbahaya, pun jika dimakan bau daging binatang tersebut bisa membahayakan para bhikkhu yang bermeditasi di hutan. Lagi, menurut Mahasanghika Vinaya, dikatakan bahwa anjing, burung dan elang akan menyerang para bhikkhu yang memakan daging mereka.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa sangatlah tidak adil jika mengatakan ajaran Buddha tidak melarang memakan daging tanpa memberi penjelasan tambahan bahwa sebenarnya ada jenis daging tertentu yang terlarang sama sekali untuk dimakan.

Namun, jika kita renungkan secara mendalam, meski tidak sepenuhnya tidak boleh makan daging, tapi apakah ketentuan tiga daging murni ini mudah diterapkan? Bagi seorang praktisi yang berpijak pada pemahaman konvensional, ini akan dianggap sebagai ketentuan yang sangat sepele. Lantas bagaimanakah karakteristik dari pemahaman konvensional itu – pemahaman dari orang yang hanya menjalankan suatu instruksi secara apa adanya tanpa pertimbangan kebijaksanaan?

Dengan demikian orang tersebut akan dapat mudah menyantap daging tanpa mempertimbangkan asal usulnya. Sejauh dia tidak mendengar, melihat dan mengetahui bahwa makhluk tersebut berasal dari rangkaian proses suatu tragedi (pembunuhan yang disertai rasa takut dan jeritan kesakitan), maka dia boleh menyantapnya.

Dari pemahaman ini, kita tiba pada satu pertanyaan yang cukup menggelitik. Bila para anggota Sangha memperoleh daging murni dari hasil pindapata, maka bagaimana dengan umat awam? Dari manakah mereka bisa memperoleh daging murni? Dalam Sutra Angulimaliya disebutkan:

 

Quote

   “Sekarang, kalian dapat menggunakan bahan-bahan [dari makhluk hidup] yang telah datang pada kalian, setelah berpindah-pindah secara tak langsung, namun kalian seharusnya tidak menggunakan bahan-bahan [dari makhluk hidup] dari titik asal mulanya. Kalian dapat menggunakan bahan-bahan [dari makhluk hidup] yang datang pada kalian secara tidak langsung tanpa tersentuh oleh pembunuhan.”

Untuk memahami makna ucapan ini dapat kita simak kisah Jenderal Siha Senapati. Jenderal Siha Senapati menyuruh pelayannya untuk membeli daging hewan mati di pasar, lalu mempersembahkannya pada Buddha yang kemudian menerima dan memakannya. Para Nigantha yang tidak senang mulai menyebarkan gosip bahwa Jenderal Siha khusus membunuh hewan gemuk besar lalu Buddha menerima dan memakan daging hewan itu. Jenderal Siha menanggapinya dengan berkata:

 

Quote

  “… Sudah lama tuan–tuan yang terhormat ini (Nigantha) berniat meremehkan Buddha… Dhamma… Sangha, tetapi mereka tidak dapat mengganggu Yang Terberkahi dengan fitnahan kejam, kosong, bohong, yang tak benar. Tidaklah demi menopang hidup, kita dengan sengaja merampas hidup makhluk manapun.”

    (Anguttara Nikaya 8.12)

Inilah perbedaan antara membeli daging mati di pasar dan menyuruh orang untuk membunuh. Daging yang telah mati di pasar termasuk tiga jenis daging murni. Namun apakah hanya kalangan Theravada saja yang mempunyai ajaran serupa tentang membeli daging di pasar? Di kalangan Mahayana, Patriark Chan (Zen) aliran Linji dan Caodong masa kini, yaitu Ven. Sheng Yen (Dharma Drum Mountain) pernah berkata: “Tetapi jika untuk keluarga dan alasan sosial menjadi seorang vegetarian sangat sulit, maka orang boleh memakan daging. Namun seseorang tidak boleh membunuh atau menyuruh orang lain untuk membunuh. Membeli daging yang sebelumnya telah dibunuh untuk dibawa ke rumah itu diizinkan.” (Orthodox Chinese Buddhism oleh Ven. Sheng Yen)

Lalu mengutip dari Thrangu Rinpoche: “Sang Buddha berkata bahwa daging dapat dimakan apabila bebas dari tiga cara (yang tidak pantas)...Ya. Engkau (dapat) membeli ikan mati di (pasar) pelabuhan, ketika ikan tersebut telah mati, apakah engkau membelinya atau mereka memberikannya padamu adalah sama saja. Memakan daging (yang sebelumnya memang telah mati) dan sila tidak membunuh adalah sepenuhnya berbeda karena kita membelinya dari orang lain. Kita memiliki kehendak untuk makan daging, tetapi kita tidak ada niat membunuh, dan karena tidak adanya empat faktor pelanggaran, maka tidak ada pelanggaran sila(ke-1)”(Treasury of Oral Instructions)

Khenpo Karthar Rinpoche juga mengatakan: “Pada dasarnya, daging dibagi menjadi tiga kategori. Satu kategori secara jelas dilarang, satu kategori dengan jelas diizinkan dan kategori lain cukup banyak diizinkan. Kategori yang secara jelas dilarang adalah apa yang dinamakan sebagai ‘daging dedikasi’ yaitu daging yang dibunuh untuk kebutuhanmu, dengan kata lain, seperti memesan hewan hidup atau seekor ikan hidup. Itu tidak diizinkan oleh Buddha. Kategori yang secara jelas diizinkan adalah daging dari seekor hewan yang meninggal secara alamiah, yang tidak dibunuh untuk didapatkan dagingnya. Tidak ada kesalahan dalam memakan daging seperti itu. Kategori yang cukup banyak diterima selama ini adalah daging yang dibeli di pasar, yang berarti kalian tahu bahwa kalian tidak melihat, kalian tidak mendengar, dan kalian tidak memiliki alasan untuk menduga bahwa daging itu dibunuh untukmu.” (Karma Chagme Mountain Dharma)

Apakah benar daging di pasar tergolong tiga daging murni? Dalam pandangan yang lebih ekstrem, bisa dikatakan pada saat melihat sajian daging di atas meja, pikiran kita sudah tahu apa yang telah terjadi. Meskipun mata fisik tidak melihat, namun proses visual pembunuhan yang mengerikan itu tidak bisa menutupi mata batin kita. Meskipun telinga fisik tidak mendengar, namun telinga batin kita dapat merasakan suara itu.

Terlepas dari masalah ini, sebenarnya praktisi tradisi Theravada tetap dapat saja menjalankan pelatihan tanpa mengalami masalah tentang makanan apa yang disantap (namun tetap harus memenuhi 3 syarat), dengan kata lain, dalam tradisi Theravada, kesucian akan dapat diraih walaupun tidak harus vegetarian. Mengapa? Karena apa yang dicita-citakan itu (mencapai tingkat kesucian Arahat), tidak memiliki korelasi langsung dengan makhluk-makhluk lain, artinya adalah bahwa suci atau tidaknya seseorang tergantung pada usaha sendiri, tidak ada kaitan langsung dengan makhluk lain, sejauh ia tidak terlibat langsung dalam tindakan pemuasan nafsu rendah yang merugikan makhluk lain.

Apa Motivasi Sebenarnya dari Vegetarian?

Namun bila dikatakan pandangan Theravada dan Mahayana dalam permasalahan daging murni adalah tidak bertentangan, tetapi mengapa para bhiksu tradisi Mahayana harus vegetarian? Ini tentu ada kaitan yang sangat erat antara ikrar ke-Bodhisattvaan dalam tradisi Mahayana dan korelasinya dengan makhluk-makhluk lain.

Tradisi Mahayana menjalankan pelatihan Dharma dengan berfondasi pada cita-cita welas asih menyelamatkan semua makhluk hidup. Oleh sebab itu, walaupun makhluk-makhluk lain sudah mati menjadi seonggok daging tak bernyawa, namun praktisi yang menjalankan ikrar Bodhisattva tetap tidak tega menyantapnya. Karena praktisi ini telah berikrar untuk menyelamatkan semua makhluk hidup, maka wajar saja jika dia tidak dapat menyantap daging makhluk yang telah mati. Ini sesuai dengan basis yang telah dipilihnya yakni Jalan Bodhisattva.

