Tampilkan postingan dengan label Serba serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba serbi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Mei 2021

Tanda Titik di Kepala Bhiksu

Tanda Titik di Kepala Biksu



Menurut tulisan Bhiksu ShengYen dari Dharma Drum/FaGuShan, beliau mengatakan cara ini sebenarnya bukan berdasarkan ajaran dari sang Buddha. Maksud beliau adalah jangan sampai kita menganggap ini merupakan ciri dari Buddhisme.

Namun tanda itu memiliki makna tersendiri, karena tanda ini dilakukan dengan cara menggunakan dupa yang menyala lalu ditindik ke atas kepala sang bhiksu, ini merupakan sebuah cara yang identik dengan membakar jari. Dalam salah satu kitab suci mahayana tertulis bahwa salah satu bentuk persembahan kepada sang buddha adalah membakar jari. Walaupun cara ini tampak ekstrim, namun memang ada yang melakukannya sebagai tanda ketulusan atas aspirasi mencapai pencerahan. Kita harus melakukannya dengan motivasi yang benar. Sama seperti metode Dutanga (praktek keras) yang dilakukan Mahakasyapa. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Tidak semua orang boleh menjalaninya. Sang Buddha bisa aja menyetujui anda menjalaninya tapi belum tentu menyetujui kepada orang lain. Demikianlah ajaran Buddha, sangat bergantung pada sikap batin para siswanya saat mendidik mereka.

Seiring dengan perkembangan jaman, hal itu menjadi kebiasaan Buddhist Tiongkok dan timbul pula segala macam alasan untuk mengartikannya. Tapi ada Bhiksu yang saya hormati mengambil hal itu sebagai bentuk pengabdian.

Menurut sumber lain, tujuan dibuat tanda ini:
  • Melatih ketabahan jiwa
  • Berjanji sesuatu kepada sang Budha
  • Membersihkan karma-karma buruk di kehidupan sebelumnya
Menindik kepala dengan dupa oleh bhiksu di Cina, bukan sebuah kewajiban, sampai pada masa sekarang, sudah semakin berkurang bhiksu Cina melakukannya. Justru katanya asal mula praktek seperti itu adalah masa masa Buddhisme sedang merosot di Cina.

Titik itu awalnya dibuat oleh pemerintah di Tiongkok dinasti Yuan (Mongol) untuk memisahkan yang asli dan yang palsu mengingat banyak biksu palsu yang berkeliaran seperti halnya bhante yang tidak memiliki alis karena dulu banyak bhante palsu di Thailand. Ada pula yang bilang hal itu untuk mendiskirminasikan Bhiksu Mongol dan Bhiksu Han. Di India sendiri, hal itu tidak pernah dipraktekkan.

Sumber: World peace

Jumat, 20 April 2018

Imlek Bukan Hari Raya Agama Buddha

Selasa, 12 Februari 2008

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Pada tanggal 7 Februari yang lalu, suku bangsa Tionghoa di seluruh dunia merayakan perayaan Tahun Baru China atau disebut Tahun Baru Imlek. Begitu juga masyarakat Indonesia khususnya dari keturunan etnis Tionghoa juga merayakan Tahun Baru Imlek.

Sudah enam tahun sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 TENTANG HARI TAHUN BARU IMLEK tertanggal 9 April 2002, perayaan Tahun Baru Imlek telah dirayakan secara bebas. Namun sayang, nampaknya masih banyak orang, khususnya di Indonesia, yang salah memahami perayaan Tahun Baru Imlek sebagai hari perayaan keagamaan khususnya menganggap sebagai perayaan dalam agama Buddha.

Kesalahpahaman mengenai anggapan bahwa Imlek adalah perayaan agama Buddha oleh sebagian besar orang, khususnya di Indonesia, didasari oleh kurangnya informasi yang benar dan melekatnya stigma dan sikap penyamarataan bahwa warga keturunan etnis Tionghoa pastilah beragama Buddha, Tao atau Kong Hu Chu, dan agama Buddha adalah agama khusus warga keturunan etnis Tionghoa. Sehingga ketika umat Buddha Indonesia yang sebagian besar adalah berlatar belakang keturunan etnis Tionghoa merayakan tradisi Tionghoa, dalam hal ini perayaan Imlek, maka sebagian besar orang beranggapan bahwa Imlek adalah hari raya agama Buddha. Padahal tidak demikian.

Secara singkat, Imlek sendiri merupakan suatu perayaan tradisi menyambut musim semi dan berakhirnya musim dingin yang dilakukan oleh suku bangsa Tionghoa di Tiongkok (China), yang dalam perkembangannya ditetapkan sebagai hari pergantian tahun.

Penanggalan Imlek di Tiongkok dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah He Lek, yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM) yang pertama kali mengenalkan penanggalan berdasarkan matahari, dan penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musim dingin.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa Imlek berawal dari sebuah tradisi menyambut musim semi, dan tidak ada kaitannya dengan perayaan keagamaan manapun. Dengan demikian, Imlek dapat dirayakan secara lintas agama, khususnya mereka yang berlatar belakang keturunan etnis Tionghoa.

Salah satu acara dalam perayaan Imlek adalah ”sembahyang” leluhur. Acara ”sembahyang” leluhur ini rupanya diartikan oleh warga keturunan etnis Tionghoa yang beragama non-Buddhis, non-Tao dan non-Kong Hu Chu sebagai acara berdoa memohon rejeki kepada para leluhur sehingga mereka menganggap bahwa hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama mereka. Karenanya, banyak umat Kristen maupun Muslim keturunan etnis Tionghoa yang meninggalkan tradisi perayaan Imlek.

Berbeda dengan umat agama lain, umat Buddha keturunan etnis Tionghoa memandang acara ”sembahyang” leluhur sebagai suatu penghormatan kepada para leluhur dan bukan meminta rejeki kepada para leluhur. Jadi istilah ”sembahyang” yang tepat bukanlah berarti berdoa meminta kepada leluhur, tetapi justru menghormati dan mendoakan para leluhur. Dan menghormati mereka yang patut dihormat adalah salah satu wujud dari pelaksanaan Dhamma (Kebenaran).

Dengan demikian, meskipun Imlek bukan merupakan hari raya agama Buddha namun umat Buddha yang berlatar belakang keturunan etnis Tionghoa dapat dengan bebas merayakan Imlek.

Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakannya.

Ullambana, Pattidana di Bulan Hantu Cit Gwee

Kamis, 27 Agustus 2015

Bhagavant.com,
Beijing, Tiongkok – Bulan ke-7 atau Cit Gwee dalam kalender Tionghoa (Imlek), secara tradisi dikenal sebagai “Bulan Hantu”. Dan dalam bulan ini umat Buddha khususnya tradisi Mahayana Tiongkok memperingati Hari Ullambana yang jatuh pada hari ke-15 penanggalan Imlek.

Hari Ullambana sering disalahpahami sebagai Festival Hantu Kelaparan (Zhong Yuan Jie atau Yu Lan Jie) yang ada dalam kepercayaan lain dengan berbagai mitos-mitos suram, serta pantangan-pantangan takhayul yang menyelimutinya. Dan puja bakti pada Hari Ullambana juga disalahpahami sebagai Cioko (Cio ko, Cio Sie Kow) atau Sembahyang Rebutan dalam kepercayaan lain.

Meskipun berkaitan dengan makhluk tak terlihat atau secara umum disebut hantu, Hari Ullambana tidak berkaitan dengan mitos-mitos suram dan pantangan takhayul. Bahkan dalam ajaran Agama Buddha, tidak ada yang namanya “Bulan Hantu”, tidak ada mitos dibebaskannya hantu-hantu dari neraka untuk berlibur (cuti) dan saling berebut makanan dari para dermawan selama bulan ke-7 atau Cit Gwee.

Sebaliknya, Hari Ullambana adalah hari bahagia saat umat Buddha dapat membalas budi dengan membantu makhluk tak terlihat yang menderita yaitu preta (Pali: petā) atau sering diterjemahkan sebagai hantu kelaparan, yang tidak menutup kemungkinan merupakan salah satu orang tua, leluhur, kerabat terdahulu.

Hari Ullambana sendiri muncul berdasarkan pada kepustakaan Buddhisme Mahayana yaitu Ullambana Sutra yang isinya mengenai Yang Arya Maudgalyāyana (Pali: Moggallāna), salah satu Siswa Utama Sri Buddha yang sedang bermeditasi melihat mendiang ibunya yang terlahir kembali sebagai hantu kelaparan dan beliau ingin menolongnya.

Berkat nasihat Sri Buddha, Maudgalyāyana dapat menolong mendiang ibunya dengan cara melimpahkan, membagi atau mengalihkan hasil perbuatan baiknya berupa mempersembahkan dana untuk Sangha Bhiksu, kepada mendiang ibunya, dan dilakukan pada akhir masa varsa (Pali: vassa – retret musim hujan) atau Pravarana (Pali: Pavarana) yaitu pada tanggal 15 bulan 7.

Praktik melimpahkan, membagi atau mengalihkan hasil perbuatan baik (jasa) yang telah dilakukan tersebut juga dipraktikkan dalam tradisi Buddhisme Theravada dan disebut dalam bahasa Pali sebagai Pattidāna. Dengan kata lain, upacara puja atau sembahyang Ullambana pada dasarnya atau esensinya merupakan bentuk dari praktik Pattidāna, hanya saja dilakukan di bulan Cit Gwee (bulan ke-7 Imlek). Sedangkan Pattidāna sendiri dapat dilakukan kapan saja.

Dalam kepustakaan Buddhisme Theravada, praktik Pattidāna berawal dari kisah Raja Bimbisara dari Kerajaan Magadha yang melimpahkan, membagi atau mengalihkan hasil perbuatan baiknya kepada para peta yang merupakan sanak keluarganya dengan cara mempersembahkan dana kepada Sangha Bhikkhu. Kisah ini memiliki esensi yang sama dengan kisah Maudgalyāyana, hanya saja tidak ditetapkan waktu pelaksanaannya.

