Selasa, 21 Januari 2014

Makna Perayaan Kathina

Oleh: Bhikkhu Uttamo

Setiap tahun, mulai bulan Oktober sampai dengan November kita para umat dan simpatisan Buddhis di manapun berada secara serentak akan dapat mengikuti perayaan Kathina yang diselenggarakan di berbagai vihara.

Di berbagai negara Buddhis biasanya perayaan Kathina atau Kathina Puja dilaksanakan dengan sangat meriah dan bahkan paling meriah dibandingkan berbagai Hari Besar Agama Buddha lainnya seperti Magha Puja, Waisaka Puja maupun Asadha Puja. Perbedaan ini disebabkan karena adanya makna khusus dan khas dalam perayaan Kathina tersebut. Salah satu kekhususan yang terdapat dalam Kathina Puja tersebut adalah bahwa pada hari-hari besar Agama Buddha yang lain para umat serta simpatisan Buddhis biasanya datang ke vihara untuk berperanserta secara pasif dalam kegiatan yang diadakan waktu itu. Pengertian berperan serta secara pasif ini adalah bahwa para umat seusai melaksanakan Puja Bakti kemudian biasanya mereka segera kembali ke rumah masing-masing. Berbeda ketika mengikuti Perayaan Kathina, seluruh umat maupun simpatisan Buddhis sejak jaman Sang Buddha masih hidup akan berperan aktif dalam perayaan ini. Mereka berperan aktif dengan mempersembahkan dana berupa empat kebutuhan pokok para bhikkhu. Keempat kebutuhan pokok ini adalah kebutuhan bhikkhu akan makanan, jubah, tempat tinggal serta obat-obatan.

Oleh karena itu, dalam mengikuti perayaan Kathina di manapun juga, para umat dan simpatisan Buddhis bahkan para bhikkhu sekalipun hendaknya dapat merenungkan beberapa hal di bawah ini, yaitu:

1.Para umat Buddha dalam menyambut perayaan Kathina biasanya sejak beberapa waktu sebelumnya mereka telah mempersiapkan diri untuk memberikan persembahan Kathina. Bahkan pernah dijumpai seorang anak Sekolah Dasar yang sejak beberapa bulan sebelumnya menyisihkan sebagian dari uang saku sekolahnya untuk ditabung. Setelah tiba masa Kathina, maka anak tersebut membuka tabungannya dan seluruh hasilnya dipergunakan untuk mengadakan seperangkat jubah bhikkhu serta dipersembahkannya kepada Sangha dalam perayaan Kathina di salah satu vihara terdekat.Tentu saja niat baik untuk menyediakan persembahan Kathina yang telah dipupuk dalam wyaktu yang cukup lama ini akan memberikan kondisi kepada anak tersebut untuk menimbun banyak karma baik yang pada waktunya nanti pastilah akan memberikan kebahagiaan sesuai dengan yang diharapkannya.

2.Ketika seorang umat atau simpatisan Buddhis menghadiri Perayaan Kathina maka bila Perayaan Kathina itu dihadiri lebih dari satu bhikkhu, atau bahkan dihadiri oleh Sangha yaitu para bhikkhu yang berjumlah empat, lima atau lebih maka pada saat mempersembahkan Dana Kathina tersebut ia memiliki sedikit kemungkinan untuk memilih mempersembahkan dananya kepada bhikkhu yang mungkin dia sukai. Dengan demikian, pada saat mempersembahkan Dana Kathina sesungguhnya para umat dan simpatisan Buddhis sudah mulai dilatih untuk rela mempersembahkan dana kepada bhikkhu siapapun juga tanpa harus memilih. Para umat bahkan mungkin saja memberikan dananya kepada bhikkhu yang sama sekali belum dikenalnya. Dengan demikian, mengikuti Perayaan Kathina secara aktif ini dimaksudkan adalah sebagai latihan melepaskan atau merelakan yang sikap batin ini dapat dijadikan dasar mencapai kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat. Kebahagiaan yang bisa diperoleh ini adalah bahwa hendaknya apabila seseorang melakukan perbuatan baik adalah demi perbuatan baik atau kebajikan itu sendiri bukan demi pribadi seseorang yang kita sukai atau dengan maksud-maksud yang lain.

3.Persembahan Dana Kathina juga bisa mempunyai makna sebagai latihan meningkatkan kesadaran para umat dan simpatisan Buddhis akan manfaat keberadaan para bhikkhu. Para bhikkhu yang tergabung dalam Sangha adalah merupakan kumpulan para pertapa yang berusaha melaksanakan Buddha Dhamma dalam kehidupan sehari-hari mereka agar mencapai tingkat batin tertinggi. Selain mempraktekkan Buddha Dhamma, para bhikkhu dalam kehidupannya juga diisi dengan membabarkan Buddha Dhamma ke berbagai tempat dengan tujuan agar dapat membahagiakan semua mahluk. Oleh karena itu, dengan mempersembahkan Dana Kathina umat akan mendapatkan kondisi untuk mendukung kelestarian Sangha yang tentu saja mempunyai pengaruh langsung yang positif untuk kelestarian Buddha Dhamma pula.

4.Perenungan makna Dana Kathina ini bukan hanya berlaku untuk para umat dan simpatisan Buddhis saja melainkan juga untuk para bhikkhu. Para bhikkhu sesuai dengan peraturan yang telah diturunkan oleh Sang Buddha adalah merupakan para pertapa yang tidak mempunyai penghasilan ataupun menerima gaji dari lembaga manapun juga. Oleh karena itu, kehidupan para bhikkhu sepenuhnya tergantung pada kebajikan para umat dan simpatisan Buddhis. Pemenuhan empat kebutuhan pokok hidup bhikkhu juga diperoleh dari umat. Padahal, pernah disebutkan dalam salah satu hasil penyelidikan ilmiah, bahwa karena adanya proses regenerasi sel yang terus menerus terjadi dalam tubuh manusia maka seluruh sel tubuh manusia dalam waktu tujuh tahun semuanya akan berganti.

5.Dengan demikian, apabila para bhikkhu telah menjalani kebhikkhuan lebih dari tujuh tahun, sesungguhnya seluruh sel tubuhnya telah diperoleh dari hasil kebajikan dan keyakinan para umat serta simpatisan Buddhis di manapun mereka berada. Kalau hal ini direnungkan, maka tentunya akan hilanglah kesombongan yang mungkin masih tersisa dalam batin para bhikkhu. Para bhikkhu hendaknya bisa menyadari bahwa ia tidak akan hidup tanpa umat. Padahal, sering dijumpai para umat membantu kehidupan para bhikkhu yang dijumpainya tanpa harus mengenalnya terlebih dahulu. Oleh karena itu, walaupun pengertian ini hendaknya tidak menjadikan bhikkhu sebagai ‘pesuruh’ umat, namun hendaknya para bhikkhu kemudian merenungkan, kebajikan apakah yang bisa dijadikan sebagai ‘balas jasa’ kebajikan para umat dan simpatisan Buddhis tersebut?

Dengan perenungan ini, maka hendaknya para bhikkhu dapat lebih meningkatkan pelaksanaan Buddha Dhamma dalam kehidupannya dengan lebih tekun dan bersemangat menjalankan kemoralan serta melatih meditasi. Dengan demikian, para bhikkhu akan dapat memberikan manfaat yang besar untuk para umat yang telah mendukung kehidupannya. Para bhikkhu benar-benar akan menjadi ladang yang subur untuk kebajikan mereka. Dan, tentu saja, dengan demikian para bhikkhu tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan baik untuk melatih diri agar lebih baik dan terus bertambah baik sehingga mencapai tingkat tertinggi yaitu kesucian atau Nibbana dalam kehidupan ini juga.

Demikianlah, paling tidak terdapat empat hal yang bisa dan pantas direnungkan dalam masa Kathina ini.Semoga kita semua tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan Kathina ini untuk secara aktif mengembangkan kebajikan dan meningkatkan kualitas batin kita masing-masing.

Semoga kita semua berbahagia.

Selamat Kathina.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata.

Makna Sosial Keagamaan Pembacaan Paritta Dalam Agama Buddha


oleh :
Ven. Dr. Pategama Gnanarama Thera                                                                               Lanka Daily News, Jan 12, 2005

Colombo , Sri Lanka —Agama Buddha ditinjau dari pandangan fungsionalis sosiologis memberikan peranan dalam membawakan kebersamaan sosial di masyarakat. Praktek pembacaan paritta dalam Agama Buddha dengan jelas merupakan alat yang dipakai untuk memberikan dukungan psikologis pada para pengikutnya.

Salah satu pembuat teori fungsionalis terdahulu, Emile Durkheim, menunjukkan fungsi agama dalam mempertahankan kekompakan sosial di sistem sosial apapun. Maka sikap Agama Buddha terhadap pembacaan paritta dapat dianalisa dari sudut yang berhubungan dengan sosiologis, guna melihat seberapa jauh kecenderungan Agama Buddha membawa kebersamaan dan kesatuan di masyarakat.

Pembacaan paritta yang dilakukan sehubungan dengan peristiwa-peristiwa penting di kehidupan sehari-hari memungkinkan para umat Buddha memelihara kebersamaan sosial dan identitas Buddhis bahkan dalam masyarakat modern yang berubah pesat. Agama Buddha menyediakan dukungan psikologis dalam ketidakpastian, kesedihan dan penderitaan para pengikutnya.

Dukungan yang telah diperluas secara moral dan emosi tersebut dinamakan dukungan psikologis dalam istilah sosiologis. Dukungan tersebut dapat dilihat dalam pembacaan paritta yang dilakukan tidak hanya untuk peristiwa kelahiran, pernikahan dan kematian, tetapi juga untuk penderitaan dalam hidup dan juga untuk setiap kejadian yang menguntungkan. Pembacaan paritta begitu kuat telah menyatu ke dalam gaya hidup umat Buddha sehingga menjadi salah satu praktek Agama Buddha yang paling populer di antara para umat Buddha di seluruh dunia.