Jadi di dalam tradisi Mahayana, seseorang dikatakan tidak suci lagi jika menyantap daging, pernyataan ini harus dimaknai bahwa karena jika menyantapnya maka dia telah melanggar hati nuraninya, dan wajar saja jika orang yang melanggar hati nurani sendiri identik dengan orang yang telah menodai batinnya sendiri, jadi wajarlah dikatakan tidak suci lagi. Beberapa acuan yang dipakai oleh tradisi Mahayana dalam soal vegetarian ini antara lain adalah Sutra Angulimaliya, Sutra Lankavatara, Sutra Mahaparinirvana dan Sila Bodhisattva Sutra Brahmajala. Mari kita simak beberapa kutipan Sutra- Sutra tersebut.

   

Quote

“Apakah benar bahwa para Buddha tidak makan daging disebabkan oleh sifat ke-Buddha-an (Tathagata-garbha)?” Buddha berkata: “Memang tepatnya seperti itu, Manjushri. Dalam berbagai kehidupan selama perjalanan masuk dan keluar samsara yang tanpa awal dan tanpa akhir, tidak ada satupun makhluk yang tidak pernah menjadi ibu kita, yang tidak pernah menjadi saudara perempuan kita. Bahkan anjing-anjing pun pernah menjadi ayah kita sebelumnya. Dunia di mana para makhluk hidup adalah seperti permainan. Maka, oleh karena daging kita dan daging yang lain adalah daging yang sama, para Buddha tidak mengonsumsi daging.” (Sutra Angulimaliya)

 

Quote

“Jika Mahamati, daging tidak dimakan oleh siapapun untuk alasan apapun, maka tidak ada penghancur kehidupan.” (Sutra Lankavatara)

Dari dua kutipan di atas dapat diketahui bahwa pantang makan daging dilakukan demi pengembangan Bodhicitta yang diterapkan dalam bentuk: ke atas mencapai Jalan Ke-Buddha-an; ke bawah menyelamatkan makhluk hidup. Sedang makhluk hidup yang terdekat dengan kita adalah orang tua. Jadi apakah kita tega memakan daging makhluk yang pernah menjadi orang tua kita sendiri, meski hubungan kekeluargaan itu terjalin dalam kehidupan yang lampau?

Terlepas dari hubungan kekeluargaan, rasa welas asih seorang Bodhisattva meliputi semua makhluk dan menembus tiga kehidupan: lampau, sekarang dan akan datang. Inilah perwujudan Empat Ikrar Agung Bodhisattva yang sebenarnya juga merupakan aksi welas asih yang nyata atas kebenaran mutlak Empat Kesunyataan Mulia yang dibabarkan Buddha dalam pemutaran roda Dharma pertama setelah mencapai Penerangan Sempurna di bawah pohon Bodhi.

1. Berikrar menyelamatkan makhluk hidup yang tak terbatas (Dukkha - Kesunyataan Mulia Pertama)

2. Berikrar memutus kekotoran batin yang tak ada habisnya (Sebab Dukkha - Kesunyataan Mulia Kedua)

3. Berikrar mempelajari pintu Dharma yang tak terhingga (Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha -Kesunyataan Mulia Keempat)

4. Berikrar mencapai Jalan ke-Buddha-an yang tertinggi (Lenyapnya Dukkha - Kesunyataan Mulia Ketiga)

Inilah ikrar welas asih yang menjadi motivasi berpantang makan daging. Hubungan antara pantang makan daging dan welas asih ini dapat kita simak dalam ucapan berikut:

Quote

    “O Hyang Bhagava! Mengapa Tathagata tidak mengizinkan kami makan daging?” “O pria yang berbudi! Seseorang yang makan daging mematikan benih welas asih agung.” (Sutra Mahaparinirvana)

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah kita jangan mengartikan secara harfiah bahwa mereka yang tidak vegetarian adalah tidak welas asih, melainkan vegetarian adalah satu bentuk pengembangan dari welas asih, yang merupakan satu metode pelatihan diri membina hati welas asih dalam bentuk visualisasi penghayatan penderitaan hewan yang mengalami proses pembunuhan untuk diambil dagingnya bagi manusia.

Meski telah memahami motivasi di balik semangat pantang daging dari tradisi Mahayana, namun itu belum menjawab pertanyaan mengapa para bhiksu tradisi Mahayana harus vegetarian. Sama seperti dengan tradisi Theravada, Vinaya yang diterapkan oleh para bhiksu/bhiksuni Mahayana juga tidak mengandung pernyataan pantang makan daging, jadi apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya perbedaan pola makan kedua tradisi ini? Di sinilah letak pentingnya Sila Bodhisattva Sutra Brahmajala.

Ternyata para bhiksu/bhiksuni Mahayana selain menerapkan Vinaya, mereka juga menerima dan menerapkan Sila Bodhisattva yang tercantum dalam Sutra Brahmajala (Mahayana) yang secara tertulis menyatakan pantang makan daging.

Basis Apa yang Kita Pilih?

Ketentuan Buddha tentang makan daging tidak bertentangan. Umat yang masih belum dapat meninggalkan konsumsi daging oleh sebab kesehatan atau pergaulan sosial dapat mengikuti aturan tiga daging murni. Bila praktisi berikrar ingin memasuki gerbang Mahayana dan mengembangkan Bodhicitta, maka perlahan-lahan harus meninggalkan kebiasaan makan daging, bahkan tiga jenis daging murni. Setiap ketentuan yang ditetapkan Buddha harus dipahami sebagai anjuran untuk berbagai macam kondisi yang berbeda, sehingga tidak ada yang bertentangan dalam hal ini.

Dengan demikian, kita semestinya harus memahami terlebih dahulu basis mana yang dipilih oleh seorang praktisi. Jika berjalan pada cita-cita ke-Arahat-an, maka masalah santapan daging tidak begitu bermasalah sejauh dia tetap berpegang pada tiga syarat daging murni yang telah ditentukan. Jika berjalan pada cita-cita Bodhisattva maka dia tentu harus berpegang teguh pada ikrar yang telah dicanangkan, jika tidak maka sama saja membohongi dirinya sendiri.

Dalam hal ini, untuk menarik benang merahnya, maka kita semestinya dapat menerima kedua-duanya, bahwa Buddha tidak melarang makan daging pada satu kesempatan, namun sekaligus melarang santapan daging pada kesempatan lain tergantung pada basis apa yang dipilih oleh seorang praktisi. Hal ini sama seperti Buddha tidak melarang siswa perumah tangga untuk berhubungan seks yang benar, namun bagi siswa bhikkhu, seks adalah perbuatan yang terlarang sama sekali, semua ini tergantung pada kecenderungan dan tingkatan batin masing masing makhluk hidup.

Itulah sebabnya Buddha dijuluki sebagai raja tabib. Jika kita mengalami masalah A maka yang diberikan adalah resep A. Jika pokok permasalahannya adalah B maka resep yang diberikan adalah B. Tidak ada jalan terunggul, sejauh dapat menyembuhkan maka itulah pilihan yang dianggap terunggul oleh sang praktisi bersangkutan.

Terlepas dari basis mana yang dipilih, terlepas dari motivasi apa yang dianut, setahap demi setahap pola hidup sehat vegetarian (tidak makan daging) telah berkembang luas ke seluruh penjuru dunia. Para praktisi Jalan Bodhisattva tidak sendirian, dan tentu saja, sebagai praktisi Jalan Bodhisattva harus menyambut baik adanya Hari Vegetarian Se-Dunia yang ditetapkan pada tanggal 1 Oktober setiap tahunnya.

===================================END OF ARTICLE============================

tambahan Xenocross:

1. Sila Bodhisattva yang diturunkan hingga saat ini mempunyai dua versi. Versi pertama adalah yang memakai basis Brahmajala Sutra, dan silsilahnya menyebar ke China. Sehingga di Buddhisme Mahayana China, anggota Sangha biasanya vegetarian karena mereka mengambil Sila Bodhisattva versi ini.

Versi kedua adalah silsilah tradisi guru-guru India yang berasal dari kompilasi Guru Shantideva. Beliau mengumpulkan sila-sila dari Akashagarbha Sutra, Upayakausalyasutra, Ratnakuta, Simhapariprrcha, Candrapradipa Sutra, dan sutra lainnya. Versi ini tidak melarang makan daging.

2. Kutipan Brahmajala Sutra, bagian 48 sila sekunder:

   

Quote

Seorang siswa Buddha seharusnya tidak dengan sengaja memakan daging. Ia seharusnya tidak makan daging dari makhluk hidup apapun. Pemakan daging kehilangan benih Mahakaruna, memotong benih Sifat Kebuddhaan (Tathagata Garbha), serta menyebabkan (binatang dan para dewa) menghindarinya. Mereka yang melakukannya melakukan tak terbilang pelanggaran. Karena itu, seorang Bodhisattva seharusnya tidak makan daging makhluk hidup apapun. Bila sebaliknya, ia dengan sengaja memakan daging, ia melakukan pelanggaran yang tambahan.

