Selasa, 31 Mei 2016

Apakah Pekerjaan Boleh Dilepaskan? Bgn 3


Master Chin Kung Membahas :


Apa yang dimaksud dengan melepaskan segalanya dan menfokuskan pikiran melafal Amituofo? Apakah pekerjaan dan seluruh aktivitas kehidupan juga harus dilepaskan?


Bagian 3

Apa yang dimaksud dengan pikiran suci? Pikiran yang tak ternodakan disebut suci. Apa yang dapat menodai pikiran? Yakni tujuh perasaan dan lima keinginan, ini adalah noda, maka itu timbul perasaan emosional pada dirimu. Apa itu perasaan emosional? Yakni “suka, marah, sedih, senang, cinta, benci dan ingin”, inilah yang disebut tujuh perasaan; lima nafsu keinginan adalah harta, rupa, ketenaran, makanan dan tidur. Bila memiliki kriteria ini maka pikiran anda adalah pikiran tumimbal lahir, kita harus menghapus pikiran tumimbal lahir, memunculkan Bodhicitta; Bodhicitta adalah pikiran tulus, suci, seimbang, tercerahkan dan maitri karuna.


Asalkan Bodhicitta muncul dan melafal Amituofo, maka pasti terlahir ke Alam Sukhavati, di dalam Sutra Usia Tanpa Batas tertera “sepatah atau sepuluh kali lafalan, pasti terlahir ke Alam Sukhavati”.  Jika sebaliknya tidak mampu memunculkan Bodhicitta, walaupun sehari melafal seratus ribu kali Amituofo, seperti kata pepatah “tenggorokan pecah juga sia-sia”. Asalkan hati kita terjalin dengan Hati Buddha maka tidak ada alasan untuk tidak berhasil terlahir ke Alam Sukhavati!


Maka itu pekerjaan yang harus dilakukan sehari-hari, haruslah dijalani; andaikata esok hari akan terlahir ke Alam Sukhavati, pekerjaan hari ini juga mesti dilakukan seperti biasanya, tidak bisa dikatakan bahwa besok akan terlahir ke Alam Sukhavati, maka tugas hari ini tidak perlu lagi dikerjakan, maka anda tidak bisa pergi, karena anda tidak memahami kebenaran yang sesungguhnya dari terlahir ke Alam Sukhavati. Selama sehela nafas masih ada, apa yang menjadi tugas kita, harus kita kerjakan dengan baik, mengerahkan segenap kemampuan untuk menyempurnakannya. Baik profesi apapun yang kita geluti, peranan apa yang kita tekuni, pekerjaan apa yang kita jalani setiap hari, semua ini ditujukan demi memberi manfaat pada masyarakat dan semua makhluk. Contohnya anda adalah seorang ibu rumah tangga, maka anda harus berbuat untuk rumah tangga anda, bekerja melayani dan membantu setiap anggota keluarga anda, semua yang anda lakukan dalam keseharian merupakan pengamalan Jalan Bodhisattva.


Tidak bisa menganggap bahwa besok saya akan terlahir ke Alam Sukhavati, maka hari ini tidak perlu lagi mengamalkan Jalan Bodhisattva, jika begitu bukankah anda menghalangi dirimu sendiri? Membangkitkan Bodhicitta, mengamalkan Jalan Bodhisattva, tidak boleh terputus, asalkan segalanya ditujukan untuk seluruh makhluk, semuanya ditujukan demi Buddha Dharma, ini adalah Jalan Bodhisattva. Saya berpakaian demi para makhluk, saya makan nasi demi Buddha Dharma, bukan untuk diriku sendiri, bila demi diri sendiri maka menciptakan karma tumimbal lahir; namun demi para makhluk, demi Buddha Dharma, demi Ajaran Buddha lestari di dunia ini. Saya dapat menjadi teladan bagi lainnya, agar setiap makhluk yang melihat maupun mendengar, dapat mengenal dan mengagumi Buddha Dharma, kemudian membangkitkan niat untuk belajar Ajaran Buddha, ini adalah Buddha Dharma yang kita amalkan dalam keseharian. Sebaliknya jika kita memberikan teladan yang buruk, tidak peduli pada keluarga dan karir lagi, tidak mau bekerja lagi, melarikan diri ke gunung mencari sebuah gua yang cocok untuk melafal Amituofo, masyarakat yang melihat hal ini akan mati ketakutan, mengira Ajaran Buddha adalah sesat, dan tidak boleh dipelajari, ini akan merusak Buddha Dharma. Maka itu seorang praktisi harus memiliki kebijaksanaan, bagaimana seharusnya bertindak, apa yang anda lakukan haruslah memberi manfaat bagi semua makhluk, membantu para makhluk, agar semua makhluk yang melihat pengamalan dirimu, mereka jadi tercerahkan, mereka dapat mengerti dan kembali ke jalan yang benar.