Dalam rumah tangga Buddhis, pembacaan paritta dilakukan di setiap peristiwa penting rumah tangga guna menghilangkan pengaruh-pengaruh jahat dan memberikan berkah pada orang atau pihak yang bersangkutan. Pembacaan paritta dilakukan di peristiwa kelahiran anak, pengharapan keselamatan proses kelahiran dan selanjutnya di setiap peristiwa pribadi dan sosial yang bermakna bagi umat Buddha.

Dengan cara demikian, kebanyakan peristiwa upacara ditandai dengan pembacaan paritta oleh para bhikkhu. Tidak peduli apakah itu peletakan batu pertama bangunan atau memasuki rumah baru atau pernikahan, umat Buddha biasanya memohon berkah dalam bentuk paritta yang dibacakan oleh beberapa bhikkhu.

Semangat tinggi yang ditunjukkan dalam pembacaan paritta tersebut dengan jelas memberikan semacam bentuk dorongan emosi. Upacara peristiwa-peristiwa penting pribadi, sosial dan relijius seringkali dirayakan dengan kerjasama dan partisipasi dari para anggota keluarga, kawan-kawan dan simpatisan.

Lagi pula, penting untuk dicatat, disamping melakukan konsultasi pengobatan, paritta dibaca untuk mereka yang sedang sakit, memohon berkah atas kekuatan kebenaran Buddha, Dhamma dan Sangha demi penyembuhan secara cepat.

Maka cukup logis untuk menyatakan bahwa pembacaan paritta dalam Agama Buddha telah memperkenalkan suatu dimensi relijius bagi umat awam bahwa mereka dapat berpartisipasi secara aktif dalam praktek tersebut dan dengan demikian turut memberikan sumbangan pada pemeliharaan kebersamaan sosial karena dukungan psikologis yang diberikan oleh perbuatan tersebut.

Apakah pembacaan paritta itu?

‘Paritta’ menurut etimologi berarti ‘perlindungan’ (berasal dari pari+tra = untuk melindungi). Dijelaskan dalam arti pemberian perlindungan di setiap keadaan dengan permohonan berkah atas kebenaran Tiga Permata pada umumnya dan terutama atas kebenaran Dhamma.

Dalam pemberian perlindungan, beberapa aspek dari Dhamma ditekankan untuk memberikan berkah bagi mereka yang memerlukan. Ditekankan bahwa pembacaan-pembacaan yang bersifat melindungi ini bukanlah dari karangan (mantra) mistik yang berasal dari campuran kata-kata dan suara atau formula gaib atau jimat atau mantra-mantra pengusir setan.

Paritta adalah khotbah asli Sang Buddha dan yang diabadikan dalam Kitab Suci Tipitaka Pali. Karya yang dikenal sebagai ‘The Great Book of Protection’ (Buku Perlindungan Besar) diduga disusun di Sri Lanka pada masa awal jaman, karya tersebut terdiri dari khotbah-khotbah yang dipilih dari teks-teks yang diakui dan sebagian besar disusun untuk keperluan pembacaan paritta.

Khotbah-khotbah ini telah dideklamasikan sebagai paritta atau bacaan (chant) bahkan di jaman Sang Buddha. Secara perlahan-lahan, saat Buddhisme berkembang menjadi agama dengan pengikut besar, pembacaan paritta menjadi lebih populer di antara mereka karena kemanjurannya memberikan perlindungan dengan menangkis dukkha, bhaya, roga.

Permohonan berkah dengan penyebaran cinta kasih

Pada umumnya, berkah didapatkan seseorang atau orang-orang dengan pertimbangan beberapa aspek Dhamma. Disamping penyebaran cinta kasih ke semua makhluk, perenungan Dhamma, permohonan kekuatan dan sifat-sifat Dhamma juga disertakan dalam bacaan-bacaan (chant) ini. Maka dalam perkembangan pembacaan paritta sebagai tradisi Buddhis khusus, beberapa aspek permohonan berkah turut mempertimbangkan situasi tertentu yang dihadapi para bhikkhu dan umat awam di jaman Sang Buddha.

Mungkin bentuk pembacaan paritta terdahulu berhubungan dengan pengkhotbahan tentang cinta kasih (Metta Sutta). Khotbah tersebut ditemukan di Suttanipata dan Khuddakapatha dan digunakan untuk memancarkan cinta kasih (metta) kepada semua makhluk.

Sang Buddha mengajarkan khotbah tersebut kepada beberapa bhikkhu yang tinggal di hutan, dilakukan sebagai paritta perlindungan dan juga sebagai obyek meditasi. Dalam meditasi mereka, para bhikkhu telah diganggu oleh makhluk-makhluk dewa yang mencoba menakuti para bhikkhu agar mereka meninggalkan hutan tersebut.

Bhikkhu-bhikkhu tersebut telah menjadikan hutan sebagai tempat tinggal mereka selama musim hujan. Menyadari bahwa kehadiran para bhikkhu ini dapat mengganggu makhluk-makhluk dewa yang tinggal di pepohonan hutan itu, mereka sering mencoba menakuti para bhikkhu dengan menyamar sebagai setan-setan.

Para bhikkhu menjadi takut dan konsentrasi mereka terganggu. Mereka kembali ke Savatthi dan melaporkan kejadian tersebut pada Sang Buddha. Sang Buddha mengajarkan mereka Metta Sutta untuk dibacakan dan inti dari sutta tersebut dijadikan obyek meditasi.

Saat kembali ke hutan yang sama, mereka membacakan khotbah tersebut dan pada waktu yang sama mereka mengkonsentrasikan perhatian ke thema khotbah tersebut. Diceritakan bahwa para dewa mendengarkan pembacaan sutta, kejengkelan yang tak beralasan mereka menjadi reda dan sejak saat itu mereka menjaga dan melindungi para bhikkhu selama para bhikkhu menetap di sana .

Khanda Paritta yang ditemukan di Vinaya Cullavagga, Anguttara Nikaya, dan juga di Khandavatta Jataka dari koleksi Jataka mengajarkan para bhikkhu yang menetap di hutan untuk menyebarkan cinta kasih kepada empat jenis ular naga agar tidak digigit mereka. Khotbah tersebut dinamakan Ahinda Sutta di Anguttara Nikaya.

Sutta tersebut diajarkan sehubungan dengan kematian seorang bhikkhu yang menetap di hutan yang disebabkan oleh gigitan seekor ular. Walaupun sampai sekarang tidak diketahui empat jenis ular naga tersebut, mereka juga ditemukan dalam sebuah naskah Sanskerta. Walaupun sutta tersebut berbicara tentang cinta kasih dan kekuatan tujuh Buddha, sutta tersebut diberi nama Khanda Paritta di Cullavagga.

Hal ini membingungkan Lionel Lokuiliyana yang menyusun ‘The Great Book of protection’ dalam versi Bahasa Inggris. Karena sulit mengatakan mengapa khotbah tersebut diberi nama itu, ia menduga bahwa mungkin sutta itu diberi nama menurut ular jahat yang ditemukan di Mahabharata. Tetapi alasan itu tidak tepat karena kumpulan Mahabharata disusun beberapa abad setelah Vinaya Cullavagga dan juga karya-karya Nikaya, nama tersebut tidak ada hubungannya dengan ular naga jahat di Mahabharata.

Sutta tersebut mungkin dinamakan demikian karena sutta itu adalah perlindungan untuk lima nafsu indriya (pancakkhandha) yang dimiliki oleh setiap individu. Tetapi tujuh Buddha dalam permohonan berkah yang dibicarakan sutta tersebut mungkin timbul beberapa puluh tahun setelah kebangkitan Buddhisme.


Sumber : Socio-religious significance of Buddhist chanting

Diterjemahkan oleh : Jenny H – Surabaya

Editor : Bhikkhu Uttamo

Meditasi Sebagai Kunci Pernikahan Bahagia

Bhagavant.com,

London, Inggris Raya – Pangeran William dari Kerajaan Inggris dan Kate Middleton direncanakan akan melangsungkan pernikahan di Westminster Abbey, London, Inggris Raya pada 29 April 2011 mendatang. Undangan dari pernikahan yang mungkin menjadi salah satu yang termegah pada abad ini pun telah disebar kepada tokoh-tokoh berpengaruh.

Salah satu tokoh yang menerima undangan pernikahan putra sulung Pangeran Charles dan mendiang Putri Diana tersebut adalah seorang bhikkhu senior di Inggris yaitu Yang Mulia Bhante Bogoda Seelawimala, Ketua Sangha Nayaka Inggris Raya, sekaligus kepala Vihara Buddhis London di Chiswick, London.

Dengan diundangnya Bhante Bogoda Seelawimala, menjadikan beliau sebagai bhikkhu pertama yang menghadiri upacara pernikahan Kerajaan Inggris.

Saat menerima undangan pernikahan kerajaan tersebut, Bhante Bogoda Seelawimala membalasnya dengan beberapa nasihat untuk pernikahan bahagia yang ditujukan kepada Pangeran William dan Kate Middleton, yang mungkin dapat membantu pasangan kerajaan tersebut dalam mengatasi masalah-masalah dalam pernikahan.

“Diskusikan permasalahan kalian dan bermeditasilah bersama setiap pagi untuk mengosongkan permasalahan dari pikiran kalian,” demikian kata Bhante Bogoda Seelawimala, yang dikutip Bhagavant.com dari Evening Standard.

Selain itu, Bhante yang memimpin kurang lebih 150.000 orang Buddhis Inggris tersebut juga memperingatkan pasangan tersebut agar “membangun sebuah percontohan” mengingat mereka adalah tokoh-tokoh panutan.

Meskipun Bhante Bogoda Seelawimala adalah bhikkhu pertama yang menghadiri pernikahan kerajaan tersebut, namun ini bukanlah pertama kalinya bagi beliau bertemu dengan keluarga Kerajaan Inggris.

Pada awal 2005 dimana bencana tsunami menerjang Samudera Hindia pada penghujung tahun 2004, Pangeran Charles berkunjung ke Vihara di Chiswick tersebut untuk menunjukkan dukungan dan solidaritasnya terhadap masyarakat Sri Lanka dan negara lainnya yang terkena bencana mematikan tersebut.

