Tampilkan postingan dengan label Artikel Buddhis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Buddhis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2016

Aliran Maitreya ? Buddhis atau Non-Buddhis ?

Telaah Kritis dan Obyektif atas Aliran Maitreya 

APAKAH SANG Buddha MASA MENDATANG TELAH HADIR DI DUNIA INI? 

PENGANTAR

Belakangan ini di negeri kita dimarakkan oleh suatu aliran keagamaan yang menamakan dirinya Maitreya, yang dalam Bahasa Mandarin disebut dengan Yi Guan Dao (baca I Kwan Tao).
Sesungguhnya sebagai seorang Buddhis kita dapat menghormati agama dan aliran apapun, sebagaimana
yang diajarkan Sang Buddha dalam UPALI SUTTA, namun yang menjadi masalah aliran ini telah mendompleng nama Buddhisme dalam  penyebarannya.

Dalam makalah kali ini kita akan membahas benarkah aliran Maitreya dapat digolongkan pada Buddhisme dan apabila tidak apakah alasannya. Mengingat perkembangan aliran ini yang demikian pesatnya. Berdasarkan pengalaman penulis semasa masih tinggal di Jakarta, pada hampir tiap-tiap perumahan terdapat cetiya (mereka menyebutnya dengan istilah
Mandarin: Fo Tang [baca: Foo Thang]) aliran tersebut.

Selain itu kita juga akan membahas gerakan-gerakan keagamaan yang serupa dengan Maitreya pada sepanjang sejarah Tiongkok untuk menarik
keterkaitannya dengan Aliran Maitreya.

Makalah ini juga tidak dimaksudkan untuk menjelek-jelekkan ataupun menghina aliran Maitreya, melainkan untuk mendudukkan permasalahan pada proporsinya yang benar. Bagi rekan-rekan Buddhis diharapkan agar
mendapatkan pengertian yang benar mengenai apa itu sesungguhnya Aliran Maitreya tersebut. Selamat membaca.

A. SEJARAH.

1.Ciri Khas Umum Aliran-Aliran Sesat dalam Sejarah Tiongkok.

Negeri Tiongkok merupakan tempat yang subur bagi perkembangan berbagai aliran ibadah atau menyimpang, baik yang berakar dari Taoisme maupun
Buddhisme. Sebelum kita menganalisanya satu persatu, maka baiklah kita menarik terlebih dahulu ciri-ciri umum aliran-aliran tersebut:

(i).Berawal dari gerakan pemberontakan untuk menggulingkan suatu dinasti atau pemerintah yang saat itu sedang berkuasa.

(ii).Para pemimpinnya mengaku titisan dewa tertentu (bagi yang berlatar belakang Taoisme) dan titisan Bodhisattva tertentu (bagi yang berlatar belakang Buddhis).
Dalam propagandanya mereka mengatakan bahwa dinasti yang sedang berkuasa telah terlalu bobrok dan
mereka telah menerima mandat surgawi untuk berkuasa menggantikan pemerintahan yang lalim pada saat itu.

(iii).Bagi aliran sempalan yang berlatar belakang Buddhis, Bodhisattva yang banyak dipilih adalah Maitreya. Jadi banyak pemimpin sekte atau
pemberontakan yang berasal dari kalangan Buddhis mengaku bahwa diri mereka adalah penjelmaan Maitreya.

(iv).Pemberontakan diawali dengan membentuk suatu sekte rahasia untuk mengumpulkan para pengikut. Agar menarik minat rakyat jelata maka kadang-kadang dibumbui dengan mistik. Para anggota disumpah dengan ritual khusus, yang juga timbul saat ketidak puasan merajalela di kalangan rakyat.

Baik marilah kita mulai membahas sejarah aliran-aliran sesat di Tiongkok mulai dari jaman yang paling awal hingga pada timbulnya aliran Teratai Putih (Bai Lian, baca: Pai Lien) yang merupakan cikal
bakal Yi Guan Dao.

2 . Sejarah Aliran-aliran Sesat dalam Sejarah Tiongkok.

a.Dinasti Han (202 SM ? 221M)

Marilah kita kembali pada masa akhir Dinasti Han pada abad ketiga Masehi. Pada saat itu kekuasaan Kaum Kasim menjadi semakin besar, sehingga kaisar hanya menjadi boneka mereka saja. Mereka sangat lalim
dan korup sehingga Dinasti Han menjadi lemah.
Ketidakpuasan merebak di kalangan rakyat, di mana hal tersebut berpuncak pada Pemberontakan Topi Kuning (Huang Qin) pada tahun 184 M

(i). yang dipimpin oleh tiga bersaudara bermarga Zhang. Pemimpin utamanya bernama Zhang Yue (Thio Kak dalam lafal Hokkian)

(ii). Zhang Yue merupakan seorang mahasiswa ilmu ketabiban yang gagal, namun ia memiliki kemampuan mengobati orang. Banyak rakyat yang disembuhkan olehnya dari berbagai penyakit sehingga mereka kemudian tertarik untuk menjadi pengikutnya. Legenda mengatakan bahwa kemampuan pengobatan tersebut diperolahnya dari seorang dewa bernama Nan Hua Lao
Shen (Hokkian: Lam Hoa Lo Sian) atau dewa tua dari pegunungan Lam Hoa yang memberikannya sejilid kitab ilmu pengobatan.

Di depan massa pengikutnya Zhang Yue berpidato bahwa pamor kerajaan Han telah pudar dan ia telah ditakdirkan untuk menggantikannya, oleh sebab itu ia mewajibkan para pengikutnya untuk mengenakan topi atau penutup kepala berwarna kuning, yang melambangkan keunggulan gerakannya dari Dinasti Han

(iii). Ia juga membagi-bagikan jimat (hu) pada para pengikutnya agar mereka menang perang. Mereka kemudian bergerak ke ibu kota dan berhasil menimbulkan kepanikan dan kerusakan besar pada Dinasti Han, namun akhirnya pemberontakan ini berhasil ditumpas.

b. Dinasti Sui (589-618)

Pada bulan Januari 610 AD, sejumlah orang berpakaian warna putih dengan rambut diikat pita putih dan tangan memegang kemenyan yang membara serta bunga-bunga, mengumumkan datangnya Maitreya Buddha ke
dunia ini dengan mengadakan prosesi menuju kota Chian Kuok dan pada saat mereka hendak memasuki pintu Chian Kuok, pengawal di pintu menyambut kedatangan mereka dengan berlutut dan mempersilahkan mereka masuk.

Tetapi ketika mereka sedang berlutut, orang-orang saleh palsu (bandit-bandit) itu merampok senjata-senjata mereka dan ketika tindakan ini hampir mengakibatkan kerusuhan, bantuanpun datang untuk menaklukkan bandit-bandit tersebut. Orang-orang yang terlibat dalam
pemberontakan ditangkap. Jumlah yang tertangkap mencapai kira-kira seribu keluarga.

Tiga tahun kemudian pada bulan Desember 613 AD, seorang yang bernama Siang Hai Ming menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Maitreya Buddha,
mengumpulkan penganut-penganut dan melancarkan pemberontakan dan mengangkat dirinya sebagai raja, dan pada akhirnya membangun satu kerajaan di Pei Wu. Setelah beberapa saat, Raja dari Dinasti Sui mengirimkan pasukan untuk menaklukkan dia.

c. Dinasti Tang (618-906)

Pada zaman Dinasti Tang, ada lagi seorang saleh palsu yang bernama Wang Hwai Koo mengumumkan suatu berita yang keliru yakni Sakyamuni Buddha telah mengundurkan diri dan telah digantikan oleh Maitreya
Buddha, dan bahwa keluarga Li akan runtuh sedangkan keluarga Yang akan bangkit lagi. Li adalah marga dari Raja pertama Dinasti Tang dan Yang adalah marga dari Raja pertama Dinasti Sui. Pemerintah mendengar kabar
itu segera mengirimkan pasukan untuk bertempur dengan kelompok Wang Hwai Koo. Wang Hwai Koo dan pengikut-pengikutnya ditangkap dan dihukum mati.

Tokoh lain pada masa Dinasti Tang yang juga mengaku sebagai penjelmaan Maitreya adalah Ibu Suri Wu Zetian (Hokkian: Bu Cek Tian). Ia memerintah dari tahun 690-705. Setelah suaminya Kaisar Gao Zong
(649-683) wafat, ibu suri Wu perlahan-lahan berusaha untuk meraih kekuasaan, hingga akhirnya berhasil menumbangkan Dinasti Tang untuk sementara waktu dan menjadi kaisar. Ratu Wu sebagai alat propaganda
kemudian memanfaatkan Agama Buddha dan Tao agar rakyat menganggapnya sebagai makhluk suci (padahal Ratu Wu sangat kejam karena telah menyiksa sampai mati para selir suaminya terdahulu).

(iv). Dari Kalangan Tao ia menerima gelar "Ibu para Dewa" (Bahasa Inggris: Sage Mother) atau Lao Mu dan dipuja pada kuil-kuil Taois. Untuk meraih simpati Umat Buddha dikaranglah pada saat itu suatu Sutra
palsu yang berjudul Sutra Awan Agung (Great Cloud Sutra) yang isinya seolah-olah Buddha Sakyamuni telah menubuatkan bahwa Maitreya atau Buddha yang akan datang akan terlahir sebagai wanita, yang di bawah
pemerintahannya "Panen akan berlimah, kebahagiaan akan menjadi tak terhingga. Rakyat akan berjaya, terbebas dari penderitaan dan penyakit. Para penguasa dari negara-negara tetangga akan berdatangan
dan menawarkan diri untuk menjadi taklukan." Vihara-vihara yang disponsori negara bersama-sama mempermaklumkan ajaran baru ini dan menggelarinya "Maitreya yang tanpa cela". Wu kemudian memerintahkan dipahatnya patung Maitreya raksasa di Longmen yang wujudnya mirip  dirinya.

d. Dinasti Sung (960-1279). 

Pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zong (1022-1063), bulan November 1047, pemimpin dari Aliran Maitreya Wang Tzeh merencanakan suatu pemberontakan. Pada mulanya dia adalah seorang gembala kemudian dia 
mendaftarkan diri menjadi tentara. Sementara itu buku ajaran-ajaran sesat telah beredar ke-mana-mana. Buku tersebut memuat pernyataan jahat yang sama yaitu "Sakyamuni Buddha telah mengundurkan diri dan 
Maitreya Buddha yang bertanggung jawab atas urusan manusia di dunia. Mereka mengeluarkan slogan bahwa Zaman Putih "istilah Bahasa Cina adalah Pai Yang" telah tiba. 

Ketika Wang Tzeh menjadi walikota, penganut-penganutnya mengangkat dia sebagai pemimpin mereka dan kemudian melancarkan pemberontakan di 
propinsi Pei. Wang Tzeh memproklamirkan dirinya sendiri sebagai Raja. Pada tahun baru di bulan Pebruari 1048, pasukan-pasukan raja menyelinap ke dalam kota melalui terowongan. Wang Tzeh ditangkap dan 
dihukum mati. 

e. Dinasti Yuan (Mongol) (1279-1368). 

Orang-orang kerajaan Mongol menghormati segala agama: Buddha, Kristen, Islam dan Taoisme. Tetapi melarang Aliran Maitreya. Di antara agama 
yang disebut di atas, agama Buddhalah yang mendapatkan penghargaan tertinggi, khususnya oleh keluarga raja, sehingga agama Buddha mendapat fasilitas khusus dan juga mendapatkan fasilitas bebas pajak. Oleh karena itu, penganut-penganut Maitreya merembes ke perkumpulan Bai Lian yang dibentuk oleh Master Hwei Yen. Pengembangan utama bagi 
sekte ini dititik beratkan pada pembacaan nama Amitabha Buddha. Setelah 5 tahun berada di perkumpulan Bai Lian, nama Maitreya menjadi 
Perkumpulan Bai Lian (sesuai dengan nama organisasi yang mereka nyusupi). 

Mereka menjalin hubungan baik dengan pegawai-pegawai pemerintah dan juga orang-orang berpengaruh di masyarakat. Selain itu, mereka juga ber-pura-pura melakukan kegiatan sosial. Dengan cara demikian, secara bertahap mereka menjadi sah dalam hukum pemerintahan, tetapi pengesahan tersebut bertahan hanya 9 tahun. Ketika Raja Shidebala (Ying Zong) naik tahta pada tahun 1321, beliau melarang aliran itu. 
Pada saat itu, situasi politik sedang memburuk dan Aliran Maitreya mengambil keuntungan dari situasi tersebut untuk menyebarkan ajaran yang menyimpang. 