Jangan malah sebaliknya membiarkan perbuatan kita, sehingga orang lain yang melihatnya bertambah curiga dan ragu, menambah pikiran membeda-bedakan, melekat, khawatir, jika demikian maka kita telah salah. Perlulah diketahui bahwa sutra tidak boleh tidak dibaca, tidak boleh tidak didengar, jika ada keraguan haruslah bertanya.


Kemarin praktisi ini datang dan bertanya padaku, pertanyaan ini bagus sekali! Mengapa demikian? Karena banyak praktisi yang serupa dengannya sangat banyak. Dengan pertanyaan ini kami jadi mengerti dan anda sekalian juga jadi ikut memahami. Maka itu kita harus belajar mengajukan pertanyaan, jangan takut bertanya. Setelah keraguan lenyap, barulah keyakinan dapat dibangkitkan, memahami bagaimana seharusnya cara melafal Amituofo dan belajar Buddha Dharma.  


Maka itu para praktisi sekalian, kita masih memerlukan kehidupan yang wajar, melakukan pekerjaan kita. Buddha mengajarkan kita untuk melepaskan, bukanlah artinya melepaskan pekerjaan kita, tetapi melepaskan kecemasan, kekhawatiran, khayalan, perbedaan, kemelekatan. Lepaskan semua kecemasan, kekhawatiran, khayalan, perbedaan, kemelekatan dalam pekerjaan yang kita tekuni, maka kehidupan kita jadi bahagia, bersukacita dalam bekerja, dengan demikian barulah dapat melafal Amituofo dengan tenang. Bila waktunya telah tiba, Buddha pasti akan datang menjemput; sebaliknya jika waktunya belum sampai, walaupun setiap hari kita mengharapkan, namun “Mengapa Buddha Amitabha masih belum datang menjemputku”,  rintangan karma anda masih belum lenyap. Jika rintangan karma telah lenyap dan ajal telah tiba, maka Buddha pasti akan muncul, jangan mendesak dan tergesa-gesa! Baiklah, pembahasan hari ini kita akhiri sampai di sini saja!          



Sumber :http://www.xuefo.net/nr/article15/154815.html


Apakah Pekerjaan Boleh Dilepaskan? Bgn 2


Master Chin Kung Membahas :


Apa yang dimaksud dengan melepaskan segalanya dan menfokuskan pikiran melafal Amituofo? Apakah pekerjaan dan seluruh aktivitas kehidupan juga harus dilepaskan?


Bagian 2


Bagaimana cara untuk melafal Amituofo? Apakah dengan melafal Amituofo seharian bisa pasti terlahir ke Alam Sukhavati? Mengapa pepatah kuno mengatakan “tenggorokan pecah juga sia-sia”, kita harus merenungkannya. Melafal Amituofo adalah cara, tujuannya adalah untuk mencapai pikiran yang suci. Dengan menggunakan sepatah Amituofo ini untuk melenyapkan khayalan, kerisauan, bentuk-bentuk pikiran, perbedaan, dan kemelekatan, inilah yang disebut dengan melafal Amituofo.


Praktisi yang melafal Amituofo harus yakin pada hukum sebab akibat, yakni “segala hal telah ditentukan sebelumnya”, karena itu tidak perlu memperebutkannya, tidak perlu memaksakan kehendak, menunaikan kewajiban diri dengan baik. Dalam keseharian hanya berharap dapat memiliki pakaian yang hangat, makan dengan cukup, sebuah rumah kecil yang dapat terhindar dari angin dan hujan, ini sudah cukup! Jika memiliki kelebihan maka harus tahu membantu orang lain, banyak berdana, memupuk jasa kebajikan, berkah dan kebijaksanaan dilatih bersamaan.


Ada praktisi yang bertanya padaku bagaimana cara melafal Amituofo? Saya memberitahukan padanya, semua makhluk di seluruh Dharmadhatu adalah Buddha Amitabha, inilah cara saya melafal Amituofo; setiap manusia adalah jelmaan dari Buddha Amitabha, setiap kejadian juga hasil jelmaan Buddha Amitabha, gunung, sungai dan daratan, rumput, kayu, tanah dan bebatuan, semuanya adalah hasil jelmaan Buddha Amitabha. Di Alam Sukhavati segalanya dapat menyebarkan Dharma, demikian pula dengan alam kita, apakah anda dapat melihatnya? Baik di mataku maupun di hatiku, seluruhnya adalah Buddha Amitabha. Melafal Amituofo maksudnya adalah pikiran sekarang, maka itu dengan sendirinya memperlakukan setiap insan, kejadian dan benda dengan perasaan hormat, “hati suci maka Tanah Buddha pun jadi suci.


