Kamis, 19 November 2020

CARI TAU PENYAKIT

CARI TAU PENYAKIT ANDA DAN OBATI DENGAN CARA INI OLEH DIRI ANDA SENDIRI
1. # Asthma
Bukan hanya karena terganggunya suplai oksigen ke paru-paru, akan tetapi Dikarenakan sering merasa "sedih" yang membuat kerja paru-paru tidak stabil, Jadi Coba Terus Membuat suasana Hati riang dan Refresing

2. # Liver
Bukan hanya karena kesalahan pola tidur, tapi sifat "ngrasani" orang lain yang justru merusak hati kita, Coba Untuk Membuat hati kita tenang Dan Damai.

3. # Maag
Bukan hanya diakibatkan karena kesalahan pola makan yg tidak teratur, Akan tetapi justru lebih didominasi karena "stress" coba untuk lebih Fress dan memerdekan Diri.

4. # Hypertensi
Bukan hanya diakibatkan oleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang asin, Daging tapi lebih dominan karena kesalahan dalam memanage "emosi" Jadi Coba dengan cara mengatur Emosi Dan Rasa.

5. # Jantung koroner
Bukan hanya diakibatkan oleh sumbatan pada aliran darah ke jantung, tapi kita jarang sedekah atau memberi yang membuat jantung kita kurang merasakan ketenangan, sehingga detaknya tidak stabil

6. # Kolesterol
Bukan hanya diakibatkan oleh makanan berlemak, tapi rasa "malas berlebih" yang lebih dominan menimbulkan lemak, Jadi coba perbanyak Gerak Dan Tingkatkan semangat hingga Seluruh organ dapat bergerak.

7. # Diabetes
Bukan hanya karena terlalu banyak konsumsi glucousa, yang manis manis, tapi Bisa saja sikap "egois dan keras kepala" yang mengganggu fungsi pankreas, Coba Ikhlas Dan Rela Dalam segala Hal.

Presentase Indikator penyebab munculnya penyakit adalah karena masalah :
#Spiritual 50%
#Psikis. 25%
#Sosial. 15%
#Fisik. 10%

Jadi kalau kita ingin selalu sehat, perbaiki :
#Diri kita
#Pikiran kita
terutama hati kita dari segala jenis penyakit.

# Hindari:
Dari Rasa iri, dengki, pendendam, fitnah, benci, amarah terpendam, sombong, pelit, egois, keras kepala, sedih, malas, dan lainnya, karena itu sumber penyakit.

# SARAN
Perbanyaklah Doa dan jadilah orang yang mudah memaafkan, Lembutkan hati dan ikhlaskan yang sudah terjadi, Banyak Banyak bersyukur dan nikmati kebahagiaan sekecil apapun Jalin persaudaraan yang mengajak dan selalu mengingatkan dalam kebaikan Serap ilmu dari arah mana saja Dari kawan maupun lawan.

SILAKAN DICOBA DAN RASAKAN PERUBAHANNYA, BELAJAR MENGOBATI DIRI SENDIRI

---SEMOGA BERMANFAAT---

Sabtu, 24 Oktober 2020

Master Chin Kung Menjawab

Bunga Mekar Bertemu Buddha


Pertanyaan :

Praktisi yang melatih Pratyutpanna Samadhi dapat melihat para Buddha di sepuluh penjuru berdiri di hadapannya, apakah ini yang di sebut dengan bunga bermekar bertemu Buddha?

Master Chin Kung Menjawab :

Bertemu Buddha, ada yang benar-benar bertemu Buddha, namun juga ada Mara yang menyamar jadi Buddha. Darimana bisa membedakannya? Dari dalam hatimu sendiri. Setelah hatimu benar-benar telah suci, tak ternodakan, maka akan bertemu Buddha asli. Bertemu dengan Buddha asli juga tak perlu merasa kegirangan, begitu muncul rasa senang, maka Buddha adalah Mara, dia telah merusak kesucian hatimu.