Hampir tiga tahun kemudian (1323), Raja Ying Zong dibunuh. Dua puluh delapan tahun setelah beliau wafat atau pada masa pemerintahan Raja Toghon Temur (Shun Di ? memerintah 1333-1368) yakni pada bulan Mei 1351, penganut-penganut Bai Lian, dengan Liew Foo Thong sebagai dalang utama dan Han San Thong sebagai pemimpin, merencanakan untuk memberontak melawan Dinasti Yuan dan memproklamirkan dirinya sebagai King Ming. Ciri-ciri tentara mereka adalah membakar kemenyan dan pengikut-pengikutnya mengikat kepala mereka dengan syal merah. Karena 
itulah pemberontakan ini dalam sejarah dinamakan Pemberontakan Ikat Kepala Merah (Red Turban). Tetapi rencana pemberontakan tersebut bocor, Han San Thong tertangkap dan dihukum mati. Istri dan anak lelakinya, Han Lin Er meloloskan diri. Pengikut-pengikut yang 
melarikan diri dikumpulkan oleh Liew Foo Thong untuk membentuk suatu tentara yang berjumlah ratusan ribu orang. Tentara tersebut menyerbu dan menaklukkan propinsi Ing Chuan. 

Pada bulan Februari 1355, Liew Foo Thong memproklamirkan Han Lin Er sebagai Raja Ming kecil. 

Pada bulan Januari 1352, seorang penganut Bai Lian yang kaya, Kuo Tze Hsing, juga mengumpulkan penganut-penganut untuk bekerja sama dengan 
Han Lin Er. Kuo menyatakan dirinya sebagai Jenderal. Pada tanggal 26 Februari, tentaranya menaklukkan propinsi Hau Chou. 

Pada bulan Maret tahun yang sama, Zhu Yuanzhang (Hokkian: Cu Goan Ciang) bergabung dengan mereka sebagai bawahannya. Zhu telah menjadi rahib sejak kecil. Dia meninggalkan Sangha untuk menjadi seorang awam karena kuti di mana dia tinggal telah dibakar. Zhu mempunyai penampilan yang tampan dan tubuhnya tegap. Selain itu, dia selalu menang dalam peperangan. Kuo Tze Hsing begitu terkesan sehingga dia 
mengangkat Zhu sebagai menantu laki-laki. 

Tiga tahun kemudian, Kuo meninggal dan putranya Kuo Thien Shih menjadi pemimpin. Han Lin Er mengangkat anak Kuo sebagai panglima, Chang Thien 
Yew dan Zhu sebagai Jenderal pertama dan kedua. Enam bulan kemudian, Kuo Thien Shih dan Chang Thien Yew dibunuh. Akibatnya semua tentara berada di bawah perintah Zhu Yuanzhang. 

Pada bulan Februari 1363, Liew Foo Thong dibunuh dan Han Lin Er dengan cepat mengirim berita kepada Zhu untuk meminta bantuan segera. Bantuan diberikan segera dan Han Lin Er diselamatkan. Sejak itu Han 
Lin Er menjadi boneka Zhu Yuanzhang. Pada bulan Desember 1366, atas nama untuk menyambut kedatangan Han Lin Er ke selatan, Zhu mengirim 
satu kapal untuk menjemput Lin Er. Dalam perjalanan, Zhu memerintahkan orang membalikkan kapal tersebut dan Lin Er tenggelam, tentu saja Zhu Yuanzhang menjadi pengganti. 

Supaya bisa menghibur mereka, Zhu pada tanggal 4 Januari 1368 mengumumkan "Ming" sebagai nama rezimnya. Dengan demikian, dia menjadi Raja pertama Dinasti Ming. Inilah untuk pertama kalinya suatu 
pemberontakan sekte rahasia berhasil mengangkat pemimpinya menjadi kaisar. Zhu lalu bergelar Hong wu dan memerintah dari tahun 1368-1398. 

f. Dinasti Ming (1368-1644) 

Berhubung Raja Choo Yen Zang pernah menjadi bhikkhu, dia amat paham tentang isi dari agama Buddha. Oleh karena dia sadar bahwa penganut-penganut Bai Lian telah mengambil dan kemudian merubah Buddhadharma sesuai pemikiran mereka. Mereka menggunakan nama aliran Maitreya Buddha hanya sebagai topeng untuk menipu orang-orang yang 
tidak mengerti latar belakang mereka. 

Setelah Zhu naik tahta menjadi raja dia mengeluarkan perintah melarang aktivitas dari aliran Bai Lian. Sejak itu, pengikut ajaran Bai Lian mengajarkan ajaran sesatnya pada malam hari saja dengan pintu dan 
jendela tertutup rapat. 

Pada zaman Dinasti Ming, kerajaannya paling banyak menderita karena pemberontakan Bai Lian yang sangat sering terjadi. Banyak dari pemberontakan ini terjadi ketika negara tersebut sedang dalam kehancuran dan lelah dalam menghadapi perang dengan penyerang dari 
luar negeri. Berikut adalah beberapa pemberontakan terkenal yang tercatat dalam sejarah: 

1.Pada tahun 1373 Pheng Phu Kui, pengikut Bai Lian dari SheChuan mengumpulkan orang-orang, menyerang dan menjajah 14 kota secara berturut-turut dan pemerintah menghabiskan waktu beberapa bulan untuk 
menaklukkan mereka. 
2.Zin Kang Nu dan Tien Chiew Cheng berontak pada saat negara sedang kalah perang dengan Vietnam. 
3.Thang Sai Er mengambil keuntungan dari kesempitan ketika Jepang sedang mengganggu Liaw Tong yang terletak di timur laut China. 
4.Ketika ada ancaman dari Manchuria dan keluarga raja sedang mengalami keributan dalam kerajaan, Chao Ik San, atas nama Maitreya Buddha mengumumkan dirinya sebagai raja dan berontak melawan pemerintah. 
5.Wang Hsing and Chee Hong Joo paling terkenal dengan nama buruknya dan memiliki tentara yang terbesar. Pada saat keluarga raja dan rakyat pada umumnya sedang panik karena Manchuria sudah masuk perbatasan China dan telah menaklukkan 40 kota di Liaw Tong, Wang Hsing and Chee Hong Joo memimpin 2 juta tentara, menyerang dan menjajah kota-kota besar di propinsi Shantong dan bahkan mencuri alat transportasi pemerintah yang membawa makanan. Supaya dapat bertempur dengan tentara 
yang begitu besar, pemerintah terpaksa mengirimkan tentara di Liaw Tong. Ini berarti tentara Bai Lian memberikan bantuan besar kepada tentara Manchuria. 

Di antara penganut-penganut Bai Lian yang terkenal, terdapat seorang wanita, Tang Sai Er, yang memiliki ilmu hitam. Dia berkata bahwa dia telah memperoleh sebuah buku dari surga di mana buku tersebut 
diketemukan dari dalam batu besar. Dengan buku tersebut dia bisa menguasai roh-roh dan dewa/dewi dan bisa mendapatkan pakaian maupun makanan yang ia inginkan. 

Beribu-ribu orang awam, karena terpesona oleh ajaran sesatnya, mengikuti dia. Pada satu pertempuran dengan tentara kerajaan, Tang Sai Er menggunakan ilmu hitam untuk melindungi dirinya. Banyak roh-roh yang tampangnya mengerikan muncul di langit. Karena tahu bahwa Tang Sai Er mungkin akan menggunakan ilmu hitam, jenderal kerajaan itu membawa sedikit darah yang kemudian disiramkan ke roh-roh yang tampak 
itu. Dengan segera, roh-roh yang mengerikan tersebut berubah menjadi manusia-manusia dan kuda-kuda kertas. Sai Er berhasil meloloskan diri tetapi kemudian tertangkap. Dia dirantai dan dikirim ke ibukota dengan menggunakan kereta tahanan. Tetapi, dalam 
perjalanan, dengan kekuatan ilmu hitam, Sai Er berhasil bebas dari belenggu rantainya dan menghilang. Sejak saat itu dia tidak pernah diketemukan lagi. 

Ilmu hitam Tang Sai Er diperkirakan diwariskan ke generasi berikutnya. Pada tahun 1557, terdapat seorang yang bernama Ma Cu She di mana dengan ilmu hitamnya dapat membuat prajurit kertas menjadi seperti prajurit yang sebenarnya. Pada saat prajurit kertas itu diserang, ia akan berbalik menyerang dan melukai penantangnya, meskipun begitu, ketika rencana pemberontakan Ma Cu She diketahui oleh pemerintah, 
pemerintah segera mengirim tentara untukmenaklukkan Ma Cu She dan pengikutnya. Diperkirakan lebih dari 100 orang pengikutnya mati dalam medan peperangan, tetapi Ma Cu She sendiri berhasil lolos dari maut.

Pemimpin Kedelapan Yang Palsu 

Pada zaman Dinasti Ming, terdapat seorang pengikut Bai Lian yang paling jahat dalam sejarah di Cina. Ajaran sesatnya mempunyai pengaruh yang paling dalam dan luas terhadap pengikut-pengikutnya sampai saat 
ini. Nama orang itu adalah Lo Wei Ching, lahir pada tanggal 8 Januari 1446. Dia mengatakan bahwa Sesepuh Hui Neng adalah merupakan pemimpin 
Sangha yang terakhir, karena Jalan ke Surga telah berubah dari sistim kepemimpinan Sangha menjadi sistim kepemimpinan orang awam. Dia merekayasa sebuah cerita bagaimana dia menerima garis kepemimpinannya sebagai berikut: 

Seseorang yang bernama Pai Ik Chan menyelamatkan Sesepuh Ke-6 yang sedang dikejar oleh seorang bhikkhu kejam di ladang. Oleh karena itu, Pai Ik Chan diberikan baju dan mangkok sebagai bukti penerimaan garis 
keturunan pemimpin. Selama 3 tahun, Sesepuh ke-6 sembunyi di rumahnya. Kemudian Pai Ik Chan dan seorang guru besar Tao Ik dinobatkan bersama 
sebagai pemimpin ke-7. Ini benar-benar merupakan kebohongan yang besar dan menggelikan. 

Penjelasan yang benar adalah Sesepuh ke-6 lahir pada tanggal 8 February 638, sedangkan Pai Ik Chan lahir tahun 1194 pada jaman Dinasti Sung, sehingga ada perbedaan waktu 450 tahun. Maka itu, bagaimana dia bisa menyelamatkan Sesepuh ke-6? Kecuali waktu bisa 
berputar kembali. Guru Pai Ik Chan yang bernama Ma Tao Ik adalah cucu murid dari Sesepuh ke-6 dan lahir sedikitnya 400 tahun sebelum Pai Ik Chan. Oleh karena itu, bagaimana Pai Ik Chan bisa bertemu dengan 
pemimpin ke-6 sebelum guru dia Ma Tao Ik? Selain itu, Lo Wei Ching adalah orang yang hidup pada zaman Dinasti Ming, lahir beberapa ratus tahun setelah Pai Ik Chan, bagaimana Pai Ik Chan menyampaikan 
"Jalannya" kepada Lo Wei Ching? 

Seperti yang tertulis dalam sejarah agama Buddha, garis keturunan dari kepemimpinan berakhir pada Sesepuh ke-6 Hui Neng. Sistim kepemimpinan 
ini diteruskan ke China dari India oleh pemimpin Bodhidharma. Dia adalah Sesepuh pertama di China dan juga sebagai pendiri sekolah Zen di China. Sebelum meninggal, beliau mengatakan bahwa sistim kepemimpinan Zen akan berakhir pada Sesepuh ke-6. Sejak itu, hanya Dharma yang akan berputar, kain dan mangkok tidak merupakan tanda kepemimpinan. 

Berikut ini adalah ajaran sesat yang dipelopori oleh Lo Wei Ching: 

-Dia merupakan pendiri dari sistim kepemimpinan umat awam. Dia mengatakan bahwa "Jalan Surga" telah berubah dari sistim kepemimpinan Sangha menjadi sebuah sistim yang dikendalikan oleh umat awam 
(penerjemah: maksudnya tidak ada lagi Sangha dalam ajaran mereka). 

-Dia memulai semboyan bahwa "Tiga agama menjadi satu". Ketiga agama itu adalah Juisme (ajaran kuno di Cina), Taoisme dan Buddhisme. 

-Dia mengarang cerita bahwa Tuhan yang bernama Lao Mu ada di Surga Wu Zhi. Segala makhluk diciptakan olehNya. 

-Sejak terbentuknya Aliran Maitreya (Yi Guan Dao), selalu ada pernyataan bahwa sistim dunia terbagi menjadi 3 periode yakni Periode Hijau, Periode Merah dan Periode Putih. Periode Putih ini merupakan 
periode akhir zaman yang menurut mereka dunia akan kiamat pada periode ini. 

Lukisan tentang dunia kiamat oleh mereka sbb : Akan terjadi malapetaka angin, hembusan angin begitu kuat sehingga orang hanya akan mendengar "bum?" bagaikan surga akan ambruk dan bumi akan retak, dan hanya sekejap mata segala sesuatu benda musnah, tak satu makhlukpun yang terlihat. Mereka membuat cerita dunia kiamat dengan menjiplak teks ajaran Buddha dan kemudian melakukan banyak pengubahan-pengubahan. 