Maka itu terhadap kelahiran di Alam Sukhavati, sedikitpun kami tidak mencemaskannya, karena kami telah yakin sepenuhnya, tiada sedikitpun keraguan. Terlahir ke Alam Sukhavati adalah pulang ke kampung halaman, mana mungkin tidak bisa berpulang ke sana. Masalahnya apakah anda mengenal jalan pulang? Jalan adalah cara.  Apakah anda memahami kebenaran yang sesungguhnya? Kebenaran yang sesungguhnya adalah “Hati adalah tanah suci, jiwa sejati adalah Buddha Amitabha”, apakah kita masih perlu khawatir lagi? Bagaimanapun buruknya dunia ini, janganlah dikeluhkan.


Kita dapat menyesuaikan diri dengan insan lain, sambil bersukacita memupuk jasa kebajikan”, baik kondisi senang atau susah, bertemu jodoh baik atau jahat, kita harus senantiasa menjaga pikiran yang tulus, suci, dan seimbang, inilah yang disebut melafal Amituofo. Tidak pasti harus melafal Amituofo terus di mulut. Melafal Amituofo di mulut adalah cara untuk meredakan bentuk-bentuk pikiran. Ketika enam indra kita kontak dengan kondisi di luar, maka muncullah bentuk-bentuk pikiran, sepatah Amituofo dapat meredakan bentuk-bentuk pikiran, inilah yang disebut dengan ketrampilan melatih diri, yakni menaklukan segala noda pikiran dan tabiat, dalam segala ruang dan waktu, senantiasa mawas diri.


Sesepuh terdahulu berkata “tidak takut pada bentuk-bentuk pikiran yang muncul, hanya saja takut terlambat menyadarinya”. Bentuk-bentuk pikiran ini adalah enam alam tumimbal lahir dan tiga alam sengsara. Jika seberkas bentuk pikiran baik yang muncul maka ini adalah tiga alam baik; sebaliknya bentuk pikiran jahat yang muncul maka ini adalah tiga alam penderitaan. Barulah kita ketahui betapa mengerikannya niat pikiran yang muncul tersebut. Buddha mengajari kita untuk menggunakan metode pelafalan Amituofo untuk menaklukkannya, tak peduli bentuk pikiran yang baik maupun jahat, asalkan begitu timbul, langsung teringat melafal Amituofo untuk meredakan bentuk pikiran tersebut. Asalkan anda dapat senantiasa memelihara pikiran suci, seimbang dan tercerahkan, maka anda telah melafal Amituofo dengan benar, pikiran suci, seimbang dan tercerahkan itulah Amiutofo, ini dibabarkan oleh Buddha Sakyamuni di dalam Sutra Usia Tanpa Batas.      


Sumber :http://www.xuefo.net/nr/article15/154815.html

Apakah Pekerjaan Boleh Dilepaskan? Bgn 1


Master Chin Kung Membahas :

Apa yang dimaksud dengan melepaskan segalanya dan menfokuskan pikiran melafal Amituofo? Apakah pekerjaan dan seluruh aktivitas kehidupan juga harus dilepaskan?


Bagian 1


Para praktisi sekalian, apa kabar semuanya! Beberapa hari ini kita berada bersama dengan para praktisi yang berasal dari Hongkong dan Tiongkok, saya melihat anda sekalian begitu serius melatih diri, ini membuat diriku menjadi sangat terhibur.


Permasalahan dalam melatih diri tentunya adalah halangan yang sulit terhindari, penyebabnya adalah kurangnya pemahaman terhadap teori, cara dan kondisi batin, sehingga munculnya keraguan tak terhindarkan. Kemarin ada seorang praktisi yang memberitahukan padaku, dia merasa bahwa bencana di dunia ini terlampau banyak, juga merasakan bahwa hidup di dunia ini tiada maknanya, sungguh pesimis; dia berkata padaku, “Saya telah melepaskan segalanya, kini saya menfokuskan pikiran melafal Amituofo, hanya berharap semoga saya segera terlahir ke Alam Sukhavati”. Tetapi dia juga menuturkan padaku, “Kini saya hanya memiliki beberapa puluh ribu dollar saja, jika uang ini habis dipakai, tidak tahu bagaimana dengan kehidupanku kelak?”