Tujuan dari praktisi pelafal Amituofo adalah “pikiran terfokus tak tergoyahkan”, dia muncul untuk merusak pikiran terfokusmu, karena pikiranmu telah goyah. Begitu anda jadi kegirangan maka akan memberitahu orang lain : “Hari ini saya telah bertemu Buddha, lalu Buddha bagaimana-bagaimana……..”, maka itu anda sesungguhnya bertemu dengan Mara, bukan bertemu Buddha.

Di dalam Surangama Sutra tertera bahwa : “Meskipun melihat kondisi batin Buddha juga jangan dipedulikan, maka ini adalah kondisi batin yang bagus; jika sebaliknya malah melekat, begitu timbul kegirangan, maka kondisi batin ini adalah kondisi batin Mara”. Maka itu apakah itu adalah Buddha atau Mara tidak berada di luar, namun di dalam hati sendiri.

Seharusnya kala diri sendiri melihatnya, seharusnya menganggap tidak melihatnya, hati tetap suci, seimbang dan tercerahkan, takkan terpengaruh oleh kondisi luar, ini adalah kondisi batin Buddha. Meskipun melihat Mara, makhluk halus jahat yang menyeramkan, hatimu juga takkan goyah, seolah-olah tidak ada yang terjadi, rupa yang menyeramkan itu juga adalah Buddha.

Maka itu, hal yang membuatmu kegirangan atau mengeluh, maka kekotoran pikiranmu sudah digantungnya, inilah yang disebut kondisi batin Mara. Sebaliknya jika anda tidak timbul kerisauan, hatimu suci dan seimbang, kondisi batin apapun yang muncul adalah kondisi batin Buddha.

Jika sudah memahami prinsip ini, ketika anda membuka mata dan melihat banyak orang, anda merasa benci, maka muncullah kondisi batin Mara; jika anda melihatnya dan merasa sukacita, maka muncul juga kondisi batin Mara. Melihat semua kondisi batin dan hati tak tergoyahkan, maka pastikan takkan ada khayalan, perbedaan dan kemelekatan, takkan melekat pada “anggapan adanya aku, manusia, makhluk lain, dan kehidupan ini”.   

Maka itu, melatih diri itu ada di mana? Yakni melatih hati dalam menghadapi masalah dan kondisi batin yang muncul, tanpa kondisi batin ke mana kita harus melatih diri? Seorang praktisi pergi ke mall jalan-jalan, ini juga melatih diri, di mall banyak tersedia produk-produk yang menarik hati, semuanya boleh dilihat dan diketahui, ini juga adalah kebijaksanaan. Setelah melihatnya bagaimana? Tak tergoyahkan, takkan ada niat pikiran “barang ini bagus ya, saya juga ingin memilikinya”. Samadhi adalah tidak timbul niat pikiran, tidak membeda-bedakan, ini adalah samadhi mendalam; “prajna(kebijaksanaan)” adalah melihat dengan jelas dan memahaminya. Samadhi dan prajna dipelajari dan aktivitas keseharian, mengenakan pakaian dan makan nasi, setiap aktivitas keseharian sekecil apapun adalah sila, samadhi dan prajna.

Maka itu bertemu Buddha, seharusnya bersikap melihat seperti tidak melihat, tak perlu bilang ke orang lain. Pada jaman dulu guru sesepuh Aliran Sukhavati yang pertama Master Hui Yuan, tiga kali melihat Alam Sukhavati, tidak pernah mengatakannya pada orang lain. Hingga saat menjelang ajal, pemandangan Alam Sukhavati muncul kembali, saat itu barulah memberitahu para hadirin : “Pemandangan Alam Sukhavati telah pernah muncul tiga kali, sekarang muncul lagi, saya akan pergi”.