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa hari dan upacara sembahyang Ullambana adalah sama dengan Cioko atau Sembahyang Rebutan, hal ini dikarenakan begitu kentalnya kepercayaan dan tradisi lain yang menyelimuti dan melekat pada hari dan praktik tersebut, seperti membakar uang kertas dan menyembelih hewan untuk persembahan. Perpaduan mitos dan praktik-praktik tradisi lain tersebut telah mengaburkan esensi atau inti dari Ullambana sebagai praktik Pattidāna.

Cioko sendiri sebenarnya merupakan tradisi masyarakat agraris Tiongkok pada zaman dahulu yang merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur serta para dewa yang dilakukan pada pertengahan awal musim gugur (biasanya pada bulan ke-7 Imlek) agar panen mereka dapat menghasilkan hasil yang berlimpah saat musim gugur berakhir. Disebut dengan Sembahyang Rebutan karena berdasarkan kepercayaan tradisi bahwa pada saat upacara sembahyang tersebut para hantu yang bebas sementara dari neraka akan saling memperebutkan persembahan yang diberikan oleh penderma.

Kaburnya esensi Ullambana sebagai bentuk praktik Pattidāna selain karena mitos dan praktik-praktik tradisi lain juga diperkuat dengan adanya konversi penanggalan Hari Ullambana yang ada dalam Ullambana Sutra ke dalam bentuk penanggalan Imlek sehingga jatuh bertepatan dengan bulan ke-7 Imlek yang dalam kepercayaan lain dipercaya sebagai “Bulan Hantu”.

Alih-alih tanggal 15 bulan Kārttika (Pali: Kattikā – bulan ke-7 penanggalan India kuno) atau Oktober, Buddhis Mahayana Tiongkok pada masa lalu menetapkan Hari Ullambana pada tanggal 15 bulan Cit Gwee (bulan ke-7 penanggalan Imlek) atau Agustus.

Tanggal 15 bulan Kārttika sendiri dalam tradisi Buddhisme Theravada, merupakan hari Pavarana yang menandai berakhirnya masa retret musim hujan para bhikkhu dan diikuti dengan masa Kathina. Pada masa inilah umat Buddha dapat mempersembahkan dana kepada sangha bhikkhu yang telah berlatih diri yang diyakini sebagai “ladang subur” untuk menanam kebajikan yang akan menghasilkan pahala sangat besar dan dapat dilimpahkan kepada para makhluk maupun mendiang sanak keluarga yang terlahir di alam peta (hantu kelaparan).

Bercampurnya peringatan Hari Ullambana dengan tradisi kepercayaan lain dan membentuk tradisi sendiri juga dirayakan di berbagai negara. Di Jepang perayaan ini dikenal dengan nama Festival O-Bon, sedangkan di Vietnam dikenal dengan nama Tết Trung Nguyên.

Sangat disayangkan jika esensi Ullambana sebagai praktik pelimpahan jasa atau Pattidāna yang penuh berkah ini dikaburkan dengan mitos-mitos takhayul dan praktik-praktik non-Buddhis yang dapat mengurangi makna dan manfaatnya. Untuk itu pengertian benar dari esensi Ullambana perlu ditanamkan dalam diri setiap umat Buddha yang memperingati dan mempraktikkan kegiatan ini.[Bhagavant, 27/8/15, Sum]

Menambah Makna dan Nilai Hari Cheng Beng dengan Pattidana


Rabu, 4 April 2018

Bhagavant.com,
Jakarta, Indonesia – Hari Cheng Beng dirayakan setiap tahunnya pada awal bulan April oleh etnis Tionghoa yang masih memegang tradisi leluhur.

Berbagai ritual dilakukan saat perayaan Hari Cheng Beng ini, seperti ziarah kubur, mempersembahkan makanan, hingga membakar uang-uangan serta baju-bajuan kertas.

Berdasarkan dari asal katanya, kata “cheng beng” adalah istilah dalam bahasa Hokkian untuk kata “qing ming” (清明 – qingming) dalam bahasa Mandarin yang berarti “cerah dan terang”.

Hari yang cerah dan terang ini dianggap tepat untuk mengenang dan menghormati mendiang orang tua atau leluhur. Bahkan, Kaisar Xuanzong dari Dinasti Tang (685-762) mendorong perayaan Cheng Beng ini.

Meskipun Cheng Beng sendiri bukanlah tradisi dari Agama Buddha, namun tidak sedikit umat Buddha yang juga merupakan etnis Tionghoa dan keturunannya ikut merayakannya.

Ada berbagai alasan mengapa umat Buddha etnis Tionghoa tetap merayakan dan menjalankan ritual yang ada pada Hari Cheng Beng. Sekadar mempertahankan tradisi hingga berdasarkan pandangan keliru bisa menjadi alasannya.

Terlepas dari alasan merayakannya, Cheng Beng sejatinya bermakna untuk mengenang dan menghormati mendiang orang tua atau leluhur.

Makna itulah yang juga diajarkan dalam Agama Buddha, dan yang juga seharusnya dipahami umat Buddha dalam merayakan Cheng Beng.

Mengenang dan menghormati leluhur dalam Agama Buddha sesungguhnya terkandung dalam perayaan Hari Ullamabana dan praktik Pattidana (pelimpahan jasa).

Pattidana adalah praktik melimpahkan, membagi atau mengalihkan hasil perbuatan baik (jasa) yang telah dilakukan seseorang kepada makhluk yang sudah meninggal khususnya yang terlahir di alam menderita.

Cara terbaik pelimpahan jasa adalah dengan memberikan persembahan kepada Sangha (komunitas para bhiksu/bhikkhu).

Dalam Tirokudda Sutta, disebutkan cara untuk menolong sanak keluarga yang telah meninggal. Yaitu dengan memberikan dan menempatkan persembahan di dalam Sangha.

Alih-alih hanya melakukan ritual yang berbau mitos dan tidak mendasar, umat Buddha dapat menambahkan makna dan nilai yang lebih mulia dalam perayaan Cheng Beng dengan cara mempraktikkan Pattidana.

Dengan demikian, umat Buddha masih tetap bisa menjaga tradisi dengan pemahaman yang benar sesuai Buddha Dhamma.

Selain itu, umat Buddha juga dapat ikut menjaga pelestarian lingkungan dengan mengurangi ritual pembakaran persembahan kertas yang menimbulkan polusi udara.

Usaha untuk mengurangi ritual pembakaran persembahan kertas kini menjadi perhatian serius, khususnya oleh vihara-vihara tradisi Mahayana Tiongkok.

Vihara Kong Meng San Phor Kark See, salah satu vihara terbesar di Singapura, sebagai contoh, telah melarang ritual tersebut karena berdampak buruk pada lingkungan.[Bhagavant, 4/4/18, Sum]

Jumat, 27 Mei 2016

SEJARAH SINGKAT MI LE DA DAO DAN I KUAN TAO

Ikuanisme, I Kuan Tao atau Yi Guan Dao (一貫道) adalah aliran bukan agama yang bermula dari Republik Rakyat Cina awal abad ke-20. "I Kuan" berarti persatuan atau kesatuan, sementara Tao berarti jalan, kebenaran atau juga ke-Tuhan-an. Di Indonesia sering diterjemahkan sebagai Jalan Ke-Tuhan-an. Ajaran Ikuanisme menekankan ajaran moral berasal dari Tiongkok, menggabungkan aliran Konfusianisme, Taoisme and Buddha. 

Ikuanisme bukan aliran atau kepercayaan Taoisme.

I Kuan Tao di Indonesia dikenal sebagai agama Buddha Maitreya. I Kuan Tao berkembang di Indonesia berasal dari Taiwan sekitar tahun 1950-an. Di Taiwan, I Kuan Tao berdiri sendiri sebagai sebuah agama baru .I Kuan Tao menyatakan bahwa pencipta alam semesta, bumi dan seluruh mahluk hidup adalah Tuhan yang berupa seorang Ibunda yang disebut Lao Mu. Lingkaran hidup bumi dan alam semesta adalah 108 000 tahun, dan kita berada dalam zaman terakhir dimana manusia telah hidup 60 000 tahun. Manusia sebagai anak-anak dari Tuhan (Lao Mu) karena telah terlalu lama di bumi, tersesat dalam hidup duniawi, terjerumus dalam dosa menyebabkan mereka hidup dalam roda reinkarnasi dan tidak bisa kembali ke Surga. Lao Mu sangat merindukan anak-anaknya di bumi ini, dan mengutus 10 Buddha untuk menyelamatkan anak-anaknya di bumi. 7 Buddha pertama telah datang saat bermulanya kebudayaan manusia, dan 3 Buddha terakhir mengemban tugas penyelamatan. Sehingga dibagi 3 zaman: Zaman Pancaran Hijau, Pancaran Merah, dan Pancaran Putih. Buddha Dipankara diutus saat Zaman Pancaran Hijau (sekitar 3000 SM) sampai lahirnya Siddharta Buddha. Zaman Pancaran Merah bermula dengan diutusnya Siddharta Gautama. Zaman Pancaran Putih atau zaman terakhir bermula saat Buddha Maitreya diutus. Menurut Ikuanisme Buddha Maitreya telah datang ke dunia sebagai Guru ke-17 Lu Zhong I.