3. Terdapat beberapa orang atau aliran atau kelompok yang percaya bahwa dengan vegetarian bisa menjadi suci. Pandangan tersebut berlawanan dengan apa yang dikatakan Buddha

   

Quote

Mengambil kehidupan, memukul, melukai, mengikat, mencuri, berbohong, menipu, pengetahuan yang tak berharga, berselingkuh; inilah bau busuk. Bukan makan daging.

    Di dunia ini, para individu yang tidak terkendali dalam kesenangan indera, yang serakah terhadap yang manis-manis, yang berhubungan dengan tindakan-tindakan yang tidak murni, yang memiliki pandangan nihilisme, yang jahat, yang sulit diikuti; inilah bau busuk

    Di dunia ini, mereka yang kasar, sombong, memfitnah, berkhianat, tidak ramah, sangat egois, pelit, dan tidak memberi apapun kepada siapa pun, inilah bau busuk …

    Kemarahan, kesombongan, kekeraskepalaan, permusuhan, penipuan, kedengkian, suka membual, egoisme yang berlebihan, bergaul dengan yang tidak bermoral; inilah bau busuk …

    Mereka yang memiliki moral yang buruk, menolak membayar utang, suka memfitnah, tidak jujur dalam usaha mereka, suka berpura-pura, mereka yang di dunia ini menjadi orang yang teramat keji dan melakukan hal-hal salah seperti itu; inilah bau busuk …

    Mereka yang di dunia ini tidak terkendali terhadap makhluk hidup, yang cenderung melukai setelah mengambil harta milik mereka, yang tidak bermoral, kejam, kasar, tidak memiliki rasa hormat; inilah bau busuk …

    Mereka yang menyerang makhluk hidup karena keserakahan atau rasa permusuhan dan selalu cenderung jahat, akan menuju ke kegelapan setelah kematian dan jatuh terpuruk ke dalam alam-alam yang menyedihkan; inilah bau busuk …

    Menjauhkan diri dari ikan dan daging, bugil, mencukur kepala, berambut gembel, melumuri diri dengan abu, memakai kulit rusa yang kasar, menjaga api kurban; tak satu pun dari berbagai penebusan dosa di dunia yang dilakukan untuk tujuan yang tidak sehat –termasuk jampi-jampi, persembahan keagamaan, pemberian korban maupun puasa musiman– akan menyucikan seseorang yang belum mengatasi keragu-raguannya.

    AMAGANDHA SUTTA

4. Beberapa orang menjadi vegetarian karena alasan kesehatan, ini adalah tujuan duniawi.

Tujuan spiritual Vegetarian adalah mengembangkan bodhicitta, dan para bhiksu menjadi vegetarian karena mengambil sila bodhisattva. Beberapa yang lain menjadi vegetarian karena mengembangkan welas asih dan metta.

Tanpa welas asih, tanpa bodhicitta, dan tanpa mengambil sila bodhisattva, jika seseorang menjadi vegetarian tidak dengan salah satu dari alasan tersebut, maka vegetarian hanya menjadi diet/ pola makan biasa. Tidak dengan makanan seseorang menjadi suci.

Pandangan bahwa seseorang dapat mencapai kesucian hanya dengan tidak makan daging bisa dikategorikan sebagai kepercayaan terhadap ritual yang tak bermanfaat (silabataparamasa)

"Satu saat dari pikiran yang dikuasai amarah membakar kebaikan yang telah dikumpulkan selama berkalpa-kalpa".
~ Mahavairocana Sutra

Sumber;
Menyambut Hari Vegetarian Se-Dunia
oleh: Chingik dan Hendrick
Majalah Sinar Dharma 24

Vegetarian Dalam Sudut Pandang Ilmu Kesehatan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Agama Budha yang berkembang saat ini lebih dominan versi Theravada, Mahayana,&Tantrayana. Di dalam Agama Budaha ada moral yang disampaikan Budha untuk kita,yaitu melaksanakan Pancasila Buddhis,pada sila pertama ;”PANATIPATA VERAMANI SIKKHAPADAM SAMADIYAMI”,yang artinya :” AKU BERTEKAT AKAN MELATIH DIRI MENGHINDARI PEMBUNUHAN MAKHLUK HIDUP”.

A. Vegetarian dalam versi Theravada
Jika Umat atau Bhikku Theravada yang ingin Vegetarian itu adalah hak orang tersebut dan tidak ada larangan dalam Sutta pitakka, karena dilihat dari Sutta Pitaka tidak disebutkan seseorang itu harus vegetarian. Yang pertama kali mengajukan vegetarian itu adalah Bhikku DEVADATTA.Bhikku Devadatta mengajukan pada buddha untuk para bhikku dan umat untuk vegetarian, karena keirihatiannya pada Buddha,tapi karna Buddha sangat bijaksana,beliau menolak vegetarian dikarenakan vegetarian itu bukan suatu yang dapat mencapai kesucian. Buddha hanya menyatakan 3 sebab seseorang itu tidak boleh memakan daging makhluk hidup jika; membunuh langsung hewan yang akan dimakan dagingnya,tidak memesan langsung hewan tersebut, dan tidak mendengar,melihat, mencurigai hewan tersebut dibunuh.Dan juga Buddha hanya melarang 10 makhluk hidup yang tidak boleh di makan dagingnya yaitu daging manusia, anjing, gajah, monyet, ular, macan, rusa, srigala, kura-kura,dan kuda. Ini supaya kalau masuk hutan aman tidak diganggu binatang-binatang tersebut,pada masa itu. Jadi Menurut versi Theravada Pencerahan seseorang,suci tak suci seseorang bukan dari makanan tetapi dari pencapaian meditasi vipassana sehingga menghasilkan tingkah laku dan perbuatan yang baik dalam kehidupan sehari-hari , dengan kata lain banyak melakukan dana,sila,dan meditasi.

B. Vegetarian Dilihat Dari Versi Mahayana
Mahayana berkembang beberapa ratus tahun setelah Buddha Parinibbana, dengan menggabungkan ide berlatih untuk pembebasan semua makhluk.Gagasan ini paling murni dinyatakan dalam gagasan tentang boddhisatwa.artinya, makhluk yang meninggalkan pembebasan akhir mereka sendiri dalam rangka membantu semua makhluk mencapai Nibbana. Di dalam Sila Boddhisattwa, Vegetarian dianggap sebagai Metta dan Karun (cinta kasih dan welas asih)pada semua makhluk. Jadi Vegetarian merupakan syarat dari Sila Boddhisattva.Para bhikksu,bhikksuni,dan para umatnya menjalanakan Sila Bodhisattwa dengan bervegetarian untuk mengembangkan metta dan karuna.

I. Sejarah Perkembangan Vegetarian
Perkembangan vegetarian di Eropa dimulai, diciptakan pd tahun 1847 oleh Josep Brotherton dan kawan-kawan di Northerwood Villa, Inggris. Pada saat pertemuan pengukuhan Vegetarian Society Inggris. Kata “VEGETARIAN” berasal dari kata “VEGETUS” yang berati keseluruhan sehat,segar,hidup yang dihubungkan dengan VEGETABLE-ARIAN mitos manusia yang diimaginasikan hidup seluruhnya dari sayur-sayuran tetapi tanpa kacang,buah,biji-bijian,dll. Perkembangan vegetarian di tiap negara berbeda-beda dipengaruhi adat negara setempat maka vegetarian ada yang masih memakan telur dan meminum susu,kesemuanya tergantung individu masing-masing.