Menurut teks agama Buddha, periode waktu antara pembentukan alam dunia dihitung berdasarkan tiga kalpa: Kalpa Kecil, Kalpa Sedang dan Maha 
Kalpa. Aliran Yi Guan Dao (Aliran Maitreya) mengubah nama kalpa menjadi Periode. Sebenarnya teks agama Buddha mengatakan bahwa dunia akan musnah total pada akhir Maha Kalpa yang akan tiba pada trilliun 
tahun mendatang. Mereka mengatakan bahwa akhir kalpa akan segera datang supaya dapat membuat orang-orang menjadi panik dan masuk aliran 
sesat tersebut. 

Berdasarkan ajaran ini Lo Wei Ching selanjutnya menyatakan bahwa pada akhir Periode Putih (penerjemah: maksudnya akhir zaman), Tuhan mereka 
"Lao Mu" akan turun ke dunia membawa kembali 96 milyard anak-anak sejati ke sisiNya. Anak-anak ini akan menikmati kekayaan dan kemakmuran di surga sesuai dengan perbuatan baik mereka (pengertian 
perbuatan baik disini adalah dedikasi yang dalam kepada Aliran mereka). 

Agar dapat mengendalikan pengikut-pengikutnya, Lo mengeluarkan peraturan bahwa orang-orang yang mencari "Jalan Surga" harus bersumpah 
kepada Tuhan Lao Mu. Sumpah-sumpah itu sangat kejam dan berbunyi sebagai berikut: 

-Seorang tidak boleh mencari "Jalan Surga" dengan pura-pura 
-Seseorang tidak boleh mundur ketika diminta untuk maju 
-Seseorang tidak boleh membocorkan rahasia aliran, karena tindakan itu akan mengakibatkan tertangkapnya pemimpin dan kematian dari pemimpin aliran tersebut. 
-Seseorang tidak boleh tidak sopan kepada "Chien Jen" yakni gelar yang diberikan kepada pejabat tinggi dalam aliran itu. Chien Jen memegang jabatan "orang kedua" dalam aliran tersebut. (Jumlah Chien Jen sangat 
sedikit, tetapi selain pemimpin tertinggi mereka "She Mu" mereka memegang kekuasaan tertinggi dan disanjung oleh pengikut-pengikut mereka, dan saat mereka tiba ataupun pergi selalu diiringi tata cara 
yang khidmat seperti yang biasa dilakukan terhadap keluarga kerajaan atau pejabat kerajaan yang berpangkat tinggi). 
-Seseorang tidak boleh menganggur tanpa melakukan penyebaran ajaran mereka dengan penuh semangat. 

Siapa saja yang melanggar salah satu dari peraturan-peraturan tersebut di atas akan disambar halilintar dan dibakar lima kali. 

Dalam agama Buddha, terdapat satu hal yang amat penting yaitu Triratna: Buddha, Dharma dan Sangha. Maka untuk menandingi Triratna agama Buddha, Lo Wei Ching menciptakan Triratna versi dia sbb: 

-Menunjuk "Hsien Kuan" yaitu menunjuk bagian tengah dahi di antara kedua alis mata dengan menggunakan jari tengah oleh seorang pandita mereka yang disebut Tien Chuan She 
-Memberitahukan kode lisan yang terdiri dari 5 kata: Wu, Thai, Fu, Mi, Nek. 
-Mengatupkan tangan dengan cara-cara tertentu 

Seseorang yang ingin menjadi anggota baru harus mendapat rekomendasi dari dua orang anggota lama. Tetapi orang cacat, tukang jagal, pelacur-pelacur, preman-preman dan gelandangan-gelandangan tidak 
diterima sebagai penganut. 

Pada tahun 1527, usaha Lo Wei Ching untuk menggulingkan rezim itu gagal. Dia ditangkap dan kemudian dihukum mati dengan cara tubuhnya 
ditarik dan dikoyak oleh 5 kereta kuda. 

Kode Lisan 
Lima kode lisan yaitu Wu, Thai, Fu, Mi, Nek dikatakan sangat membantu dalam keadaan bahaya. Tetapi kode lisan ini tidak dapat dibocorkan kepada siapapun, bahkan orang tua sendiri, suami dan isteri atau anak 
mereka jika mereka bukan anggota. Pada zaman Dinasti Qing, lima kata itu dirubah lagi menjadi: Min, Ta, Pao, Sin, Ik. Tetapi kode ini dirubah kembali menjadi kode yang semula, ketika Dinasti Qing runtuh dan menjadi Republik. 

g. Dinasti Qing (Manchu) (1644-1911). 

Pada zaman Dinasti Qing, pemberontakan dari aliran Bai Lian (Yi Guan Dao) sangat sering terjadi, khususnya pada pemerintahan Raja Qian Long (1736-1795) dan Raja Jia Jing (1796-1820). Pada akhir Dinasti Qing, 
yaitu pada tahun ke-18 pemerintahan Raja Jia Jing, nama aliran Bai Lian berubah lagi menjadi aliran Tien Li atau kadang-kadang disebut aliran Pa Kua. Pada suatu pemberontakan pengikut-pengikut Bai Lian gagal dan mereka bubar. Sebagian mereka bertobat dan menjadi bhikkhu tetapi yang lainnya tetap setia pada alirannya. Untuk menghindari perhatian pemerintah, aliran Bai Lian dibagi menjadi berbagai cabang-cabang dengan nama yang berbeda-beda. Aliran "Yi Guan Dao" yang 
ada sekarang merupakan salah satu cabang dari aliran Bai Lian. 

He Liau Ko 
Dia merupakan pemimpin kedua Yi Guan Dao. Dia mulai berontak melawan Dinasti Ching pada pemerintahan Qian Long di tahun 1774. Dia adalah seorang penghasut dan perencana jahat. Beberapa pemberontakan yang 
terjadi pada masa itu adalah hasil hasutannya. Pada tahun 1795, dia melancarkan satu pemberontakan secara besar-besaran yang merusak banyak propinsi yakni She Chuan, Hu Pei, He Nan, An Hui, Khan Su dan 
lain-lain. Pemberontakan ini disebut dalam sejarah Cina sebagai "Kerusuhan oleh bandit-bandit dari aliran Bai Lian (sekarang disebut Yi Guan Dao). 

Wang Jue Yi 
Dia merupakan keturunan dari Wang Hsing yang terkenal dengan reputasinya yang buruk pada zaman Dinasti Qing. Pada akhir zaman Dinasti Qing, ada organisasi yang memberikan pelatihan tinju yang 
disebut Yi He Tuan (Tuan== bataion) atau disebut Yi He Quan (Quan==tinju). 

Organisasi ini berkedok sebagai tempat pelatihan tinju padahal organisasi ini Yi He Tuan adalah organisasi militer dengan cabang-cabang yang tersebar di berbagai tempat. Wang Jue Yi adalah panglima dari organisasi ini. Dengan kata lain, sebenarnya Yi He Tuan 
adalah organisasi Pai Lian (sekarang disebut Yi Guan Dao).

Sudah tentu, aliran Pai Lian masih dibawah pengawasan ketat dari pemerintah. Usaha pembasmian dari pemerintah terhadap pemberontak Pai Lian masih sering dilakukan. Pada saat itu, Ibu Suri Ci Xi ingin 
menggulingkan Kaisar dari tahta dengan tujuan untuk mengalihkan tahta kerajaan kepada keponakannya (Kaisar itu adalah anak dari hasil perkawinan selir dengan kaisar almarhum), tetapi rencana Ci Xi 
mendapat hambatan yang luar biasa dari pihak asing yang mendukung Kaisar. Supaya bisa menangani orang-orang asing tersebut, Ibu Suri 
mengizinkan anggota Yi He Tuan memasuki ibukota. Anggota seperguruan tertua (paling senior) yang bernama Chao Fu Thien, bersama dengan 
pemimpin-pemimpin cabang lainnya dipanggil ke istana untuk diberikan kehormatan berupa topi dan jubah yang mana hadiah ini hanya boleh dipakai oleh pejabat-pejabat tinggi di istana. Ini merupakan yang 
kedua kali dalam sejarah Cina dimana aliran sesat ini disetujui oleh pemerintah. Tidak lama setelah aliran Bai Lian masuk ibukota, sekretaris Duta Besar Jepang dibunuh dan menyusul peristiwa itu, terjadi pembakaran dan pembunuhan secara besar-besaran. Pembakaran dan pembunuhan tersebut mengakibatkan pengaruh yang sangat besar dalam sejarah yaitu delapan negara asing (yaitu Inggeris, Amerika, Perancis, 
Jepang, Rusia, Austria dan Itali) bergabung dalam membentuk tentara sekutu untuk menyerang dan menduduki ibukota Cina. Inilah yang dalam sejarah dikenal sebagai Pemberontakan Boxer. 

Setelah kejadian ini, anggota seperguruan tertua Chao Fu Thien, ditangkap oleh penduduk sekampung dengan kedua tangan diikat untuk diserahkan kepada pemerintah. Chao Fu Thien kemudian dihukum mati. 
Aliran sesat ini kembali mendapat larangan dari pemerintah Cina. Dengan kata lain, pengesahan aliran sesat ini hanya bertahan lebih kurang sebulan saja. 

h. Republik Cina (1911- sekarang). 

Chang Thian Ran. 
Dia adalah pemimpin ke-18 aliran Yi Guan Dao. Dia dibesarkan di keluarga yang menganut aliran Pai Lian selama beberapa generasi. Semua pemimpin aliran sesat ini menyatakan dirinya sebagai inkarnasi Buddha 
Maitreya, namum ironisnya, semuanya mempunyai ambisi menjadi kaisar dan berakhir dengan kematian tragis. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan diatas, maka Chang Thien Ran merubah pernyataan 
"Inkarnasi Buddha Maitreya" menjadi "Manusia Buddha Ci Kong". Dengan kata lain, dia menamakan dirinya sebagai Manusia Buddha Ci Kong. 

Chang Thien Ran menyatakan dirinya telah menerima suatu mandat dari surga untuk menjadikan dirinya sebagai pemimpin ke-18 Yi Guan Dao.

Dia  menyebarkan doktrin yang sesat sebagaimana pendahulunya melakukan yakni "Sakyamuni Buddha telah mengundurkan diri sebagai Lord of Buddhism dan Maitreya Buddha telah mengambil alih dalam pembabaran Buddhadharma. Disamping doktrin sesat yang telah tersebar luas ini, dia juga menyebarkan pernyataan yang menyimpang bahwa zaman di dunia 
ini terdiri dari 3 periode: 

-Periode (zaman) Hijau merupakan periode untuk Dipankhara Buddha 
-Periode (zaman) Merah merupakan periode untuk Sakyamuni Buddha 
-Periode (zaman) Putih merupakan periode terakhir dibawah naungan Maitreya Buddha. Dengan kata lain, kalpa sekarang adalah kalpa Maitreya Buddha. 

Pada tahun 1946, Chang Thien Ran ditangkap karena menyebarkan doktrin sesat yang meracuni pikiran masyarakat setempat bahwa dengan menyatakan kode rahasia akan membuat mereka menjadi Buddha dalam 
bentuk manusia. Disamping itu, dia juga bergabung dengan Jepang melakukan kerusuhan di ibukota. 

Pada tanggal 13 Agustus 1947, Chang Thien Ran ditembak mati oleh regu penembak pemerintah di Cheng Tu, ibukota She Chuan. Tindak kejahatannya diterbitkan di koran-koran setempat. Menyusul peristiwa 
ini, pemerintah mengeluarkan larangan keras segala aktivitas Yi Guan Dao. 

Setelah kematian Chang Thien Ran, isterinya yang bernama Sun Suk Cen, sering dipanggil dengan SheMu (gelar kehormatan untuk isteri guru) dijadikan pemimpin tertinggi Yi Guan Dao. Tidak lama kemudian Sun Suk 
Cen datang ke Taiwan dan menjadi pemimpin tertinggi Yi Guan Dao di Taiwan. 

3. Sutra-Sutra palsu yang menjadi doktrin Maitreya. 

Sejarah mencatat bahwa Agama Buddha masuk ke Tiongkok pada jaman Dinasti Han (202 SM ? 221 M). Masuknya agama asing tersebut telah membangkitkan perasaan tidak senang di kalangan agama lain yang lebih tua atau asli Tiongkok, seperti misalnya Agama Dao (baca Tao). Untuk menunjukkan bahwa Agama Tao lebih unggul maka dikaranglah Sutra-Sutra palsu untuk mendukung hal tersebut.Isinya antara lain menyebutkan bahwa Sang Buddha hanyalah merupakan salah satu penjelmaan Lao tzu (pendiri Agama Tao). Versi lain mengatakan bahwa Lao tzu telah menghilang dan pergi ke India. Ia mempertobatkan banyak orang di sana 
dan menjadi Buddha. Ada lagi yang mengatakan bahwa Lao tzu telah pergi ke India dan mengajar Sang Buddha ajaran kebijaksanaan. Inti sari dari semuanya adalah berusaha membuktikan bahwa Agama Buddha adalah berasal dari Agama Tao. 