Ketika ada orang yang bertanya padanya bagaimana rupa panorama Alam Sukhavati, beliau menjawab : “Serupa dengan yang tercantum dalam Sutra Usia Tanpa Batas”. Pada jaman Master Hui Yuan, sutra yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Mandarin masih sangat sedikit, hanya ada Sutra Usia Tanpa Batas, sedangkan Amitabha Sutra dan Amitayurdhyana Sutra masih belum diterjemahkan, maka itu pada jaman tersebut mereka mengandalkan Sutra Usia Tanpa Batas. Maka itu jika belum sampai saat menjelang ajal, tidak perlu mengatakannya pada orang lain.

Kemudian guru sesepuh dan para praktisi senior memberitahu kita bahwa andaikata kita memiliki kondisi batin maka boleh diberitahu kepada guru kita, memohon pada guru untuk memberi pengesahan, tetapi tidak boleh sembarangan  dibilang ke orang lain. Mengapa demikian? Saat anda memiliki niat pikiran ingin mengatakannya pada orang lain, hatimu telah tercemar. Jika dapat melihat semua kondisi batin serupa tidak melihatnya, hatimu mengetahuinya namun takkan meninggalkan jejak di hati, ini adalah ketrampilan melatih diri yang tinggi!

Selasa, 12 Mei 2020

SUTRA MAHA CUNDI DHARANI


Suatu saat, Yang Terberkati, Sakyamuni Buddha sedang berdiam di dekat Shravasti, pada taman Anathapindika di hutan Jeta. Pada saat itu Sang Tathagata merenungkan dan mengamati para makhluk hidup di masa mendatang. Dengan perasaan yang penuh welas asih kepada mereka, Sang Tathagata memutuskan untuk menjelaskan secara terperinci Cundi Dharani, hati ibu dari tujuh koti para Buddha. Lalu Sakyamuni Buddha menyatakan mantra:
NAMO SAPTANAM SAMYAKSAMBUDDHA KOTINAM TADYATHA: OM, CALE, CULE, CUNDI SVAHA.
Bila ada bhiksu, bhiksuni, upasaka, atau upasika menjunjung tinggi dan menjapa dharani ini 800,000 kali, semua pelanggaran karma mematikan yang dibuat sejak masa tak berawal dapat dilenyapkan. Individu tersebut akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan semua Buddha dan Bodhisattva dimanapun ia lahir, dan akan terberkati dengan sekumpulan karma baik sesuai dengan yang diinginkannya. Dia juga akan mendapatkan kesempatan untuk meninggalkan lingkaran tumimbal lahir dalam setiap kehidupannya, menegakkan ajaran dan sumpah para Bodhisattva.
Individu tersebut akan selalu lahir pada alam manusia dan alam dewa, serta terhindar dari berjumpa dengan kelahiran di jalan kejahatan, dan selalu dilindungi oleh makhluk surgawi. Bila terdapat umat awam menjunjung tinggi dan menjapa dharani atau mantra ini , maka rumah tangganya akan selalu terhindar dari penderitaan dan malapetaka, serta penyakit. Semua yang dilakukan oleh orang tersebut akan selalu menguntungkan. Kata-katanya akan dipercaya dan diterima oleh orang lain.
Bila seseorang selesai menjapa mantra tersebut 200,000 kali, dia akan bermimpi bertemu dengan para Buddha, Bodhisattva, PratyekaBuddha, dan Sravaka, serta melihat zat berwarna hitam keluar dari mulutnya.
Sebaiknya seseorang dengan pelanggaran karma berat, ketika sedang membaca mantra tersebut 200,000 kali dia akan bermimpi bertemu dengan para Buddha dan Bodhisatva dan dalam mimpinya akan mengeluarkan zat berwarna hitam.
Bila seseorang telah melakukan salah satu dari lima pelanggaran sila yang mematikan (Panca Garukha Karma), dan tidak mendapatkan mimpi yang luar biasa ini, disarankan untuk membaca mantra ini 700,000 kali. Setelah itu, orang tersebut akan mendapatkan mimpi yang luar biasa dan pertanda. Ketika seseorang bermimpi suatu pasta berwarna putih seperti lem kanji yang tebal, maka hal itu mengindikasikan bahwa dia telah mendapatkan pemurnian karma.