Sejarah resmi I Kuan Tao membagi perkembangan Tao dalam 3 periode. Periode pertama disebut sebagai 18 Sesepuh Pertama dari Timur, yang bermula dari awal adanya manusia. Sesepuh pertama adalah Fu Shi, tokoh mistis dari Tiongkok, pencipta pa kwa (8 triagram). Kemudian berlanjut ke tokoh mitos dan sejarah: Shen Nong (penemu pertanian), Huang Ti (Kaisar Kuning), diteruskan ke raja-raja Tiongkok, sampai Kong Hu Cu, dan terakhir Lau Ce (Penulis Tao Te Ching). Dikatakan bahwa karena perang saudara di daratan Tiongkok, menyebabkan Lao Ce membawa Tao ke India dan meneruskan ke Siddharta Gautama. Di sini bermula periode ke-2 yang disebut 28 Sesepuh dari Barat, bermula dari Siddharta Gautama, diteruskan ke Mahakassapa, dan menurut aliran Zen sampai terakhir Bodhidharma. Bodhidharma dikatakan membawa Tao kembali ke Tiongkok, dan bermulalah periode ke-3: 18 Sesepuh Terakhir dari Timur. Bermula dari Bodhidharma sampai sesepuh ke-6 Hui Neng (sama seperti aliran Zen). Dari sesepuh ke-7 bermula nama-nama dari sekte atau aliran bawah tanah Tiongkok. Guru ke-9 yang bernama Huang Te Hui黃德輝 (1624-1690) adalah juga pendiri sekte "Shien Thien Tao" 先天道 (atau Jalan Surga Pertama). Aliran Shien Thien Tao masih ada di Indonesia dalam bentuk kelenteng kelenteng yang dipegang oleh Bhiksuni (Chai Ma). Sehingga disebutlah I Kuan Tao bercabang dari Shien Thien Tao. Dokumen dinasti Ching yang ditemukan belakangan ini menunjukkan bahwa Wang Cue Yi 王覺一, sesepuh ke-15, mendirikan aliran "I Kuan Ciao" (Agama I Kuan) di zaman dinasti Ching (sekitar tahun 1850). Sejarah I Kuan Tao menunjuk ke sesepuh ke-17 Lu Chong I路中一 sebagai jelmaan Buddha Maitreya, merupakan awal Zaman Pancaran Putih (zaman terakhir) di tahun 1905.

Chang Thien Ran, Bapak I Kuan Tao

I Kuan Tao mulai berkembang pesat saat sesepuh ke-18 Chang Thien Ran 張天然memegang pemimpin. Sesepuh Chang lahir tahun 1889 pada tanggal Imlek 19 bulan 7, di Ji Ning, propinsi Shan Tong. Sesepuh Chang mengikuti aliran I Kuan Tao sejak tahun 1914. Sesepuh ke-17 Lu Zhong I yang dipercaya adalah jelmaan Buddha Maitreya melihat talenta Sesepuh Chang. Dan setelah meninggalnya sesepuh ke-17 tahun 1925, Sesepuh Chang diangkat menjadi sesepuh ke-18 tahun 1930. Sesepuh Chang dikatakan sebagai jelmaan Ci Kung, Buddha Sinting, atau disebut Buddha Hidup Ci Kung. Sesepuh Chang Thien Ran disebut sebagai Se Cun 師尊(Bapak Guru Agung). Sesepuh Chang dikatakan atas mandat Lao Mu, menikahi Sesepuh Sun Su Chen 孫素真 yang disebut sebagai jelmaan Bodhisatwa Yek Huei 月慧菩薩 (Dewi Bulan Bijaksana). Sesepuh Sun Su Chen besama Sesepuh Chang Tien Jan menjabat sebagai sesepuh ke-18 I Kuan Tao. Sun dihormati sebagai Se Mu 師母 (Ibu Guru Suci).

I Kuan Tao menyebar pesat dari tahun 1930 sampai 1936. Dari tahun 1937-1947 selama kekuasaan Jepang, I Kuan Tao juga berhasil menarik penganut dari utara, tengah sampai selatan Tiongkok. Sesepuh Chang Tien Ran meninggal tahun 1947 saat komunis mulai berkuasa di Tiongkok.

Dengan meninggalnya Sesepuh Chang, dan berkembangnya komunis di China, I Kuan Tao tidak dalam keadaan yang bersatu. Para muridnya secara tersendiri melarikan diri ke Hong Kong dan Taiwan. Sesepuh Sun Su Cen (Se Mu) mengambil alih kedudukan dan membawa ajaran Ikuanisme ke Hong Kong dan Taiwan. Dari Taiwan I Kuan Tao berkembang pesat dan menyebar ke Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand). Sementara itu, para murid Sesepuh Chang secara individual menyebarkan ajaran I Kuan Tao, sehingga muncul kelompok-kelompok Ikuanisme dengan sesepuh atau pemimpin yang berbeda-beda. Di Taiwan, I Kuan Tao mulai resmi diakui pemerintah sejak tahun 1987.

Sesungguhnya pendiri Yi Guan Dao adalah Wang Jue Yi yang mengangkat dirinya sebagai sesepuh ke 15. Dan gurunya Yao Ho Tian sebagai sesepuh ke 14. Yao Ho Tian sendiri adalah seorg tosu aliran Quanzhen dan beliau adalah sesepuh Quanzhen angkatan ke 14. 

Dan kalangan Taoisme mengakui Yao Ho Tian sebagai sesepuh. Yi Guan Dao sendiri ada pengaruh dari paham Luo Jiao yang didirikan oleh Luo Meng Hong /Luo Wei Qun yang pada dinasti Qing menjadi Qing Bang [salah satu triad]. Mengenai Wu-Sheng Lao-Mu juga berasal dari Luo Jiao.

YiGuan Dao percaya bahwa sesepuh mereka itu adalah penjelmaan dari Tian Zun , Buddha dan Bodhisatva. Catatan diatas mengenai manifestasi adalah penjelmaan dan kata Buddha serta Tao itu menjelaskan penjelmaan dari aliran mana. Sesepuh Bai dan Yao tidak pernah mengatakan diri mereka adalah penjelmaan dari Nan-Yue Da-Di serta Yao-Ce Jin-Mu.

Urutan sesepuh menurut Yi Guan Dao sebagai berikut :

1. Tatmo [Bodhi Dharma] dan merupakan manifestasi dari [Hu-Cheng Gu-Fo (Buddhism)]
2. Shen Guang [manifestasi : Ran-Deng Gu-Fo (Buddhism)]
3. Sheng Chan [manifestasi :Ling-Bao Tian-Jun (Taoism)]
4. Dao Xin [manifestasi :Tian-Huang Jun-Zhi (Buddhism)]
5. Hung Ren [manifestasi :Ling-Xiao Jin-Tong(Tao)]
6. Hui Neng [manifestasi : Di-Zhang Gu-Fo(Bud)]
7. Ma Dao Yi / Ma Dan Yang [manifestasi :Ma-Ying Jun-Zhi(Buddhism)]
8. Bai Yu Chan [manifestasi : Nan-Yue Da-Di (Tao)]
9. Luo Wei Qun/Luo Meng Hong [manifestasi : Gong-Yuan Zhen-Ren(Tao)]
10. Huang De Hui [manifestasi :Yuan-Shi Tian-Jun(Tao)]
11. Wu Jing Lin/Wu Ce Xiang (Wen-Chang Di-Jun (Tao)
12. Ho Liao Ku [manifestasi : Jiu-Tian Dou-Mu (Tao)]
13. Yuan Tui An / Yuan ZiLian [manifestasi :YuanShi TianZhun(Tao)]
14. Yang Huan Hsu/Yang ShouYi [manifestasi :Nan Hai GuFo(Buddhism)]
15. Xu Huan Wu/ Xu Ji Nan [manifestasi :Mi-Le Gu-Fo(Buddhism)]
16. Yao Ho Tian [manifestasi :Yao-Ce Jin-Mu(Tao)]
17. Wang Jue Yi [manifestasi :Sui-Ling Gu-Fo(Buddhism)]
18. Liu Qing Hsu [manifestasi : Tai-Ji Zhen-Ren(Tao)]
19. Lu Zhong Yi [manifestasi :Mi-Le Zhu-shi(Buddhism)]
20. Zhang Tian Ran(m:Ji-Gong Huo-Fo(Buddhism)]
21. Sun Su Zhen(m:Hui-Guang Pu-sa(Buddhism)]

YiGuan Dao percaya bahwa sesepuh mereka itu adalah penjelmaan dari Tian Zun , Buddha dan Bodhisatva. Catatan diatas mengenai manifestasi adalah penjelmaan dan kata Buddha serta Tao itu menjelaskan penjelmaan dari aliran mana. Sesepuh Bai dan Yao tidak pernah mengatakan diri mereka adalah penjelmaan dari Nan-Yue Da-Di serta Yao-Ce Jin-Mu.

SEKILAS SEJARAH WANG JUE YI.

Wang Jue Yi lahir pada tahun 1821 di propinsi Shandong kota Qingzhou. Nama aslinya adalah Wang Xue Meng alias Wang Xi Xue. Jue Yi adalah nama Taoistnya, selain itu ia sering disebut Bei-Hai Lao-Ren. Mata pencahariannya adalah meramal. Ia berkelana didaerah Huabei,Huazhong , Huadong bahkan di Sechuan juga ada jejak keberadaanya.

Pada usia 27 tahun, ia mengangkat sesepuh Yao Ho Tian menjadi gurunya. Kemudian di kota Qingzhou ia mendirikan Dong Zhen Tang. Pada tahun 1877 ia membuat suatu pernyataan bahwa Wu-Sheng Lao-Mu datang ke Dong Zhen Tang dan menyatakan bahwa dirinya sebagai sesepuh/ketua ke 15. Yang mana hal ini mendapat tentangan dari Taoisme. Kemudian ia menyebarkan pahamnya ke daerah Jiangsu, Anhui ,Hunan , Beijing , Hubei , Guangxi , Guangdong. Pada tahun 1882 ia beranggapan bahwa pemberontakan bisa dimulai. Tapi ia gagal dan pada tahun 1884 ia meninggal. Kemudian Liu Qing Hsu [Liu Zi Gang] menggantikan kedudukannya sebagai Zhangmen [ketua]. Dan digantikan lagi oleh Lu Zhong Yi. Pada masa kepemimpinan mereka berdua , Yi Guan Dao tidak berkembang pesat.