Salah satu karya semacam itu misalnya adalah Lao-tzu Hua-hu-cing atau Sutra Pertobatan Kaum Barbar, karangan seseorang bernama Wang Fu pada 
abad keempat M. (v). Anehnya doktrin yang dianut oleh Aliran Yi Guan Dao juga mencerminkan ajaran-ajaran semacam itu. 

B. AJARAN UTAMA. 

Untuk meneliti Ajaran Maitreya dapat membuka website sebagai berikut: 

Bahasa Inggris: 
http://www.taoism.net/gateways/Buddha.htm 
home.kimo.com.tw/yp2758/Eyiguantao.html 
http://www.taoism.net/html.html 

Bahasa Indonesia: 
http://www.buddhismemaitreya.org/ 
http://www.dutamaitreya.org/ 

1.Maitreya telah datang menjelma ke dunia ini dan terlahir sebagai guru mereka. 

Umat Buddha Maitreya meyakini bahwa guru mereka adalah penjelmaan Buddha Maitreya dan Era Sakyamuni Buddha telah berakhir, jadi mereka 
yakin bahwa Maitreya telah hadir di dunia ini. Namun marilah kita perhatikan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri. 

Kritikan: Mari kita perhatikan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha 
dalam CAKKAVATTI-SIHANADA SUTTA, Sutta ke-26 dari DIGHA NIKAYA: 

"Pada saat itu [kota] yang sekarang merupakan Varanasi akan menjadi sebuah ibu kota yang bernama Ketumati, kuat dan makmur, dipadati oleh 
rakyat dan berkecukupan. Di Jambudipa akan terdapat 84.000 kota yang dipimpin oleh Ketumati sebagai ibu kota. Dan pada saat itu orang akan memiliki usia kehidupan sepanjang 84.000 tahun, di kota Ketumati akan bangkit seorang raja bernama Sankha, seorang Cakkavati (Raja Dunia), seorang raja yang baik, penakluk keempat penjuru? Dan pada saat orang 
memiliki harapan hidup hingga 84.000 itulah muncul di dunia seorang Yang Terberkahi, Arahat, Sammasambuddha bernama Metteya?.." 

Jadi saat Metteya (Maitreya dalam Bahasa Sansekerta) hadir di dunia ini akan terdapat hal-hal sebagai berikut: 

1.Terdapat kota "megapolis" yang bernama Ketumati. 
2.Terdapat 84.000 kota di Jambudipa. 
3.Terdapat seorang raja bernama Sankha. Beliau seorang Cakkavati atau raja dunia. 
4.Manusia dapat hidup hingga mencapai 84.000 tahun 

Nah, pada kenyataannya keempat hal di atas belum terwujud atau belum ada. Hingga saat ini usia hidup hingga mencapai 84.000 tahun masih merupakan sesuatu yang teramat sangat fantastis dan susah dibayangkan manusia. Dapat hidup hingga mencapai usia 100 tahun saja sudah merupakan sesuatu yang luar biasa. 

Marilah kita coba pelajari tanda-tanda lainnya sebagaimana yang 
terdapat dalam BUDDHAVACANA MAITREYA BODHISATTVA SUTRA: 

"O, Arya Sariputra! Pada saat Buddha baru tersebut dilahirkan di dunia 
Jambudvipa. Situasi dan kondisi dunia Jambudvipa ini jauh lebih baik daripada sekarang! Air laut agak susut dan daratan bertambah. Diameter permukaan laut dari ke 4 lautan masing-masing akan menyusut kira-kira 
3000 yojana, Bumi Jambudvipa dalam 10.000 yojana persegi ? persis kaca dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan bersih?" 

Nah, pertanyaannya apakah sekarang kondisi dunia sudah lebih baik dari jaman Sang Buddha? Jawabnya belum! Apakah kondisi fisik dunia sudah seperti yang digambarkan pada Sutra di atas? Jawabnya juga belum! Karena itu jelas sekali Maitreya belumlah terlahir di muka bumi ini dan saat ini masih jaman Buddha Sakyamuni. 

2.Jaman Tiga Pancaran 

Umat Buddha Maitreya membagi jaman dalam apa yang mereka sebut dengan tiga pancaran. 

(i).Jaman pancaran hijau, Buddhanya adalah Dipankara. 
(ii).Jaman pancaran merah, Buddhanya adalah Sakyamuni. 
(iii).Jaman pancaran putih, Buddhanya adalah Maitreya. 

Sekarang telah memasuki jaman pancaran putih, karena itu ajaran Buddha Sakyamuni tidak berlaku lagi. 

Kritikan: Marilah kita pelajari urutan Buddha-Buddha yang telah hadir di dunia ini sebagaimana yang tercantum dalam kitab suci Tipitaka: 
BUDDHAVAMSA, yang merupakan bagian ke-14 dari KHUDDAKA NIKAYA menyebutkan mengenai 25 Buddha pada masa lampau (dengan menambahkan 
nama 18 Buddha pada daftar 7 Buddha yang terdapat pada Mahapadana Sutta): Dipankara, Kondanna, Mangala, Sumana, Revata, Sobhita, Anomadassin, Paduma, Narada, Padumuttara, Sumedha, Sujata, Piyadassin, Atthadassin, Dhammadasin, Siddhattha, Tissa, Phussa, Vipassin, Sikhin, Vessabhu, Kakusandha, Konagama, Kassapa, dan Gotama (Sakyamuni). Lalu kalau begitu kemanakah Buddha-Buddha yang telah 
hadir di antara Buddha Dipankara dan Buddha Sakyamuni. Digolongkan dalam pancaran apakah Mereka itu? Jelas sekali pengarang ajaran 
Maitreya tidak paham Tipitaka. Mereka tidak menyadari bahwa di antara Buddha Dipankara dan Buddha Sakyamuni masih terdapat banyak Buddha-Buddha lainnya. Kalau mereka sendiri tidak paham Tipitaka 
bagaimana dapat kita mempercayai ajaran mereka?

3.Triratna atau Tiga Mestika (San Bao) ala Maitreya. 

Ada tiga mestika atau San Bao yang diajarkan oleh aliran Maitreya: 

(i).Membuka apa yang disebut dengan "pintu suci", yakni suatu titik di tengah-tengah alis. Aliran Yi Guan Tao (Maitreya) mengajarkan bahwa titik tersebut merupakan titik tempat keluarnya roh yang benar pada 
saat seseorang akan meninggal. 

(ii).Mengatupkan tangan dengan cara tertentu: telapak tangan kanan dengan posisi empat jari merapat, kecuali ibu jari, posisi horisontal agak mengarah ke bawah menekuk membentuk huruf V dengan telapak bagian 
dalam menghadap ke arah tubuh kita. Telapak tangan kiri dengan posisi sama seperti tangan kanan menempel menutupi telapak tangan kanan sehingga telapak tangan kanan berada di antara telapak kiri dan 
tubuh kita. Ujung ibu jari tangan kiri menyentuh kuku ibu jari tangan kanan, kedua ibu jari posisi horizontal mengarah ke bawah. 

(iii).Lima kata rahasia yang tidak boleh bocor berbunyi: "Wu Tai Fo Mi Le." 

Kritikan: Bagi seseorang yang belajar Buddha Dharma, maka tidak dikenal istilah "pintu suci" atau tempat keluarnya roh. Lagipula dalam Buddhisme tidak dikenal adanya roh yang kekal (atta). Juga tidak pernah ada yang namanya mengatupkan tangan ala Maitreya dan lima kata rahasia tersebut. Yang menjadi pertanyaan mengapa kata-kata tersebut harus dalam Bahasa Mandarin? Tidak bolehkah diterjemahkan 
dalam bahasa lain? Hal ini juga bertentangan dengan Buddha Dharma, dimana Sang Buddha mengajarkan bahwa Dharma ajarannya bolehlah diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Lebih jauh lagi apa yang 
mereka sebut dengan tiga mestika tersebut jauh sekali berbeda dengan yang terdapat dalam Buddha Dharma. 

4.Lao Mu 

kita baca puisi yang ditulis oleh Aliran Maitreya berikut ini: 
"Buddha Maitreya, bangkitkanlah kekuatan jiwa, sehingga aku mampu bangkit dari kegelapan... Bekerja dan berkorban dalam nama LAOMU adalah pengimpasan dosa, namun tetap kulakukan tanpa pamrih. Membina diri berarti mencintai diri sendiri. Siapa membina, dialah yang mendapatkan. Bukanlah LAOMU yang menjauhiku, melainkan akulah yang 
telah menjauhkan diri dari LAOMU. Buddha Maitreya, bantulah aku dalam menghancurkan ego ini, sehingga 
mampu menjadi seorang pengasih bagi sesama. 
Terima kasih LAOMU, kesempatan masih Kau berikan kepadaku. LAOMU, melalui alam semesta, aku bersaksi akan kebesaran Kasih dan Kuasa-Mu! 

Datang kepada LaoMu 

Ada kalanya kita lelah dan datang kepada LaoMu, tetapi tampaknya LaoMu diam saja. Lao Mu sepertinya meninggalkan kita menghadapi semua masalah itu sendiri. Sesungguhnya tak ada yang lebih benar dari LaoMu. 'LaoMu tak pernah meninggalkan kita' terlebih-lebih disaat kita dalam keadaan sulit. Hingga ada kisah yang mengatakan orang jahat lebih dekat dengan surga karena semakin jahat seseorang maka Tuhan akan 
berada semakin dekat untuk menyadarkannya. 
Penyebab mengapa kita merasa 'dianggap sepi' adalah karena kita datang sebagai cangkir yang sudah terlalu penuh. Tak ada lagi tempat kosong bagi LaoMu dan para Buddha untuk meletakkan penghiburan serta kekuatan bagi kita. Ketika menghadap LaoMu , hendaknya membiarkan hening mengisi diri, 
biarkan cangkir menjadi kosong. Ketika kita sedih tak perlu datang dengan kata-kata, LaoMu mengetahui dengan jelas semua yang kita alami. Hanya ada kita yang mau berserah diri untuk dihibur-Nya dan bersandar pada tiang-Nya. Jika kita menghendaki LaoMu berkuasa sebagai Sang penghibur sejati dan 
sumber kekuatan diri, maka jangan pernah meragukan petunjuk-Nya. Ingat ketika kita merasa sedih, merasa pilu, merasa derita pastikan dalam diri kita bahwa LaoMu ada disamping kita, sebaliknya jika kita 
merasa bahagia, gembira LaoMu juga menyertai kita. " 

Kritikan: Pertama kali tidak ada dalam Agama Buddha sesuatu yang disebut dengan nama Lao Mu. Menilik puisi di atas jelas sekali Umat Maitreya hendak mengasosiasikan Lao Mu dengan Tuhan, padahal dalam Buddhisme tidak dikenal konsep Tuhan semacam itu. Tidak ada Tuhan yang pengasih, sebagaimana yang dibabarkan Sang Buddha dalam JATAKA VI:208: 

"Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan. Mengapa "mahadewa" itu tidak menciptakan secara baik? 
Bila kekuatannya dikatakan tak terbatas, 
Mengapa tangannya begitu jarang memberkati, 
Mengapa dia tidak menganugerahi kebahagiaan saja? 
Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela 
Mengapa kepalsuan menang, sebaliknya kebenaran dan keadilan gagal 
Saya menganggap, padangan tentang "mahadewa" adalah Ketakadilan yang membuat dunia yang diatur keliru." 

Demikianlah pandangan Buddhis tentang Tuhan sudah jelas dan tidak ada yang namanya Lao Mu sebagai Tuhan ataupun mahadewa. Sajak-sajak di 
atas jelas lebih dekat pada Kr*st*n daripada Buddhisme. Oleh sebab itu jelas sekali Yi Guan Tao bukanlah Buddhis. 

C.KESIMPULAN. 
Sebenarnya masih banyak kesalahan ajaran Yi Guan Tao ditinjau dari sudut pandang Buddhisme, namun karena terbatasnya waktu akan dibatasi 
sampai di sini saja, karena hal-hal yang dipaparkan di atas sudah cukup jelas membuktikan perbedaan doktrin yang menyolok antara Buddhisme yang sejati dengan Yi Guan Tao. Yang kita perlu tahu hanya satu hal: YI GUAN TAO BUKAN BUDDHIS dan banyak ajarannya yang 
bertentangan dengan Buddhisme yang sejati. 
Bagi Umat Yi Guan Tao saran saya belajarlah Buddhisme yang sejati, agar pintu penerangan sempurna terbuka bagi kalian. Marilah kembali ke 
pangkuan Buddha Dharma yang sejati. 

DAFTAR PUSTAKA 
Mizuno, Kogen: Buddhist Sutras, Origin, Development, Transmission, 
Kosei Publishing, Tokyo, 1995. 