Sekarang saya akan membabarkan apa saja kegunaan maha-dharani ini. Seseorang sebaiknya berdiri didepan patung Buddha atau diatas tanah bersih didepan stupa. Tuangkan Gomaya (=kotoran sapi, di India dianggap sebagai bersih dan murni) diatas tanah dan buatlah altar mandala berbentuk kotak. Hiasi mandala tersebut dengan bunga, dupa, kanopi, makanan, lampu, dan lilin. Sesuaikan dengan ukuran mandala. Lakukan persembahan ini sesuai dengan kapasitas seseorang. Lalu japa mantra dan semprotkan parfum ke empat penjuru, serta atas dan bawah, untuk membuat proteksi spiritual. Letakkan sebotol parfum pada tiap-tiap sudut dan pada pusat altar mandala. Praktisi harus memasuki mandala dengan berlutut dan menghadap ke timur. Japa mantra 1080 kali dan botol parfum akan berputar dengan sendirinya. Peganglah berbagai macam bunga dengan kedua tangan, dengan posisi saling menyilang. Orang tersebut akan melihat penampakan para Buddha dan Bodhisattva. Japa lagi mantra tersebut 108 kali dalam bunga-bunga dan lemparkan ke udara sebagai sebuah persembahan (kepada para Buddha). Tanyakan semua jenis pertanyaan, dan pertanyaan tersebut akan terjawab.
Bila seseorang harus mengidap suatu penyakit karena berhadapan dengan makhluk gaib, japa mantra tersebut ke dalam rumput cogon dan sapukan rumput cogon tersebut ke pasien. Pasien tersebut seharusnya akan sembuh.
Bila seorang anak kecil kesurupan hantu, ambillah benang lima warna, dan suruhlah seorang gadis muda untuk memintal benang tersebut menjadi sebuah benang. Ambillah benang lima warna tersebut dan ikatkan simpul, sambil japakan mantra, sampai sebanyak 21 simpul. Ikatkan benang dengan 21 simpul tersebut ke leher anak kecil tersebut. Japakan mantra sebanyak 7 kali ke dalam segenggam biji mustard dan lemparkan biji mustard ke wajah anak kecil tersebut. Anak tersebut akan sembuh dari kesurupan.
Aplikasi lain dari mantra dan termasuk metodenya:
1.    Untuk orang yang kesurupan hantu, pada saat orang tersebut hadir, gambarkan ciri-ciri tubuh dari orang tersebut pada selembar kertas. Japa mantra ini pada batang dahan willow dan pukulkan gambar tersebut pada orang sakit dengan batang dahan willow. Ini akan menyembuhkan pasien dari penyakitnya. Bila pasien berada pada tempat yang jauh, japa mantra ini ke batang dahan willow tujuh kali, dan kirimkan orang lain dengan batang tersebut. Suruh orang tersebut menggambar ilustrasi pasien dan pukulkan gambar tersebut kepada pasien dengan batang. Ini akan menyembuhkan pasien dari sakitnya.
2.    Bila seseorang menjapa mantra ini ketika sedang dalam perjalanan, dia tidak akan perlu takut berjumpa dengan pencuri, perampok, dan binatang buas.
3.    Bila seseorang secara konstan membaca mantra ini, dia akan memenangkan segala macam percekcokan. Bila seseorang menyeberangi lautan, japalah mantra ini dan dia tidak akan bertemu dengan gangguan yang disebabkan makhluk-makluk jahat yang ada di lautan.
4.    Bila seseorang dikurung dan tangannya diikat, japalah mantra ini, dan dia akan dibebaskan.