II. Perkembangan Vitamin
Perkembangan vitamin di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi ini berhubungan dengan perkembangan vegetarian. Karena para vegetarian mengetahui komposisi kandungan vitamin dari sayuran dan buahan. Kita kaji dahulu perkembangan vitamin ini,perkembangan vitamin mengalami 5 zaman dari thn 1500-1955 ini menandakan pengetahuan tentang vitamin berkembang pesat. Percobaan demi percobaan oleh dokter-dokter dan para ahli kimia dan ditemukan vitamin yang diperlukan oleh tubuh. Seperti tabel berikut :
Tabel 1.TAHUN PENEMUAN VITAMIN ALAMI DAN SUMBER DARI SAYURAN DAN BUAHAN
Thn pene muan vitamin nama bio kimia ditemukan di selain itu terdapat di dalam sayuran dan buah-buahan antara lain :
1909 VIT. A RETINOL WORTEL mangga,labu,bayam,brokoli,selada air,telur
1912 VIT. B TIAMIN SUSU biji2x,pisang,pepaya,kubis,beras merah.
1912 VIT. C ASAM ASKROBAT JERUK kiwi,bayam,kangkung,sayuran warna hijau
1918 VIT. D KALSIFEROL KEJU susu,sinar matahari pagi sebelum jam 10
1920 VIT. B2 RIBOFLAVIN TELUR singkong,tomat,nenas,pepaya,beras, jagung,wortel,kacang-kacangan.
1922 VIT. E TOKOFEROL MINYAK GANDUM Touge,kacang-kacangan
1926 VIT. B12 SIANOKOBALAMIUN TELUR

1929 VIT. K FILOKUINONA KUNING TELUR selada,kubis,kembang kol,sayuran hijau
1931 VIT. B7 BIOTIN HATI

1934 VIT. B6 PIRIDOKSIN KACANG alpokat,pisang,tomat,apel,kacangtanah, telur,kedelai,jenis kacang-kacangan.
1936 VIT. B3 NIASIN RAGI tempe.

Karena kemajuan ilmu pengetauan dan Teknologi pembuatan vitamin secara besar-besaran untuk konsumsi manusia dan hewan peternakan yang dibuat di pabrik-pabrik kimia industri.Pabrik kimia menguraikan zat vitamin itu menjadi kapsul-kapsul,tablet vitamin yang praktis,yang bisa langsung di konsumsi dan sangat komersial. Karena keuntungan penjualan Vitamin itu maka sejumlah pabrik berlomba – lomba memasarkan produk-produknya.
III. Manfaat Memakan Vegetarian Dilihat Dari Kesehatan
Banyak manfaat dari makan vegetarian yaitu untuk :
A. Makanan Vegetarian tidak Kekurangan Vitamin
Dari tabel 1 dan 3, ini juga dapat dibuktikan bahwa tanpa memakan daging pun kita dapat hidup. Tubuh ini memerlukan vitamin-vitamin(TABEL 1), protein (TABEL 3), karbohidrat,serat-serat dari tumbuhan dan juga air,ini semua sebangai penunjang hidup kita.

Banyak Konsumen yang tidak mengerti Produk – produk vitamin yang dibuat oleh pabrik kimia seperti ke-alami-an dari sayuran dan buahan tersebut, karena cara pengelolahnya melalui pensterillan buahan dan sayuran yg dimasak, sehingga nutrisinya banyak yang hilang, kekadaluarsaaan dari vitamin tersebut juga menjadi sangat berbahaya jika di konsumsi atau ketidak bersihan dari alat-alatnya pabrik. Bisa juga konsumen yang tidak tahu dosis vitamin yang diperlukan tubuh sehingga melebih batasnya yang disebut Hipervitaminosis. Kelebihan vitamin ini juga sangat berbahaya dapat menyebabkan kerja keras ginjal untuk meneralisir vitamin untuk di buang melalui air seni.
Kekurangan pengetahuan kita akan kesehatan dan gaya hidup yang serba praktis sehingga di kota-kota besar mereka mau serba cepat memakan makanan yang serba praktis tanpa melihat kesehatan. Memakan makanan siap saji seperti MC Donal, kentucky,menunya hanya hamburger,kentang goreng, ayam goreng kentucky, sosis,pizza, kadang Mie instan, tanpa sayuran dan buahan.

Kekurangan vitamin dapat mengakibatkan imunitas, kekebalan tubuh menurun, jadi tubuh gampang kemasukan penyakit dan virus seperti kekurangan : – Vit. A menyebabkan rabun senja,katarak,kulit kering, daya tahan tubuh berkurang. – Vit. B1 – B6 menyebabkan mulut kering, sariawan, otot mudah keram, insomia. – Vit. C menyebabkan gusi berdarah, mudah terinfeksi,daya tahan tubuh berkurang. – Vit. D menyebabkan tulang rapuh, gigi mudah rusak. – Vit.E menyebabkan bisa mandul. – Vit. K menyebabkan darah sulit membeku.

B. Makanan Vegetarian Tidak Ada Kolestrol LDL
Semua penyakit berasal dari makanan yang kurang baik, bisa juga menu yang salah karena tidak mengertinya keperluan tubuh kita, energi kalori yang diperlukan tidak seimbang, bisa kekurangan atau kelebihan kalori tubuh,kalau kekurangan kalori,sehingga tubuh menjadi kurus, tapi jika kelebihan kalori, tubuh menjadi gemuk. Kegemukan ini berasal dari lemak kalori yang tidak terpakai yang mengakibatkan kolesterol dan asam urat.
Orang yang bervegetarian memakan sayuran dan buahan tidak terdapat kolesterol jahat asal pengolahan makanan itu benar, seperti :

Tempe, sebetulnya kandungan tempe mengandung Vit. B, B2,B3,B6, Dan E . tetapi karna tempe di konsumsi menjadi tempe goreng, minyak yang digunakan mengandung kolesterol jahat, maka tempe goreng berubah menjadi kolestrol jahat yang tercemar dari minyak goreng tersebut.Buah alpukat mengandung kolesterol baik mengandung Vit. A, B, B2, B3 dan C fungsi melancarkan peredaran darah , karena biasa di olah menjadi jus alpukat ada tambahan dari alpukat itu supaya menjadi enak, ditambah gula dan susu. Susu itu yang menjadi kolestrol jahat.Kacang tanah mengandung protein, vit.B,B2,B6, dan E, Karena biasa dikelolah menjadi kacang goreng, maka minyak gorengnya yang berbahaya bagi tubuh.

Kita harus mengetahui dulu tentang Kolestrol, Kolestrol dibagi menjadi 2 yaitu: 1. KOLESTROL LDL (LOW DENSITY LIPOPROTEIN) Adalah Kolestrol Jahat yang bila jumlahnya berlebihan di dalam darah akan mengendap pada dinding pembuluh darah membentuk bekuan yang dapat menyumbat pembuluh darah. hal ini dikarenakan terlalu banyak memakan berlemak (lihat table 2). 2. KOLESTROL HDL (HIGH DENSITY LIPOPROTEIN) Adalah Kolestrol Baik yang mempunyai fungsi membersihkan pembuluh darah dari Kolestrol LDL kurang 15 mg/dl.
Pada tabel 2 menunjukan kandungan kolesterol LDL pada daging hewan sangat tinggi, sehingga banyak orang lebih suka menu vegetarian, dan Kita dapat lihat tabel 1 dan 3 disini menunjukan sayuran dan buahan tidak mengandung kolestrol jahat, disini terlihat komposisi kealamian buah dan sayur tersebut. Maka dari itu Alam telah menyediakan begitu banyak keaneka ragaman hayati, maka jika ingin bervegetarian tidak usah khawatir asal kita tahu menu vegetarian yang benar untuk kelangsungan hidup kita.

C. Makanan Vegetarian tidak kekurangan Protein
Protein ada di sayuran di buncis,kacang panjang,tempe,tahu, dan kacang-kacangan ( di tabel 3 ) ,kita dapat memakannya dengan lalap atau rebusan saja. Untuk lebih mengerti kita harus memahami fungsi protein dahulu, dilihat dari kesehatan antara lain :
• Protein adalah bahan yang digunakan untuk pertumbuhan sel, perbaiki sel / regenerasi sel, sumber energi, pembentuk senyawa kimia yang berperan mengatur berbagai Proses yang terjadi di dalam tubuh.