“Ia adalah pria yang sangat berhati hangat,” kenang Bhante Bogoda. “Ia sangat tertarik pada Buddhisme dan menanyakan beberapa pertanyaan bagus. Ia sangat ingin tahu mengenai meditasi dan betapa sulitnya duduk dengan kedua lutut anda menyilang utnuk waktu yang lama.

”Bhante Bogoda sangat berharap kepada Pangeran William untuk mengikuti jejak ayahnya, Pangeran Charles, dan mengunjungi vihara tersebut. Beliau mengatakan, ”Saya akan senang jika mereka bergabung dalam sebuah sesi meditasi.

”Vihara Buddhis London merupakan vihara pertama yang dibangun di luar benua Asia. Vihara yang berbasis ajaran tradisi Theravada tersebut didirikan pada tahun 1926 oleh Anagarika Dharmapala dari Sri Lanka.



[Sum] Sumber :http://berita.bhagavant.com/2011/03/25/meditasi-sebagai-kunci-pernikahan-bahagia.html

Hidup Ini Indah

Cipt. Andri Kwan

Saat terdiam di kesunyian
Saatnya untuk kumerenungkan
Makna indah hidup dalam Dhamma
Membuat ku tenang dalam melangkah


Dengan karma hidup ku serahkan
Dengan ringan hidup ku jalankan
Mengerti akan Kesunyataan
Hilangkan semua kegelisahan


Reff:
Hidup ini indah…
Berjalan bersama Dhamma
Hidup ini indah…
Bernaung di bawah Dhamma


Tak ada makhluk yang tak bersinar
Jika pandangan t’lah tercerahkan
Tak ada maut yang menggoyahkan
Jika ketenangan telah datang

Kembali ke Reff….

Senin, 20 Januari 2014

Agama Buddha dan Revolusi Ilmu Pengetahuan

Oleh :K. N. Jayatilleke

Adalah merupakan fakta historis bahwa revolusi ilmu pengetahuan yang terjadi pada Abad Ke-Tujuh Belas di Dunia Barat itu sebagian besar bertanggung jawab atas goncangnya konsepsi Agama, di masa awal, mengenai alam semesta. Tidak hanya bahwa ilmu pengetahuan itu bertentangan dengan dogma yang khusus dari Agama yang ada di Dunia Barat, tetapi tampaknya juga telah membahayakan dasar-dasar maupun konsep-konsep fundamental, yang bersifat implicit, didalam pandangan Agama mengenai benda-benda.Cosmology baru dari Copernicus, Galileo dan para generasi penerusnya, telah mengubah gambaran geocentris tentang alam semesta, walaupun itu dinyatakan sebagai “bertentangan dengan Kitab Suci”.

Biology baru (Teori Evolusi) telah menggoncangkan doktrin-doktrin mengenai penciptaan khusus dan mengenai kejatuhan manusia. Dan psychology baru tampaknya menunjukkan bahwa jiwa manusia, itu seperti badan jasmaninya, bekerja atas dasar pola-pola hukum sebab dan akibatnya, dan seberapa pun megvnyelamnya di kedalaman, adalah tidak mungkin untuk menemukan didalamnya, roh yang tidak mengalami perubahan, yang menguasai semua aktivitas-aktivitasnya.Tetapi lebih serious lagi adalah akibat dari pandangan ilmu pengetahuan terhadap sikap religious, yang umum, yang menyangkut suatu kepercayaan terhadap Tuhan yang bersifat pribadi (= personal God), terhadap Tujuan dan terhadap objektivitas dari nilai-nilai moral.

Ilmu pengetahuan telah membuat penemuan-penemuan dan telah memperoleh kemajuan yang menyenangkan mengenai assumsi persebaban universal, tanpa perlu keterangan teleologis atau intervensi yang bersifat Illahi. Ilmu pengetahuan membicarakan suatu alam semesta yang sifatnya amoral, yang bersifat acuh tak acuh terhadap manusia. Sama seperti diantara manusia, nilai-nilai moral, juga sama dengan nilai-nilai ekonomi, itu sifatnya subjektif, karena nilai-nilai tersebut tergantung pada kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan manusia, dan suatu humanisme ethis adalah yang paling baik, sebab dapat memberikan harapan-harapan. Bahkan ethica yang demikian itu tidak perlu bersifat universal, karena, seperti yang telah diketemukan oleh para anthropologist, masyarakat yang berbeda-beda itu tampaknya mengikuti kode-kode moral yang berbeda-beda, yang sesuai untuk mereka. Oleh karena itu, relativisme ethis merupakan kenyataan ilmiah mengenai sifat dari nilai-nilai moral.

Tentu saja, terdapat beberapa orang yang masih menggantungkan dirinya pada dogma-dogma didalam menghadapi ilmu pengetahuan, atau masih mempercayai dogma-dogma didalam arti yang tidak harafiah. Tetapi posisi mereka masih tetap sama dengan yang lama, walaupun orang-orang tidak lagi bersifat optimistis (setelah melampaui Zaman Perang Dunia Ke-Satu dan Ke-Dua, dan setelah menginjak ambang seakan-akan Perang Dunia Ke-Tiga itu juga akan pecah), mengenai kemampuan ilmu pengetahuan didalam mengganti posisi lama, untuk menciptakan Dunia Baru yang berisi Perdamaian dan Kesejahteraan. Juga diterima sebagai hal yang wajar bahwa keterangan-keterangan yang sifatnya mechanistic tentang alam semesta itu tidak perlu untuk lalu harus membuang keterangan-keterangan yang bersifat teleologis.

Ilmu pengetahuan juga telah melenyapkan materialisme yang kasar dari Abad Ke-Delapan Belas, dan para ilmuwan tidak lagi menerangkan alam semesta atas dasar model-model mesin, sedang beberapa ilmuwan telah menyangkal determinasi yang kaku di bidang atom. Tetapi semua ini masih jauh dari teriakan Agama.Tempat yang bagaimana yang wajib ditempati oleh Agama Buddha didalam kontek yang demikian itu?. Apakah dogma-dogma dan sikap-sikapnya, berkeadaan lebih baik atau lebih buruk dari dogma-dogma dan sikap-sikap dari Agama-Agama lain?.

Beberapa penulis dari Dunia Barat mengenai Agama tampaknya telah berassumsi bahwa demikian itu adanya, tetapi apabila orang membaca banyak naskah-naskah Buddhis, orang akan mulai merasa heran, dan bertanya mengapa revolusi ilmu pengetahuan yang telah mempengaruhi hampir semua Agama itu, tidak terjadi pada Buddhisme yang ada di masa-masa awal dari perkembangannya.Saya katakan yang demikian itu, karena saya mendapati bahwa Buddhisme yang ada di masa-masa awal dari perkembangannya itu menggaris bawahi pentingnya pandangan ilmu pengetahuan didalam membicarakan problema-problema moralitas dan Agama. “Dogma” khususnya dikatakan mampu diverifikasi. Dan keterangannya yang bersifat umum tentang sifat manusia dan alam semesta itu berkeadaan sangat bersesuaian dengan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan, dan tidak begitu menyimpang, atau berbeda dengan keterangan-keterangan dari ilmu pengetahuan.

Didalam kita membicarakan hal yang disebutkan terakhir itu dapat kita temui misalnya bahwa konsepsi tentang Kosmos, dari Agama Buddha pada awal perkembangannya, itu secara essensinya, sama dengan konsepsi modern tentang alam semesta. Didalam teks Agama Buddha yang berbahasa Pali, yang kami warisi dan telah kami pelajari, dapat kami kemukakan keterangan secara aksaranya bahwa terdapat ratusan dan bahkan ribuan matahari-matahari, dan bulan-bulan, bumi-bumi, dan dunia-dunia yang lebih tinggi lainnya, yang membentuk sistem dunia minor; bahwa ratusan ribu sistem dunia minor, itu membentuk sistem dunia pertengahan; dan ratusan ribu sistem dunia pertengahan itu membentuk sistem dunia major. Didalam terminologi modern, itu tampaknya, yang dinamai sistem dunia minor (yang didalam Agama Buddha dinamai culanika-lokadhatu) itu adalah sebuah galaxy, yang menurut pengamatan ilmu astronomi modern, dengan mempergunakan telescope yang paling baik, terdiri dari ratusan juta bintang-bintang.

Konsepsi Agama Buddha mengenai waktu, memiliki kesamaan yang sangat besar, dengan konsepsinya ilmu pengetahuan.Tentu saja, tidak terdapat theori evolusi biologis seperti yang diuraikan oleh ilmu pengetahuan modern, pada teks-teks Agama Buddha, tetapi mengenai manusia dan masyarakat, dan juga mengenai alam-alam, yang digambarkan sebagai selalu mengalami perubahan dan selalu mengalami evolusi, yang sesuai dengan hukum sebab dan akibat, konsepsi Agama Buddha jelas sangat mirip dengan konsepsinya ilmu pengetahuan.

Kemudian didalam bidang psychologi (= ilmu-jiwa), kita dapati bahwa Buddhisme didalam awal perkembangannya, pandangannya mengenai manusia adalah menganggap manusia itu sebagai suatu unit psycho-physical yang unsur “psyche”nya tidak merupakan roh (= soul) yang tidak mengalami perubahan, tetapi merupakan suatu continuum yang bersifat dinamis yang terdiri dari bagian kesadaran jiwa dan bagian-tidak-sadarNya jiwa, didalam mana tersimpan residue ingatan-ingatan yang di-’charge’ (= diisi) secara emosional, yang berisi ingatan semasa kanak-kanaknya, dan juga ingatan-ingatan mengenai pengalamannya semasa kehidupan-kehidupannya dalam kelahiran-kelahirannya, sebelum kelahiran yang sekarang ini. Jiwa yang sifatnya demikian itu, diterangkan, sebagai didorong untuk bertingkah-laku dibawah pengaruh tiga type keinginan, – yaitu : keinginan untuk memuasi keinginan-keinginan keindriaan (= Koma-tanha), keinginan untuk melestarikan-dirinya (= Bhava-tanha), dan keinginan untuk menghancurkan sesuatu (= Vibhava-tanha). Kecuali mengenai kepercayaan tentang kelahiran kembali (= reinkarnasi = tumimbal-lahir), konsepsi tentang jiwa, itu dipandang dari sudut ilmu pengetahuan modern, dinyatakan benar (= bersesuaian dengan ilmu, pengetahuan) dan orang tidak akan mengalami salah langkah, jika dalam pengamatannya melihat keadaan yang sama (parallel) antara ajaran Agama Buddha mengenai ketiga keinginan tersebut dimuka, dengan konsepsinya Freud mengenai : Eros (= Cinta-Berahi), Libido (= Dorongan untuk Hidup), dan Thanatos (= Dorongan untuk Mati, atau untuk Menghancurkan sesuatu).