Saya dapat membayangkan dia ini adalah tipe orang yang bagaimana, yang serupa dengan pemikiran dan tindakannya, bukan hanya dia seorang saja. Niatnya ini memang bagus, tekadnya untuk terlahir ke Alam Sukhavati memang tidak salah, masalahnya apakah dia bisa berhasil terlahir atau tidak. Mengapa diragukan dia bisa terlahir atau tidak? Karena tindakannya telah salah, masalah terlahir ke Alam Sukhavati ini mana boleh tergesa-gesa? Jika terburu-buru ingin segera ke sana, ditinjau dari sudut prinsip memang boleh dibenarkan, namun tindakannya tidak benar. Anda masih mencemaskan bagaimana jika biaya hidup sudah habis digunakan, dan tidak ada sumber pendapatan, ini disebut mencari masalah sendiri!


Maka itu saya memberitahukan padanya, di dalam sutra, Buddha sering membabarkan pada kita bahwa segalanya harus menuruti apa adanya. Pekerjaan dan aktivitas keseharian harus dijalani, bukan hanya umat awam, bahkan anggota Sangha tak terkecuali, seperti kata pepatah kuno  “Sehari menjadi Bhiksu sehari memukul genta”. Setiap hari kita harus menunaikan kewajiban masing-masing, inilah yang disebut meneladani Buddha. Apa yang harus dilepaskan tidak dia lepaskan, sebaliknya apa yang tidak boleh dilepaskan malah dia lepaskan. Dia melepaskan pekerjaannya, ini adalah apa yang tidak boleh dilepaskannya; yang harus dilepaskannya, yakni kekhawatiran dan kecemasan yang ada di hatinya, inilah yang harus dilepaskannya.


Menempatkan Buddha Amitabha dan Alam Sukhavati di dalam hati, selain ini maka segala kekhawatiran dan kecemasan harus dilepaskan, ini barulah disebut dengan makna melepaskan yang sesungguhnya. Sedangkan dia telah salah paham, ini bukan meneladani Buddha, sampai keluarga juga terabaikan, pekerjaan tidak sudi dilakukan lagi, andaikata setiap insan   mempelajari Buddha Dharma dengan jalan sedemikian, maka Ajaran Buddha tidak bisa lagi bertahan di dunia ini. Mengapa demikian? Karena telah merusak tatanan kehidupan dunia ini. Di dalam sutra, Buddha sering membabarkan pada kita, “Buddha Dharma berada di dunia ini, tidak merusak tatanan kehidupan bermasyarakat”. Ajaran Buddha tidak hanya tidak merusak tatanan kehidupan dunia, bahkan Buddha Dharma dapat menyesuaikan diri dengan tatanan kehidupan masyarakat, maka itu Ajaran Buddha mendapat sambutan dari masyarakat luas, inilah alasannya.



Praktisi sekalian hendaknya dapat memahami, melepaskan adalah melepaskan kemelekatan di hati, bukan melepaskan apa yang ada dalam kehidupan nyata. Jika di hati telah mampu melepaskan, di dalam kehidupan nyata takkan ada rintangan lagi, inilah yang disebut “dalam segala hal bebas tanpa rintangan”. Andaikata di dalam kehidupan nyata harus melepaskan, maka Buddha Sakyamuni tentunya juga seharusnya melepaskan, buat apa selama 49 tahun membabarkan Dharma? Cobalah pikirkan, Buddha dan Bodhisattva memperlihatkan pada kita, demikian juga pada guru sesepuh juga sedang memberi teladan, dari sudut ini kita harus memahami tidak boleh menyalahartikan maksud dari Buddha, tidak boleh salah dalam menjelaskan makna yang sesungguhnya dari Dharma Buddha. 



Sumber : http://www.xuefo.net/nr/article15/154815.html




Melafal Amituofo adalah pertobatan sesungguhnya



Master Chin Kung Membahas :


Melafal Amituofo adalah pertobatan sesungguhnya, melafal Amituofo adalah cara mengeliminasi karma yang paling efektif


Kita mengetahui bahwa karma buruk tidak boleh dilakukan, setelah melakukannya maka dalam kelahiran ini  anda tidak dapat terlahir ke Alam Sukhavati. Bukan hanya tindakan jahat yang tidak boleh dilakukan, bahkan niat jahat juga tidak boleh muncul. Masa lalu saya banyak melakukan kesalahan, sekarang saya amat menyesalinya, setiap hari saya bertobat di hadapan Buddha dan Bodhisattva, menceritakan kembali semua kejahatanku di depan Buddha dan Bodhisattva, kemudian bertobat dengan bersungguh-sungguh, apakah ini bisa? Tidak bisa. Mengapa tidak bisa?