D. Makanan Vegetarian bebas dari konsumsi hewan berpenyakit
Zaman sekarang banyak penyakit – penyakit yang disebabkan dari makan daging yang kurang baik, banyak dari kita yang vegetarian karena hal –hal tersebut a.l :
A. Kemajuan pengetahuan membuat banyak bahan-bahan kimia yang senyawanya mirip dengan vitamin, protein atau suntik hormon karena senyawa kimia ini lebih murah, tidak di buat dari sayuran dan buahan asli. Semua itu digunakan untuk hewan peternakan, hasilnya pertenakan mengambil keuntungan besar tetapi mereka tidak melihat sisi negatif nya yaitu dampak terhadap orang yang mengkonsumsinya. Seperti : – Ayam broiler atau ayam negri, ayam ini di suntik hormon dan antibotik maka ayam tsb gemuk dan berat. Tapi dampak terhadap kesehatan sangat berbahaya, jika konsumen sering memakan ayam ini dapat berdampak penyakit kanker , tumor.
B. Kesehatan makanan Hewan peternakan juga tidak diperhatikan, seperti : – peternakan Babi ,sapi,kambing ; makanan untuk babi kadang tidak diperhatikan sehingga hewan – hewan itu memakan kotoran yang menyebabkan mereka terkena cacing yang sangat berbahaya , cacing – cacing itu tumbuh di dalam tubuh hewan, karena hewan itu akan di konsumsi manusia dampaknya manusia yang mengkonsumsi itu juga kena penyakit cacing itu,jika masak daging kurang matang, maka cacing itu tidak mati.
C. Seperti halnya manusia, Hewan peternakan yang kurang makan-makanan sehat berdampak kekebalan tubunya berkurang, sehingga banyak binatang yang mati karena kekebalan tubuh hewan itu berkurang, dan penyakit yang berkembang menjadi lebih ganas. Seperti : Wabah flue burung, flue itik, flue babi, penyakit antrak pada kambing, sapi gila, dll.
D. Polusi laut, karena manusia tidak memperhatikan lingkungannya mengakibatkan polusi laut yang banyak zat-zat berbahaya dari industri mengalir ke laut. Kerang – kerang di pinggir pantai tercemar limbah industri. Kerang – kerang tersebut mengandung timbal / zat besi yang tinggi. Ini berdampak pada Janin anak yang ada di dalam kandungan seorang ibu, jika si ibu banyak memakan kerang, anak dalam kandungan akan cacat atau jika lahir ada penyakit berbahaya.
E. Para pedagang daging, pedagang ikan yang curang supaya dagangannya tidak rusak mereka menggunakan formalin sebagai pengawet. Formalin sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh kita karena zat tersebut tidak dapat di nertralisir oleh tubuh kita, akibatnya dapat penyakit kanker dan tumor ganas.
F.Makanan Vegetarian Sebagai Terapi Kesehatan
Kita kurang memperhatikan makanan yang masuk di dalam tubuh mengakibatkan penyakit jantung, kanker atau kegemukan maka vegetarian ini untuk diet yang dianjurkan oleh Dokter – dokter. Menu sayuran dan buahan ini cepat sekali menurunkan berat badan menjadi tubuh yang ideal,sehat dan jauh dari penyakit. Ilmu gizi dan dokter-dokter juga menganjurkan terapi Jus atau buah dan sayuran yang ditumbuk juga dianjurkan untuk penyakit kanker. Hasil terapi ini juga banyak juga yang telah berhasil, bahkan obat – obat herbal dari tumbuhan sekarang ini banyak diminati karena telah terbukti seperti jenis tumbuhan sirsak dari daun sampai buahnya banyak manfaatnya untuk tubuh kita. Buah sirsak untuk penyakit asam urat dan daun pohon sirsak ini direbus airnya yang seperti teh ini untuk penyakit kanker. Selain itu karena senyawa sayuran dan buah menjadi anti oksidan yang dapat mencegah kanker dan jantung, dan diabetes.Sayuran dan buahan banyak mengandung serat sehingga membantu kesehatan saluran pencernaan dan membuat buang air besar ( BAB) lancar setiap hari. Menu vegetarian spt ; sayuran dan buahan dapat mempercantik kulit kita seperti tomat,strawberry dll. selain dari itu hormon dalam tubuh dapat terkontrol.
G.Vegetarian sebagai penyelamat lingkungan global
Penduduk dunia begitu padat jika seluruh dunia mengkonsumsi daging hewan potong maka dapat diperhitungkan berapa besar dampak bagi bumi kita terhadap air. Hewan ternak dari kecil sampai besar meminum air dan makanan. Menurut PBB organisasi pangan dan pertanian 1 pon daging sapi memerlukan 2500 galon air,sedangkan 1porsi nasi/biji-bijian memerlukan 25 galon air. Selain dari itu dampak polusi udara dari pakan ternak yang dibuat di pabrik-pabrik. Jadi dari pernyataan PBB dapat dikatakan orang yang Vegetarian itu sebagai penyelamat lingkungan global,karena mereka dapat menghemat air tanah dan polusi udara.

IV. SAYURAN DAN BUAHAN ORGANIK DAN ANORGANIK
Bermacam-macam peptisida hama, dan pupuk kimia atau pupuk sintesis untuk tanaman banyak digunakann oleh petani. Mulai dari tanaman pohon di tanam hingga panen sayuran dan buahan. Karena banyaknya penggunaan pupuk kimia tersebut, para konsumen vegetarian memilih sayuran dan buahan organik. Sayuran dan buahan organik menggunakan pupuk alami dari kotoran sapi atau kambing dan kompos, yaitu pupuk terbuat dari sayuran dan buahan yang dibusukkan. Sayuran organik lebih mahal dari anorganik, karena biaya penanamannya lebih mahal juga, tetapi lebih aman di konsumsi.

V. ILMUAN DAN TOKOH YANG VEGETARIAN
Mungkin banyak tokoh pemuka yang vegetarian cuma disini saya akan menjelaskan tokoh yang terkenal seperti :
- ALBERT EISTEIN ( 1879 – 1955 ) Sebagai ilmuan terbesar dalam abad ke 20. Ia menyatakan “Tugas kami adalah untuk memperluas lingkaran welas asih untuk merangkul semua makhluk hidup dan seluruh alam dalam keindahan” dan pada hari ia menjadi vegetarian, Eistein menulis dalam buku diary “ jadi saya hidup tanpa lemak, tanpa daging, tanpa ikan, tapi saya merasa cukup baik dengan cara ini. Selalu tampak bagi saya bahwa manusia tidak dilahirkan untuk menjadi Karnivora”.

- MASTER CHENG YEN, Seorang Bhikksuni dari Taiwan Pendiri Yayasan TZU TZI yang sangat terkenal di seluruh dunia, Bhikksuni yang penuh Welas Asih pada semua makhluk, tidak melihat agama, suku RAS, bangsa, golongan kaya dan miskin. Sifat Master Cheng Yen seperti Sifat Bodhisattva, ini mencerminkan Ajaran Buddha yang sangat nyata. Master juga banyak mengajarkan pada kita tentang Vegetarian. Agama lain dari penganut Islam, Kristen, Hindu sekarang ini lebih mengerti tentang vegetarian yang diajarkan pada Master lewat DAAI TV, tidak sedikit dari insani tzu tzi juga vegetarian dan Kepedulian terhadap lingkungan dengan menanam sayuran dan buahan organik .

Sumber:
Disarikan oleh : Luviyana semester I
Jurusan : Dharma Achariya”]


Pandangan Sang Buddha Tentang Makan Daging

oleh BHIKKU DHAMMAVUDDHO MAHA THERA.

Namo Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa

PENDAHULUAN

Makan daging merupakan topik yang sangat sensitif. Ada beragam pandangan tentang makan daging dan setiap pandangan mungkin benar pada batas tertentu, tetapi pandangan-pandangan tersebut mungkin saja tidak bijaksana. Dalam hal ini, kita harus mengesampingkan pandangan pribadi kita dan bersikap lebih terbuka untuk melihat pandangan Sang Buddha. Hal ini penting sekali karena Beliau adalah Tathagata yang mengetahui dan melihat.

Sutta dan Vinaya akan menjadi sumber referensi kita karena di AN 4.180, Sang Buddha berkata bahwa jika bhikkhu tertentu mengatakan sesuatu, yang diklaim sebagai sabda Sang Buddha,
maka perkataan tersebut haruslah dibandingkan dengan Sutta (kumpulan khotbah) dan Vinaya (disiplin kebhikkhuan). Jika perkataan tersebut sesuai dengan Sutta dan Vinaya, maka kita dapat menerimanya sebagai sabda Sang Buddha.

Pertimbangan selanjutnya adalah Sutta dan Vinaya mana yang menjadi acuan kita? Walaupun berbagai mazhab Buddhis mempunyai penafsiran yang berbeda tentang ajaran Sang Buddha, umumnya semua setuju bahwa empat Nikaya (Kumpulan-kumpulan), yaitu, Digha Nikaya, Majjhima
Nikaya, Samyutta Nikaya, dan Anguttara Nikaya, dan beberapa buku dari Khuddhaka Nikaya, adalah khotbah-khotbah tertua otentik Sang Buddha. Lebih lanjut, buku-buku kumpulan tertua ini konsisten secara keseluruhannya, mengandung rasa pembebasan, sementara buku-buku belakangan terkadang
berisikan ajaran yang kontradiktif.