Pada tahun 1930 , seorang mantan tosu bernama Zhang Guang Bi [nama Taoistnya adalah Tian Ran] menjadi pemimpin, dan dibawah kepemimpinannya Yi Guan Dao berkembang pesat. Terutama pada masa perang melawan Jepang. Pada tahun 1949, ketika komunis berkuasa , Yi Guan Dao dihantam habis sehingga bisa dikatakan lenyap di Republik Rakyat Tiongkok. Aliran tersebut dibagi 18 zhu [organisasi/unit] tapi sekarang cuma tersisa lima zhu.

Aliran Maitreya Indonesia kalau tidak salah ingat adalah Bao Guang Zhu sedangkan yang Tian Dao itu adalah
FaYi Zhu. 5 Zhu itu sebagai berikut : Ji Yi Zu, Fa Yi Zu , Bao Guang Zu,Wen Hua Zu ,Zheng Yi Zu. Walau demikian mereka satu sumber dan sama2 TianDao atau YiGuan Dao. Perkembangan YiGuan Dao amat pesat di Taiwan sehingga pemerintahan Guo Min Dang pada tahun 1953 melarang ajaran Yi Guan Dao , baru pada tahun 1987 diakui pemerintah.

Kitab2 utama Yi Guan Dao adalah Yi Guan Tan Yuan Tu Suo, San Yi Tan Yuan, Li Jiao Ho Jue, Tu Ming Fan Ke, Zi Yue Jie ,Yi Guan Can Dao Yao Yuan dll.

Pada masa kepemimpinan Wang Jue Yi , tingkatan dalam ajaran adalah sebagai berikut : Yi Phin Zhong Sheng , Erl Ping Tian En, San Ping Zheng En , shi ping Yin en , wu ping bao en, liu ping ding xing , qi ping se guo , ba ping se di , jiu ping lien tai. Mengikuti hirarki pejabat pemerintahan Manchu. Kemudian pada masa kepemimpinan Zhang Tian Ran diubah lagi sebagai berikut: Shi Zun, Shi mu , dao zhang , dian chuan shi , tan zhu, qian ren , san cai , yin bao shi , dao qing.

Wu Sheng Lao Mu [Ming-Ming Shang-Di Wu-Liang Qing-Hsu Zi-Zun Zi-Sheng San-Jie Se-Fang Wan-Ling Zhen-Zai] dan Maitreya adalah fokus pemujaan mereka. Tulisan "Mu" pada Wu Sheng Lao Mu itu diubah dari tulisan "mu" biasa menjadi memiliki makna yaitu Wuji dan Taiji.

Selain membicarakan persamaan 3 ajaran (Buddhism , Taoism dan Confuciusm) , Wang JueYi (Yi GuanDao)
menitik beratkan pada teknik membina diri (xiu lian nei dan). Hal ini tidaklah aneh mengingat dirinya adalah ex murid QuanZhen. Teknik membina diri itu dalam kitab YiGuan Dao disebut JiuJie ShenGong.

Ada pendapat bahwa Wang Jue Yi sebagai kepala Yi He Tuan [kaum boxer]. Namun pendapat itu tidaklah cocok , karena pada tahun 1884 ia meninggal dunia. Yi He Tuan memang banyak orang-orang Yi Guan Dao yang menjadi anggotanya dan akhirnya banyak vihara [para bhiksu] , daoguan [para tosu] , kelenteng bergabung melawan dominasi barat.

Zhao Duo Shan selain sebagai murid Yi Guan Dao , ia juga merupakan ketua perguruan dari Tinju Bunga Mei.
Masalahnya itu bermula dari kemarahan yang memuncak kepada orang-orang Barat. Pada masa itu agama Kristen dan Katolik disebut agama "menang perkara" , maksudnya adalah jika penganut Kristiani berperkara pasti menang dipengadilan. Selain itu hampir rata2 perjanjian2 tidak adil memasukkan masalah missionaris / kristenisasi. Brosur2 Fu Qing Mie Yang [basmi barat dukung Qing] menggambarkan para tosu , dewa-dewa dan para bhiksu bekerja sama membasmi "kambing" [yang].

Tiga pusaka Yi Guan Dao adalah Guan , Ying dan Jie.

1. Xuan Guan merupakan titik jalan darah YingTang , juga salah satu Qiao semangat/spirit. [note:Terkadang sering digunakan oleh aliran2 berbau mistik utk mengikat atau mengunci semangat pengikutnya, yang ini jgn ditulis kedalam buku, hanya mereka yg berbakat dalam membina diri/qigong diberitahu secara jelas apa itu Xuan Guan Qiao oleh orang-orang Tian Dao]
2. Ying (mudra)/Ho Tong Ying. Dimana dikatakan bahwa mudra penghormatan itu hanya boleh di vihara mereka,jika disembarangan kelenteng atau vihara memberikan penghormatan dengan mudra itu , dewa2 disana tidak sanggup menerima penghormatan itu bahkan bisa membuat dewa2 itu merasa berdosa. Sebenarnya merupakan pengubahan dari cara penghormatan Taoist yang sering disebut BaoQuan atau ZiWu Jie. Dan merupakan satu mudra bagi praktisi pemula meditasi Taoism.

3. Jie /khou jie (kata2 rahasia). Kata2 rahasia aliran TianDao adalah 5 yaitu "Wu Tai Fo Mi Le". Dan setahu saya lima kata rahasia itu tidak membuat yang membaca menjadi Buddha tapi bisa menghindari dari 99 malapetaka.

(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Sabtu, 21 Mei 2016

Vegetarian dalam Agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha

ISLAM

Tidak ada seekor hewan melata pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, MELAINKAN UMAT-UMAT (JUGA) SEPERTI KAMU.
(Nabi Muhammad, Al Quran, Al-An`am 6:38)

Siapa yang BERSIKAP BAIK TERHADAP SEMUA MAKHLUK TUHAN maka bersikap baik terhadap dirinya.
(Muhammad Amin, Ensiklopedia Islam, artikel Hewan)

PERLAKUKAN ORANG LAIN SEBAGAIMANA KAMU INGIN DIPERLAKUKAN. Apa yang kamu tidak suka untuk dirimu, jangan salurkan kepada orang lain.
(Abdullah Ansari, naskah Islam Sufi)

Tidakkah kamu melihat bagaimana segala yang dilangit & dibumi menyanjung Allah, dan burung-burung mengembangkan sayap-sayap mereka? Masing-masing mengetahui solatnya dan sanjungannya dan ALLAH MENGETAHUI APA YANG MEREKA BUAT.
(Al Quran Surah 24:41)

SATU PERBUATAN BAIK YANG DILAKUKAN KEPADA SEEKOR HEWAN SAMA PAHALANYA BILA DILAKUKAN KEPADA MANUSIA, sementara tindak kekejaman kepada seekor hewan sama buruknya bila dilakukan kepada seorang manusia.
(Nabi Muhammad, Hadis)

SEMUA MAKHLUK ADALAH SEPERTI SEBUAH KELUARGA TUHAN: dan Ia paling menyayangi mereka yang paling dermawan kepada keluargaNya.
(Nabi Muhammad, Hadis)

ALLAH TIDAK AKAN MENGASIHANI SIAPAPUN, KECUALI KEPADA MEREKA YANG MENGASIHANI MAKHLUK LAIN. Dimana ada sayur yang melimpah-limpah, sekumpulan besar malaikat akan turun ketempat tsb.”
(Nabi Muhammad, Hadis)

Ia yang MENARUH KASIHAN KEPADA SEEKOR BURUNG PIPIT & MENYELAMATKAN NYAWANYA, maka Allah akan mengampuninya pada Hari Kiamat.
(Nabi Muhammad, Hadis)

DAGINGNYA TIDAK AKAN SAMPAI KEPADA ALLAH & TIDAK JUGA DARAHNYA, TETAPI KETAKWAANMU yang akan sampai kepadaNya. Begitulah Dia menundukkan mereka untukmu supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepadamu. Dan kamu berilah berita gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
(Al Quran Surah 22:37)

Pada suatu ketika RASUL ALLAH BERKATA KEPADA KEPONAKANNYA, ‘ALI, OH ALI, KAMU SEMESTINYA TIDAK MEMAKAN DAGING. Jika kamu memakan daging selama 40 hari, maka kualitas itu akan masuk kedalam dirimu. Tindakan-tindakan itu akan masuk kedalam dirimu. Darah mereka akan masuk kedalam dirimu. Kualitas-kualitas mereka dan tindakan-tindakan mereka akan masuk kedalam dirimu. Karena itu, kualitas kemanusiaanmu akan berubah, kualitas welas asihmu akan berubah, dan intisari tubuhmu akan berubah. Oh ‘Ali, tidak seharusnya kamu makan daging. Kamu harus hilangkan itu. Jangan makan itu.
(Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, Orang suci Islam)

Aku mati sebagai mineral dan menjelma sebagai tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut? Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi, aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan, tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap, memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu terdengar nyanyian mulia;
“Kepada-Nya, kita semua akan kembali”
(Puisi Maulana Jalaludin Rumi, seorang Sufi Mistik Islam, “Aku Mati sebagai Mineral”)

Sumber : The Mystics of Islam (1914) edited by Reynold Alleyne Nicholson, p. 125

http://en.wikiquote.org/wiki/Rumi
http://www.khamush.com/melayu/

ESENI

Yesus ditanya, “Musa, yang terbesar di Israel, memperbolehkan nenek moyang kami untuk makan daging binatang yang halal, dan melarang hanya daging dari binatang yang haram. Tetapi, mengapa Engkau melarang kami memakan semua daging binatang? Hukum mana yang berasal dari Tuhan – hukum Musa atau hukum-Mu?”

Untuk pertanyaan ini, Yesus menjawab, “Tuhan memerintahkan nenek moyangmu: ‘Kamu jangan membunuh’. Tetapi, hati mereka menjadi keras dan mereka membunuh. Lalu Musa menginginkan paling tidak mereka tidak membunuh manusia, lalu ia memperbolehkan mereka untuk membunuh binatang.