5.    Bila terdapat sebuah negara yang menderita karena banjir, kelaparan, atau wabah penyakit menular.Siapkan krim susu, biji wijen, dan beras mengkilat yang tidak lengket. Gunakan tiga jari, ambil masing-masing seporsi dari bahan tersebut untuk menyiapkan adonan. Japa mantra tersebut ke dalam adonan, dan lemparkan ke dalam api. Lakukan hal ini terus-menerus selama 12 jam, selama 7 hari dan semua malapetaka akan dilenyapkan.
6.    Buatlah sebuah mandala stupa diatas pasir dipinggiran sungai sambil japakan mantra. Lakukan ini sebanyak 600,000 kali. Seseorang akan melihat Bodhisatva Guan Yin atau Tara. Atau mungkin dia akan melihat Vajrapani. Apa yang anda doakan pada saat ini akan terpenuhi. Seseorang akan mendapatkan pengobatan spiritual atau mendapatkan prediksi pencapaian keBuddhaan.
7.    Bila anda mengitari gambar pohon bodhi searah jarum jam dan menjapa mantra ini sampai 10 juta kali, anda akan menyaksikan seorang Bodhisatva membabarkan dharma kepadamu dan diijinkan untuk mengikuti bodhisatva tersebut.
8.    Bila anda melakukan persembahan makanan dan sering menjapa mantra ini, anda akan terbebaskan dari berbagai manusia jahat atau anjing liar. Bila anda pada awalnya menyelesaikan mantra ini di depan pagoda, atau patung Buddha, atau stupa dan sesudah itu melakukan persembahan yang sangat besar pada tanggal 15 suklapaksa (Yang Terang, tengah bulan pertama dalam satu bulan), japa mantra selama satu hari sambil berpuasa makanan, anda akan bertemu dengan Vajrapani dan mendapat undangan untuk pergi ke istananya.
9.    Bila anda berdiri didepan sebuah stupa menegakkan tanda dimana roda dharma pertama diputar, atau stupa didirikan dimana Buddha lahir, atau stupa didirikan dimana penerus Buddha langkah berharga dari Surga Triyamsa, atau semua stupa yang berisikan relik, mengitari stupa tersebut searah jarum jam dan menjapa mantra ini. Anda akan melihat Bodhisattva Aparajita dan Bodhisattva Hariti. Keinginanmu akan terpenuhi. Bila anda memerlukan pengobatan secara spiritual, maka hal itu akan diberikan kepadamu, dan anda juga akan mendapatkan ceramah pada jalan Bodhisattva.
10.    Bila ada seseorang yang menjapa mantra ini tidak berada pada tempat yang suci, maka ia akan menerima sebuah kunjungan dari semua bodhisatva, tanpa menghiraukan dimana dia berada. Maha Cundi dharani ini adalah mantra yang penuh kilauan, dan dijelaskan secara terperinci oleh para Buddha di masa lampau, dan akan dijelaskan oleh para Buddha pada masa mendatang. Kenyataannya, para Buddha pada saat ini menjelaskan mantra ini, seperti yang kulakukan hari ini. Hal ini perlu dilakukan untuk menguntungkan setiap makhluk sehingga mereka mencapai penerangan sempurna. Bila ada suatu makhluk yang kurang pahala dan memiliki akar karma baik sedikit, dan tidak memiliki kapasitas natural dan faktor pedukung yang cukup untuk pencerahan akan sangat beruntung menerima dharani ini. Dia akan melaju dengan cepat mencapai penerangan sempurna (Anuttara-Samyak-Sambodhi). Bila seseorang secara konstan ingat untuk menjapa mantra ini, akar-akar karma baik tak terbatas akan matang menuju ke pencapaian.
Ketika Buddha membabarkan Cundi Dharani , makhluk hidup yang tak terbatas jumlahnya terangkat dari kekotoran batin, dan menerima karma baik dari Maha Cundi Dharani, Mantra Maha Terang dan menyaksikan kehadiran para Buddha, Bodhisattva dan makhluk-makhluk suci dari sepuluh penjuru, sebelum mereka bernamaskara dan meninggalkan pertemuan.