Buku-buku Vinaya dari berbagai mazhab Buddhis semuanya cukup serupa dengan Vinaya Theravada. Untuk alasan ini, Sutta-sutta kumpulan tertua dan Vinaya Theravada akan menjadi sumber referensi kita.

REFERENSI SUTTA
Majjhima Nikaya 55

Khotbah ini penting sekali karena disini Sang Buddha menyatakan dengan jelas pendapat Beliau tentang makan daging.
Tabib Raja, Jivaka Komarabhacca, datang mengunjungi Sang Buddha. Setelah memberi penghormatan, dia berkata: “Yang Mulia, saya telah mendengar hal ini: ‘Mereka menyembelih
makhluk hidup untuk Samana Gotama (yaitu Sang Buddha); Samana Gotama dengan sadar memakan daging yang dipersiapkan kepadanya dari binatang yang dibunuh untuk dirinya’…”; dan bertanya apakah hal ini memang benar.

Sang Buddha menyangkali hal ini, menambahkan “Jivaka, saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging tidak diijinkankan untuk dimakan: apabila dilihat, didengar atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) Saya nyatakan bahwa dalam tiga hal daging diijinkan untuk dimakan: ketika tidak dilihat, didengar, atau dicurigai (bahwa makhluk hidup tersebut telah secara khusus disembelih untuk dirinya) ….”

Lebih lanjut, Sang Buddha menambahkan: “Jika seseorang menyembelih suatu makhluk hidup untuk Tathagata (yaitu Sang Buddha) atau para siswanya, dia menimbun banyak kamma buruk dalam lima hal … Ketika dia berkata: ‘Pergi dan giring makhluk hidup itu’ ... Ketika makhluk hidup itu menderita kesakitan dan kesedihan ketika dijerat dengan lehernya yang terikat … Ketika dia berkata: ‘Pergi dan sembelihlah makhluk hidup itu’ … Ketika makhluk hidup itu mengalami kesakitan dan kesedihan karena disembelih … Ketika dia mempersembahkan kepada Tathagata atau para siswanya dengan makanan yang tidak diijinkan …. ”

Jadi kita dapat menyimpulkan bahwa Sang Buddha membedakan antara daging yang diijinkan1 dengan tiga kondisi dan daging yang tidak diijinkan. Ini adalah kriteria yang paling penting sehubungan dengan makan daging.

Anguttara Nikaya 8.12

Jendral Siha, seorang pengikut Nigantha, beralih ke ajaran Buddha setelah dia belajar Dhamma dari Sang Buddha.
Dia mengundang Sang Buddha dan rombongan bhikkhu ke rumahnya hari berikutnya untuk bersantap, dan menyediakan daging dan makanan lainnya. Para Nigantha, yang cemburu karena seorang umat awam yang terkemuka dan berpengaruh telah pergi ke perkemahan Buddha, menyebarkan rumor bahwa Jendral Siha telah membunuh seekor binatang besar dan memasaknya untuk samana Gotama, “… dan samana Gotama akan memakan daging tersebut, mengetahui bahwa daging itu memang dimaksudkan untuk dirinya, perbuatan itu dilakukan untuk kepentingannya.’
Ketika berita ini sampai ke telinga Jendral, dia menolak tuduhan mereka, berkata: “ … Sudah lama tuan–tuan yang terhormat ini (Nigantha) sudah berniat untuk meremehkan Buddha … Dhamma
… Sangha: tetapi mereka tidak dapat mengganggu Yang Terberkahi dengan fitnahan kejam, kosong, bohong, yang tak benar. Tidaklah demi menopang hidup, kita dengan sengaja merampas hidup makhluk manapun.

Ini adalah salah satu khotbah yang dengan jelas menunjukkan bahwa Sang Buddha dan bhikkhunya makan daging. Juga, kita lihat bahwa daging dari binatang yang sudah mati ketika dibeli,
diijinkan untuk dimakan, tetapi tidak diijinkan apabila binatangnya masih hidup.

Anguttara Nikaya 5.44

Ini tentang seorang umat awam, Ugga, yang mempersembahkan beberapa pilihan makanan yang baik untuk Sang Buddha: di antaranya adalah daging babi yang dimasak dengan buah jujube yang diterima oleh Sang Buddha. Sekali lagi, ini jelas bahwa Sang Buddha dan para siswanya makan daging.

Sutta Nipata 2.2

Disini Sang Buddha mengingat kembali suatu peristiwa pada kehidupannya yang lampau pada masa Buddha Kassapa. Buddha Kassapa adalah gurunya saat itu.
Pada suatu ketika saat seorang petapa sekte luar bertemu dengan Buddha Kassapa dan mencacinya karena makan daging, yang dikatakannya sebagai noda dibandingkan dengan konsumsi
makanan vegetarian.
Buddha Kassapa membalas: “Membunuh … melukai …. mencuri, berbohong, menipu … berzinah; inilah noda. Bukan makan daging.… Mereka yang kasar, sombong, memfitnah, curang, jahat … kikir … inilah noda. Bukan makan daging.
… Kemarahan, keangkuhan, sifat keras kepala, kebencian, penipuan, keirihatian, pembualan … inilah noda. Bukan makan daging. … Mereka yang bermoral buruk, …. dengki … congkak … menjadi orang yang paling keji, melakukan perbuatan demikian, inilah noda. Bukan makan daging.”

REFERENSI VINAYA
Patimokkha: Pacittiya 39

Dalam disiplin kebhikkhuan, seorang bhikkhu tidak diijinkan untuk meminta makanan khusus tertentu. Tetapi, sebuah pengecualian diijinkan di Patimokkha (peraturan kebhikkhuan) ketika bhikkhu itu sakit.
Dalam keadaan ini, bhikkhu diijinkan untuk meminta produk dari susu, minyak makan, madu, gula, ikan, daging … Dengan jelas, ikan dan daging diijinkan untuk para bhikkhu.

Buku Kedisiplinan: Buku Keempat2

Dalam Mahavagga, sepuluh jenis daging dilarang bagi para bhikkhu: manusia, gajah, kuda, anjing, hyena, ular, beruang, singa, harimau, dan macan tutul. Kita dapat menyimpulkan dari sini bahwa daging dari binatang lain diijinkan, dengan terpenuhinya tiga kondisi untuk ‘daging yang diijinkan’, misalnya daging babi, daging sapi, ayam, dan lain sebagainya.

Buku Kedisiplinan : Buku Keempat3

Sup daging yang jernih diijinkan bagi bhikhhu yang sakit.

Buku Kedisiplinan : Buku Pertama4

Beberapa bhikkhu menuruni lereng dari Puncak Burung Nasar. Mereka melihat sisa hewan yang mati terbunuh oleh singa, menyuruh umat memasaknya dan memakannya. Di lain waktu, bhikkhu yang lain melihat sisa hewan yang mati terbunuh oleh harimau … sisa hewan yang mati terbunuh oleh macan tutul … dan lain sebagainya … menyuruh umat memasaknya dan memakannya.
Kemudian para bhikkhu ragu apakah itu sudah termasuk mencuri. Sang Buddha memberikan pengecualian kepada mereka dengan mengatakan tidak ada pelanggaran dalam mengambil apa yang
menjadi milik binatang. Sekali lagi, di sini kita melihat bahwa para bhikkhu makan daging dan Sang Buddha tidak mengkritik atau melarang hal itu.

Buku Kedisiplinan : Buku Kedua5

Ini adalah kejadian ketika Arahat bhikkhuni Uppalavanna ditawarkan sebagian daging matang.
Keesokan paginya, setelah mempersiapkan daging di biara wanita, dia pergi ketempat dimana Sang Buddha sedang tinggal untuk mempersembahkan kepadanya. Seorang bhikkhu, mewakili Sang Buddha, menerima persembahan itu dan mengatakan bahwa Uppalavanna telah menyenangkan Sang Buddha.
Jelaslah bahwa Sang Buddha memakan daging; apabila tidak, Arahat bhikkhuni Uppalavanna tidak akan mempersembahkannya.

