Selasa, 02 Juni 2015

Kisah Seorang Biksu dan Seorang Pemuda

Seorang biksu pulang dari memotong kayu di gunung, diperjalanan pulang berjumpa seorang pemuda yg baru saja menangkap seekor kupu-kupu di genggamannya..

Pemuda ini menantang biksu:
"Hei biksu, gimana kalau kita bertaruh ?"
"Gimana bertaruhnya ?" tanya sang biksu.
"coba tebak kupu-kupu dalam genggamanku ini hidup atau mati ? Kalau kamu kalah, sepikul kayu itu jadi milik saya." jawab sang pemuda..
Sang biksu setuju, lalu menebak, "kupu-kupu dalam genggamanmu itu mati."

Sang pemuda ketawa ngakak, "kamu salah." sambil membuka genggamnya, kupu-kupu itu pun terbang pergi.
Sang biksu berkata, "baiklah, kayu ini milikmu."

habis itu sang biksu menaruh pikulan kayunya dan pergi dengan gembira.
Si pemuda tidak mengerti kenapa sang biksu begitu gembira, tapi mendapat sepikul kayu bakar, dia dengan gembira juga membawanya pulang。
Ayah si pemuda bertanya soal asal muasal sepikul kayu itu.
Si pemuda bercerita sesungguhnya.
Sang ayah marah setelah mendengar cerita si anak, dan berkata, "kamu mengira kamu betul menang ?
Kamu kalah tapi tidak mengetahui bagaimana kalahnya."

Si anak bingung 360 keliling, Sang ayah memerintahkan anaknya memikul kayunya, berdua mereka mengantarkan kayu itu ke vihara biksu itu dan minta maaf kepada sang biksu..   Si biksu hanya mengangguk, tersenyum tanpa bilang apa-apa.
Dalam perjalanan pulang, si anak bertanya soal ketidak mengertiannya.
Sang ayah menarik napas panjang, menerangkan, "biksu itu bilang kalau kupu-kupu itu sudah mati, baru kamu mau melepaskan kupu-kupu itu, sehingga kamu menang; kalau biksu itu bilang kupu-kupu nya hidup, kamu pasti meremas kupu dalam genggamanmu hinga mati, juga kamu yang menang.
Kamu mengira biksu itu tidak mengetahui kelicikanmu.??
Beliau kalah sepikul kayu, tapi memenangkan KASIH.

May all being be happy

Hukum Pembanding

Berapa Gaji Nick Vujicic per Jam...?
Nick Vujicic dibayar USD 150.000 per 2 jam.
Siapa yg tak kenal motivator sekaligus Inspirator kelahiran benua Australia.

Pemuda Cacat Fisik yg usianya belum genap 34 th (Tanpa lengan dan kaki ini) Mengispirasi banyak orang didunia. Saya kira dia sudah 2x datang ke Indonesia. Terakhir diundang oleh sebuah perusahaan asuransi asing di Bali dengan Bayaran sekitar USD 125.000-150.000 per 2 jam.

Jadi hampir 2Milyar.. Fantastic !! Dalam sebuah Perjalanan ke Jogya dengan sahabat saya, yang kebetulan menyaksikan seminar NICK di Bali awal Maret kemarin.

Kami berdiskusi. Saya nyeletuk ... wah enak benar yah jadi motivator hanya bicara 2 jam bisa dapat 2 milyar....sambil bercanda. Tapi Teman saya menimpali dengan agak serius. Dan bertanya balik.... "Apa kamu mau melalui "proses" untuk mencapai 2M selama 33th ? Masa kecil yang keras, penuh hinaan, dibully, diinjak, diremehkan dan direndahkan.

Kamu benar-benar mau mendapatkan 2M tanpa tangan dan Kaki...?"

Saya diam sebentar, pikiran benar-benar di sentil oleh jawaban balik.

Ternyata dalam kehidupan sehari-hari, secara sadar saya  pun kerap melakukan hal yang bisa sama. Rumput dihalaman rumah kerap tak sehijau rumput tetangga.

Ketika melihat orang sukses kita selalu berkata, betapa enaknya ya hidup mereka sekarang, punya banyak uang berlimpah, asset yang banyak, hidup yang serba kecukupan.