Karena anda memikirkan kembali dosa-dosa yang pernah anda perbuat, maka anda mengulangi melakukannya sekali lagi; jika anda memikirkan dua kali, maka anda mengulangi melakukannya dua kali lagi; setiap hari anda menciptakan karma buruk, karma buruk tiada henti, bagaimana anda bisa terlahir ke Alam Sukhavati? Itu bukan namanya pertobatan.


Bagaimana yang dimaksud dengan pertobatan sesungguhnya? Semua karma buruk yang pernah dilakukan sebelumnya, kejadian sudah berlalu, yang berlalu biarlah berlalu, jangan dipikirkan lagi. Fokuskan pikiran untuk melafal Amituofo, jangan lagi menciptakan karma baru, maka karma buruk pun menjadi lenyap. Setiap hari memikirkan Buddha Amitabha, Amituofo adalah pikiran yang paling bajik, tiada yang lebih baik daripada ini, inilah yang disebut dengan mengeliminasi rintangan karma.


Maka itu untuk mengeliminasi rintangan karma, bertobat menghapus rintangan karma, dengan melafal Amituofo adalah cara yang paling efektif. Jangan malah sebaliknya, memikirkan kembali karma buruk yang pernah dilakukan sebelumnya, sekarang amat menyesalinya, berharap agar Buddha dan Bodhisattva sudi memaafkan, ini sungguh celaka!

Buddha dan Bodhisattva melihat kondisi dirimu sedemikian, geleng kepala, anda tidak memahami dengan benar apa yang dikatakan oleh Tathagata, Saya begitu bersusah payah mengajari dirimu, tetapi anda sama sekali tidak memahaminya, menyalahartikan maksud Buddha.


Maka itu, pertobatan yang sesungguhnya adalah melafal Amituofo dengan setulus hati; setelah nama Buddha dilafal dengan terbiasa, di mana saja dan kapan saja, setiap niat pikiran yang muncul adalah Amituofo, maka karma buruk anda jadi lenyap, pikiran anda jadi suci, ini adalah syarat yang harus dipersiapkan untuk terlahir ke Alam Sukhavati.  


Petikan Ceramah Master Chin Kung

Judul : Sutra Usia Tanpa Batas (serial 26)

Tahun : 1992

  



净空法师:念佛就是真忏悔,念佛消业最有效


我们知道恶的事情不能做,做了,你想到西方世界这一生去不成了。不但恶事不能做,恶的念头都不能生。我过去做了很多错事,现在我很后悔,我天天在佛菩萨面前忏悔,把我从前造的罪业在佛菩萨面前再念一遍,真正忏悔,行不行?不行。为什么不行?你把那个罪恶的事情想一遍,你就又造一次;你想两遍,又造两次;你天天在造罪业,罪业不断,你怎么能去得了?那不叫忏悔。


怎么样叫真忏悔?过去所造一切恶业的时候,事过境迁,了了就了了,不要再去想它了,把那个心集中起来专想阿弥陀佛,再不想罪业了,那罪业就没有了。天天想阿弥陀佛,阿弥陀佛是善中之善,没有比这个更善的了,这叫消业障。


所以消业障、忏除业障,念佛是最有效果的。千万不要老想着我以前造什么罪,现在后悔,求佛菩萨原谅,那就糟了!佛菩萨看到你这个样子,摇头,你不解如来所说义,我苦口婆心教给你的,你完全没有理解,完全没有体会到,错解了佛的意思。所以真正忏悔,老实念佛;佛号念纯熟了,一切时一切处,起心动念都是阿弥陀佛,你的罪业就没有了,你的心就清净了,这是往生必须具备的条件。


无量寿经  (第二十六集)  1992/6  美国圣荷西迪安那大学  档名:02-012-0026

 

Menjemur Lilin


Master Chin Kung Bercerita


Menjemur Lilin


Di dalam riwayat hidup Master Tan Xu, terdapat sebuah kisah, pada waktu itu di dalam vihara di Zhejiang ada seorang Bhiksu yang bertugas mengurus perlengkapan persembahan misalnya menyalakan dupa, lilin dan pelita. Bhiksu pengurus altar ini jujur dan setia, maka itu kadang kala dia dipermainkan rekan-rekannya yang lain : “Bhiksu pengurus altar, lilin itu sudah lama disimpan, sudah mulai berjamur”.