Buku Kedisiplinan : Buku Kelima6

Bhikkhu Devadatta merencanakan untuk memecah-belah komunitas para bhikkhu dengan meminta Sang Buddha untuk menetapkan lima aturan, salah satunya adalah para bhikkhu tidak diijinkan makan ikan dan daging.
Sang Buddha menolak, dengan berkata : “Ikan dan daging sepenuhnya murni berdasarkan tiga hal: jika tidak dilihat, didengar atau dicurigai (telah dibunuh secara khusus untuk seseorang).”
Sang Buddha bersabda bahwa seorang bhikkhu harus mudah disokong. Jika seorang bhikkhu menolak untuk memakan jenis makanan tertentu (baik daging maupun sayuran) maka dia tidak mudah disokong.

BERBAGAI ALASAN SANG BUDDHA MENGIJINKAN MAKAN DAGING

Tidak Ada Kamma Langsung dari Pembunuhan Sang Buddha berkata: “Ikan dan daging sepenuhnya murni (parisuddha) ….”
artinya tidak ada kamma langsung (perbuatan yang disertai kehendak) dari pembunuhan jika binatang itu tidak dilihat,
didengar atau dicurigai telah dibunuh secara khusus untuk seseorang.
Tanpa tiga kondisi ini, ada unsur kamma tak bajik dan, oleh karenanya, daging jenis itu tidak diijinkan.

Walaupun Sang Buddha mengijinkan makan daging, Beliau berkata di AN 4.261 bahwa kita menciptakan kamma tak bajik jika kita secara langsung mendorong terjadinya pembunuhan, menyetujui dan berbicara dengan bangga akan hal itu. Karena itu di AN 5.177 Sang Buddha berkata bahwa seorang umat awam tidak boleh berdagang daging, yang dijelaskan di kitab komentar sebagai pengembangbiakan dan menjual babi, ternak, ayam dan lain sebagainya untuk disembelih. Demikian pula, tidak diijinkan untuk memesan, misalnya sepuluh ekor ayam untuk keesokan harinya jika sejumlah binatang tersebut dimaksudkan disembelih untuk seseorang.

Vegetarian Tidak Cocok dengan Cara Hidup Para Bhikkhu Buddhis

Seorang bhikkhu seyogianya pergi meminta sedekah (mengemis) untuk makanannya kecuali dia diundang untuk bersantap, makanan itu dibawa ke Vihara, atau makanan itu dimasak di Vihara. Dia tidak diijinkan untuk memasak makanan, menyimpan makanan untuk keesokan harinya, atau melibatkan diri dalam kegiatan bercocok tanam untuk menyokong dirinya sendiri. Dengan begitu, mengemis adalah salah satu dari dasar /landasan dari cara hidup para bhikkhu Buddhis.
Hal ini dapat dilihat di suatu negara Buddhis (misalnya Thailand) dimana seorang bhikkhu mempunyai kebebasan dan dukungan untuk sepenuhnya berlatih sesuai dengan ajaran Sang Buddha.
Di sana kita melihat bukan hanya para bhikkhu tradisi kehutanan yang pergi meminta sedekah tetapi juga para bhikkhu dari kota kecil dan besar mengemis makanan setiap hari.

Karena seorang pengemis tidak pantas memilih-milih, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, vegetarianisme tidak cocok dengan cara hidup para bhikkhu Buddhis - - yang mungkin
merupakan alasan lain mengapa Sang Buddha menolak permintaan Devadatta seperti yang disebutkan sebelumnya.

Argumentasi Permintaan dan Penyediaan

Beberapa orang beragumen bahwa walaupun dengan tiga kondisi yang disebutkan sebelumnya, seseorang pantas dicela karena makan daging menyebabkan adanya permintaan yang harus diimbangi dengan penyediaan dengan pembunuhan binatang. Dengan kata lain, makan daging dalam keadaan apapun mendorong pembunuhan binatang.

Kita harus paham bahwa ada dua jenis sebab dan akibat : sebab dan akibat duniawi, di mana kehendak tidak dilibatkan, dan kamma-vipaka Buddhis, atau tindakan yang disertai kehendak/kesengajaan dan akibatnya. Makan daging yang diijinkan dengan tiga kondisi melibatkan hanya sebab dan akibat duniawi, dan tidak ada kamma dari membunuh. Makan daging yang tidak diijinkan melibatkan kamma tak bajik dan, karenanya, juga vipakanya. Oleh karena itu, makan daging harus dibagi dengan jelas menjadi dua bagian.

Argumentasi permintaan dan penyediaan tidaklah berlaku. Di bumi ini, sejumlah besar manusia dan binatang-binatang yang tidak terhitung jumlahnya terbunuh oleh kendaraan bermotor
setiap hari. Hanya dengan mengendarai kendaraan atau bahkan duduk di atasnya, kita mendorong industri motor untuk membuat lebih banyak kendaraan bermotor. Jika kita menggunakan argumentasi permintaan dan penyediaan, maka hanya dengan menggunakan kendaraan bermotor kita mendukung pembunuhan binatang-binatang yang tak terhitung jumlahnya dan sejumlah besar manusia di jalanan setiap hari - - yang lebih buruk daripada makan daging!

Memang benar bahwa kita secara tidak langsung terlibat dalam pembunuhan binatang-binatang tetapi, seperti yang dijelaskan sebelumnya, tidak ada kamma-vipaka dari membunuh.
Keterlibatan tidak langsung dalam pembunuhan adalah benar, jika kita makan daging maupun tidak, dan merupakan sesuatu yang tidak terelakkan. Kita akan mendiskusikannya dibawah.
Vegetarianisme juga Mendorong Pembunuhan.

Kita mendorong pembunuhan walau sekalipun kita berpola makan vegetarian. Setiap hari monyet, tupai, rubah, kumbang, dan hama perusak lainnya dibunuh karena mereka makan dari pohon buah yang ditanam petani. Petani sayuran juga membunuh ulat bulu, keong, cacing, belalang, semut, dan
serangga lainnya, dll.. Seperti di Australia contohnya, kangguru dan kelinci dibunuh setiap hari karena mereka memakan hasil panen.

Banyak barang yang umumnya dimanfaatkan setiap orang dengan mengorbankan nyawa berbagai makhluk hidup. Sebagai contoh, sutera dibuat dengan pengorbanan ulat sutera yang tidak
terhitung jumlahnya, dan lapisan lak putih dari serangga lak yang tidak terhitung jumlahnya.
Kosmetik mengandung sejumlah besar unsur pokok hewani. Banyak zat tambahan makanan, seperti: pewarna, penyedap, pemanis, juga menggunakan unsur pokok hewani. Produk keju
menggunakan dadih susu yang diekstrak dari perut anak sapi untuk mengentalkan susu.
Produk kulit dan bulu tentunya terbuat dari kulit binatang yang dibunuh untuk tujuan ini. Film fotografis menggunakan gelatin yang diperoleh dengan mendidihkan kulit, urat daging dan tulang dari binatang.

Bahkan pupuk untuk sayur-sayuran dan pohon buah sering menggunakan tulang ikan kering yang digiling, dan sisa potongan ikan lainnya. Penggunaan susu sapi dan madu juga melibatkan
banyak kekejaman terhadap binatang dan serangga terkait.

Semua ini menunjukkan bahwa sungguh sulit untuk tidak terlibat dalam satu cara atau yang lain dalam kekejaman yang terjadi pada binatang-binatang.
Jadi seandainya seseorang menjadi vegetarian, seseorang hendaknya merenungi hal di atas dan menghindari kritik yang berlebihan terhadap mereka yang makan daging.

Binatang Tetaplah Dibunuh Walaupun Semua Manusia Menjadi Vegetarian.
Walaupun semua manusia menjadi vegetarian, binatang masih saja akan dibunuh. Ini karena binatang berkembang biak sangat cepat daripada manusia sehingga mereka dengan mudah menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup manusia.

Sebagai contoh beberapa tahun yang lalu, dibeberapa daerah Afrika, gajah adalah binatang yang dilindungi. Akan tetapi, sekarang mereka telah berkembang-biak dengan cepat dan menjadi Sebagai contoh beberapa tahun yang lalu, dibeberapa daerah Afrika, gajah adalah binatang
yang dilindungi. Akan tetapi, sekarang mereka telah berkembang-biak dengan cepat dan menjadi ancaman, dan hukum perlindungan harus dilonggarkan untuk mengurangi jumlah mereka.