Kita mudah sekali memakai "HUKUM PEMBANDING" akibatnya bukan rasa bersyukur yang diharap, tapi bisa jadi rasa IRI yang menyelinap di hati. Dan kerap kita hanya melihat saat orang ada di puncak, tapi tak pernah tau kapan mereka mulai merayap dan merangkak.

Orang mudah melihat senyum yang lepas tanpa melihat air mata dan keringat yang diperas. Kita iri melihat keberhasilan orang lain, kita menginginkan, tapi kita tak berani bayar harganya !!

Saya pernah membaca Quote yang bunyinya seperti ini, "Jika Anda hanya INGIN sukses tapi malas dan mudah menyerah.. lebih baik jangan bermimpi !! Berfikir pun jangan !!"

May all being be happy

Alasan Mengapa Kita Tidak Bisa Mengembangkan Senyum Lebih Lebar.

Salah satu alasan mengapa kita tidak bisa mengembangkan senyum lebih lebar adalah karena kita terlampau di cekam oleh ketakutan kita sendiri.

Fakta berkata bahwa ketakutan adalah seperti kanker ganas yang menggerogoti sukacita kita.
Semakin kita mengijinkan ketakutan mempengaruhi kehidupan kita, maka semakin sulit kita merasakan sukacita.

Cerita lama dari India menceritakan tentang tikus yang ketakutan karena melihat seekor kucing.
Itu sebabnya tikus tersebut pergi kepada tukang sihir untuk menyulapnya menjadi kucing.

Setelah tikus tersebut jadi kucing, kembali lagi ia di cekam rasa takut karena melihat anjing. Maka segera saja ia kembali ke tukang sihir dan minta mengubahnya menjadi anjing.

Setelah jadi anjing, lagi² ia takut ketika bertemu dengan macan dan minta kepada tukang sihir untuk mengubahnya menjadi macan.

Tetapi ketika ia datang lagi dengan keluhan bahwa ia bertemu dengan pemburu, si tukang sihir menolak membantu lagi, “Akan saya ubah kamu jadi tikus lagi, sebab, sekalipun.. badanmu macan, nyalimu masih tetap nyali tikus.”

Bagaimana dengan Anda? Jangan seperti cerita klasik tersebut.
Mengaku sebagai manusia dewasa, beriman, , tapi “nyali” kita tetap "tikus".
Kita lebih mengijinkan ketakutan yang menguasai kita.

Bukan iman, tapi rasa kuatir.
Bukan keberanian, tapi rasa cemas.

Tak heran sukacita kita padam.
Tak ada senyum.
Tak ada keceriaan.

Sebaliknya, kegelisahan dan ketakutanlah yang terpancar dari hidup kita.

Sukacita seseorang ditentukan dari keberanian nya dalam menghadapi segala situasi yang terjadi dalam hidup nya, meski dalam kondisi yang paling buruk sekalipun.
Tetap semangat dan sukacita.

Sαββε Sᆆα βђαvαπ†u Sukђi†α††α
May all being be happy

Ketika Aku Sudah Tua

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.

Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.

Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.

Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.

Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.

Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.

Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur.

Dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Hanyalah Sementara

Hanyalah sementara.

Adakalanya tiba masa-masa sulit, yang membuat hidup terasa penuh kepedihan dan keluh kesah.
Namun pada saatnya jua tibalah masa kegembiraan, yang membuta hidup terasa ringan dan terang.
Tanpa sadar bibir kita basah dengan senyuman.

Sesungguhnya kesedihan, kegembiraan, kekecewaan, keriangan, dan emosi-emosi lain hanyalah sementara. Sebagaimana sesaatnya malam ditelan siang.

Tak selamanya kesedihan dan kegembiraan melanda kita. Semua itu datang silih berganti, tanpa dapat selalu dinanti.

Yang perlu kita pahami adalah kesementaraan ini.
Kesementaraan menunjukkan bahwa emosi-emosi itu bukanlah milik kita. Ia hanya sebuah tawaran dari alam yang menuntun tindakan dan sikap kita Ia bukanlah kita.

Saat gembira sadarilah kegembiraan itu.
Saat sedih, pahamilah kesedihan itu.
Saat kita penuh dengan kesadaran akan emosi kita , saat itu kita bersentuhan dengan jiwa yang tenang milik kita.