Bhiksu pengurus altar menanggapi dengan serius : “Apa yang harus saya lakukan?”


Rekan-rekannya menjawab : “Jemur saja di luar!”


Dan benar saja Bhiksu itu memindahkan semua lilin keluar dan dijemur, begitu panas mentari menyentuh lilin, batangan lilin pun mulai meleleh. Saat malam tiba, tidak ada lilin yang dapat dinyalakan, akhirnya mereka hanya dapat menyalakan sisa-sisa lilin yang dijemur tadi.


Ketua vihara yang melihat kejadian ini menggelengkan kepalanya : “Bhiksu pengurus altar, mulai besok anda tidak perlu mengurus perlengkapan persembahan lagi”.


Ketua vihara memang orang yang hebat, dia tahu bahwa orang jujur pasti akan berhasil. Mengetahui dia begitu jujur, maka mengutusnya ke Vihara Asoka. Di dalam Vihara Asoka terdapat Relik Buddha Sakyamuni, maka Bhiksu itu diminta untuk melakukan namaskara pada Relik, sehari bernamaskara sebanyak 3000 kali. Dia amat jujur, guru menyuruhnya sehari melakukan namaskara 3000 kali maka dia mengamalkannya dengan tulus; setelah tiga tahun berlalu, dia mencapai pencerahan.


Mulanya dia tidak mengenal huruf, tidak bisa membaca sutra;  setelah mencapai pencerahan, dapat membuat syair, gatha, dan pada akhirnya dapat memberikan ceramah Dharma.  


Ini membuktikan satu hal yakni ketulusan yang penuh, adalah samadhi, dengan samadhi maka terbukalah kebijaksanaan, pasti memperoleh pemberkatan dari Triratna. Dapat dilihat bahwa memperoleh pengetahuan duniawi dengan Buddha Dharma itu berbeda, ketulusan akan menimbulkan mujizat.   

   



淨空法師說故事(一)


曬蠟燭


《影塵回憶錄》是倓虛法師的自傳,講他一生修學的經過,由他的學生大光法師記錄。其中有一篇記載,當年在浙江,道場裡有一位專門管大殿燒香、點蠟燭、添油燈那位香燈師的故事。香燈師父忠厚老實,有些人就捉弄他,跟他講:「香燈師,那些蠟燭放在那裡太久,都長霉了。」他說:「那怎麼辦?」他們說:「拿出去曬!」他就把蠟燭搬到外面去曬,一曬都融化了。晚上上殿時,沒有蠟燭點燈,只有把曬過的蠟燭芯點上。住持老和尚一看這種情形,就搖頭:「香燈師,明天你不要做香燈了。」老和尚很了不起,有眼光,知道老實人能成功。看到他這麼老實,就叫他到阿育王寺,寺裡供養著釋迦牟尼佛的舍利,就教他去拜舍利,一天拜三千拜。他就是老實,師父教他一天拜三千拜,他就規規矩矩每天拜三千拜;拜了三年,他開悟了。他本來不認識字,經也看不懂;悟了以後,能作詩、作偈,以後能講經。這就證明一樁事情,真誠到極處,就得定,就開智慧,必定得三寶加持。可見得佛法的修學與世法確實不一樣,真誠能夠感應通達。(節錄自「金剛般若研習報告」9-23-021)



Cahaya Sukacita 

Dewa Memberi Persembahan



Master Chin Kung Bercerita


Dewa Memberi Persembahan


“Praktisi yang mengamalkan sila dan moral etika,

akan menggugah para dewa,

dewa, naga, setan dan malaikat,

tiada yang tidak memberi penghormatan”.


Syair ini telah dibuktikan oleh kisah Master Dao Xuan yang hidup pada masa Dinasti Tang, ini merupakan kisah nyata, sejarah biografi mencatat peristiwa ini dengan terperinci.  Master Dao Xuan adalah guru sesepuh pertama dari Aliran Vinaya, pada saat itu beliau sedang melatih diri di Gunung Zhongnan, menjalankan disiplin sila dengan ketat, sehingga menggugah dewa datang memberi persembahan. Dia makan sehari satu kali,  putra raja dewaVaisravana setiap siang hari mengantar semangkok nasi, ini sungguh disebut “menggugah para dewa, dewa naga setan dan malaikat”.