Di beberapa negara, anjing yang tidak terdaftar dibunuh agar tidak menjadi rabies dan menyerang manusia. Bahkan kelompok perlindungan terhadap kekejaman binatang membunuh jutaan
anjing dan kucing dalam kandang setiap tahun karena akomodasi yang tidak memadai. – di Amerika Serikat, setiap tahunnya 14 juta dibinasakan dalam waktu seminggu setelah diselamatkan oleh kelompok kemanusiaan.

Pada akhirnya, pendapat bahwa vegetarianisme mencegah pembunuhan binatang adalah tidak benar. Meskipun demikian, adalah terpuji untuk berlatih vegetarianisme atas belas kasih, tetapi tidak sampai menjadi ekstrim akan hal itu.
Setiap Orang secara Tidak Langsung Terlibat dalam Pembunuhan Binatang
Apakah kita vegetarian atau sebaliknya, kita semua secara tidak langsung terlibat dalam pembunuhan binatang.
Area hutan yang luas harus digunduli untuk perumahan karena kita ingin tinggal di dalam rumah. Ini mengakibatkan kematian sejumlah besar binatang. Karena kita ingin menggunakan
peralatan rumah tangga dan peralatan serba canggih lainnya, lagi, area hutan yang luas digunduli untuk lokasi-lokasi pabrik dan industri. Karena kita ingin menggunakan listrik, sungai-sungai
dibendung untuk pemanfaatan listrik tenaga air. Ini mengakibatkan banjir di area hutan yang luas dengan mengorbankan hidup binatang.

Karena kita mengendarai kendaraan bermotor, binatang yang tak terhitung jumlahnya dan sejumlah besar manusia terbunuh di jalanan setiap harinya.
Lagi, demi keselamatan kita, anjing liar dibunuh agar tidak menjadi rabies. Dalam produksi berbagai produk yang kita gunakan setiap hari, seperti: makanan, obat-obatan, sutera, kosmetik, film, dan lain sebagainya., unsur pokok hewani digunakan dengan mengorbankan hidup binatang.

Jika kita menggunakan argumentasi permintaan dan penyediaan seperti yang dijelaskan sebelumnya maka kita tidak seharusnya tinggal dalam rumah, atau menggunakan barang-barang
rumah tangga yang diproduksi pabrik, atau menggunakan tenaga listrik, atau mengendarai mobil,
dsbnya.

Perumpamaan Pembunuhan Berseri

Andaikan ada kasus pembunuhan berseri di suatu kota, dengan adanya sejumlah wanita yang telah diperkosa kemudian dibunuh sehingga tidak ada wanita yang berani mengambil resiko keluar malam.
Seisi kota gempar dan penduduk menuntut agar pihak berwenang menjalankan tugas mereka dan menangkap pembunuhnya. Jadi polisi, setelah beberapa bulan berusaha keras, akhirnya menangkap dalangnya. Setelah pemeriksaan panjang, hakim menjatuhkan hukuman mati pada dirinya. Pada hari yang ditentukan, pembunuh dibawa ke ruang eksekusi dimana petugas eksekusi menarik pengungkil untuk menghabisi nyawa si pembunuh.

Cerita ini menimbulkan pertanyaan: “Siapa yang terlibat dalam kamma buruk dari pembunuhan manusia (yakni si pembunuh berseri)?” Menurut hukum kamma-vipaka, petugas eksekusi melakukan pelanggaran yang paling berat karena dia secara sengaja melakukan pembunuhan.

Berikutnya adalah hakim yang mengumumkan hukuman mati. Kedua orang ini secara langsung terlibat dalam kamma pembunuhan atas eksekusi dari pembunuh berseri. Polisi hanya terlibat secara tidak langsung dan tidak bertanggung jawab atas eksekusinya. Bagaimana dengan penduduk? Pada dasarnya pembunuh berseri dieksekusi untuk melindungi penduduk, yakni dieksekusi atas kebaikan penduduk, atau dengan kata lain, penduduk adalah orang-orang yang diuntungkan atas eksekusi
tersebut. Jadi apakah penduduk bertanggung jawab atas keterlibatan kamma pembunuhan? Tidak, karena mereka tidak meminta eksekusi atas pembunuh berseri. Tetapi mereka turut terlibat apabila mereka meminta si pembunuh untuk dieksekusi.

Skenario di atas serupa dengan penyembelihan binatang untuk makanan. Orang yang menyembelih binatang tersebut menanggung kamma pembunuhan yang paling berat. Orang yang membiakkan binatang untuk disembelih juga terlibat dalam kamma pembunuhan. Mereka serupa dengan hakim yang menjatuhkan hukuman pada orang tersebut untuk dieksekusi. Tetapi orang yang membeli daging dari binatang yang sudah disembelih tidak terlibat dalam kamma pembunuhan walaupun, serupa dengan penduduk kota diatas, mereka adalah orang-orang yang diuntungkan. Akan tetapi jika seseorang memesan daging dari binatang yang hidup untuk disembelih, maka ada
keterlibatan dalam pembunuhan.

’Chi Zhai’, bukan ’Chi Su’
Banyak umat Buddhis Tionghoa beranggapan salah bahwa Buddhisme Mahayana mengajari praktik vegetarian, dan bingung akan ’Chi Su’ (Vegetarianisme) dengan ’Chi Zai’ (tidak makan setelah petang hari sampai keesokan subuh). Dalam Sutta kumpulan tertua, ’Chi Su’ disebutkan sebagai praktek petapa sekte luar yang tidak bermanfaat. ’Chi Su’ dijalankan oleh Han Chuan (Buddhisme Tionghoa), bukan Bei Chuan (Buddhisme Mahayana), karena Buddhisme di Tibet dan di Jepang bukan
vegetarian. Kaisar Liang Wu Di memerintahkan bhikshu dan bhikshuni Buddhis untuk berpola makan vegetarian.

Kata ’Zhai’ berarti tidak makan pada jam-jam tertentu, yakni berpuasa. Itu sebabnya bulan puasa umat Muslim disebut ’Kai Zhai’. Sang Buddha mengajari muridnya untuk ’Chi Zai’, yakni tidak makan (dengan pengecualian obat-obatan) setelah petang sampai keesokan subuh (jam 1 siang sampai 7 pagi di Malaysia).
Di Han Chuan, makna dari ’Chi Zhai’ ini menjadi sinonim dengan ’Chi Su’.

KESIMPULAN

Sang Buddha tidak mendorong kita untuk makan daging atau menjadi vegetarian. Pilihan ini sepenuhnya tergantung kepada kita. Pokok pentingnya adalah memperhatikan dengan baik petunjuk dari Sang Buddha dalam MN 55 atas tiga kondisi untuk daging yang tidak diijinkan dan yang diijinkan.

Seorang Bhikkhu tidak diijinkan untuk memasak dan harus sepenuhnya tergantung pada persembahan dari para penyokong (umat awam). Bhikkhu juga diharuskan agar mudah disokong dan
dirawat. Karena bhikkhu tidak diijinkan untuk meminta makanan tertentu (kecuali selama ia sakit), maka bhikkhu tidak dapat memilih makanannya. Dia harus menerima apapun yang dipersembahkan.
Umat awam mempunyai lebih banyak kebebasan untuk memilih makanan mereka, dan untuk umat awam adalah sepenuhnya tergantung pada pilihan pribadi masing-masing untuk makan daging atau menjadi vegetarian. Untuk alasan-alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya, adalah penting untuk tidak terlalu kritis terhadap orang lain terkait dengan apapun yang menjadi pilihan kita.

Cara yang paling efektif untuk mengurangi pembunuhan dan kekejaman di dunia adalah pemahaman akan ajaran Sang Buddha. Pada akhirnya, penderitaan (dukkha) adalah karateristik dari kehidupan, dan cara untuk mengakhiri penderitaan adalah dengan melatih Jalan Mulia Berunsur Delapan ajaran Sang Buddha untuk keluar dari lingkaran kelahiran kembali.

SELESAI

Catatan:
1 Dengan pengecualian dari sepuluh jenis daging yang dilarang untuk para bhikkhu: manusia, gajah, kuda, anjing, hyena, ular, beruang, singa, harimau, dan macan tutul. Rujuklah pada Mahavagga, Book of the Discipline: Buku 4, halaman 298 s.d. 300. The Book of Discipline adalah terjemahan berbahasa Inggris dari kitab Vinaya (dalam Bahasa Pali) oleh Pali Text Society, Inggris.

2. Lak digunakan untuk memproduksi banyak produk, termasuk makanan.

Sumber : www.buddha.id