Saya mengemukakan kesamaan tersebut diatas, tidak dengan bermaksud untuk mengatakan bahwa Agama Buddha itu layak mengajar sesuatu kepada ilmu pengetahuan modern, tetapi bahwa revolusi ilmu pengetahuan itu tidak mempengaruhi dan tidak menyimpangkan pandangan Agama Buddha, seperti yang terjadi terhadap tradisi-tradisi keagamaan dari Agama-Agama lain.Sekarang, marilah kita bicarakan kembali mengenai isi ajaran Agama Buddha, sebagai theori tentang sifat dan tujuan dari manusia. Pertama-tama, perlulah diterangkan bahwa Agama Buddha itu memegang teguh pandangannya bahwa suatu penyelidikan yang jujur dan tidak memihak, terhadap Kebenaran atau Kasunyataan, itu merupakan pandangan yang benar dan baik, walaupun terhadap masalah-masalah religi dan moral, itu tidak menghalangi usaha untuk mencapai kemajuan spiritual, yang dilakukan oleh seseorang.

Lebih dari satu kali, dalam beberapa kesempatan, Sang Buddha telah memberikan nasehat kepada para Pencari Kasunyataan, yang jujur, didalam kata-kata beliau sebagai berikut ini : “Apabila anda menghadapi suatu situasi yang meragukan, hendaklah anda menangguhkan keputusan anda. Janganlah anda menerima sesuatu pendapat, hanya : karena pendapat tersebut didesas-desuskan sedemikian rupa, karena pendapat tersebut merupakan kepercayaan yang tradisional sifatnya, karena sebagian besar dari orang-orang menyetujui pendapat itu, karena pendapat tersebut terdapat didalam Kitab-Kitab Suci, karena pendapat tersebut merupakan hasil dari argumentasi dan spekulasi yang bersifat metaphysis, karena pendapat tersebut merupakan fakta yang berasal dari penyelidikan yang dangkal, karena pendapat tersebut, bersesuaian dengan kecenderungan-kecenderungan seseorang, karena pendapat tersebut merupakan pendapat dari tokoh yang authoritative atau merupakan pendapat dari guru anda yang memilliki nilai yang prestise-nya tinggi.”. Penyelidikan yang kritis dan verifikasi pribadi adalah pembimbing ke religi dan moralitas yang benar. “Apabila seseorang berbicara menjelekkan saya, ajaran saya, dan himpunan pendeta yang saya bentuk,” demikian kata Sang Buddha, “janganlah lalu anda memiliki niat buruk terhadap dia, itu membuat hati anda menjadi goncang, atau kecewa, karena tanggapan anda itu hanya akan menyebabkan hati anda terluka.” Sebaliknya, apabila seseorang berbicara menyebut-nyebut kebaikan saya, ajaran saya, dan himpunan pendeta yang saya bentuk, janganlah lalu hati anda menjadi terlalu gembira, hati anda menjadi bergejolak dan berbangga diri, karena apabila demikian tanggapan anda, maka itu hanya akan menghalangi pembentukan keputusan pendapat anda secara benar, tanpa perlu menghiraukan apakah sifat-sifat baik didalam diri kita yang terpuji itu benar-benar ada didalam diri kita.” Suatu pandangan yang ilmiah itu kita pandang perlu kita miliki, tidak hanya karena itu penting untuk menemukan kehidupan yang religious dan yang bermoral sejati saja, tetapi bahkan penting untuk pengkajian-diri, secara berlanjut, yang didalam kehidupan hal yang demikian itu memang kita perlukan.

Selanjutnya, menurut pandangan Agama Buddha, lapangan phenomena religi dan moral, itu bukan lapangan mysteri, tetapi memegang teguh pandangan bahwa hukum sebab dan akibat itu sebagai yang mewarnai gejala agama dan moral. Prinsip determinasi sebab akibat, yaitu yang rumusannya berbunyi : “Jika A adalah menjadi unsur penyebab timbulnya B, maka kapan saja terjadi A, maka peristiwa B akan muncul, dan B itu tidak akan muncul, kecuali jika A terjadi”; pendapat yang demikian itu dipegang teguh oleh Sang Buddha. sebagai suatu pedoman. Selanjutnya Sang Buddha menerangkan bahwa : “Saya hanya berbicara tentang sebab dan hal-hal yang timbul dari unsur sebab itu.” Jadi, semua phenomena, semua gejala, yang tercakup didalamnya pengalaman moral dan spiritual (dengan kekecualian Nirvana, yang merupakan phenomena yang tidak terkena persyaratan), diterangkan sebagai dipersyarati oleh hukum sebab dan akibat. Hukum-hukum yang demikian itu digolongkan menurut lapangan operasi, sebagai hukum-hukum physik, atau hukum-hukum jasmaniah (=utuniyama) hukum-hukum biologis (= vejaniyama), hukum-hukum psychologis, atau hukum-hukum kejiwaan (= cittaniyama), dan hukum-hukum spiritual dan moral (= dhamma-niyama).

Sekarang marilah kita bicarakan tentang tiga hukum yang mengatur kehidupan dan tujuan hidup individu. Hukum-hukum itu adalah : hukum kontinuitas, yang membuat lestarinya individualitas (= bhava), hukum retribusi, atau penjatuhan hukuman dan pemberian hadiah (= karma), dimana perbuatan-perbuatan yang baik dipandang dari sudut moral, menghasilkan akibat yang menyenangkan, sedang perbuatan-perbuatan yang jahat dipandang dari sudut moral, menghasilkan akibat yang tidak menyenangkan, bagi individu, dan akhirnya, ada : hukum timbulnya sesuatu berdasarkan persebaban tertentu (= causal genesis, atau dinamai “persebaban yang saling bergantungan”) (= paticcasamuppada), yang dimaksudkan untuk menerangkan kedua hukum yang dua tersebut dimuka.

Hukum kontinuitas, yang secara populer dikenal sebagai kelahiran kembali (= tumimbal lahir = reinkarnasi) itu meyakinkan adanya daya tahan, atau kelestarian, dari bagian tidak-sadar, yang bersifat dinamis, pada (jiwa) individu, terhadap adanya kematian badan jasmani. Apabila bagian tidak-sadar (dari jiwa), atau individu, itu tidak bersesuaian keadaannya dengan alam-alam yang tinggi, yang disebabkan karena keadaan dari perkembangan spiritual dan moral, dari individu, dapatlah dikatakan secara umum bahwa terdapat daya tahan atau kelestarian didalam kehidupan di alam-roh (= petti-visaya = spirit-sphere), sebagai roh yang tidak berbadan (= discarnate spirit), dan yang kemudian dapat mengalami kelahiran lagi di dunia, sebagai manusia.

Kritik-kritik terhadap Agama Buddha sering mengemukakan pendapatnya bahwa theori kelahiran kembali, dari Agama Buddha ini, bersifat dogmatic, atau diterima begitu saja oleh umatnya, tetapi suatu studi yang dilakukan secara teliti terhadap teks-teks Agama Buddha menunjukkan bahwa dalam kenyataannya tidak demikian halnya.Agama Buddha muncul sewaktu timbul spekulasi, atau pemikiran, atau perenungan, yang mendalam, tentang problema “survival”, atau “ketulusan-hidup”. Terdapat juga ketika itu beberapa mahzab filsafat materialisme, yang semuanya menyangkal kebenaran pandangan terhadap “survival” atau “ketulusan-hidup”, dan juga terdapat golongan filsafat sceptics, yang hanya meragukan kemungkinan adanya “survival”, atau “ketulusan-hidup” itu. Bahkan eksperimen sebagai misalnya kegiatan menimbang badan orang menjelang dan sesudah orang meninggal dunia, agar dapat menemukan sesuatu bukti mengenai masalah survival, atau ketulusan-hidup.

Salah satu dari theori-theori materialis, menyebutkan dan yang tidak dipercaya oleh Sang Buddha, ialah bahwa kesadaran dari jiwa, atau dari individu, itu merupakan hasil-samping, – by-product -, dari elemen-elemen, yang dicampur didalam proporsi tertentu untuk membentuk badan organis, yang sama keadaannya seperti keadaan didalam mana warna merah itu dihasilkan dengan pencampuran secara tertentu, dan dalam perbandingan yang sesuai, dari pinang, sirih, dan kapur” (yang tidak satu pun dari ketiganya yang berwarna merah). Beberapa dari theori-theori yang materialistic, yang sifatnya demikian itu, maupun yang sama dengan sejumlah theori-theori yang mengatakan bahwa orang itu hanya hidup sekali saja, dan lalu orang meninggal dunia (tidak secara berkali-kali, seperti Kasunyataan yang ditunjukkan oleh Agama Buddha), ada yang berpegang teguh pada pendapatnya bahwa roh itu tetap sadar setelah orangnya meninggal dunia, yang lainnya berpendapat bahwa orang itu setelah meninggal dunia roh-nya tidak sadar (tetapi tetap ada), namun ada lagi yang berpendapat bahwa setelah orang meninggal dunia, orangnya lalu memiliki kesadaran super; semua theori itu telah dikaji oleh Sang Buddha, dan Sang Buddha telah mengemukakan pendapat beliau (berdasarkan Kasunyataan yang telah beliau peroleh).