Pada saat itu guru sesepuh dari Aliran Faxiang, Master Kui Ji, murid dari Master Xuan Zang, juga merupakan seorang praktisi yang hebat. Suatu hari  Master Kui Ji melewati Gunung Zhongnan, maka itu dia bermaksud singgah sejenak untuk mengunjungi Master Dao Xuan. Mendengar kabar ini Master Dao Xuan amat bersukacita. Master Kui Ji memiliki pendidikan yang bagus, trampil dalam memberikan ceramah Dharma, namun kurang disiplin dalam menjalankan sila.  


Master Dao Xuan menganggap bahwa Master Kui Ji telah mengabaikan pengamalan sila,  kurang menjunjung tinggi disiplin sila, maka itu dia bermaksud mempertunjukkan “dewa memberi persembahan” untuk mempengaruhi dan mengajari Master Kui Ji. Tak terduga karena keasyikan berbincang, akhirnya waktu telah melewati siang hari, namun tidak ada yang datang memberi persembahan.


Sampai keesokkan harinya, seperti biasanya saat siang tiba dewa datang memberi persembahan, Master Dao Xuan bertanya : “Mengapa kemarin siang anda tidak membawa persembahan ke sini?”  Dewa menjawab : “Karena kemarin siang ada seorang Bodhisattva Mahayana sedang berada di atas gunung, seluruh wilayah gunung dipenuhi oleh para dewa pelindung Dharma, saya tidak bisa menerobos masuk ke sini”.  Mendengar perkataan ini, keringat dingin langsung membasahi sekujur raga Master Dao Xuan, merasa amat malu, menyadari kesalahan sendiri karena telah meremehkan orang lain dan membanggakan diri sendiri.


Di dalam Avatamsaka Sutra dikatakan bahwa praktisi yang telah memasuki kondisi batin Avatamsaka adalah “dalam segala hal bebas tiada rintangan“. Sesungguhnya pengamalan sila Master Kui Ji lebih suci dibandingkan denganMaster Dao Xuan, sila yang diamalkan oleh Master Dao Xuan adalah peraturan tata sila, sedangkan sila yang diamalkan Master Kui Ji adalah sila samadhi, dua hal ini jelas berbeda!  Master Kui Ji senantiasa menjaga ketulusan, kesucian dan keseimbangan batin, sila dan tindakan telah sempurna. Walaupun Master Dao Xuan menjalankan disiplin sila dengan keras, namun masih meremehkan orang lain, masih ingin mempamerkan kelebihannya untuk mempengaruhi dan mengajari orang lain, jika masih memiliki niat sedemikian adalah kesalahan, pikiran tidak lagi suci. Maka itu, bukanlah Master Dao Xuan yang telah berhasil mempengaruhi Master Kui Ji, malah sebaliknya Master Dao Xuan yang berhasil dipengaruhi Master Kui Ji.        




淨空法師說故事(一)


天人送供養


「人有戒德者,感動諸天,天龍鬼神,莫不敬尊」,此句唐朝道宣律師的故事可以作證,這是真的,史傳上有詳細記載。道宣律師是律宗始祖,當年在終南山修行,戒律精嚴,感動天人供養。他日中一食,毗沙門天王子每天中午送一缽飯供養,這真正是「感動諸天,天龍鬼神。」


當時法相宗祖師窺基大師,他是玄奘大師的學生,也是位了不起人物。有一天窺基大師經過終南山,順道拜訪道宣律師,道宣律師聽到這個消息很歡喜。窺基大師學問好,講經說法一流,但是戒律不嚴,他以為窺基大師對於戒律疏忽,不太重視,所以他想以天人送供養來感化窺基大師。哪裡知道談話過了中午,也沒有人送飯給他們吃。到第二天中午天人又按時送供養來了,道宣律師就問:「昨天中午你為什麼沒有送供養來?」天神說:「昨天有大乘菩薩在山上,滿山都是護法神,我進不來。」道宣律師聽了冒一身冷汗,生慚愧心,知道自己錯了,小看了別人,高抬了自己。


我們讀《華嚴經》,知道真的入華嚴境界是「理事無礙,事事無礙。」窺基大師持戒比道宣律師清淨,道宣律師持的是律儀戒,窺基大師持的是定共戒、道共戒,這兩者不一樣!窺基大師可以和光同塵,永遠保持真誠、清淨、平等,戒行圓滿了。道宣律師雖然持戒精嚴,還小看別人,還要做出樣子來感動人,還有這個念頭就錯了,心不清淨。所以,不是道宣律師感化窺基大師,而是窺基大師感化了道宣律師。(節錄自《阿難問事佛吉凶經》15-13-50)