Dan kemudian hati nenek moyangmu bahkan menjadi semakin keras. Mereka membunuh manusia dan juga binatang. Tetapi, Aku sungguh-sungguh berkata kepadamu: Jangan membunuh manusia, maupun binatang, dan tidak juga untuk dimakan dan dimasukkan ke dalam mulutmu. Karena jikalau kamu memakan makanan yang hidup, makanan yang sama akan menghidupkanmu, tetapi jikalau kamu membunuh makananmu, makanan yang sudah mati akan membunuhmu juga. Karena kehidupan hanya datang dari yang hidup, dan dari yang mati selalu mendatangkan kematian.”

Yesus kemudian menjelaskan lebih rinci dengan menyebutkan makanan tertentu yang boleh dimakan oleh para pengikutnya: “Karena tubuhmu adalah apa yang kamu makan, dan jiwamu adalah apa yang kamu pikirkan. Sebab itu, siapkan dan makanlah semua buah dari pepohonan, semua rumput dari ladang, dan semua susu dari binatang liar untuk dimakan. Karena semua ini diberi makan dan dimatangkan oleh api kehidupan; semuanya adalah pemberian dari para malaikat Bunda Semesta kita. Tetapi, jangan makan apa pun di mana hanya api kematian memberikan rasa, karena hal seperti ini berasal dari Iblis. Dengan demikian, makanlah selalu dari meja Tuhan: buah-buahan dari pohon, padi dan rumput dari ladang, susu binatang, serta madu lebah. Karena segala sesuatu di luar ini adalah berasal dari Iblis, dan membawa ke jalan dosa serta penyakit menuju kematian. Tetapi, makanan yang kamu makan dari meja Tuhan yang melimpah, dapat memberi kekuatan dan kesegaran pada tubuhmu, dan kamu tidak akan pernah menemui penyakit.”

~ Injil Perdamaian Eseni : Kitab Pertama

http://www.thenazareneway.com/index_essene_gospels_of_peace.htm

KRISTEN / KATHOLIK

Adalah bertentangan dengan harkat manusia jika membuat satwa menderita dan mati. (Katekismus Gereja Gereja Katolik, 2418)

Celakalah kamu, gembala-gembala yang hanya memikirkan kepentinganmu sendiri, bukannya kepentingan domba-dombamu. ( Yeheskiel 34:2-4 Alkitab)

Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging.
(Amsal 23:20 Alkitab)

Makanan adalah untuk perut, dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.
(1 Korintus 6:13 Alkitab)

“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” Firman Tuhan; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; DARAH LEMBU JANTAN, DOMBA-DOMBA DAN KAMBING JANTAN TIDAK KUSUKAI… Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Jauhkanlah perbuatan-perbuatan jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat.”
(Yesaya 1:11, 15-16, Alkitab)

Sesungguhnya Kuberitahukan kepadamu, ia yang membunuh, membunuh dirinya sendiri, dan ia yang makan daging dari para hewan, memakan tubuh dari yang mati. Maka pada darahnya, setiap tetes darah mereka akan berubah menjadi racun; dalam napasnya napas mereka menjadi bau; dalam dagingnya daging mereka membusuk; dalam tulangnya tulang mereka merapuh; dalam isi perutnya isi perut mereka membusuk, dalam matanya mata mereka membesar, dalam telinganya telinga mereka akan mendengar isu buruk. Dan kematian mereka akan menjadi kematiannya.
(Injil Perdamaian Eseni, Kitab Pertama)

JANGAN MEMBUNUH, ATAUPUN MEMAKAN DAGING DARI MANGSA YANG TIDAK BERDOSA, menjadikanmu sebagai budak setan. Karena semua itu adalah jalur penderitaan dan itu akan menuntunmu pada kematian. Tetapi, lakukan kehendak Tuhan maka malaikat-malaikat-Nya akan melayanimu dalam hidup.
(Injil Perdamaian Eseni, Kitab Pertama)

Berfirmanlah Allah: ‘Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan, yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala hewan di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, dan bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.’ Dan jadilah demikian.
(Kejadian 1:29-30 Alkitab)

Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, jangan kamu makan.
(Kejadian 9:4 Alkitab)

Jangan membunuh.
(Keluaran 20:13 Alkitab)

Lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian.
(Amsal 15:17, Alkitab)

Yesus berkata, “Yang Aku kehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.”
(Matius 9:13 & 12:7, Alkitab)

Rasul Paulus: Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.
(Roma 14:21, Alkitab)

Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
(Imamat 11:4)

Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
(Imamat 11:5)

Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu.
(Imamat 11:6)

Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; Haram itu bagimu.
(Imamat 11:7)

Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.
(Imamat 11:8)

yakni segala binatang yang berkuku belah, tetapi tidak bersela panjang, dan yang tidak memamah biak; haram semuanya itu bagimu dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis.
(Imamat 11;26)

Demikian juga segala yang berjalan dengan telapak kakinya di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu haram bagimu; setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam.
(Imamat 11:27)

Setiap orang dari bangsa Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang makan darah apapun juga, Aku sendiri akan menentang dia dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. Karena nyawa mahluk ada di dalam darahnya.
(Imamat 17:10)

Janganlah kamu memakan sesuatu yang darahnya masih ada …
(Imamat 19:26)

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (Daniel 1:8)

Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air minum, sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, …(Danies 1:12-13)

Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja (Daniel 1:15)

Baiknya engkau jangan makan daging atau minum anggur atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu (/red daging hewan) (Roma 14:21) Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku (/red para hewan), aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku (I Korintus 8:13)

Ia yang menyembelih seekor sapi adalah seperti ia yang membunuh manusia.
Yesaya 66: 3 (Holy King James Bible)

BUDDHISME

Semua gentar terhadap aniaya; semua takut terhadap kematian. Menempatkan diri kita di posisi orang lain, kita tidak seharusnya membunuh atau membuat orang lain membunuh
(Sang Buddha, Dhammapada)

Seseorang itu agung bukan karena ia mengalahkan atau menyakiti makhluk hidup lainnya. Seseorang itu agung karena ia MENAHAN DIRI DARI MENGALAHKAN ATAU MENYAKITI MAKHLUK HIDUP LAINNYA.
(Sang Buddha, Dhammapada)

Saat pembukaan sarang semut, pastikan orang-orang yang dapat dipercaya menaruh makanan dan air, gula dan gundukan padi-padian.
(Nagarjuna, Karangan Bunga Berharga, 249–50)

Semua Buddha dan Bodhisatwa pada dasarnya berlatih prinsip belas kasih agung. Penderitaan makhluk hidup melahirkan belas kasih agung mereka. Dari belas kasih agung ini muncullah kebijaksanaan agung, dan dengan kebijaksanaan agung ini, mereka mencapai pencerahan tertinggi.
(Buddha Shakyamuni, Sutra Avatamsaka)

Orang yang makan daging akan terjatuh ke jalan yang mengerikan dari transmigrasi dan menderita kesakitan yang tiada batasnya. Orang yang makan daging tidak akan pernah sukses dalam mendapatkan berkah apa pun atau jasa yang mereka doakan. Pemakan daging menyebabkan makhluk surgawi menghindari mereka dan makhluk hidup lainnya takut terhadap mereka.”
(Buddha Shakyamuni, Sutra Surangama)

Kasyapa bertanya kepada Sang Buddha: “Mengapa SEBELUMNYA Guru mengizinkan para biksu untuk makan ‘tiga daging murni’ atau bahkan‘sembilan daging murni’?” Sang Buddha berkata, “Adalah suatu kebiasaan untuk mengikuti kebutuhan dari suatu kesempatan, dan sebagai langkah berangsur-angsur dalam pemisahan sesungguhnya dari makan daging.
(Buddha Shakyamuni, Sutra Nirwana)

Semua orang suci tidak suka makan darah atau daging… para makhluk Surgawi tidak pernah mendekati orang yang makan daging karena mulut mereka selalu memiliki bau busuk…Daging adalah tidak bagus, daging adalah tidak bersih; pemakan daging menimbulkan setan dan menghancurkan pahala dan berkah. Para suci mencela makan daging!
(Buddha Shakyamuni, Sutra Lankavatara)

Saya melarang semua jenis daging, tanpa menghiraukan apakah hewannya mati secara alami atau dibunuh. Saya tidak pernah mengizinkan murid saya untuk makan daging dan saya tidak akan izinkan saat ini atau saat mendatang.”
(Buddha Shakyamuni, Sutra Lankavatara)

Semua makhluk hidup datang dari sumber yang sama. Melalui banyak reinkarnasi, semua makhluk hidup telah menjadi saudara satu sama lainnya. Bagaimana bisa kita makan daging dari saudara kita?”
(Buddha Shakyamuni, Sutra Lankavatara)

Orang yang makan daging merusak bibit maha welas asih dari Sifat Kebuddhaan mereka, dan makhluk hidup mana pun yang melihat mereka akan meninggalkan mereka. Oleh karena itu, semua Bodhisatva (praktisi rohani) harus menghindari makan daging dari makhluk hidup manapun karena akan mendatangkan dosa yang tiada batasnya.
(Buddha Shakyamuni, Sutra Brahmajala)

HINDUISME

Mereka yang meninggalkan pembunuhan terhadap semua; mereka yang jadi penolong bagi semua; yang jadi tempat berlindung bagi semua; mereka berada di jalan menuju Surga.
-Hitopadesa (Naskah Hindu)

Ahimsa (tanpa kekerasan) adalah Dharmma tertinggi. Ahimsa adalah Tapa terbaik. Ahimsa adalah hadiah teragung. Ahimsa adalah pengendalian diri tertinggi. Ahimsa adalah pengorbanan tertinggi. Ahimsa adalah kekuatan tertinggi. Ahimsa adalah teman tertinggi. Ahimsa adalah Kebenaran tertinggi. AHIMSA ADALAH AJARAN TERTINGGI.
( Mahabharata Santiparwa, 262.47)