Theori kelahiran kembali itu telah dikemukakan sebagai suatu yang benar-benar berkeadaan demikian, yang kebenarannya dapat diverifikasi, dengan jalan memperkembangkan kemampuan melihat kembali kelahiran-kelahiran kita didalam kehidupan-kehidupan sebelum kelahiran yang sekarang ini; potensi untuk dapat melihat hal yang demikian itu, dikatakan berada didalam diri tiap orang, dan ada didalam jangkauan semua orang untuk memilikinya.Oleh karena itu, kasunyataan tentang kelahiran kembali (= reinkarnasi = tumimbal lahir) itu bukan suatu dogma untuk dipercayai begitu saja dengan kepercayaan, tetapi merupakan suatu hypothesa yang dapat diverifikasi secara ilmiah kebenarannya.

Adapun tentang bukti-bukti mengenai kasunyataan reinkarnasi, sekarang ini, secara kasar terdapat dua jenis keterangan. Terdapat bukti secara spontan, yang dialami oleh banyak orang, baik yang tinggal di Dunia Timur, maupun yang tinggal di Dunia Barat, yang menyatakan bahwa mereka itu memiliki ingatan-ingatan (yang jelas) akan kehidupannya di masa-masa kehidupan sebelum yang sekarang ini, yang beberapa kasusnya, mengenai ingatannya kembali dengan jelas akan kehidupannya di masa-masa sebelum yang sekarang ini, telah dikonfirmasikan (telah diperkuat) oleh penyelidikan-penyelidikan lebih lanjut (yaitu misalnya : kasusnya Shanti Devi, yang dimuat didalam majalah mingguan India yang bernama “The Illustrated Weekly of India“, terbitan 15 Desember 1935; kasusnya Nellie Horster, yang dimuat didalam majalah “Milwaukee Sentinel”, terbitan 25 September 1892). Juga terdapat banyak sekali bukti-bukti tentang kebenaran adanya reinkarnasi itu, yang lebih dapat dipercaya lagi, yang didapat dan dikemukakan oleh para ahli ilmu penyakit jiwa (= psychiatrist) dan para ahli limu jiwa (= psychologist) yang telah menemukan bahwa didalam keadaan hypnose yang trance, orang yang dihypnose itu ingatan-ingatannya dapat dilacak ke belakang, tidak hanya sampai masa kanak-kanaknya saja, tetapi juga dapat hingga ke kehidupannya sebelum hidup di Bumi ini; beberapa kasus dari hal-hal yang demikian itu telah dapat diverifikasi (yaitu, misalnya oleh A. de Roches, didalam bukunya yang berjudul : “Les Vies Successives“, penerbitan : Bibliotheque Charcomac, Paris; Ralph Shirley, didalam bukunya yang berjudul : “The Problem of Rebirth“, penerbitan : Rider & Co, London; Professor Theodore Flourncy, didalam bukunya yang berjudul : “Des Inde a la planet March“; Professor Charles E. Cory, didalam bukunya yang berjudul : “A divided Self”, yang dimuat didalam majalah Journal of Abnormal Psychology, Vol. XIV, 1919).

Hukum retribusi moral (= Hukum sebab-akibat di bidang moral), atau hukum karma, seperti yang diajarkan oleh Agama Buddha, juga dikiritik atas dasar bahwa itu banyak terwarnai sifat fatalisme. Kritik yang demikian itu, karena orang yang mengkirik tidak memahami ajaran Sang Buddha. Hukum sebab-akibat didalam Agama Buddha diperbedakan secara teliti oleh Sang Buddha, dalam satu hal dari Determinisme yang kaku, dan pada hal yang lainnya lagi dari Indeterminisme. Sang Buddha mengemukakan argumentasi beliau bahwa apabila segala sesuatu itu terkena determinasi, maka lalu akan tidak ada kebebasan-kehendak (= free-will) dan tidak ada lagi kehidupan moral dan spiritual, dan lalu kita ini akan menjadi hanya sebagai budak-budak dari masa lalu saja, didalam hal yang lain, apabila segala sesuatu itu terkena Indeterminisme (adhicca-samuppanna) atau terjadi secara kebetulan saja, maka kehidupan moral dan spiritual akan tidak mungkin ada, karena latihan pemeliharaan dan peningkatan nilai-nilai akan tidak menghasilkan pertumbuhan moral dan spiritual.

Menurut Sang Buddha, karena dunia ini telah dikonstitusikan secara demikian rupa, maka segala sesuatu itu tidak terkena determinisme yang kaku, atau tidak sama sekali memiliki indeterminisme sehingga kehidupan religious itu mungkin dan kita inginkan.Agar supaya dapat menerangkan secara baik dan jelas, mengenai kasunyataan tentang reinkarnasi dan hukum karma, beberapa ahli pemikir dari aliran Agama Hindu yang dinamai faham Upanisad telah menerima doktrin-doktrin tersebut, dengan mengemukakan konsep tentang atman, atau roh, yang sifatnya kekal abadi, yang tidak mengalami sesuatu perubahan (= changeless soul). Individu itu secara berlanjut tetap ada, dan tetap berkeadaan sama, karena dia memilki roh yang bersifat tetap (permanent soul), yang menjadi agent dari semua aksi, sekaligus juga menjadi pribadi yang mengalami atau menerima buah-buah dari perbuatannya. Sang Buddha dengan cepat menanggapi konsep tersebut, dengan mengatakan bahwa beliau telah melihat bahwa entitas-entitas yang bersifat metaphysis (metaphysical entities) yang demikian itu, tidak menerangkan sesuatu, dan bahwa itu tidak ada artinya dalam mengemukakan atau menyangkal terhadap entitas (= entity) yang tidak dapat diverifikasi. Oleh karena itu, Sang Buddha menolak konsep roh, sementara itu beliau tetap mempertahankan doktrin mengenai kontinuitas dari individu, yang dapat kita amati, dan menerangkan kedua hukum tersebut diatas, yaitu tentang hukum kontinuitas dan retribusi moral (hukum sebab-dan-akibat) atas dasar bahwa semua faktor phenomena yang dapat diverifikasi, itu menentukan genesisnya yang kontinu, dan pertumbuhan dari individu. Hal ini sangat rumit, jika kita berikan uraiannya hingga sekecil-kecilnya didalam artikel ini. Singkatnya bahwa itu memberi deskripsi, atau menguraikan tentang bagaimana individu itu dikondisikan oleh masa lampau psychologis-nya (kehidupan-kehidupan di masa lampau-lah, yaitu kehidupan-kehidupan sebelum yang sekarang ini, yang merupakan, atau menjadi sejumlah faktor, yang mewarnai corak umum, dari perwatakannya) dan bahwa konstitusi genetical dari tubuh seseorang, itu berasal dari kedua orang-tuanya. Individu itu tetap beraksi secara kontinu dan bereaksi terus terhadap lingkungan-sekitarnya, mengumpul-ngumpulkan pengalaman kehidupan didalam kesadaran yang selalu maju, atau mengalami evolusi (= samvattanika-vinnana), yang berlanjut terus setelah kematian badan jasmani, apabila ketiga jenis keinginan yang terdapat didalam individu itu masih berkeadaan aktif.Pengetahuan yang sifatnya pribadi dan langsung mengenai ketiga hukum tersebut diatas itu membentuk tiga-pengetahuan (= tisso vijja), yang oleh Sang Buddha dan siswa-siswa beliau, dinyatakan bahwa telah memilikinya. Kesadaran terhadap fakta tersebut, serta ditemuinya jalan didalam mana orang dapat tidak lagi berkeadaan dikondisikan, itu dikatakan merupakan hasil telah bebasnya seseorang dari terkena kondisi, secara terus menerus, -suatu keadaan yang bersesuaian dengan pencapaian keadaan tidak lagi berkeadaan dikondisikan, serta memperoleh kemudahan didalam mencapai Nirvana. Ini merupakan penyelamatan yang diperoleh orang didalam menganut dan mempraktekkan ajaran-ajaran Agama Buddha, yang secara aksaranya, terbebasnya orang dari ikatan kehidupan yang berkeadaan terbatas dan terkena kondisi-kondisi.Secara tepat, dapatlah diterangkan bahwa Nirvanaitu di luar deskripsi, atau konsepsi; alasan dikatakan demikian, karena Nirvana, adalah keadaan yang sedemikian berbeda, secara radikal, dengan type benda-benda yang ada, yang dapat kita bayangkan atau konsepsikan, sehingga deskripsi yang penuh arti atau defisininya, tidak mungkin dapat kita berikan dalam bentuk istilah-istilah yang bersifat konsepsional.

Dikatakan bahwa, untuk mengatakan sesuatu, atau seseorang, itu berada di Nirvana, adalah salah, karena eksistensi adalah suatu konsep yang kita applikasikan kepada benda-benda phenomenal dan mempunyai referensi kepada ruang dan waktu. Nirvana itu bersifat “tidak terkena hitungan waktu” (= timeless), didalam arti bahwa itu tidak dapat kita perkatakan, sebagai sesuatu yang ada di masa yang lampau, ada di masa sekarang, dan ada di masa yang akan datang”; Nirvana itu tidak bertempat didalam ruang dan waktu, dan tidak terkondisikan oleh persebaban, tidak sama dengan semua benda yang bersifat phenomenal; tetapi pernyataan bahwa Nirvana itu “tidak ada” (does not exist) adalah pernyataan yang juga salah, karena jika kita katakan bahwa Nirvana itu “tidak ada”, itu berarti lenyap atau berkeadaan hancur. Sekalipun demikian, deskripsi tentang Nirvana itu memiliki sifat berkeadaan positif dan sekaligus juga memiliki sifat negatif, walaupun ungkapan yang demikian ini, bukan merupakan suatu definisi yang eksak, sebab “Nirvana” itu berkeadaan “berada diluar scope atau lingkup logika”.Secara negatif, dapatlah diterangkan bahwa Nirvana, itu adalah keadaan tidak adanya ketidak-bahagiaan. Semua eksistensi phenomenal, itu dikatakan sebagai terkena ketidak-bahagiaan; kita katakan tidak bahagia, baik penyebabnya adalah karena menghayati rasa sakit jasmaniah atau kejiwaan, dan merasa was-was atas hari-hari yang akan kita jalani, maupun yang penyebabnya pengalaman yang menyenangkan, tetapi tidak dapat kita alami secara mantap, atau tidak bersifat abadi. Pandangan yang demikian itu, merupakan pandangan kehidupan yang sifatnya realistic, bahkan walaupun kita sedang menghadapi fakta secara sangat dekat, sebagai yang dikatakan oleh Sang Buddha sebagai berikut : “Manusia itu secara keseluruhan, lebih banyak mengalami penghayatan kebahagiaan, dari pada mengalami penghayatan hal-hal yang tidak menyenangkan”, dan oleh karena itu adalah tidak benar kalau dikatakan bahwa Agama Buddha itu bersifat pessimistic, karena Agama Buddha itu tidak berfikir dengan terwarnai oleh keinginan-keinginan (= wishful thinking).