Harapan Akan Selalu Selagi Masih Hidup

Tengah malam di sebuah rumah petak didalam gang yang sempit, ada 4 lilin menyala. Suasana yang begitu hening hingga terdengar percakapan diantara mereka..

Lilin 1 : Aku adalah Lilin DAMAI.
Tapi aku sudah jenuh, setiap hari penghuni rumah ini bertengkar, saling menyalahkan & saling memaki. Lebih baik aku memadamkan nyala apiku saja.."Lalu berhembuslah angin malam & lilin pertama itu pun padam.

Lilin ke-2 berkata :"Aku adalah Lilin KASIH.
Tapi aku juga sedih, karena penghuni rumah ini saling membenci satu sama lain. Setiap hari mereka cemberut & hidup bersama dgn sangat terpaksa. Lebih baik aku juga memadamkan nyala apiku.."Angin malam pun bertiup & padamlah lilin kedua.

Kemudian giliran lilin ke-3 berkata :"Aku adalah Lilin IMAN.Tapi lihatlah keluarga ini, mereka jarang sekali berdoa bersama ataupun beribadah. Mereka tdk percaya lagi bahwa TUHAN itu ada. Lebih baik aku juga padam saja.. "Lagi-lagi angin berhembus & lilin ketiga pun padam..

Tinggallah 1 lilin menyala, yaitu lilin keempat, ia pun bermaksud memadamkan nyala apinya.Tapi tiba-tiba seorg anak kecil penghuni rumah itu terbangun dari tidurnya, & saat melihat kamarnya hampir gelap gulita, anak itu merasa sedih & ketakutan.. Ia pun menangis tersedu-sedu.

Melihat itu lilin ke empat menjadi ikut terharu.
Ialu ia berkata :"Nak, jangan menangis, masih ada aku.. yang adalah Lilin HARAPAN, & selama aku masih menyala, maka lilin lainnya juga masih bisa dinyalakan kembali lho."

Dengan mata masih berlinang air mata, tangan mungil anak kecil itu lalu meraih lilin keempat, & menyalakan kembali ketiga lilin lainnya sehingga setiap sudut ruangan menjadi terang lagi.

*pesan moral*

Sobat sobat,..

HARAPAN, ada di dalam hati kita.

HARAPAN, tdk bisa diambil oleh siapapun.

Dan setiap kali IMAN kita goyah maka DAMAI & KASIH akan pergi meninggalkan kita ;Tapi bertahanlah dan ingatlah bahwa selama masih hidup maka selalu ada HARAPAN.

Raih Kebahagiaan Dengan Bebaskan Diri Dari Kekhawatiran

Kebahagiaan itu mirip seperti oksigen. Ketersediaannya dibumi ini sangat melimpah, bahkan ia selalu tersedia. Jika seseorang kesulitan menghirup oksigen, pasti bukan karena oksigennya sudah langka, melainkan karena telah terjadinya gangguan di dalam sistem pernafasannya.

Sama hal nya dengan berbahagia kalau kita kesulitan untuk berbahagia, pasti bukan karena stock kebahagiaan sudah langka, melainkan karena telah terjadinya gangguan di dalam sistem kejiwaan kita.

Antara lain Konflik dengan diri kita sendiri, antara pikiran dan perasaan, Kemauan dan keyakinan, Sikap dan perbuatan.
Harapan dan kenyataan Harmonisasikan konflik yang ada dengan.
~ PENERIMAAN diri
~ MAWAS diri
~ mudah meMAAFkan
~ selalu RENDAH HATI
~ semakin MENGASIHI
~ mengatasi KECEWA
~ mengubur SAKIT HATI dll

Langkah pertama untuk bahagia adalah, berhenti membandingkan dirimu dengan orang lain & belajar bersyukur.

Jadikan hati kita selalu damai, agar kita bisa membahagiakan diri kita sendiri dan membahagiakan sesama.

Kebahagiaan akan diperoleh jika Kita dapat membebaskan diri dari kekhawatiran yang berlebihan.

Orang yang tahu cara bersyukur adalah orang yang bisa menikmati keindahan dunia dan arti kebahagiaan hidup.