Gaya hidup yang didasari pada SIKAP YANG SAMA SEKALI TIDAK MENYAKITI SEMUA MAKHLUK adalah moralitas tertinggi.
( Mahabharata Santiparwa, 262.5-6)

Apakah jalan yang baik? Itulah jalan yang merefleksikan pada bagaimana MENGHINDARI PEMBUNUHAN MAKHLUK APA PUN.
( Tirukural, Ayat 324)

LINDUNGI KEDUA SPESIES KITA, YANG BERKAKI DUA & YANG BERKAKI EMPAT. Sediakan makanan dan air untuk kebutuhan mereka. Semoga mereka bersama kita meningkat dalam pencapaian dan kekuatan. Selamatkan kami dari kesakitan semua hari-hari kami, O Yang Mahakuasa!
( Rig Weda Samhita10.37.11)

Semoga semua makhluk memandang pada diriku dengan mata bersahabat. Semoga begitulah aku, dan SEMOGA KITA SEMUA SALING MEMANDANG DENGAN PANDANGAN SEORANG SAHABAT.
( Yajur Weda 36.18)

SIKH

Agama tertinggi adalah untuk menumbuhkan persaudaraan universal; dan untuk MEMANDANG BAHWA SEMUA MAKHLUK SEDERAJAT. 
(Guru Nanak Dev, Jap Ji XXVIII)

Kamu berkata bahwa TUHAN YANG ESA ADA DALAM SEMUA, jadi mengapa kamu membunuh ayam-ayam?
(Guru Granth Sahib, 1350)

Kabir berkata, MEMAKAI KEKERASAN ADALAH KELALIMAN SEKALIPUN KAMU MENYEBUTNYA PENGORBANAN AGAMA. Jika saatnya engkau dipanggil ke Kerajaan Tuhan, bagaimana kondisimu jadinya?
(Guru Granth Sahib, 1374)

Manusia yang mengkonsumsi mariyuana, daging, dan anggur – puasa, dan ritual yang mereka jalani, mereka semua akan masuk neraka.
(Guru Granth Sahib, 1377)

Kamu membunuh makhluk hidup dan menyembah benda mati, di saat terakhirmu, kamu akan mengalami penderitaan mengerikan.
(Guru Granth Sahib, 332)

Bhagat Kabir berkata, bahwa MAKANAN TERBAIK ADALAH MAKAN KICHREE (SAYURAN) dengan nektar manisnya adalah garam. Kamu makan daging buruan, tapi hewan mana yang ingin kepalanya dipenggal?
( Guru Granth Sahib, 1374)

Dusta pisau belatiku dan MAKAN DENGAN MENIPU ADALAH DAGING.
( Guru Granth Sahib, 24)

Tamaknya anjing, dusta si penyapu dan TIPU SI PEMAKAN DAGING.
(Guru Granth Sahib, 15)

Orang dunia makan bangkai, hidup tanpa peduli dan serakah. Seperti jin, atau hewan liar, mereka membunuh dan makan daging bangkai yang terlarang. Kendalikan keinginanmu, atau kau akan ditangkap oleh Tuhan, dan dilempar ke neraka.
(Guru Granth Sahib, 723)

Kamu membunuh makhluk hidup dan menyebutnya perbuatan yang benar. Katakan padaku, Saudara, apa yang kau sebut sebagai tindakan yang tidak benar? Kamu sebut dirimu orang bijak paling baik; lalu siapa yang kau sebut sebagai tukang jagal?
(Guru Granth Sahib, 1103)

Tuhan telah memberikan kepadaku satu pengertian ini: SEMUA MAKHLUK, SEMUA YANG HIDUP KEPUNYAAN SANG PENCIPTA YANG ESA, semoga aku tidak pernah melupakan ini, Oh Tuhan.
( Guru Nanak Dev, Guru Granth Sahib, Jap Ji Sahib, 2)

Sama seperti baju yang ternoda oleh darah menjadi kotor, seseorang TIDAK DAPAT MEMILIKI KESADARAN MURNI JIKA IA MENGKONSUMSI DARAH DAN DAGING MAKHLUK LAINNYA.
( Guru Nanak Dev, Guru Granth Sahib, 140)

BERSIKAP BAIKLAH KEPADA SEMUA MAKHLUK – ini lebih berpahala daripada mengunjungi dan mandi di 68 tempat ziarah dan memberikan amal.
(Guru Granth Sahib- 136)

JAINISME

Karenanya, dia [seorang bijak] tidak akan mencelakai yang lainnya juga tidak akan membuat yang lain berbuat begitu.
(Sutra Acharanga5.101-2.)

Seseorang harus MEMPERLAKUKAN SEMUA MAKHLUK SEBAGAIMANA DIA ingin diperlakukan.
( Sutrakrianga 1.11.33)

Mereka yang pikirannya dalam kedamaian dan yang bebas dari hawa nafsu tidak ingin hidup di atas penderitaan orang lain.
(Mahavira, Sutra Acharanga)

SESEORANG TIDAK SEHARUSNYA MENYIKSA, MENCELAKAI, ATAU MEMBUNUH HEWAN, MAKHLUK HIDUP, ORGANISME apa pun atau makhluk yang berperasaan. DOKTRIN TANPA KEKERASAN INI ADALAH TANPA NODA, TIDAK DAPAT DIUBAH, DAN ABADI. Sebagaimana penderitaan menyiksa dirimu, sama halnya hal itu menyiksa, menggelisahkan, dan menakutkan bagi semua hewan, makhluk berperasaan.
(Sutra Acharanga4.25-26)

BERBAIK HATILAH TERHADAP SEMUA MAKHLUK HIDUP.
( Sutra Tattvartha 7.11)

TIDAK MENCELAKAI MAKHLUK HIDUP ADALAH AGAMA TERTINGGI.
(Kebenaran Pertama Jainisme, peribahasa‘Ahimsa Paramo Dharmah’)

INILAH INTI DARI KEBIJAKSANAAN: TIDAK MEMBUNUH APA PUN. Semua makhluk yang bernapas, yang ada, yang berperasaan tidak seharusnya dibunuh atau diperlakukan dengan kejam, atau diperlakukan sewenang-wenang atau disiksa, atau dihalau. Ini adalah Hukum yang murni dan tidak dapat diubah. Karenanya, berhentilah menyakiti makhluk hidup.
(Sutrakritanga1.11.10-16)

KONFUSIANISME & TAOISME

BERMANFAAT BAGI MAKHLUK-MAKHLUK HIDUP DAN UMAT MANUSIA. Mengusahakan kebaikan dan kebahagiaan.
~ Yin-chih-wen (Risalah Penganut Konfusianisme – Taoisme)

Apa yang tidak ingin diperbuat pada diri Anda, jangan perbuat pada orang lain.
~Konfusius, Analek Konfusius, Lunyu 12.2

Hormati yang tua dan kasihi yang muda. BAHKAN SERANGGA, RUMPUT DAN POHON, JANGAN KAMU SAKITI.
~Berhubungan dengan Ko Hung, risalah Konfusian-Taois Tai Shang Kan Ping Pian

Mereka yang ingin mengetahui Kebenaran tentang alam semesta HARUS BERLATIH MENGHORMATI SEMUA KEHIDUPAN. Ini menjelma sebagai cinta yang tanpa pamrih dan menghormati diri sendiri serta semua makhluk lain.
~ Hua Hu Ching 51

Belilah hewan yang dikurung dan berikan mereka kebebasan.
~ ajaran Taois Risalah Jalan Hening

Vegetarian dalam Agama Islam, Kristen, Hindu, Buddha

ISLAM

Tidak ada seekor hewan melata pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, MELAINKAN UMAT-UMAT (JUGA) SEPERTI KAMU.
(Nabi Muhammad, Al Quran, Al-An`am 6:38)

Siapa yang BERSIKAP BAIK TERHADAP SEMUA MAKHLUK TUHAN maka bersikap baik terhadap dirinya.
(Muhammad Amin, Ensiklopedia Islam, artikel Hewan)

PERLAKUKAN ORANG LAIN SEBAGAIMANA KAMU INGIN DIPERLAKUKAN. Apa yang kamu tidak suka untuk dirimu, jangan salurkan kepada orang lain.
(Abdullah Ansari, naskah Islam Sufi)

Tidakkah kamu melihat bagaimana segala yang dilangit & dibumi menyanjung Allah, dan burung-burung mengembangkan sayap-sayap mereka? Masing-masing mengetahui solatnya dan sanjungannya dan ALLAH MENGETAHUI APA YANG MEREKA BUAT.
(Al Quran Surah 24:41)

SATU PERBUATAN BAIK YANG DILAKUKAN KEPADA SEEKOR HEWAN SAMA PAHALANYA BILA DILAKUKAN KEPADA MANUSIA, sementara tindak kekejaman kepada seekor hewan sama buruknya bila dilakukan kepada seorang manusia.
(Nabi Muhammad, Hadis)

SEMUA MAKHLUK ADALAH SEPERTI SEBUAH KELUARGA TUHAN: dan Ia paling menyayangi mereka yang paling dermawan kepada keluargaNya.
(Nabi Muhammad, Hadis)

ALLAH TIDAK AKAN MENGASIHANI SIAPAPUN, KECUALI KEPADA MEREKA YANG MENGASIHANI MAKHLUK LAIN. Dimana ada sayur yang melimpah-limpah, sekumpulan besar malaikat akan turun ketempat tsb.”
(Nabi Muhammad, Hadis)

Ia yang MENARUH KASIHAN KEPADA SEEKOR BURUNG PIPIT & MENYELAMATKAN NYAWANYA, maka Allah akan mengampuninya pada Hari Kiamat.
(Nabi Muhammad, Hadis)