Dharma Pitaka 

Walshe, Maurice: The Long Discourses of the Buddha, A Translation of 
the Digha Nikaya, Wisdom Publication, 1995. 

Paludan, Ann: Chronicle of The Chinese Emperors, Thames & Hudson, 
1999. 

**************** 
Sebagaimana ia mengajari orang lain,

Demikianlah hendaknya ia berbuat.

Setelah ia dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,

hendaklah ia melatih orang lain.

Sesungguhnya amat sukar untuk mengendalikan diri sendiri.

(DHAMMAPADA, syair 159 )

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,

Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.

Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.

Tak seorangpun yang dapat mensucikan orang lain.

(DHAMMAPADA, syair 165)

Rabu, 25 Mei 2016

KESABARAN

Oleh YM. Bhante Pannyawaro.

Kesabaran Tidak ada latihan diri yang melebihi kesabaran. Tanpa kesabaran semua latihan akan berhenti di tengah jalan. Kesabaran bukan berarti kita harus berdiam masa bodo, tetapi kesabaran adalah suatu sikap untuk bertahan dengan pengertian yang terang dan jelas, mempertahankan sesuatu yang diperjuangkan. Itulah kesabaran. Saya mungkin bisa menggunakan kata lain yang lebih mengena untuk memperjelas kesabaran ini dengan kata : keuletan, keuletan yang terus menerus, yang tidak menyerah, yang tidak berhenti, tidak mengeluh, tetapi tetap berjuang.

Orang tua, guru, pemuka agama hanya bisa menceritakan tentang kesabaran, menceritakan tentang keuletan , tetapi mereka mungkin tidak bisa mendidik, melatih keuletan atau kesabaran. Siapakah guru yang sesungguhnya yang bisa melatih keuletan, kesabaran? Guru yang paling baik yang bisa melatih meningkatkan keuletan dan kesabaran adalah orang-orang yang tidak menyukai kita, orang-orang yang mengganggu, mereka yang menjengkelkan, mereka yang membuat masalah kepada diri kita, mereka itulah yang sesungguhnya yang melatih kita untuk sabar, untuk ulet, dan untuk bertahan.

Orang yang menjengkelkan, yang menfitnah, yang marah kepada kita, yang salah paham kepada kita, yang sengaja merongrong kita, mereka itulah guru yang baik, guru yang sebenarnya melatih diri kita untuk sabar dan mempunyai keuletan. Orang-orang yang memanjakan kita, orang yang sering membantu kita, bukanlah guru yang baik, yang bisa melatih kesabaran kita. Tetapi memang kita tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada "guru kesabaran yang baik" itu. Anggaplah mereka guru yang baik di dalam latihan kita, supaya kita tidak membenci mereka. Bahkan mereka bisa meningkatkan kesabaran akibat kesulitan-kesulitan yang mereka buat terhadap kita.

Laut itu menjadi luas karena letaknya lebih rendah dari segala-galanya. Sehingga semua sungai-sungai mengalir menuju lautan. Oleh karena itu, kalau kita mau sabar dan rendah hati, kita menjadi besar.
Kalau punya kesulitan yang hebat, berusahalah untuk menghadapi dengan tegar. Jangan mudah mengeluh! Orang mengeluh itu seperti menjual belas kasihan, supaya orang lain mau menolong dirinya. Jadi kemampuannya hanya minta tolong. Jangan menual belas kasihan. Kalau menjual belas kasihan untuk mendapatkan pertolongan, sikap itu akan menghancurkan daya tahan mentalnya sendiri.

Bagaimana supaya keuletan itu bisa menumbuhkan kekuatan mental? Cobalah kerjakan apa saja dengan sungguh-sungguh,. kalau menyapu, menyapulah dengan sungguh sungguh, sampai bersih; mengatur meja, aturlah dengan sungguh-sungguh; melayani pembeli, layanilah dengan sungguh-sungguh; membuat tulisan, buatlah dengan sungguh-sungguh; sampai sekecil-kecilnya, buatlah sungguh-sungguh, sesempurna mungkin.

Memang secara duniawi hasilnya bagus, tetapi ada hasil yang tidak kelihatan mata. Kalau kita membiasakan diri berkerja dengan sungguh-sungguh, tidak separuh-separuh, sikap mental ini mahal sekali harganya.

Selasa, 24 Mei 2016

Keputusan WBSC tentang aliran yang termasuk ajaran BUDDHA


Pendahuluan


Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.

Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.

Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.

Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia

Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.

WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.

Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan. 

Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:

1.Sang Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.
2.Kami berlindung dalam Ti Ratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).[1]
3.Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan.[2]
4.Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.
5.Kami menerima Empat Kebenaran Arya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).
6.Kami menerima Tigapuluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.
7.Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Samyaksambuddha / Sammasambuddha. 
8.Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain. [3]
9.Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Perluasan Rumusan

Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:

1.Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.
2.Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaranNya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.
3.Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.
4.Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.
5.Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha , kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya , kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda , kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga , kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
6.Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.
7.Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).
8.Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
1.Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
2.Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
3.Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
4.Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
5.Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
6.Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
7.Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).

9.Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan  tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan  Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.
10.Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Rumusan Lain

Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.

Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:

1.Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.
2.Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.
3.Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.
4.Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.
5.Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.
6.Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.

Rumusan dari Oo Maung:

1.Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Arya.
2.Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.
3.Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.
4.Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.
5.Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.
6.Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.

Rumusan dari Tan Swee Eng:

1.Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.
2.Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.
3.Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.
4.Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.
5.Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.

Penutup

Dengan rumusan pokok-pokok dasar pemersatu ini, diharapkan kita dapat memahami ciri khas ajaran yang ada dalam Buddhisme yang membedakan agama besar ini dengan agama atau kepercayaan lainnya yang ada di dunia. Kita dapat memahami bahwa meskipun terdapat perbedaan antar aliran, namun memiliki ajaran pokok yang sama yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengarahkan kita pada akhir penderitaan, Nibbana / Nirvana.

Catatan:

1.Berlindung dalam Ti Ratana bukan berarti berserah diri. Buddha dalam pengertian Guru pembimbing, dimana Sakyamuni Buddha adalah Buddha Sejarah. Dan Buddha dalam pengertian Kesadaran. Dhamma dalam pengertian Kebenaran ataupun Ajaran Buddha. Sangha dalam pengertian persaudaraan / perkumpulan para Bhikkhu Arya.
2.tuhan yang dimaksud adalah yang memiliki definisi: berpersonal, pencipta semesta, prima causa, ayah/ibu dari semua makhluk, paramatman, yang maha segalanya.
3.Savakabuddha : pencapaian Pencerahan melalui mendengar ajaran dari Sammasambuddha.   Paccekabuddha : pencapaian Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa mengajar. Sammasambuddha : pencapaian pencerahan dengan usaha sendiri dan mengajar.

Literatur:

1.The Heritage of the Bhikkhu ; Walpola Rahula; New York, Grove Press, 1974; hal. 100, 137-138.
2.Two Main Schools of Buddhism ; K. Sri Dhammananda; Brickfields, Kuala Lumpur.
3.Common Ground Between Theravada and Mahayana Buddhism ; Tan Swee Eng; www.buddhanet.netTheravada Versus Mahayana ; Oo Maung, 2006

Minggu, 22 Mei 2016

NIAT BAIK

Oleh: YM Bhante Sri Pannyavaro.

Di negara yang mayoritas penduduknya adalah umat Buddha, patung Buddha ada dimana-mana. Kadang di salah-satu sudut perempatan jalan, di depan kantor, di sekolah-sekolah, di tepi jalan. Ada yang kecil, ada yang sedang, ada juga yang besar. Patung Buddha itu dihormati karena patung itu merupakan lambang kehadiran Buddha.

Suatu hari ada umat Buddha berjalan di suatu desa. Dia melihat patung Buddha kecil kehujanan. Dia berpikir,"Wah, ini tidak pantas. Air hujan membasahi patung Buddha yang tidak ada atapnya. "Timbul niat untuk menghormati Buddha. Tetapi, dia sendiri tidak membawa payung, pakaiannya basah. Patung itu hendak diangkat tapi di rekatkan dengan semen dialasnya. Dia melihat ke kanan, ke kiri. Lalu terlihat ada sebuah sepatu yang sudah di buang, yang sudah jebol , baunya mungkin tidak keru-keruan. Sepatu jebol itu diambil, lalu ditaruh diatas kepala patung Buddha, supaya patung Buddha tidak kehujanan. Kemudian dia pergi.

Pada waktu hujan berhenti, ada orang lain lewat dan dia juga umat Buddha. Dia berpikir, "Ini tidak betul, tidak masuk akal. Ini adalah penghinaan. Ada sepatu butut di atas kepala patung Buddha." Karena orang ke dua ini ingin menghormat Buddha, lalu diambilnya sepatu jebol itu lalu dibuang.

Dua orang itu sama-sama memiliki niat yang baik. Dua orang itu sama-sama mempunyai tindakan yang baik, meskipun caranya berbeda. Orang yang pertama mengerudungi kepala patung dengan sepatu butut dengan niat baik, tetapi orang yang kedua mengatakan perbuatan ini tidak baik. Orang yang pertama tetap mempunyai nilai yang positif, meskipun orang lain menilai itu buruk.

Kalau saya menanam jagung, kemudian tumbuh. Sebelum berbuah, orang lain melihat apa yang saya tanam itu lalu berkata, "Ini bukan jagung. Ini adalah jali." Tidak menjadi soal, meskipun orang menilai jagung ini sebagai jali, karena pada waktu nanti berbuah, benih jagung akan tetap membuahkan jagung. Dengan demikian, kita tidak perlu pusing dengan apa yang akan dihasilkan nanti.

Benih atau bibit itu seperti kehendak. Kalau kita sudah memastikan bahwa kehendak kita itu baik, tidak merugikan orang lain dan juga dirinya sendiri, maka tidak perlu pusing bila ada yang salah paham. Ucapan dan perbuatan baik kita- sekalipun mungkin orang lain bisa salah paham-nilainya tetap baik. Apakah orang kedua yang melempar sepatu butut dari atas kepala patung Buddha itu bisa menghancurkan niat baik orang yang pertama? Tidak! Dan apakah karena merusak hasil orang yang pertama, lalu yang dilakukan orang kedua itu adalah tidak baik? Juga tidak! Orang kedua juga melakukan hal yang baik karena dia membuang sepatu butut itu dengan niat yang baik juga.

Kalau kita bisa memeriksa dan memastikan bahwa tidak ada unsur yang tidak baik, maka hal itu pasti baik. Sekali pun orang lain bisa salah paham kepada kita--dan sekali pun kita sudah melakukan namun tidak berhasil--nilainya akan tetap baik. Itulah yang disebut dengan kewaspadaan. Orang yang waspada adalah orang yang selalu memeriksa kehendaknya, mengamat-amati kehendaknya sendiri, jangan sampai timbul kehendak yang tidak baik, yang bisa merugikan orang lain dan juga menghancurkan dirinya sendiri.

Mari share dan menginspirasi semua orang.

Mensucikan Hati

Oleh: Yang Mulia Ajahn Chah

Akhir-akhir ini banyak orang pergi ke berbagai tempat untuk melakukan kebajikan (memberikan persembahan) ke vihara. Dan mereka tampaknya selalu singgah di Wat Ba Pong (sebuah vihara di Thailand), entah dalam perjalanan perginya, atau pada pulangnya. Beberapa orang begitu terburu-buru sehingga saya tidak sempat bertemu atau pun bercakap dengan mereka.

Kebanyakan orang mencari kebajikan, tetapi saya lihat tidak banyak yang mencari jalan keluar dari perbuatan salah. Mereka begitu bernafsu mendapatkan jasa, tetapi tidak tahu akan menempatkannya di mana. Ini seperti mencoba mewarnai kain yang kotor, dengan tidak mencucinya.

Walau para bhikkhu berbicara terus terang seperti ini, tetapi banyak orang mengalami kesulitan untuk melaksanakannya dalam praktek. Hal ini sulit karena mereka tidak mengerti, padahal jika mereka mengerti akan menjadi lebih mudah. Misalkan ada sebuah lubang dan ada sesuatu pada dasarnya. Siapapun yang memasukkan tangannya ke dalam lubang tersebut dan tidak dapat menyentuh dasarnya akan mengatakan bahwa lubang itu terlalu dalam. Dari 100 bahkan 1000 orang yang melakukannya, mereka semua berkata bahwa lubangnya yang terlalu dalam. Tidak ada yang mengatakan bahwa lengan merekalah yang terlalu pendek!
Ada begitu banyak orang yang mencari jasa/kebajikan. Cepat atau lambat mereka harus mulai mencari jalan keluar dari perbuatan salah. Akan tetapi tidak banyak orang tertarik akan hal ini. Ajaran Sang Buddha begitu singkat, tetapi sebagian besar orang melewatkannya begitu saja, seperti halnya mereka hanya melewati Wat Ba Pong. Bagi banyak orang itulah Dhamma, hanya sekedar titik perhentian.