Secara positif, dapat diterangkan bahwa Nirvana itu adalah merupakan suatu keadaan “Kebahagiaan Yang Tertinggal” (= Supreme felicity) = (Paramam sukham).Jalan untuk memperoleh keselamatan (didalam Agama Buddha) diutarakan sebagai ajaran Jalan Yang Ber-Ruas Delapan, didalam mana langkah pertamanya, adalah ajaran mengenai Pandangan atau Pemahaman Yang Benar, dan hidup sesuai dengan filsafat kehidupan yang benar, dan sebagai hasilnya lalu dapat memiliki Cita-Cita atau Aspirasi Yang Benar, Berbicara Yang Benar, Bertingkah-laku Yang Benar, Bermata-pencaharian Yang Benar, Berperhatian Yang Benar, yang titik kulminasinya pada pertumbuhan yang bersifat religious, dan kesadaran spiritual yang intuitif, yang diperoleh karena telah dapat menjalankan Meditasi atau Kontemplasi yang Benar. Hasil yang sepenuhnya dari kontemplasi, itu dapat dituai hanya dengan jalan meninggalkan kehidupan sosial yang aktif, untuk masuk ke kehidupan yang banyak diisi dengan kegiatan-kegiatan kontemplatif. Cara kehidupan meditative ini dicirikan dengan dicapainya tingkatan-tingkatan kesadaran mystic yang bersifat pribadi (= personal mystical consciousness) (= rupa-jhana) dan kesadaran mystic yang bersifat tidak pribadi, atau impersonal (= arupa-jhana), yang bertitik kulminasi didalam pencapaian Nirvana. Dengan telah berkembang atau bertumbuhnya jiwa (= mind) dan semangat kerohanian (= spirit)-nya, dikatakan bahwa lalu muncullah didalam individu, suatu kemampuan tertentu, yang tadinya bersifat latent, didalam diri orang tersebut, sebagai misalnya telepathy dan kewaskitaan penglihatan (= clairvoyance) dan kemampuan dapat melihat kehidupan-kehidupannya di masa yang lampau, sebelum kehidupan yang sekarang. Kemampuan-kemampuan cognitive ini, seperti telah diterangkan dibagian muka, memungkinkan individu untuk dapat merealisir keadaan yang terkondisikan, lalu diubah menjadi berkeadaan Tidak Terkondisikan.

Berbicara mengenai persyaratan untuk dapat melangkah masuk ke Jalan Suci yang menuju ke Kesadaran Nirvana, dapatlah diterangkan bahwa itu terdiri dari keharuan telah dicapainya dalam taraf titik yang tertinggi perkembangan moral (= sila), perkembangan spiritual dan intuitional (= samadhi), serta perkembangan cognitive, atau intellectual-nya (= panna). Pada suatu ketika Sang Buddha ditanya, yaitu “Apakah beliau berpengharapan dapat menyelamatkan sepertiga, dari penduduk dunia, separo-nya, ataukah seluruhnya, dengan jalan menawarkan Jalan yang dapat menyelamatkan mereka itu!?!”, yang atas pertanyaan tersebut, Sang Buddha menjawab bahwa beliau tidak menyatakan dapat menyelamatkan sepertiga penduduk dunia, tetapi hanya berpengharapan agar beliau dapat menjadi seorang penjaga pintu yang baik, yang pintu tersebut merupakan hanya satu-satunya pintu menuju ke istana, yang dapat memberitahukan bahwa semua orang yang ingin dapat sampai di kehidupan Surga, haruslah melalui pintu yang beliau juga itu, bahkan beliau juga mengetahui bahwa semua orang yang dimasa-masa yang lampau telah diselamatkan, yang sekarang sedang diselamatkan, dan yang pada masa-masa mendatang akan diselamatkan, semuanya masuk ke pencapaian keselamatannya, melalui pintu yang beliau jaga itu.Demikian itulah ajaran Agama Buddha, pada masa-masa awal dari perkembangannya, yang ditawarkan sebagai suatu hypothesa ilmiah, yang sifatnya self-consistent, yang menyentuh masalah-masalah religi dan moralitas, yang setiap orang dapat memverifikasikannya. Tidak berdasarkan atas wahyu, fakta-fakta yang telah diverifikasikan oleh Sang Buddha dan ratusan siswa-siswa beliau, dan yang dapat diverifikasi oleh setiap Pencari Kasunyataan yang tekun, telah dikemukakan oleh Sang Buddha sebagai kriteria dari Kasunyataan-Kasunyataan.

Test yang bersifat pragmatic dan empirical dari ilmu pengetahuan, itu bagi Sang Buddha, adalah test dari Agama yang benar. Kepercayaan yang diminta oleh Sang Buddha adalah kepercayaan yang membutuhkan pengetahuan dengan suatu filsafat kehidupan yang tertentu, dengan jalan dirinya wajib menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Buddha, didalam setiap saat dalam kehidupannya. Dan ajaran-ajaran Agama Buddha itu layak untuk direalisir, dengan jalan mencoba melaksanakan ajaran-ajaran Sang Buddha, sambil meneliti sampai sejauh mana praktek dan hasil-hasil praktek yang telah dia jalankan. Sama seperti para ilmuwan telah bekerja di bidang lain-lainnya, para Buddha atau Orang-Orang Suci yang telah mencapai Kesempurnaan dalam kehidupan mereka, mereka telah menemukan Kasunyataan-Kasunyataan, yang sepanjang waktu dapat dicari pada Kitab-Kitab Suci Agama Buddha. Para Buddha telah mengkotbahkan Kasunyataan-Kasunyataan itu bagi kebaikan dunia. Setiap orang dari kita ini, harus mencari dan berusaha untuk menyelamatkan diri kita masing-masing; tidak ada orang lain yang dapat menyelamatkan diri kita, dan Orang-Orang Suci itu hanya menunjukkan Jalannya saja.

Nampaklah dengan jelas, kiranya, bahwa Agama yang sifatnya demikian itu. bersesuaian sifat-sifatnya dengan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan. Dalam hal yang demikian itu, Agama Buddha mempunyai segi-segi yang tidak berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para ilmuwan didalam mereka mencari kenyataan-kenyataan, sejauh para ilmuwan itu membatasi diri mereka pada methodologi dan lapangan-lapangan masing-masing, tanpa dengan mempergunakan suatu dogma materialisme.Berbicara tentang tujuan, pandangan Agama Buddha mengenai alam yang sifat atau keadaannya telah dikemukakan pada berbagai Kitab Suci Agama Buddha, nampaknya manusia tidak mampu memahami tujuannya; walaupun demikian, individu-individu itu dapat saja memilih tujuan kehidupan, dan membuat agar kehidupannya bermakna sepenuhnya; adapun tujuan yang ditawarkan oleh Agama Buddha, adalah Pencapaian Nirvana. Mungkin Sang Buddha berargumentasi bahwa apabila alam itu memiliki tujuan untuk dicapai didalam Zaman Akhir dari Kehidupan Manusia, maka tidaklah salah, kalau orang mempercayai adanya penyelamatan bagi semua manusia, namun orang dapat saja lalu berpendapat bahwa kehidupan yang abadi itu tidak ada (dan kehidupan yang abadi ini menjadi tujuan yang dirindukan manusia untuk mencapainya!); tetapi menurut Sang Buddha, tidak ada keharusan untuk mempercayai pendapat yang demikian, sekalipun sebenarnya pencapaian kemajuan didalam kehidupan itu merupakan hal yang tidak dapat dielakkan; tidak ada seorang pun yang ditakdirkan wajib mencapai Kesadaran Nirvana, kecuali jika dia ingin mencapainya.

Berbicara mengenai nilai-nilai moral, Agama Buddha memegang teguh nilai-nilai moral itu, karena menurut Hukum Karma, seorang peminum minuman keras, misalnya, jika dia tidak menyesali tabiatnya yang buruk itu dan bertobat (yaitu mengubah tingkah-lakunya atau cara kehidupannya yang demikian itu) dia cenderung terlahirkan lagi sebagai orang yang terlalu bodoh amat sangat (tingkat kejiwaan yang didalam ilmu jiwa dinamai “moron”), apa pun perdapat atau keinginan si peminum minuman keras tersebut, atau para anggota masyarakat dimana dia menjadi anggotanya.

Minggu, 19 Januari 2014

Hubungan antara Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Modern

0leh :Robert F. Spencer

Tidak akan ada yang mempermasalahkannya, kiranya, kecuali oleh ilmu pengetahuan itu sendiri, kalau dikatakan bahwa Agama Buddha itu merupakan suatu sistem, yang mempunyai pandangan yang objektif dan mandiri, mengenai sifat dan tujuan kehidupan manusia. Sifat objektivitasnya yang menonjol dari Agama Buddha, itu menyebabkan sistem Agama Buddha itu memisah dari Alam Agama, dan sekaligus mengakibatkan Agama Buddha lalu menggabung dengan jenis penyelidikan ilmiah yang berusaha untuk mencari Kenyataan (=Truth), yang mencirikan India pada zaman Gupta, dan periode-periode awal lainnya dari peradaban India, yang memungkinkan sekarang ini, sebagian besar para cendekiawan dari dunia intellektual, -baik di Dunia Timur, maupun di Dunia Barat-, terdorong untuk sibuk memperkembangkan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai Kenyataan-Kenyataan tersebut.