Sabtu, 15 Desember 2018

36 jenis Arus Nafsu

Notes :

Yang dimaksud dengan 36 jenis arus nafsu adalah sebagai berikut.
Tanha/craving/nafsu keinginan ada 3 :
- kāma-taṇhā : nafsu keinginan akan nafsu indria
- bhava-taṇhā : keinginan untuk “menjadi” atau “ada”
- vibhava-taṇhā : keinginan untuk “tidak menjadi” atau "tidak ada" atau

Ada 6 landasan (ayatana) internal : yaitu melalui :
mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran.

Ada 6 landasan (ayatana) external : yaitu melalui :
bentuk/forms, suara/bunyi, bebauan, rasa, sentuhan, dan ide/bentuk-bentuk pikiran.

3 jenis tanha yang melalui 6 landasan internal diatas -> menghasilkan 18 jenis tanha.
3 jenis tanha yang melalui 6 landasan external diatas -> menghasilkan 18 jenis tanha.
Sehingga total ada 36 jenis arus nafsu. 

Sumber: www.sariputta.com

Selasa, 16 Oktober 2018

MEMECAHKAN MASALAH By Ven Ajahn Brahm.

Sudah berapa banyakkah Anda mencoba memecahkan “masalah”? Anda akan terus mencoba memecahkannya bukan hanya sampai Anda meninggal dalam kehidupan ini saja, namun selama berapa banyak masa kehidupan Anda selanjutnya, lagi dan lagi. Alih-alih, pahamilah bahwa dunia ini hanyalah permainan indra-indra saja. Hanyalah lima khanda (kelompok kemelekatan bentuk (rupakkhandha), kelompok kemelekatan perasaan (vedanakkhandha), kelompok kemelekatan pencerapan (sannakkhandha), kelompok kemelekatan bentuk-bentuk pikiran (sankharakkhandha), dan kelompok kemelekatan kesadaran (vinnanakkhandha).”
(Digha Nikaya 22) yang melakukan urusan mereka; itu tidak ada urusannya dengan Anda. Itu hanya orang, orang biasa, dunia hanya dunia biasa.

Terkadang di vihara kami, Anda melihat serombongan besar burung kakatua. Mereka sangat berisik. Beberapa orang mengatakan jika mereka tidak menyukai suara kakatua, namun entah Anda suka atau tidak suka akan suara kakatua, burung-burung itu tetap saja ribut, jadi mengapa kita sendiri yang tidak melepaskan keterlibatan kita di dalamnya?

Sebagai seorang meditator, saya dahulu sering bertanya kepada diri saya sendiri, “Mengapa suara bisa mengusik saya?” Apakah itu suara burung di luar atau suara seseorang sedang batuk atau membanting pintu di balai utama, mengapa saya bisa mendengarnya? Mengapa saya tidak mampu melakukan hal yang sama dengan mata saya yang tertutup, yaitu mencari “kelopak” dan menutupi telinga saya? Melalui perenungan suara dan memahami bagaimana kerjanya, menjadi cukup jelas bahwa satu-satunya alasan saya mendengarnya adalah karena saya keluar dan mendengarkannya. Ada keterlibatan yang aktif dengan dunia suara. Itulah sebabnya suara itu dapat mengusik saya. Ajahn Chah guru saya dahulu sering mengatakan bahwa bukan suara itu yang mengusik Anda; Andalah yang mengusik suara itu. Itu suatu ungkapan yang sangat mendalam, dan itu banyak berarti bagi saya. saya menggunakan ungkapan itu untuk memahami sifat suara dan mengapa suara terdengar begitu mengusik.