Sumber:
Cahaya Sukacita

Suka Duka Ternyata Berasal Dari Satu Niat Pikiran



Master Chin Kung Bercerita


Suka Duka Ternyata Berasal Dari Satu Niat Pikiran


Tahun-tahun belakangan ini, ada seorang alumni sekolahku berkesempatan berkunjung ke Tiongkok, kabarnya para penduduk di sana menyukai perhiasan emas, maka itu dia  memborong banyak perhiasan cincin, kalung, gelang, sebagai buah tangan buat para kerabat dan sanak saudaranya. Namun sayangnya ketika memasuki daratan Tiongkok, dia dirampok di dalam taxi. Tetapi dia malah tidak merasa risau : “Perhiasan itu memang hendak diperuntukkan kepada orang lain, jadi tiada bedanya dikasih ke sanak keluarga maupun perampas”, dengan demikian pikirannya jadi terbuka. Keluarga dan kerabat adalah sebangsa setanah air, pencuri juga adalah sebangsa setanah air, dikasih kepada siapapun bukankah juga sama? Ketika niat pikirannya diubah, hatinya jadi begitu lapang dan bebas, inilah yang disebut dengan berkah besar. Jika selalu perhitungan, “Ini adalah sanak saudara dan kerabat saya, itu bukan orang sebangsa dan setanah airku”, maka anda akan merasa risau; tiada gunanya merisaukan barang yang takkan kembali lagi. Maka itu seorang praktisi yang mengubah sudut cara berpikirnya, akan memperoleh kebebasan!


 Terutama seorang praktisi terlebih harus yakin akan hukum karma, sebab akibat menembusi tiga masa kelahiran, “apa yang diterima telah ditetapkan sebelumnya” . Siapa yang menetapkannya? Yakni benih karma yang kita perbuat. Hutang uang dibayar uang, hutang nyawa dibayar nyawa, insan yang telah mengerti akan kebenaran ini, barulah menyadari bahwa tiada manusia di dunia ini yang dapat mengambil keuntungan dari orang lain. Jika dikatakan bahwa orang itu mengalami kerugian, hal ini juga tidak ada. Dalam kehidupan ini saya mengambil keuntungan darinya, maka kehidupan yang akan datang dia juga akan mengambil keuntungan dari diriku, maka jadi seimbang.  Pada kehidupan ini dia menderita kerugian, maka kehidupan mendatang saya yang harus mengalami kerugian. Bila aturan ini dipahami dengan jelas, maka hati kita pun jadi tentram, barulah mengerti bagaimana seharusnya melalui kehidupan ini. Dalam menyelesaikan masalah, memperlakukan manusia dan benda, harus terjalin dengan kebajikan, tidak boleh terjalin dengan kerisauan dan tabiat diri kita;  andaikata terjalin dengan kerisauan dan tabiat diri kita, maka ini serupa dengan kalimat yang tercantum dalam Sutra Ksitigarbha : “Tiada yang bukan merupakan karma, tiada yang bukan merupakan dosa”. Setelah hal ini dipahami dengan jelas barulah takkan menciptakan karma lagi.




淨空法師說故事(一)



痛苦快樂源於一念


往年我有一位校友到大陸去探親,聽說大陸同胞喜歡黃金,就買了很多戒子、項鍊、手鐲,準備送給親戚朋友。進入大陸之後,在車上全部被扒手扒光了。他也沒生煩惱,「我送給我的那些親戚朋友,跟送給小偷沒有兩樣,反正都是送人」,心開意解。親戚朋友是同胞,小偷也是同胞,給哪個不都一樣嗎?念頭一轉,這個心多麼自在,這叫福量。如果斤斤計較,「這是我的家親眷屬,那不是我的同胞」,你就煩惱了;生煩惱,東西也追不回來。所以,學佛的人念頭一轉,多麼自在!


何況學佛的人都相信因果報應,因果通三世,「一飲一啄,莫非前定」。誰定的?自己造作的業因定的。真的是欠錢的還錢,欠命的還命,真正通達明瞭事實真相,才知道這個世間要想佔人的便宜,沒這回事情。說哪個人吃了虧,也沒有這個事情。這一生我佔他的便宜,來生他佔我的便宜,就抵銷了。這一生他吃了虧,來生我要吃虧。理事都清楚,我們的心就平靜了,才真正懂得如何生活,處事待人接物。要與性德相應,萬萬不可與自己的煩惱習氣相應;與自己煩惱習氣相應,就是《地藏經》講的「無不是業,無不是罪」。真正通達明白了,這個人才不會造業,才不會造罪。(節錄自《華嚴經》12-17-0392)



Sumber:
Cahaya Sukacita