Penulis dapat memahami pendapat seseorang (walaupun pendapat itu tidak benar), yang mengatakan bahwa Agama Buddha itu memiliki sifat-sifat tersendiri, yang agak berbeda sifatnya dengan sifat-sifat yang terdapat pada Agama-Agama lain; Agama Buddha itu merupakan suatu sistem yang dapat dipergunakan untuk menghayati dan mencapai tujuan didalam hidup dan kehidupan di dunia, yang dilingkungi oleh kesukaran-kesukaran dan yang penuh berisi penderitaan-penderitaan itu. Saya juga dapat memahami pendapat seseorang (walaupun, sekali lagi, pendapatnya itu tidak benar), yang mengatakan bahwa Agama Buddha itu sepintas nampak seperti bukan Agama-Agama lainnya; saya katakan bahwa saya dapat memahami pendapat yang demikian itu, karena pendapat tersebut merupakan kesimpulan dari penilaian yang mendefinisikan Agama sebagai suatu pengalaman mystic, dan para penganut Aliran dari Agama Buddha tertentu, ada yang cenderung kurang tertarik perhatiannya kepada hal-hal yang bersifat mystic, yang katanya dapat menimbulkan gejolak perasaan tertentu, yang dinilai kurang positif.

Alasan yang mengeritik Agama Buddha sifatnya agak berbeda dengan Agama-Agama lain, ialah karena Agama Buddha itu kurang begitu menggaris-bawahi kepercayaan mengenai sesuatu, apabila yang dipercayai itu, merupakan sesuatu yang benar-benar sukar diketahui, atau bahkan bersifat tidak dapat diketahui oleh akal manusia, serta menolak dogmatisme. Yang saya sebutkan terakhir tadi, memang merupakan sesuatu yang mendorong lajunya perkembangan umat Buddha sendiri di Negara-Negara Buddhis, namun kiranya tidak ada penyelidik Agama Buddha yang menganggapnya sebagai pertumbuhan yang berlebihan, yang sia-sia, dan menyimpang dari konsepsi Dharma, yang bersifat ilmiah, dari Pendirinya.

Artikel ini memegang teguh pendapat bahwa Agama Buddha sebagai suatu sistem, itu dapat dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan, karena memiki kesamaan-kesamaan yang besar.Tetapi, juga terdapat perbedaan-perbedaan antara sistem Agama Buddha dan sistem Ilmu Pengetahuan : Sang Pemikir Buddhis itu memiliki kejernihan cara berfikir, sejernih tujuan-tujuannya: apabila Sang Pemikir Buddhis itu mempergunakan ilmu pengetahuan dan methode-methodenya, dia dalam mempergunakan sistem ilmu pengetahuan itu sadar bahwa ilmu pengetahuan itu hanyalah merupakan alat untuk mencapai tujuan, dan bukan merupakan tujuan itu sendiri. Dengan kata lain, umat Buddha melihat didalam ilmu pengetahuan itu, refleksi, atau pencerminan, mengenai prinsip-prinsip yang pernah diungkapkan oleh Sang Buddha, dan bahwa prinsip-prinsip yang terdapat didalam ilmu pengetahuan itu hanyalah merupakan ungkapan ulang saja, dari ungkapan-ungkapan yang pernah dikemukakan oleh Sang Buddha, yang pada zamannya Sang Buddha, hal-hal seperti yang terdapat didalam methodologi ilmiah, itu tidak pernah dianggap mutlak, seperti anggapan banyak ilmuwan sekarang. Sejak zaman sekarang ini, dunia tidak terpisah dari methode-methode ilmu pengetahuan; dalam hal ini, kita hanya akan mengemukakan catatan kita, yaitu betapa sangat bersesuaiannya ilmu pengetahuan itu dengan sistem Agama Buddha, yang telah didirikan oleh Sang Buddha, dua ribu lima ratus tahun yang lampau, di India.

Pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan modern hanyalah merupakan pemberi tambahan perspektif terhadap konsep-konsep yang telah ada di zamannya Sang Buddha, yaitu misalnya konsep tidak tetapnya dari segala sesuatu, mengenai kwalitas yang bersifat illusi atau khayalan, dan mengenai konsep anatman, dan sebagainya, yang telah dikemukakan lama sebelum abad yang sekarang ini. Sebagai tujuan itu sendiri, memang ilmu pengetahuan itu berkemungkinan mampu memecahkan problema-problema yang nyata-nyata dihadapi, misalnya mampu memberikan makan bagi semua penduduk bumi yang makin lama makin bertambah banyak, mampu membuat makin panjangnya umur manusia, tetapi juga makin mampu memberikan sarana-sarana yang effektif untuk menghancurkan kehidupan.

Jika kita tinjau, sekarang ini, ilmu pengetahuan itu tidaklah lebih dari suatu methode yang membuat orang-orang mengkultuskannya, yang menjadi sumber jawaban untuk mengatasi problema-problema; sedang pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya hakiki, misalnya mengenai tujuan manusia, mendapat tempat yang bukan yang paling utama. Nampak terdapat kecenderungan di kalangan para ilmuwan, yang menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai dogma, dengan maksud untuk menyisihkan perasaan-perasaan atau sikap-sikap keagamaan, agar tidak mencampuri kegiatan-kegiatan penyelidikan ilmiahnya. Yang demikian itu terjadi pada beberapa bentuk sekte Hinduisme kuno; mereka mencoba mencari keterangan mengenai Alam Semesta, dengan mempergunakan theori atom, sebagai sarananya, betapa pun cukup tepat konsepsi-konsepsinya; juga dapat kita temui keterangan bahwa para Brahmana di India, di masa-masa yang lampau, itu telah mencoba menghentikan, atau melenyapkan kematian, untuk mencapai keselamatan manusia, yang mungkin dapat kita katakan : mereka itu mencoba berkecimpung didalam aktivitas yang sifatnya ilmiah.

Sekalipun demikian, pada masa yang sekarang ini pun, keadaannya tidak berbeda, didalam kenyataannya, tujuan-tujuan ilmiahnya dari para ilmuwan, di dunia sekarang ini, walaupun terwarnai pula oleh sifat spiritual, tetapi lebih banyak terwarnai sifat materialisticnya.Methode ilmu pengetahuan itu, terutama berisi perumusan suatu hypothesa: pengetesan hypothesa tersebut, dan pernyataan, atau penyampaian hypothesa baru, atas dasar pengetahuan yang dicapai dengan eksperimen-eksperimen yang telah dilaksanakan.

Sang Buddha telah mengadakan eksperimen-eksperimen dengan idea-idea, tidak dengan benda-benda, -beliau telah mempergunakan kehidupan manusia yang penuh tempaan-tempaan kehidupan ini, untuk mengukur pengalaman-pengalaman manusia, untuk ditarik kesimpulannya, sebagai jawaban yang dapat memecahkan persoalan, atau melenyapkan penderitaan-penderitaan manusia, setelah masalah-masalahnya dikaji dengan penganalisaan yang paralel dengan cara kerja para ilmuwan.Ilmu pengetahuan itu dicirikan oleh sifatnya yang “teguh pendirian”, apabila sesuatu itu telah dikaji secara ilmiah dan tuntas, serta telah dinyatakan bahwa itu benar, sukar menarik kembali pernyataannya. Penyelidikan terhadap kenyataan (= atau Kasunyataan = Truth) itu tidak selalu mudah dilaksanakan, juga tidak selalu bersifat menyenangkan. Dikatakan juga bahwa Kenyataan itu dapat bersifat menyakitkan hati. Walaupun demikian, tetapi tetap bersifat benar, tetap merupakan kenyataan di mata siapa pun.

Dapatkah kami tambahkan bahwa Buddhisme yang aseli, itu menawarkan suatu usaha, sesuatu usaha yang membuahkan hasil yang baik, yaitu agar setelah menemukannya, mau mempertahankannya dan melihatnya secara objektif. Bagi kita semua, yang hidup di dunia ini, yang semuanya memang mencari kesempatan untuk menghayati saat-saat dapat bebas, walaupun sementara saja, dari terkena hukuman, untuk bebas dari terkena kecemasan-kecemasan; pendek kata, untuk mencapai apa yang kita namai kebahagiaan, yang oleh Sang Buddha mengenai masalah kebahagiaan itu, bersabda sebagai berikut : “Baiklah, anda ingin mencapai kebahagiaan, tetapi ingatlah bahwa penghayatan kebahagiaan itu tidak berlangsung secara abadi; hari ini anda dapat merasa berbahagia, tetapi itu sifatnya tidak tetap!”.

Sama seperti bahwa ilmu pengetahuan itu berusaha untuk mendefinisikan jawabannya secara objektif, tanpa terwarnai oleh emosi, demikian juga Agama Buddha itu membidik sasarannya dengan setepat-tepatnya, bebas dari stress emosional, – tekanan perasaan -, dan memberikan informasi kepada kita secara ringkas sifat yang sebenarnya dari sesuatu itu. Dapat saja kita tidak bersikap yang demikian itu, dan mungkin kita bersikap “teguh pendirian” dan akan melaksanakannya tidak hanya dalam kata-kata saja; tetapi sampai sejauh mana kata-katanya itu, menjadi perbuatan yang nyata, masih harus dibuktikan.Suatu contoh mengenai ciri “keras-kepala-nya” ilmu pengetahuan, yang juga segaris dengan yang diperkembangkan oleh umat Buddha, nampak didalam konsep karma. Bukankah hukum karma itu merupakan konsep dari Agama Buddha, yang sifatnva sederhana, namun lebih bersifat ilmiah!?!. Apabila orang memilih istilah lain, yang lebih nampak sebagai suatu kepercayaan, adalah prinsipsamsara.