Hanya 3 baris, tidak lebih. Sabba papassa akaranam: menahan diri dari semua perbuatan salah; Kusalassupasampada: senantiasa mengembangkan kebajikan; Sacittapariyodapanam: menyucikan batin; Itulah ajaran dari semua Buddha. Inilah inti dari ajaran Buddha. Tetapi orang terus melewatinya, mereka tidak menginginkan itu. Pelepasan dari segala perbuatan salah, besar atau kecil, baik dalam ucapan, fisik dan mental…. inilah inti ajaran pertama dari semua Buddha.

Jika kita ingin mewarnai sehelai kain kita harus mencucinya terlebih dahulu. Tetapi banyak orang tidak mau melakukan hal ini. Tanpa melihat kondisi kain, mereka langsung saja mewarnai kain tersebut. Jika kain itu kotor, mewarnainya hanya akan membuat kain itu lebih kotor. Pikirkanlah hal ini. Mewarnai kain kotor, dapatkah kelihatan baik?

Kita lihat? Beginilah agama Buddha mengajarkan, tapi banyak orang melewatkannya begitu saja. Mereka hanya ingin melakukan perbuatan baik, tetapi mereka tidak mau melepaskan perbuatan salah mereka. Ini sama halnya dengan mengatakan “lubang itu terlalu dalam”. Semua mengatakan bahwa lubang itu terlalu dalam, tidak ada yang mengatakan bahwa lengan merekalah yang terlalu pendek. Kita harus kembali kepada diri kita sendiri. Dengan ajaran ini kita harus mundur dan mengamati diri kita sendiri.
Kadang-kadang mereka pergi mencari jasa kebajikan bagaikan berada di dalam bis. Mereka mungkin bertengkar dalam bis, atau bahkan mabuk. Tanyakan pada mereka arah tujuannya dan mereka akan mengatakan mereka mencari jasa. Mereka mau jasa, tetapi mereka tidak mau menghentikan perbuatan salah mereka. Maka mereka tidak akan memperoleh jasa dengan cara seperti itu.

Begitulah manusia. Kita harus mengamati diri sendiri dengan dekat dan jelas. Sang Buddha mengajarkan tentang adanya kesadaran (awareness) dan perenungan (recollection) dalam segala situasi. Perbuatan salah dapat timbul baik lewat tindakan secara fisik, lewat kata-kata, dan pikiran. Apakah kita membawa pikiran, perbuatan dan perkataan kita hari ini? Atau hanya kita tinggalkan di rumah? Di situlah harus kita lihat, tepat di situ. Kita tidak perlu melihat terlalu jauh. Lihatlah pada pikiran, perkataan, dan perbuatan. Lihat apakah tingkah laku kita sudah betul, atau masih salah.

Orang tidak benar-benar melihat hal-hal semacam ini. Seperti seorang ibu yang mencuci piring dengan cemberut. Dia begitu terpaku pada usahanya membersihkan piring-piring tersebut sehingga tidak menyadari bahwa pikirannya sendiri kotor. Pernahkah anda melihat hal semacam ini? Dia hanya melihat piring-piring tersebut. Dia melihat terlalu jauh, bukan? Saya kira beberapa di antara kita mungkin telah mengalami hal semacam ini. Di sinilah kita harus melihat. Orang berkonsentrasi untuk membersihkan piring tetapi mereka membiarkan pikiran mereka kotor. Ini tidak baik. Mereka melupakan diri sendiri.

Karena orang tidak melihat diri sendiri, maka mereka dapat melakukan segala macam perbuatan tercela. Mereka tidak melihat pikiran mereka sendiri. Ketika akan melakukan sesuatu yang jelek, orang sering melihat ke sekeliling terlebih dahulu untuk melihat apakah ada orang yang mengamati… “Apakah dilihat Ibu?” “Apakah dilihat suami saya?” “Apakah dilihat anak-anak?” “Apakah dilihat istri saya?” Jika tidak ada yang mengamati maka mereka akan langsung melakukannya. Ini sebenarnya merendahkan diri sendiri. Mereka berkata: “Tidak kelihatan orang, kok”, jadi langsung saja mereka lakukan. Tetapi bagaimana dengan mereka sendiri? Bukankah mereka juga “orang”?
Kita lihat bahwa lewat pengamatan terhadap diri sendiri seperti itu, orang tidak akan pernah menemukan nilai yang sesungguhnya. Mereka tidak menemukan Dhamma. Jika kita dapat melihat diri kita sendiri sewaktu akan melakukan sesuatu yang buruk, dan kita dapat melihat diri sendiri tepat pada waktunya, kita dapat berhenti. Jika lkita ingin melakukan sesuatu yang berarti, lihatlah pikiran kita. Dengan bisa melihat diri sendiri, kita akan tahu tentang kebaikan/keburukan, keuntungan/kerugian, nilai-nilai buruk/nilai-nilai luhur. Inilah hal-hal yang harus kita ketahui.

Jika hal-hal seperti ini tidak dibicarakan, kita tidak akan tahu. Kita mempunyai ketamakan dan kegelapan batin dalam pikiran, tetapi kita tidak tahu. Kita tidak akan tahu apapun jika kita selalu melihat keluar. Inilah masalah orang yang tidak melihat diri sendiri. Melihat ke dalam, kita akan melihat baik dan buruk. Melihat kebaikan, kita dapat menyimpannya dalam hati dan mempraktekkannya.

Meninggalkan yang jelek, melakukan yang baik….. ini adalah jiwa agama Buddha. Sabba papassa akaranam —tidak melakukan perbuatan salah, baik melalui fisik, kata-kata ataupun pikiran. Inilah latihan yang benar, ajaran dari semua Buddha. Nah, sekarang “kain” kita sudah bersih.
Kemudian kita punya kusalassupasampada —membuat pikiran luhur dan trampil. Jika pikiran kita luhur dan trampil, kita tidak perlu naik “bis” ke mana-mana untuk mencari jasa/kebajikan. Dengan duduk di rumah pun kita bisa berbuat jasa yang baik. Tetapi kebanyakan orang hanya mau pergi ke mana-mana untuk mencari jasa tanpa mau meninggalkan perbuatan jelek mereka. Saat mereka pulang, sia-sialah usaha mereka! Mereka kembali berwajah masam/kecut. Itulah mencuci piring dengan penuh perhatian dengan wajah yang masam. Di sinilah orang jarang mengamati. Mereka jauh dari jasa/kebajikan.

Kita mungkin tahu tentang hal-hal seperti ini, tetapi kita belum benar-benar mengerti jika hal itu tidak kita pahami dalam pikiran kita. Jika pikiran kita luhur dan trampil, itulah bahagia. Ada senyum di hati kita. Tetapi kebanyakan dari kita bahkan tidak punya waktu untuk tersenyum. Kita hanya tersenyum jika keadaan berjalan seperti harapan kita. Banyak orang yang kebahagiaannya tergantung dari keadaan/kondisi sekelilingnya. Mereka butuh orang lain untuk mengatakan hal-hal yang indah dan hanya yang indah. Begitukah kalian mencari kebahagiaan? Dapatkah kita mengharapkan semua orang untuk mengatakan hanya hal-hal yang menyenangkan saja? Jika begitu kemauan kita, kapan kita akan menemukan kebahagiaan?

Kita harus menggunakan Dhamma untuk mencapai kebahagiaan. Apapun itu, benar atau salah, jangan mengukuhinya dengan membuta. Cukup diketahui saja, dan kemudian dilepaskan. Jika pikiran kita tenang, kita bisa tersenyum. Pada saat kita menolak sesuatu, pikiran menjadi jelek. Dan kemudian tidak ada apapun yang baik.

Ketika orang mengatakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita, kita tersenyum. Ketika mereka mengatakan hal yang tidak mengenakkan, kita cemberut. Bagaimana kita dapat mengharapkan orang untuk selalu mengatakan hal yang kita sukai setiap waktu? Apakah mungkin? Bahkan anak-anak kita… pernahkah mereka mengatakan pada kita hal-hal yang tidak menyenangkan? Pernahkah kita mengecewakan orang tua kita? Tidak hanya orang lain, pikiran kita sendiri pun dapat mengecewakan kita. Kadangkala hal yang kita pikirkan pun tidak menyenangkan. Apa yang dapat kita lakukan? Kadang kita sedang berjalan dan tiba-tiba tersandung akar pohon… Dug… Aduh…! Dimana permasalahannya? Siapa yang membuat kita tersandung? Siapa yang akan kita salahkan? Itu adalah salah kita sendiri. Bahkan pikiran kita sendiri pun dapat menjengkelkan. Jika kita pikirkan hal ini, kita akan tahu bahwa ini benar. Kadangkala kita melakukan hal-hal yang bahkan kita sendiri pun tidak suka. Yang dapat kita katakan hanyalah “sialan”. Namun tidak ada yang dapat disalahkan.

Jasa atau kebaikan dalam ajaran Buddha adalah melepaskan perbuatan salah. Jika kita meninggalkan kesalahan, kita tidak lagi salah. Jika tidak ada lagi kesalahan, tidak ada lagi tekanan (stress). Jika tidak ada tekanan lagi, timbullah ketenangan. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang bersih, yang tidak menyimpan kemarahan, dan jernih.

Bagaimana kita membuat pikiran jernih? Hanya dengan mengendalikannya. Sebagai contoh, kita mungkin berpikir, “Hari ini suasana hati saya jelek sekali, apapun yang saya temui adalah menjengkelkan, bahkan piring-piring di meja pun menjengkelkan saya”. Kita mungkin merasa ingin membanting semuanya. Apapun yang kita temui menjadi kelihatan salah atau jelek, ayam, anjing, kucing…. kita membenci semuanya. Segala yang dikatakan sang suami terasa menyinggung. Bahkan melihat pikiran kita sendiri pun kita tidak suka. Apa yang dapat kita lakukan dalam situasi seperti ini? Dari mana datangnya penderitaan ini? Inilah yang disebut tidak mempunyai jasa kebajikan (merit). Akhir-akhir ini di Thailand ada ungkapan bahwa orang yang sudah meninggal jasanya juga sudah berakhir. Ini tidak benar, karena banyak orang yang meskipun masih hidup tetapi jasanya telah berakhir…. itulah orang-orang yang tidak mempunyai jasa. Pikiran yang jelek terus-menerus menumpuk kejelekan.

Perjalanan pergi mencari jasa/kebajikan seperti ini sama seperti membangun rumah tanpa menyiapkan lahannya terlebih dahulu. Dalam waktu yang tidak lama rumah tersebut akan runtuh, bukan? Rancangannya tidak begitu baik. Nah, sekarang kita harus mencoba cara lain. Kita harus melihat ke dalam diri sendiri. Lihatlah kesalahan-kesalahan pada perbuatan, perkataan, dan pikiran kita. Di mana lagi kita akan berlatih bila tidak dalam semua bentuk pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sendiri? Banyak orang tersesat. Mereka ingin pergi dan berlatih Dhamma di tempat yang tenang, di hutan atau di Wat Ba Pong. Apakah Wat Ba Pong tenang? Tidak, tidak benar-benar tenang. Tempat yang benar-benar tenang adalah di rumah sendiri.

Jika kita mempunyai kebijaksanaan, ke mana pun pergi kita akan merasa senang. Dunia sudah indah sebagaimana adanya saat ini. Semua pohon di hutan sudah indah seperti apa adanya: ada yang tinggi, ada yang pendek, berbagai jenis. Semuanya seperti apa adanya. Karena kebodohan, kita tidak mengerti sifat alami mereka dan kita memaksakan penilaian kita… “Wah, pohon yang ini terlalu pendek, yang itu terlalu besar”. Pepohonan itu ya cuma pohon, yang lebih baik daripada kita.

Biarkan pepohonan mengajarkan kita. Sudahkah kita belajar sesuatu dari mereka? Paling tidak, kita harus belajar satu hal dari mereka. Ada banyak pohon, semua dengan sesuatu yang bisa mengajar kita. Dhamma ada di mana saja, dalam segala hal di alam ini. Kita harus memahami hal ini. Jangan menyalahkan lubang yang terlalu dalam… lihat di sisi yang lain, lengan kita sendiri! Jika kita dapat melihat hal ini, kita akan bahagia.

Jika kita berbuat baik, simpanlah dalam pikiran. Itu adalah tempat terbaik untuk menyimpan. Berbuat kebajikan adalah hal yang baik, tetapi bukan yang terbaik. Mengkonstruksikan bangunan adalah hal yang baik tapi bukan yang terbaik. Membangun pikiran baik itulah yang terbaik. Dengan begitu kita akan menemukan kebaikan baik di sini maupun di rumah sendiri. Temukanlah keunggulan ini dalam pikiranmu. Rangka luar seperti bangunan ini hanyalah seperti kulit pada pohon dan bukan kayu inti.