Ketika seseorang memanggil Anda babi, idiot, atau apa pun, Anda tidak perlu mendengarnya. Kita mendengarnya karena kita sendiri yang tertarik kepadanya; kita terlibat dengannya dan melekat pada dunia suara itu. Namun jika kita menyadari bahwa suara itu datang sesuai sifat alaminya, saat itulah kita mengalami nibbida (ketidakmelekatan). Ada suara indah, suara gila, dan suara burung. Sebagian burung bersuara merdu dan sebagian lagi dapat merusak kuping, seperti gagak, suaranya sangat mengerikan. Namun itu bukanlah salah gagak; memang begitulah suara alaminya mereka, sama halnya dengan vihara: sebagian anagarika (bhikkhu) seperti gagak dan sebagian seperti burung bulbul sebagian bhikkhu bicara dengan indah, sebagian bicara dengan mengerikan. Itulah alaminya mereka, itu saja. Itu tidak ada hubungannya dengan kita, dan karena itulah kita semestinya melepaskan diri dari keterlibatan.

Ketika kita bisa melepaskan keterlibatan dari hal-hal ini melalui nibbida (ketidakmelekatan), mereka akan memudar. Duka memudar ketika sebab duka memudar. Dunia indriya mulai pupus lenyap ketika kita tidak begitu peduli untuk mengubahnya. Ketika kita melepas keterlibatan diri darinya dengan nibbida (ketidakmelekatan), kita merasa muak dengan dunia indra, dan mulai menolaknya. Ini karena nibbida (ketidakmelekatan) muncul dari melihat dunia sebagaimana adanya, dengan itu, kita bergerak ke arah yang berbeda dibandingkan dengan penghuni dunia lainnya yang masih satu dunia dengan kita.