DAGINGNYA TIDAK AKAN SAMPAI KEPADA ALLAH & TIDAK JUGA DARAHNYA, TETAPI KETAKWAANMU yang akan sampai kepadaNya. Begitulah Dia menundukkan mereka untukmu supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan kepadamu. Dan kamu berilah berita gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
(Al Quran Surah 22:37)

Pada suatu ketika RASUL ALLAH BERKATA KEPADA KEPONAKANNYA, ‘ALI, OH ALI, KAMU SEMESTINYA TIDAK MEMAKAN DAGING. Jika kamu memakan daging selama 40 hari, maka kualitas itu akan masuk kedalam dirimu. Tindakan-tindakan itu akan masuk kedalam dirimu. Darah mereka akan masuk kedalam dirimu. Kualitas-kualitas mereka dan tindakan-tindakan mereka akan masuk kedalam dirimu. Karena itu, kualitas kemanusiaanmu akan berubah, kualitas welas asihmu akan berubah, dan intisari tubuhmu akan berubah. Oh ‘Ali, tidak seharusnya kamu makan daging. Kamu harus hilangkan itu. Jangan makan itu.
(Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen, Orang suci Islam)

Aku mati sebagai mineral dan menjelma sebagai tumbuhan, aku mati sebagai tumbuhan dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut? Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi, aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan, tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap, memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu terdengar nyanyian mulia;
“Kepada-Nya, kita semua akan kembali”
(Puisi Maulana Jalaludin Rumi, seorang Sufi Mistik Islam, “Aku Mati sebagai Mineral”)

Sumber : The Mystics of Islam (1914) edited by Reynold Alleyne Nicholson, p. 125

http://en.wikiquote.org/wiki/Rumi
http://www.khamush.com/melayu/

ESENI

Yesus ditanya, “Musa, yang terbesar di Israel, memperbolehkan nenek moyang kami untuk makan daging binatang yang halal, dan melarang hanya daging dari binatang yang haram. Tetapi, mengapa Engkau melarang kami memakan semua daging binatang? Hukum mana yang berasal dari Tuhan – hukum Musa atau hukum-Mu?”

Untuk pertanyaan ini, Yesus menjawab, “Tuhan memerintahkan nenek moyangmu: ‘Kamu jangan membunuh’. Tetapi, hati mereka menjadi keras dan mereka membunuh. Lalu Musa menginginkan paling tidak mereka tidak membunuh manusia, lalu ia memperbolehkan mereka untuk membunuh binatang.

Dan kemudian hati nenek moyangmu bahkan menjadi semakin keras. Mereka membunuh manusia dan juga binatang. Tetapi, Aku sungguh-sungguh berkata kepadamu: Jangan membunuh manusia, maupun binatang, dan tidak juga untuk dimakan dan dimasukkan ke dalam mulutmu. Karena jikalau kamu memakan makanan yang hidup, makanan yang sama akan menghidupkanmu, tetapi jikalau kamu membunuh makananmu, makanan yang sudah mati akan membunuhmu juga. Karena kehidupan hanya datang dari yang hidup, dan dari yang mati selalu mendatangkan kematian.”

Yesus kemudian menjelaskan lebih rinci dengan menyebutkan makanan tertentu yang boleh dimakan oleh para pengikutnya: “Karena tubuhmu adalah apa yang kamu makan, dan jiwamu adalah apa yang kamu pikirkan. Sebab itu, siapkan dan makanlah semua buah dari pepohonan, semua rumput dari ladang, dan semua susu dari binatang liar untuk dimakan. Karena semua ini diberi makan dan dimatangkan oleh api kehidupan; semuanya adalah pemberian dari para malaikat Bunda Semesta kita. Tetapi, jangan makan apa pun di mana hanya api kematian memberikan rasa, karena hal seperti ini berasal dari Iblis. Dengan demikian, makanlah selalu dari meja Tuhan: buah-buahan dari pohon, padi dan rumput dari ladang, susu binatang, serta madu lebah. Karena segala sesuatu di luar ini adalah berasal dari Iblis, dan membawa ke jalan dosa serta penyakit menuju kematian. Tetapi, makanan yang kamu makan dari meja Tuhan yang melimpah, dapat memberi kekuatan dan kesegaran pada tubuhmu, dan kamu tidak akan pernah menemui penyakit.”

~ Injil Perdamaian Eseni : Kitab Pertama

http://www.thenazareneway.com/index_essene_gospels_of_peace.htm

KRISTEN / KATHOLIK

Adalah bertentangan dengan harkat manusia jika membuat satwa menderita dan mati. (Katekismus Gereja Gereja Katolik, 2418)

Celakalah kamu, gembala-gembala yang hanya memikirkan kepentinganmu sendiri, bukannya kepentingan domba-dombamu. ( Yeheskiel 34:2-4 Alkitab)

Janganlah engkau ada di antara peminum anggur dan pelahap daging.
(Amsal 23:20 Alkitab)

Makanan adalah untuk perut, dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah.
(1 Korintus 6:13 Alkitab)

“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” Firman Tuhan; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; DARAH LEMBU JANTAN, DOMBA-DOMBA DAN KAMBING JANTAN TIDAK KUSUKAI… Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Jauhkanlah perbuatan-perbuatan jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat.”
(Yesaya 1:11, 15-16, Alkitab)

Sesungguhnya Kuberitahukan kepadamu, ia yang membunuh, membunuh dirinya sendiri, dan ia yang makan daging dari para hewan, memakan tubuh dari yang mati. Maka pada darahnya, setiap tetes darah mereka akan berubah menjadi racun; dalam napasnya napas mereka menjadi bau; dalam dagingnya daging mereka membusuk; dalam tulangnya tulang mereka merapuh; dalam isi perutnya isi perut mereka membusuk, dalam matanya mata mereka membesar, dalam telinganya telinga mereka akan mendengar isu buruk. Dan kematian mereka akan menjadi kematiannya.
(Injil Perdamaian Eseni, Kitab Pertama)

JANGAN MEMBUNUH, ATAUPUN MEMAKAN DAGING DARI MANGSA YANG TIDAK BERDOSA, menjadikanmu sebagai budak setan. Karena semua itu adalah jalur penderitaan dan itu akan menuntunmu pada kematian. Tetapi, lakukan kehendak Tuhan maka malaikat-malaikat-Nya akan melayanimu dalam hidup.
(Injil Perdamaian Eseni, Kitab Pertama)

Berfirmanlah Allah: ‘Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan, yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala hewan di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, dan bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.’ Dan jadilah demikian.
(Kejadian 1:29-30 Alkitab)

Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, jangan kamu makan.
(Kejadian 9:4 Alkitab)

Jangan membunuh.
(Keluaran 20:13 Alkitab)

Lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian.
(Amsal 15:17, Alkitab)

Yesus berkata, “Yang Aku kehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan.”
(Matius 9:13 & 12:7, Alkitab)

Rasul Paulus: Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.
(Roma 14:21, Alkitab)

Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
(Imamat 11:4)

Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
(Imamat 11:5)

Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu.
(Imamat 11:6)

Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; Haram itu bagimu.
(Imamat 11:7)

Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.
(Imamat 11:8)

yakni segala binatang yang berkuku belah, tetapi tidak bersela panjang, dan yang tidak memamah biak; haram semuanya itu bagimu dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis.
(Imamat 11;26)

Demikian juga segala yang berjalan dengan telapak kakinya di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu haram bagimu; setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam.
(Imamat 11:27)

Setiap orang dari bangsa Israel dan dari orang asing yang tinggal di tengah-tengah mereka, yang makan darah apapun juga, Aku sendiri akan menentang dia dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya. Karena nyawa mahluk ada di dalam darahnya.
(Imamat 17:10)

Janganlah kamu memakan sesuatu yang darahnya masih ada …
(Imamat 19:26)

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. (Daniel 1:8)

Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air minum, sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, …(Danies 1:12-13)

Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja (Daniel 1:15)

Baiknya engkau jangan makan daging atau minum anggur atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu (/red daging hewan) (Roma 14:21) Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku (/red para hewan), aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku (I Korintus 8:13)

Ia yang menyembelih seekor sapi adalah seperti ia yang membunuh manusia.
Yesaya 66: 3 (Holy King James Bible)

BUDDHISME

Semua gentar terhadap aniaya; semua takut terhadap kematian. Menempatkan diri kita di posisi orang lain, kita tidak seharusnya membunuh atau membuat orang lain membunuh
(Sang Buddha, Dhammapada)

Seseorang itu agung bukan karena ia mengalahkan atau menyakiti makhluk hidup lainnya. Seseorang itu agung karena ia MENAHAN DIRI DARI MENGALAHKAN ATAU MENYAKITI MAKHLUK HIDUP LAINNYA.
(Sang Buddha, Dhammapada)

Saat pembukaan sarang semut, pastikan orang-orang yang dapat dipercaya menaruh makanan dan air, gula dan gundukan padi-padian.
(Nagarjuna, Karangan Bunga Berharga, 249–50)

Semua Buddha dan Bodhisatwa pada dasarnya berlatih prinsip belas kasih agung. Penderitaan makhluk hidup melahirkan belas kasih agung mereka. Dari belas kasih agung ini muncullah kebijaksanaan agung, dan dengan kebijaksanaan agung ini, mereka mencapai pencerahan tertinggi.
(Buddha Shakyamuni, Sutra Avatamsaka)

Orang yang makan daging akan terjatuh ke jalan yang mengerikan dari transmigrasi dan menderita kesakitan yang tiada batasnya. Orang yang makan daging tidak akan pernah sukses dalam mendapatkan berkah apa pun atau jasa yang mereka doakan. Pemakan daging menyebabkan makhluk surgawi menghindari mereka dan makhluk hidup lainnya takut terhadap mereka.”
(Buddha Shakyamuni, Sutra Surangama)