Jika kita mempunyai kebijaksanaan, ke mana pun kita melihat di situ ada Dhamma. Jika kita kekurangan kebijaksanaan, bahkan hal yang baik akan menjadi buruk adanya. Darimana datangnya yang buruk itu? Tak lain dari pikiranmu sendiri. Lihat bagaimana pikiran ini mengubah segala sesuatu. Suami istri yang biasanya rukun, suatu saat ketika perasaan hati mereka sedang tidak baik, apapun yang dikatakan oleh pasangannya membuat tersinggung. Pikiran telah menjadi jelek, dan segalanya berubah. Begitulah.

Jadi, untuk melepaskan kejahatan dan menggali kebaikan kita tidak harus pergi mencari ke mana-mana. Jika pikiran sedang jelek jangan melihat ke orang yang ini atau yang itu. Lihatlah pikiran kita sendiri dan carilah darimana pikiran-pikiran itu muncul. Mengapa pikiran ini berpikir sedemilian rupa? Pahamilah ini: segala sesuatu adalah sementara. Cinta adalah sementara, benci demikian pula. Pernahkah kita mencintai anak-anak kita? Tentu saja. Pernahkah kita membenci mereka? Saya akan menjawab… kadangkala. Benar ‘khan? Bisakah kita membuang mereka? Tidak. Mengapa? Anak-anak bukanlah seperti peluru yang ditembakkan ke luar, anak-anak ditembakkan balik pada orang tua. Jika mereka baik, mereka anak-anak kita. Jika jelek pun, mereka juga tetap anak-anak kita. Kita dapat berkata bahwa anak adalah kamma kita. Ada yang baik ada yang buruk. Tetapi, baik ataupun buruk, mereka tetap anak kita. Bahkan yang buruk pun berharga. Ada yang mungkin terlahir sakit polio, cacat tubuh, tetapi bisa menjadi lebih berarti dibanding anak lainnya. Setiap kali akan pergi kita meninggalkan pesan: “Tolong jagai si kecil ini, dia tidak begitu mampu”. Kita mencintainya lebih dari yang lain.

Jika begitu kita harus menyeimbangkan pikiran: setengah cinta, setengah benci. Jangan hanya mengambil satu sisi, selalu lihatlah dari kedua sisi. Anak-anak adalah kamma kita, semua sesuai dengan hukumnya sendiri. Mereka adalah kamma kita, kita harus bertanggung jawab terhadapnya. Jika mereka betul-betul memberi kita penderitaan, kita ingatkan diri kita: “Ini kammaku”. Jika mereka menyenangkan, kita ingatkan diri kita: “Ini kammaku”. Kadangkala begitu frustasinya kita di rumah sehingga kita ingin melarikan diri. Beberapa malahan begitu frustasi sehingga mereka bunuh diri. Ini adalah kamma. Kita harus menerima kenyataan. Hindarilah perbuatan jelek. Dengan demikian kita akan dapat melihat diri kita sendiri dengan lebih jelas.

Inilah sebabnya sangat penting bagi kita untuk merenungkan segala sesuatu. Biasanya saat meditasi kita menggunakan suatu obyek, misalkan Buddho, Dhammo, atau Sangho. Tetapi kita dapat membuatnya lebih singkat. Pada saat pikiran kita jelek atau jengkel, katakanlah “A-ha!”. Ketika perasaan kita enak, katakanlah “A-ha!… ini bukanlah hal yang pasti”. Jika kamu mencintai seseorang, katakan “A-ha”. Demikian juga saat kamu akan marah. Kamu tidak perlu mencari di Tipitaka. Katakan saja “A-ha”. Ini berarti “tidak kekal”. Cinta, benci, baik, buruk, semua tidak kekal. Bagaimana bisa kekal? Di mana unsur kekekalannya?
Dapat kita katakan bahwa semuanya itu hanya permanen dalam ketidak-permanennannya. Menit ini ada cinta, menit berikutnya timbul benci. Begitulah adanya. Sifat berubahnya inilah yang permanen. Maka dari itu saya katakan bahwa ketika timbul cinta, katakanlah “A-ha”. Ini menghemat banyak waktu. Kita tidak harus mengatakan “Anicca, dukkha, anatta”. Jika kita tidak menginginkan tema meditasi yang panjang, gunakan saja kata yang singkat ini… katakan saja: “A-ha”.

Nah, jika semua orang lebih sering mengatakan “A-ha”, dan melatihnya dalam kehidupan sehari-hari, maka kemelekatan akan semakin berkurang. Orang tidak akan tersuruk dalam cinta dan benci. Mereka tidak akan melekat kepada hal-hal demikian. Mereka akan menaruh kepercayaan terhadap kebenaran dan bukan yang lain. Sudah cukup bagi kita untuk mengetahui sebegini saja. Apalagi yang ingin kita ketahui?

Setelah mengetahui ajaran ini, kita harus selalu mencoba untuk mengingatnya. Apa yang harus diingat? Meditasi…. Mengerti, bukan? Kalau kita mengerti, dan Dhamma menyatu dengan kita, pikiran akan berhenti. Jika ada kemarahan dalam pikiran, hanya “A-ha”.. dan itu cukup, berhenti di situ. Jika belum benar-benar mengerti, lihatlah lebih dalam ke pokok masalahnya. Jika ada pengertian, ketika kemarahan timbul di dalam pikiran, kita dapat membungkamnya dengan berkata “A-ha, inipun tidak kekal”.
Yang paling penting adalah perekam yang ada di pikiran kita. Bacaan ini dapat musnah begitu saja tapi jika Dhamma telah dapat terekam dengan baik di dalam pikiran, itu tidak akan dapat dimusnahkan, akan berada di situ selamanya.

[ Dikutip dari Mutiara Dhamma VII, Living Dhamma ]

MELEBIHI 10 TAHUN MELAFAL SUTRA

Suatu ketika, Sang Guru mengajak murid mudanya turun gunung. Dalam perjalanan pulang mereka bertemu seorang nenek tua yang hampir menemui ajal karena kelaparan. Guru segera memerintahkan muridnya untuk meninggalkan sedikit uang & makanan kepada nenek tua itu, akan tetapi muridnya merasa enggan.

Guru lalu menasehati muridnya, "Mati, hidup & pahala itu hanya terletak pada sekilas pikiran. Uang & makanan bagi kita hanyalah sekedar untuk mempertahankan hidup. Akan tetapi bagi si nenek tua, itu dapat menolong hidupnya." Murid itu setengah mengerti setengah tidak, dengan hormat & hati-hati berkata, "Bimbingan Guru selamanya akan murid camkan, suatu hari nanti jika murid berhasil memajukan biara & telah terkumpul banyak uang & pangan, pasti aku akan membantu menolong rakyat miskin." Siapa sangka setelah mendengarkan kata-kata itu, Sang Guru hanya menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Beberapa tahun kemudian, menjelang ajal, Sang Guru menyerahkan sebuah Sutra kepada muridnya, tapi belum mengucap sepatah katapun, Ia telah wafat. Muridnya yang masih muda ini setelah mewarisi kedudukan gurunya, tak henti memperluas biara kecil yang sudah tua itu. Di dalam hati ia berpikir, tunggu hingga perluasan ini rampung, aku pasti sungguh-sungguh melaksanakan bimbingan Guru guna menolong masyarakat luas. Akan tetapi setelah biaranya mencapai kemajuan, ia berpikir lagi, tunggu hingga mencapai skala yang lebih besar lagi, baru menolong masyarakat.

Waktu berlalu cepat, ketika si murid sudah mencapai usia senja, biaranya sudah menjadi besar & mentereng, juga memiliki sawah ratusan hektar. Akan tetapi, selama puluhan tahun ini, karena sibuk dengan pembangunan, ia mengabaikan perbuatan bajik, tak melaksanakan satu halpun yang menghasilkan pahala.

Sebelum ajal, murid ini tiba-tiba teringat akan Sutra yang ditinggalkan oleh Gurunya. Ketika dia membuka halaman buku itu, hanya ada tulisan nasihat Gurunya yang tidak sempat ia lihat karena kesibukannya:
"Sekali menolong orang, melebihi 10 tahun melafal Sutra."

*****

Kita seringkali berpikir untuk menunda berbuat baik, untuk menolong orang, karena merasa kemampuan kita belum cukup. Mengulurkan tangan, memberi bantuan kepada orang lain dengan kemampuan yang kita miliki saat ini, justru mengandung makna yang lebih mendalam. Kesempatan untuk berbuat baik, juga tak selamanya datang karena segala sesuatu selalu berubah.

Sahabat Dharma,.....
Kewelas-asihan yang timbul spontan untuk menolong orang lain dapat dilaksanakan kapan saja, dimana saja & dalam bentuk apa saja. Tidak perlu menunggu setelah kita memiliki kemampuan yang cukup, karena itu sebenarnya hanyalah alasan pembenaran guna menutupi ketidak-relaan untuk berkorban.

Sumber: fb artikel Buddhis

Kamis, 19 Mei 2016

Kenyataan Bahwa Kita Bertemu Saat Ini Adalah Juga Hasil Dari Karma Kita, Benarkah?

Buddha mengatakan bahwa sangat sulit untuk menemukan seseorang di kehidupan kita sekarang ini yang tidak kita kenal di kehidupan kita yang sebelumnya. Kita bisa saja dulunya ayah dan anak, ibu dan anak, dstnya...

Ada milliaran orang di dunia ini, akan tetapi jumlah orang yang kita ketemui dan kenal tidaklah begitu banyak. Jadi inilah orang-orang yang mungkin telah cukup dekat dengan kita di masa lampau.

Apakah mungkin untuk mendapat kelahiran yang sama dengan orang-orang yang kita cintai sehingga kita dapat bertemu dengan mereka lagi di kehidupan selanjutnya?

Terdapatlah seorang pria tua dan wanita tua yang datang mengunjungi Buddha. Mereka mengatakan kepada Buddha bahwa sejak mereka menikah di usia mereka yang masih remaja tersebut, sampai saat sekarang di usia lanjut mereka, mereka tak pernah marah terhadap satu sama lainnya. Jadi mereka mengatakan bahwa mereka ingin bertemu kembali di kehidupan selanjutnya.

Mereka bertanya kepada Buddha apakah hal ini memungkinkan. Buddha mengatakan bahwa bila dua orang yang setara dalam keempat hal ini, maka akan memungkinkan bagi mereka untuk bertemu kembali di kehidupan mereka yang selanjutnya.

Pertama-tama mereka harus memiliki keyakinan yang seimbang, yakni memiliki keyakinan/ agama yang sama.

Kedua, mereka harus memiliki etika (moral) yang sebanding. Ini berarti perilaku mereka seharusnya sama bagusnya, atau sama buruknya.

Faktor ketiga adalah kedermawanan. Mereka harus sebanding dalam kedermawanan atau keegoisan mereka.

Hal keempat adalah kebijaksanaan, yakni mereka harus sebanding kebijaksanaannya atau kegelapan batin mereka.

Kalau keempat hal ini sebanding, maka mereka akan bertemu kembali di kehidupan mereka yang selanjutnya. Salam Metta..!!

Sumber: Buddha.id

Mengapa Kita Tidak Bisa Mengingat Kehidupan Kita di Masa Lampau ?

Pada saat ini, pikiran kita dibatasi oleh ketidaktahuan, membuatnya menjadi sukar untuk mengingat masa lalu. Juga, banyak perubahan yang terjadi dengan pikiran dan tubuh kita sejalan dengan proses mati dan dilahirkan kembali, menyebabkan pengingatan kembali menjadi sukar.

Tetapi, fakta bahwa kita tidak mengingat sesuatu, tidak berarti bahwa sesuatu itu tidak ada. Kadang-kadang kita bahkan tidak ingat dimana telah meletakkan kunci mobil kita. Kadang juga kita tidak ingat menu apa yang kita hadapi di meja makan sebulan yang lalu.

Terdapat orang yang dapat mengingat kehidupan masa lalu mereka. Dalam masyarakat Tibet, terdapat suatu sistem untuk mengenali reinkarnasi guru besar berkesadaran sangat tinggi.

Cukup sering, sebagai anak kecil, orang-orang ini akan mengenali benda-benda atau teman-teman mereka di kehidupan yang lampau. Sebagian orang biasa, juga bisa mengingat kembali kehidupan masa lampaunya, barangkali dalam meditasi atau melalui hipnotis.

Apakah penting untuk mengetahui kehidupan masa lampau kita?

Tidak. Yang penting adalah bagaimana kita menjalankan kehidupan yang sekarang. Mengetahui kehidupan masa lampau kita hanya akan bermanfaat jika ia membantu kita mengembangkan tekad untuk menghindari perbuatan negatif yang kita lakukan di masa lampau dan pasti untuk keluar dari lingkaran masalah yang timbul terus menerus.

Mencoba mengetahui kehidupan masa lalu kita hanya untuk memenuhi rasa ingin tahu saja, tidak akan bermanfaat. Ia bahkan bisa membuat kita menjadi sombong: "Oh, aku adalah raja pada kehidupan yang lalu. Saya demikian terkenal dan penuh bakat. Saya adalah Einstein!" Lalu apa?