Apabila kita tinjau secara objektif mengenai kehidupan-kehidupan di masa-masa kelahiran sebelum yang sekarang ini, baik kita tinjau sebagai berada didalam bidang waktu dan ruang, masalah samsara (atau reinkarnasi, atau tumimbal lahir), itu masih merupakan hal yang memerlukan keterangan-keterangan sejelas-jelasnya (walaupun itu adalah merupakan suatu kenyataan, dan tidak perlu diragukan akan kebenarannya!). Yang merupakan pembicaraan yang penuh arti, adalah bahwa “Diri saya” yang sekarang ini, tidaklah sama dengan “Diri saya” kemarin, tidak sama dengan keadaan satu tahun yang lampau, atau bahkan tidak sama dengan beberapa saat yang lalu. Walaupun tidak nampak dengan mata, namun “Ego” kita (= “Diri” kita), itu telah mengalami perubahan, wujud badan jasmani kita, itu dari satu saat ke saat berikutnya, keadaannya tidak sama. Pula, bahwa “Penghayatan Ke-Aku-an” dari individu, yang memiliki kemauan dan kebebasan ber-kehendak, itu dapat berbuat sesuatu, dan memang selalu berbuat sesuatu. Sesuatu perbuatan itu di-pra-kondisi-kan oleh perbuatan- perbuatan yang mendahuluinya. Perbuatan yang dilakukan sekarang ini, mempunyai effek-effek, atau akibat-akibat, untuk besok paginya, memiliki akibat-akibat di masa yang akan datang, di bidang perbuatan dan fikiran.

Penulis artikel ini, berpendapat bahwa itulah yang dinamai prinsip-prinsip karma dengan applikasinya. Itu sifat ilmiah, disitu tidak ada sesuatu yang kita namai esoteric, – keajaiban-keajaiban yang bersifat batiniah.Sudah sangat banyak dikemukakan orang mengenai hubungan antara Agama Buddha dan ilmu-ilmu pengetahuan alam, namun kiranya disini perlu juga saya sajikan uraiannya, asal tidak sampai ke hal-hal yang sekecil-kecilnya. Sifat dari zat, sifat dari realitas physik, problema-problema mengenai ruang dan waktu, semuanya telah terdapat secara implicit didalam ajaran-ajaran Sang Buddha.

Penulis artikel ini harus mengakui bahwa Sang Buddha itu tidak acuh tak acuh terhadap hubungan-hubungan yang bersifat mystic yang demikian itu, sama seperti bahwa beliau juga tidak acuh tak acuh terhadap hubungan antara jiwa (= mind) dan zat (= matter). Perhatian Sang Buddha terutama terletak didalam hubungan antara Agama Buddha dengan ilmu-ilmu pengetahuan sosial, yang merupakan bidang yang sangat luas, untuk memahami hubungan antara manusia dengan manusia, dan tidak antara atom dengan alam semesta yang tidak dihuni oleh makhluk.

Didalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial, sebagai misalnya anthropology dan sociology, usaha yang dilakukan orang, adalah memahami bagaimana orang-orang itu bertingkah-laku didalam kelompok, dan mengapa mereka itu bertingkah-laku yang demikian itu. Suatu aspek hubungan (yang sama), kita lihat juga pada ilmu ekonomi, dan ilmu politik. Masih dapat kita teruskan uraiannya, dengan menambahkan lagi dengan suatu disiplin ilmu pengetahuan, yang meng-evaluasi individu, yaitu psychology, atau ilmu jiwa. Didalam semua lapangan yang disebutkan dimuka tadi, orang dapat mengambil kesimpulan bahwa terdapat sesuatu yang maha penting, ialah : bahwa manusia itu bertingkah-laku, karena telah mengalami keadaan dipersyarati, – yang oleh ahli anthropology dikatakan karena terkena pengaruh warisan-warisan kebudayaan.

Kita dapat memahami pendapat orang-orang, yaitu bahwa kita dapat menganggapnya sesuatu tingkah-laku itu benar dan baik, sedang orang-orang lain (yang lain kebudayaannya dengan kebudayaan kita) mungkin menganggap itu sama sekali salah dan tidak baik. Ilmu-ilmu pengetahuan sosial itu mengajar kepada kita mengenai sifat relativisme-nya dari tingkah-laku manusia.Seandainya kita dapat menerima pendapat bahwa tingkah-laku manusia itu bersifat relative, maka sebagai akibat selanjutnya, adalah bahwa tidak ada konsep-konsep mengenai kebaikan atau kejahatan, yang mutlak. Memanglah, bahwa kebaikan dan kejahatan, itu sifatnya sangat relative. Sebagai seorang yang telah terlatih di bidang ilmu-ilmu pengetahuan sosial, yang telah memperoleh informasi-informasi mengenai cara kehidupan bangsa-bangsa di Dunia, yang berbeda-beda itu, penulis artikel ini dapat menerima pendapat yang demikian itu (bahwa tingkah-laku manusia itu bersifat relative).

Namun, hanya didalam ajaran Agama Buddha sajalah, yang beberapa dari konsep-konsep yang kacau, itu telah disusun kembali menjadi berkeadaan teratur. Coba, silahkanlah memperhatikan kenyataan bahwa Sang Buddha itu tidak pernah bersabda : “Janganlah anda…..”. Sang Buddha mengatakan bahwa adalah merupakan suatu idea yang bagus untuk menghindari jenis-jenis tingkah-laku tertentu, dan beliau juga memberikan sejumlah ajaran-ajaran, yang seluruhnya bersifat positif, terhadap para pengikut beliau. Agama Buddha itu ajaran-ajarannya dapat diterapkan bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang, kepercayaan, sistem ekonomi atau sistem politik, yang dianut seseorang. Yang diajarkan Sang Buddha tidaklah lain adalah kegiatan untuk mengembalikan lagi keseimbangan pada diri orang-orang. Bahkan lebih dari itu, Sang Buddha selalu mengharapkan agar pada diri orang-orang senantiasa berkeadaan seimbang kepribadiannya, sesuai dengan sudut pandangan Agama Buddha. Untuk menyadari konsep, atau ajaran anicca, jelas tidak perlu kita permasalahkan, itu adalah merupakan ajaran yang sangat berguna bagi semua orang.

Tetapi umat Buddha itu dapat menolong dirinya sendiri, dalam hal pencapaian tujuan-tujuannya, dengan menyadari dan mengikuti objektivitasnya para sarjana ilmu pengetahuan sosial. Dalam hal ini, yang saya maksudkan adalah bahwa para sarjana ilmu pengetahuan sosial itu dapat menarik-diri, tidak mau tenggelam dalam masalah-masalah yang dihadapi sesama manusia yang sedang mengalami permasalahan itu. Namun kadang-kadang para sarjana ilmu pengetahuan sosial itu ada yang tidak berusaha untuk membuat agar kehidupan sesama manusia berkeadaan lebih baik.

Namun lain yang dilakukan oleh Sang Buddha. Umat Buddha, itu walaupun melakukan yang sama dengan yang dilakukan oleh para sarjana ilmu pengetahuan sosial, yaitu tidak mau tenggelam pada permasalahan yang dialami manusia yang sedang menghadapi sesuatu masalah, tetapi sambil bersikap tidak mau tenggelam pada permasalahannya, Sang Buddha berusaha mencapai pemecahan, secara tidak langsung, didalam mengatasi problem-problema penderitaan yang dialami oleh manusia.

Sang Buddha berpendapat dan menyadari kenyataan bahwa orang yang dapat menolong dirinya sendiri, itu berarti tidak boleh tidak, dia dapat menolong orang lain juga. Sang Buddha itu menaruh perhatian sepenuhnya terhadap problema-problema kemasyarakatan dan kepribadian. Ahli Ilmu Pengetahuan Jiwa Psychoanalisa itu dapatlah didalam beberapa hal diperbandingkan dengan orang yang telah dapat mencapai Penerangan Sempurna (= Kesadaran Nirvana), tetapi orang yang telah memperoleh Penerangan Sempurna (= Enlightenment) itu tidaklah perlu harus diajar bagaimana cara bergaul dengan sesama manusia. Sifat dari Kesadaran Nirvana itu, tidak dapat tidak, juga mendatangkan sikap yang dimiliki oleh ilmuwan. Umat Buddha dapat menerima ketidak-terikatan yang sifatnya kontemplatif dari para ilmuwan. Didalam mengerjakan hal yang demikian itu, dia dapat menjadikan dirinya menjadi umat Buddha yang lebih baik, dan dapat mengikuti atau mempraktekkan lebih dekat dan lebih luas lagi, mengenai ajaran-ajaran pokok dari Agama Buddha. Objektivitas, atau sikap menghadapi masalah-masalah secara objektif, didalam menangani masalah-masalah manusia, tetap merupakan sikap mental yang penting hingga dewasa ini.


Jadilah Bijak

Jadilah Bijak

Di suatu padepokan di Tiongkok pernah hidup seorang Guru  yang sangat dihormati karena tegas & jujur. Suatu hari, dua murid menghadap Guru. Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3x7. Murid pandai mengatakan hasilnya 21, Murid bodoh bersikukuh mengatakan hasilnya 27.

Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta Guru sebagai Jurinya untuk mengetahui siapa yg benar di antara mereka, sambil si bodoh mengatakan :  "Jika saya yg benar 3 x 7 = 27 maka engkau harus mau di cambuk 10 kali oleh Guru !" tetapi kalau kamu yg benar ( 3 x 7 = 21 ) maka saya  bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri.

Demikian si bodoh menantang dgn sangat yakin akan pendapatnya.. "Katakan Guru, mana yang benar ?" tanya murid bodoh. Ternyata Guru memvonis cambuk 10x Murid yg PANDAI (yang menjawab 21). Si murid pandai protes . Sang GURU menjawab, "Hukuman ini Bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk  "KETIDAK ARIFAN"-mu  yang mau-maunya berdebat dgn orang bodoh yang tidak tau kalo 3 x 7 adalah 21!!" Guru melanjutkan : lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada  harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia !

Pesan Moral,. Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yg tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yg memulai perdebatan! Sebab dengan sadar kita membuang waktu & energi untuk hal yg tidak perlu. Bukankah kita sering mengalaminya ? Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga dan keluarga. Berdebat atau Bertengkar untuk hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma. Ada saatnya diam bagi kita untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yg sia-sia. Diam bukan berarti kalah, bukan ? Memang bukan hal yg mudah, tapi janganlah sekali-kali berdebat dgn orang bodoh yg tidak menguasai permasalahan.So...Jadilah BIJAK..