Kasyapa bertanya kepada Sang Buddha: “Mengapa SEBELUMNYA Guru mengizinkan para biksu untuk makan ‘tiga daging murni’ atau bahkan‘sembilan daging murni’?” Sang Buddha berkata, “Adalah suatu kebiasaan untuk mengikuti kebutuhan dari suatu kesempatan, dan sebagai langkah berangsur-angsur dalam pemisahan sesungguhnya dari makan daging.
(Buddha Shakyamuni, Sutra Nirwana)

Semua orang suci tidak suka makan darah atau daging… para makhluk Surgawi tidak pernah mendekati orang yang makan daging karena mulut mereka selalu memiliki bau busuk…Daging adalah tidak bagus, daging adalah tidak bersih; pemakan daging menimbulkan setan dan menghancurkan pahala dan berkah. Para suci mencela makan daging!
(Buddha Shakyamuni, Sutra Lankavatara)

Saya melarang semua jenis daging, tanpa menghiraukan apakah hewannya mati secara alami atau dibunuh. Saya tidak pernah mengizinkan murid saya untuk makan daging dan saya tidak akan izinkan saat ini atau saat mendatang.”
(Buddha Shakyamuni, Sutra Lankavatara)

Semua makhluk hidup datang dari sumber yang sama. Melalui banyak reinkarnasi, semua makhluk hidup telah menjadi saudara satu sama lainnya. Bagaimana bisa kita makan daging dari saudara kita?”
(Buddha Shakyamuni, Sutra Lankavatara)

Orang yang makan daging merusak bibit maha welas asih dari Sifat Kebuddhaan mereka, dan makhluk hidup mana pun yang melihat mereka akan meninggalkan mereka. Oleh karena itu, semua Bodhisatva (praktisi rohani) harus menghindari makan daging dari makhluk hidup manapun karena akan mendatangkan dosa yang tiada batasnya.
(Buddha Shakyamuni, Sutra Brahmajala)

HINDUISME

Mereka yang meninggalkan pembunuhan terhadap semua; mereka yang jadi penolong bagi semua; yang jadi tempat berlindung bagi semua; mereka berada di jalan menuju Surga.
-Hitopadesa (Naskah Hindu)

Ahimsa (tanpa kekerasan) adalah Dharmma tertinggi. Ahimsa adalah Tapa terbaik. Ahimsa adalah hadiah teragung. Ahimsa adalah pengendalian diri tertinggi. Ahimsa adalah pengorbanan tertinggi. Ahimsa adalah kekuatan tertinggi. Ahimsa adalah teman tertinggi. Ahimsa adalah Kebenaran tertinggi. AHIMSA ADALAH AJARAN TERTINGGI.
( Mahabharata Santiparwa, 262.47)

Gaya hidup yang didasari pada SIKAP YANG SAMA SEKALI TIDAK MENYAKITI SEMUA MAKHLUK adalah moralitas tertinggi.
( Mahabharata Santiparwa, 262.5-6)

Apakah jalan yang baik? Itulah jalan yang merefleksikan pada bagaimana MENGHINDARI PEMBUNUHAN MAKHLUK APA PUN.
( Tirukural, Ayat 324)

LINDUNGI KEDUA SPESIES KITA, YANG BERKAKI DUA & YANG BERKAKI EMPAT. Sediakan makanan dan air untuk kebutuhan mereka. Semoga mereka bersama kita meningkat dalam pencapaian dan kekuatan. Selamatkan kami dari kesakitan semua hari-hari kami, O Yang Mahakuasa!
( Rig Weda Samhita10.37.11)

Semoga semua makhluk memandang pada diriku dengan mata bersahabat. Semoga begitulah aku, dan SEMOGA KITA SEMUA SALING MEMANDANG DENGAN PANDANGAN SEORANG SAHABAT.
( Yajur Weda 36.18)

SIKH

Agama tertinggi adalah untuk menumbuhkan persaudaraan universal; dan untuk MEMANDANG BAHWA SEMUA MAKHLUK SEDERAJAT. 
(Guru Nanak Dev, Jap Ji XXVIII)

Kamu berkata bahwa TUHAN YANG ESA ADA DALAM SEMUA, jadi mengapa kamu membunuh ayam-ayam?
(Guru Granth Sahib, 1350)

Kabir berkata, MEMAKAI KEKERASAN ADALAH KELALIMAN SEKALIPUN KAMU MENYEBUTNYA PENGORBANAN AGAMA. Jika saatnya engkau dipanggil ke Kerajaan Tuhan, bagaimana kondisimu jadinya?
(Guru Granth Sahib, 1374)

Manusia yang mengkonsumsi mariyuana, daging, dan anggur – puasa, dan ritual yang mereka jalani, mereka semua akan masuk neraka.
(Guru Granth Sahib, 1377)

Kamu membunuh makhluk hidup dan menyembah benda mati, di saat terakhirmu, kamu akan mengalami penderitaan mengerikan.
(Guru Granth Sahib, 332)

Bhagat Kabir berkata, bahwa MAKANAN TERBAIK ADALAH MAKAN KICHREE (SAYURAN) dengan nektar manisnya adalah garam. Kamu makan daging buruan, tapi hewan mana yang ingin kepalanya dipenggal?
( Guru Granth Sahib, 1374)

Dusta pisau belatiku dan MAKAN DENGAN MENIPU ADALAH DAGING.
( Guru Granth Sahib, 24)

Tamaknya anjing, dusta si penyapu dan TIPU SI PEMAKAN DAGING.
(Guru Granth Sahib, 15)

Orang dunia makan bangkai, hidup tanpa peduli dan serakah. Seperti jin, atau hewan liar, mereka membunuh dan makan daging bangkai yang terlarang. Kendalikan keinginanmu, atau kau akan ditangkap oleh Tuhan, dan dilempar ke neraka.
(Guru Granth Sahib, 723)

Kamu membunuh makhluk hidup dan menyebutnya perbuatan yang benar. Katakan padaku, Saudara, apa yang kau sebut sebagai tindakan yang tidak benar? Kamu sebut dirimu orang bijak paling baik; lalu siapa yang kau sebut sebagai tukang jagal?
(Guru Granth Sahib, 1103)

Tuhan telah memberikan kepadaku satu pengertian ini: SEMUA MAKHLUK, SEMUA YANG HIDUP KEPUNYAAN SANG PENCIPTA YANG ESA, semoga aku tidak pernah melupakan ini, Oh Tuhan.
( Guru Nanak Dev, Guru Granth Sahib, Jap Ji Sahib, 2)

Sama seperti baju yang ternoda oleh darah menjadi kotor, seseorang TIDAK DAPAT MEMILIKI KESADARAN MURNI JIKA IA MENGKONSUMSI DARAH DAN DAGING MAKHLUK LAINNYA.
( Guru Nanak Dev, Guru Granth Sahib, 140)

BERSIKAP BAIKLAH KEPADA SEMUA MAKHLUK – ini lebih berpahala daripada mengunjungi dan mandi di 68 tempat ziarah dan memberikan amal.
(Guru Granth Sahib- 136)

JAINISME

Karenanya, dia [seorang bijak] tidak akan mencelakai yang lainnya juga tidak akan membuat yang lain berbuat begitu.
(Sutra Acharanga5.101-2.)

Seseorang harus MEMPERLAKUKAN SEMUA MAKHLUK SEBAGAIMANA DIA ingin diperlakukan.
( Sutrakrianga 1.11.33)

Mereka yang pikirannya dalam kedamaian dan yang bebas dari hawa nafsu tidak ingin hidup di atas penderitaan orang lain.
(Mahavira, Sutra Acharanga)

SESEORANG TIDAK SEHARUSNYA MENYIKSA, MENCELAKAI, ATAU MEMBUNUH HEWAN, MAKHLUK HIDUP, ORGANISME apa pun atau makhluk yang berperasaan. DOKTRIN TANPA KEKERASAN INI ADALAH TANPA NODA, TIDAK DAPAT DIUBAH, DAN ABADI. Sebagaimana penderitaan menyiksa dirimu, sama halnya hal itu menyiksa, menggelisahkan, dan menakutkan bagi semua hewan, makhluk berperasaan.
(Sutra Acharanga4.25-26)

BERBAIK HATILAH TERHADAP SEMUA MAKHLUK HIDUP.
( Sutra Tattvartha 7.11)

TIDAK MENCELAKAI MAKHLUK HIDUP ADALAH AGAMA TERTINGGI.
(Kebenaran Pertama Jainisme, peribahasa‘Ahimsa Paramo Dharmah’)

INILAH INTI DARI KEBIJAKSANAAN: TIDAK MEMBUNUH APA PUN. Semua makhluk yang bernapas, yang ada, yang berperasaan tidak seharusnya dibunuh atau diperlakukan dengan kejam, atau diperlakukan sewenang-wenang atau disiksa, atau dihalau. Ini adalah Hukum yang murni dan tidak dapat diubah. Karenanya, berhentilah menyakiti makhluk hidup.
(Sutrakritanga1.11.10-16)

KONFUSIANISME & TAOISME

BERMANFAAT BAGI MAKHLUK-MAKHLUK HIDUP DAN UMAT MANUSIA. Mengusahakan kebaikan dan kebahagiaan.
~ Yin-chih-wen (Risalah Penganut Konfusianisme – Taoisme)

Apa yang tidak ingin diperbuat pada diri Anda, jangan perbuat pada orang lain.
~Konfusius, Analek Konfusius, Lunyu 12.2

Hormati yang tua dan kasihi yang muda. BAHKAN SERANGGA, RUMPUT DAN POHON, JANGAN KAMU SAKITI.
~Berhubungan dengan Ko Hung, risalah Konfusian-Taois Tai Shang Kan Ping Pian

Mereka yang ingin mengetahui Kebenaran tentang alam semesta HARUS BERLATIH MENGHORMATI SEMUA KEHIDUPAN. Ini menjelma sebagai cinta yang tanpa pamrih dan menghormati diri sendiri serta semua makhluk lain.
~ Hua Hu Ching 51

Belilah hewan yang dikurung dan berikan mereka kebebasan.
~ ajaran Taois Risalah Jalan Hening