Sebenarnya, kita pernah menjadi apa saja dan melakukan apa saja dalam kehidupan masa lalu yang tak terhitung banyaknya dalam lingkaran keberadaan.

Yang penting adalah membersihkan potensi-potensi negatif kita yang diciptakan pada kehidupan masa lalu, berusaha untuk tidak menambahnya, dan memusatkan tenaga untuk mengumpulkan potensi positif serta mengembangkan nilai-nilai dari tujuan kita.

Ada pepatah Tibet, "Jika engkau ingin mengetahui kehidupan masa lalu anda, lihatlah keadaan jasmanimu sekarang. Jika engkau ingin mengetahui kehidupanmu di masa mendatang, lihatlah pikiranmu sekarang."

Kita menerima kelahiran kita yang sekarang sebagai hasil dari perbuatan masa lalu kita. Kelahiran kembali sebagai manusia adalah suatu keberuntungan dan itu terjadi disebabkan karena kita telah menjaga moralitas kita di masa lalu.

Sebaliknya, kehidupan kita pada kelahiran yang akan datang ditentukan oleh apa yang kita lakukan sekarang, pikiranlah yang memimpin semua yang akan kita lakukan.

Dengan demikian, dengan melihat sikap kita saat ini dan mengujinya apakah baik atau tidak baik, kita boleh membayangkan kelahiran kembali yang baik yang akan kita alami.

Kita tidak perlu mencari seorang peramal untuk melihat apa yang akan terjadi pada diri kita, kita cuma perlu melihat apa yang kita tinggalkan dalam rangkaian pikiran kita dengan tindakan yang kita lakukan.

Demikianlah uraian tentang Mengapa Kita Tidak Bisa Mengingat Kehidupan Kita di Masa Lampau ?

Sumber: Buddha.id

Rabu, 18 Mei 2016

Apakah Perbedaan Antara Liam Keng dan Paritta ?

Tanya : Bhante, Saya Ingin Bertanya, Apakah Perbedaan Antara Liam Keng dan Paritta ?

Jawab : Keng' atau Paritta mempunyai arti yang kurang lebih sama yaitu sebuah atau sebagian dari kotbah yang pernah diuraikan oleh Sang Buddha pada suatu saat di tempat tertentu. Kotbah Sang Buddha ini semuanya berisikan petunjuk agar orang mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Seorang umat Buddha dalam melakukan ritual keagamaannya, biasanya mengulang kembali kotbah Sang Buddha tersebut. Dalam masyarakat Buddhis, kotbah Sang Buddha yang menggunakan bahasa Pali atau bahasa yang pernah dipergunakan di India waktu itu disebut sebagai 'Paritta' yang arti sebenarnya adalah perlindungan.

Sedangkan, kotbah Sang Buddha yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Mandarin disebut sebagai 'cing' atau 'keng'. Dengan demikian, 'Liam keng' atau 'Nian Jing' adalah sama artinya dengan 'membaca paritta'.

oleh Bhikku Uttamo semoga bermanfaat.
Salam Metta
Sumber: Buddha.id

Manfaat dan Kekuatan Paritta Suci

Namo Buddhaya,

Kata Paritta tidak asing lagi bagi kita umat Buddha, yang selalu kita ucapkan setiap kebaktian bahkan ketika kita di rumah atau dikantor dan dimana saja. Mudah bagi kita untuk menghafalkan Paritta tetapi dalam kontek ini bahwa Paritta sesungguhnya harus dimengerti dan diterapkan dalam arti yang sebenarnya. Paritta dalam bahasa Pali atau Pirit dalam bahasa Indo sinhala, secara literal berarti “penuh perlindungan”.

Buddha dalam berbagai kesempatan dengan bahasa pali yang suci merangkai paritta atau pirit, pastilah terdapat salah pengertian yang menyamakan paritta sebagai tuah yang misterius atau mantra, tetapi sebenarnya terdapat penganjuran asli yang etis dan mengandung nilai filosopis dari ajaran buddha, yang berkaitan dengan aspek-aspek Dhamma.

Paritta yang dibacakan oleh Sangha atau umat, secara individu atau bersama-sama, untuk memperoleh berkat dari tiratana bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain, baik disaat kesusahan maupun kesejahteraan.

Pembacaan Paritta – Sutta keluar suara walaupun kecil saat dirumah ada bagusnya, karena saat pembacaan Paritta – Sutta kita mendengar apa yg kt baca begitu juga yangg lain ikut mendengar ( besar atau kecil, halus atau kasar, nampak atau tidak nampak ).

Disarankan juga bagi umat, saat pembacaan Paritta – Sutta berusahalah niatkan dalam batin untuk mengulang Ajaran Buddha serta tingkatkan perhatian dan berkonsentrasi dalam pembacaan paritta yang ditujukan untuk semua makhluk , dengan demikian kita sudah melaksanakan Dhamma Dana.

Adapun juga pembacaan paritta – sutta dapat menanggulangi pengaruh buruk yang ditimbulkan dari makhluk jahat, karena pengaruh buruk adalah akibat dari pikiran jahat. Oleh karena itu pengaruh buruk ini dapat diatasi dengan pikiran yang sehat.

Satu cara yang pasti untuk menimbulkan keadaan pikiran yang sehat adalah mendengarkan serta merenungi pembacaan paritta dengan seluruh akal budi dan keyakinan. Demikian besar serta dahsyatnya kekuatan konsentrasi sehingga dengan memperhatikan sungguh-sungguh akan Kebenaran yang terdapat dalam paritta, orang akan mampu mengembangkan keadaan pikiran yang sehat.

Pembacaan paritta-sutta juga mampu mendatangkan berkah material, dengan dicapainya keadaan pikiran yang sehat melalui konsentrasi dan keyakinan sewaktu mendengarkan pembacaan paritta. Karena menurut Sang Buddha usaha yang benar adalah faktor yang diperlukan untuk mengatasi penderitaan. Mendengarkan pembacaan paritta dengan cara yang benar akan membangkitkan tenaga untuk melindungi kemajuan duniawi serta kemajuan batin.

Penyakit jasmani dan batin yang menjadi penyebab segala penderitaan dan kemalangan hanya membutuhkan satu jenis obat saja. Obat itu adalah Kebenaran Kesunyataan (Dhamma). Karena itulah mendengarkan Dhamma melalui pembacaan paritta dengan sikap yang benar akan memberikan manfaat.

Manfaat yang diperoleh adalah keadaan pikiran yang sehat, sehingga menimbulkan kesehatan jasmani serta batin dan juga kemajuan material serta spritual. Pengaruh pembacaan paritta juga tidak terbatas oleh jarak, mampu mengatasi jarak yang bagaimanapun jauhnya.

Paritta memiliki arti perlindungan. Semuanya digunakan untuk menjelaskan sutta-sutta (khotbah-khotbah) tertentu yang dijelaskan oleh Buddha Gotama. Sutta-sutta ini ada sebagian yang memang dianggap mampu memberikan perlindungan dari pengaruh-pengaruh yang membahayakan. Namun, semuanya sesungguhnya kembali kepada seberapa besar kekuatan keyakinan (Saddha) yang kita miliki ketika sedang baca Paritta tersebut.

Menjadi seorang umat buddha memang tidak ada keharusan untuk dapat membaca Paritta dengan baik, benar, serta hafal diluar kepala, tetapi tidak berarti pula pembacaan Paritta tidak ada manfaatnya dan hanya sekedar pelaksanaan ritual saja. Adapun manfaat pembacaan paritta antara lain:

(1). Kita membaca dan mengucapkan sesuatu yang baik, dengan demikian kita telah melakukan kamma baik setidaknya melalui pikiran dan ucapan (untuk itu penting bagi seseorang yang membaca dan memahami makna paritta dari terjemahannya).
(2). Membaca Paritta berarti kita berupaya untuk memahami apa yang sebelumnya kurang kita pahami.
(3). Membaca Paritta berarti mengulang khotbah-khotbah Buddha Gautama (walaupun tidak semua paritta berasal dari khotbah Buddha), dengan demikian kita telah melestarikan kelangsungan ajaran Buddha.

Tetapi menurut Milinda Panha, ada tiga alasan dimana Paritta tidak bekerja:

1. Halangan karena kamma masa lalu.
2. Halangan karena kekotoran batin masa kini, dan
3. Halangan karena kurangnya keyakinan.

Paritta yang merupakan perlindungan bagi semua makhluk akan kehilangan kekuatannya karena cacat mereka sendiri.

disamping itu ada juga kekuatan yang terdapat dalam pembacaan Paritta – Sutta , beberapa diantaranya adalah sebagai berikut ::

(-) Kekuatan Kebenaran

"Kemanjuran" paritta disebabkan oleh gabungan beberapa faktor. Pembacaan paritta merupakan ungkapan saccakiriya yaitu suatu ungkapan pernyataan tentang Kebenaran. Kekuatan pernyataan itu merupakan suatu perlindungan. Hal ini berarti mengembangkan kekuatan kebenaran untuk mencapai hal yang diinginkan. Pada akhir setiap sutta, pembaca memberkati pendengarnya dengan kata-kata: "etena sacca vajjena sotthi te hotu sabbada" artinya dengan kekuatan kebenaran kata-kata ini, semoga engkau selamat dan sejahtera. Terdapat suatu ungkapan bahwa, "kekuatan Dhamma atau Kebenaran akan melindungi pengikut Dhamma" (Dhammo have rakkhati Dhammacarim), yang jelas menunjukkan dasar pemikiran diadakannya pembacaan paritta. Keyakinan akan kekuatan saccakiriya atau pernyataan Kebenaran untuk dapat menyembuhkan penyakit ataupun melindungi sebenarnya hanyalah salah satu segi manfaat dari paritta.

(-) Kekuatan Moral

Beberapa paritta mengungkapkan tentang hidup yang bermoral. Titik awal dari Buddha-Dhamma adalah sila (moral). Melalui dasar sila yang kuat seseorang akan mampu mencapai tingkat konsentrasi pikiran. Apabila moral melindungi orang yang melaksanakan, maka jika seseorang mendengarkan pembacaan paritta dengan diiringi suatu perenungan akan Kebenaran kata-kata Sang Buddha dan penuh keyakinan bahwa kata-kata itu pernah diucapkan oleh orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, maka ia akan memiliki pikiran yang dipenuhi oleh moral tinggi sehingga ia mampu mengalahkan segala pengaruh jahat dan ia juga akan terbebas dari kesulitan.

(-) Kekuatan Cinta Kasih

Sabda-sabda Sang Buddha selalu berisikan cinta kasih. Beliau berkelana di India melalui jalan-jalan raya, melewati kampung-kampung dan menyinari serta menghangatkan semua makhluk dengan pancaran sinar cinta kasihnya. Beliau memberi petunjuk, menerangkan ajaranNya kepada banyak orang. Beliau membimbing mereka yang mendengarkan ajaranNya mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu pembaca paritta juga diharapkan bertindak seperti itu pula. Membaca paritta dengan hati penuh cinta kasih dan kasih sayang, mengharapkan pendengarnya memperoleh kebahagiaan serta perlindungan dari segala gangguan. Cinta kasih merupakan tenaga yang aktif. Setiap tindakan yang didasari dengan cinta kasih yang murni akan dilaksanakan dengan pikiran yang bersih. Tindakan yang bertujuan untuk membantu, memberi semangat, melancarkan jalan serta mempermudah mengatasi penderitaan, mendapat Berkah Tertinggi.

(-) Kekuatan Suara

Terdapat keyakinan bahwa getaran suara yang dihasilkan dari pembacaan paritta-sutta berbahasa Pali dengan suara yang nyaring dan merdu (harmonis dalam nada) akan menentramkan syaraf serta menghasilkan ketenangan pikiran. Suara pembacaan paritta yang nyaring dan merdu ini juga memberikan keselarasan pada sistem jasmani.

Paritta merupakan syair suci yang telah dibabarkan oleh Buddha dan para Ariya Punggala lainnya, merupakan syair perlindungan bagi mereka yang mempunyai keyakinan pada saat membaca dan memahaminya. Dengan demikian, bahwa dengan membaca Paritta bisa menciptakan suatu kondisi yang damai didalam hati si pembaca. Berbahagialah kita yang selalu membaca Paritta karena begitu luar biasa manfaat dr Pembacaan Paritta , maka itu marilah kita semua mulai belajar untuk membiasakan diri sering membaca Paritta – Sutta jika ada waktu ruang. semoga bermanfaat bagi kita semua ,

Semoga semua makhluk bahagia, sadhu sadhu sadhu _/\_

==============
Sumber kutipan :
- Buku Y.M Bhikkhu Khemanando - Fenomena Buddha Dhamma (2010)
- Bunga Rampai Dhammadesana II, Bhikkhu Subalaratano.
- Sharring Dhamma dari Sdr DSG di Grup Vihara Buddha Narada
- Facebook Kalyanamitta Buddhist Page

==============
Sumber: Buddha.id