Sumber: Dhamma Kehidupan

Rabu, 06 Juni 2018

BUDDHA , Pengendali Pikiran


kendali_1


BUDDHA, PENGENDALI PIKIRAN
Oleh: Piyadassi Mahathera

Orang yang mempelajari agama Buddha secara objektif yang dengan teliti membaca buku tentang agama Buddha di masa awalnya secara menyeluruh, (dalam buku manapun) akan menemukan kepribadian yang dinamis dari seorang manusia yang telah mencapai Penerangan Tertinggi dan Kebebasan Mutlak melalui kesempumaan moral, intelektual dan spiritual. Seorang guru yang berusaha dengan semangat tanpa kenal lelah dan tekad yang bulat untuk menyebarkan kebenaran yang telah disadari-Nya. Orang yang memiliki kepribadian dinamis itu adalah Buddha.
Buddha bukanlah seorang filsuf di antara ahli filsafat lainnya, melainkan seorang Guru suci yang telah mencapai Penerangan, yang ajaran-Nya bertujuan merombak pikiran dan kehidupan umat manusia. Semangat pengorbanan diri, cinta kasih yang tanpa batas, kebaikan hati dan toleransi yang terkombinasi dengan kepribadian-Nya yang luar biasa, membangunkan mereka yang mengikuti-Nya dari ninabobo kebodohan dan membangunkan mereka untuk menyadari kebenaran.
Ajaran-Nya berawal di India Utara tetapi pesan-Nya menarik perhatian seluruh dunia. Buddha berbicara kepada seluruh umat manusia dan untuk sepanjang jaman. Ajaran dan disiplin-Nya (dhamma-vinaya) adalah untuk seluruh umat manusia, apapun bahasa yang mereka gunakan, apapun pakaian yang mereka kenakan, apapun negara yang mereka sebut “rumah”. Bahasa Buddha adalah kebenaran. Beliau mengenakan pakaian kebenaran dan seluruh dunia adalah “rumah”Nya; karena kebenaran terdapat dimana-mana dan setiap saat dapat disadari oleh setiap orang. Inilah yang dimaksud keuniversalan Buddha Dharma atau Agama Buddha. Kebenaran yang dibicarakan dalam Agama Buddha bukan konsep, oleh karena itu tidak dapat disebarkan hanya dengan kata-kata saja. Buddha dapat menuntun kita dengan menunjukkan jalan menuju kebenaran, kita sendiri yang harus mengikuti cara-cara meditasi untuk menyadari kebenaran dan menjadikannya milik sendiri.
Buddha adalah Pengendali Pikiran. Beliau mengembangkan pengendalian pikiran berkat meditasi dan berbagai bentuk peningkatan spiritual lain dalam rangkaian kehidupan berturut-turut. Dengan inilah Beliau dapat memahami dan menyatakan kebenaran pokok mengenai kehidupan, mengenai arti dan tujuannya. Meskipun begitu kebanyakan orang yang tertarik pada agama Buddha dewasa ini bukanlah memperhatikan kebenaran-kebenaran pokok ini, tetapi mempelajari, bagaimana ia dapat menghasilkan penyelesaian yang berguna untuk mengatasi keragu-raguan dan kesulitan yang mengacaukan dan membingungkan dirinya dalam usaha untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan.
Salah satu kebenaran pokok yang telah dinyatakan oleh Buddha adalah kekuatan yang luar biasa dari pikiran. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang siswa-Nya, Beliau menjelaskan kebenaran ini dengan tegas sekali, “Dunia dikuasai oleh pikiran, dengan pikiran dunia terbentuk; semuanya terjadi di bawah kekuasaan pikiran.”
1) Ilmu pengetahuan belum sepenuhnya menyelidiki kekuatan dan pikiran, tetapi lebih dari 2500 tahun yang lalu Buddha telah menyadari keunggulannya dalam setiap aspek kehidupan. Agama Buddha di masa awal memandang pikiran merupakan suatu kekuatan besar yang harus dikembangkan dalam usaha untuk mencapai tujuan tertinggi, Nirwana (Nibbana). Agama Buddha yang juga tidak mengingkari dunia yang penuh persoalan dan dampak luar biasa yang diakibatkan oleh dunia fisik terhadap kehidupan rohani, menekankan lebih pentingnya pikiran manusia. Kekuatan pikiran merupakan hal yang sangat nyata.
Banyak orang yang mencari ilham dan kebahagiaan dari sumber-sumber di luar dirinya merasa kecewa. Hanya ketika seseorang menyadari keunggulan pikiran dan mengerti bahwa pikiran yang dimiliki seseorang dapat membuat dunia ini menjadi surga atau neraka bagi dirinya sendiri, maka ia akan belajar bagaimana untuk merasa bahagia. Sang Pengendali Pikiran memberikan pertolongan lebih lanjut, seperti yang dikatakan dalam Dhammapada (165):
“Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan.
Oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan.
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci itu tergantung pada diri sendiri.
Tak seorang pun dapat membuat orang lain suci.”
Selain itu Sang Pengendali Pikiran berkata: “Engkau sendirilah yang harus berusaha, Para Buddha hanya menunjukkan jalan.”
2) Kebenaran-kebenaran yang berharga ini mengajarkan manusia untuk menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri dan melalui dirinya sendiri.
Kebenaran pokok lain yang datang dari Sang Pengendali Pikiran adalah:
“Segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal,
Mereka timbul dan lenyap, itulah sifat dasarnya;
Mereka dilahirkan dan meninggal dunia,
Terbebas dari hal ini merupakan kebahagiaan tertinggi.”
(D. ii.157)
“Segala hal yang memiliki sifat untuk timbul, memiliki sifat untuk lenyap.”
3) Perubahan ini merupakan inti dari segala sesuatu. Manusia tidak berbahagia karena semua hal yang diinginkannya – istri dan anak-anak, kekayaan dan kekuasaan – tidak bertahan selamanya. Dalam pekerjaan apa pun setiap orang mengalami kecemasan yang sama untuk mempertahankan apa yang dicintainya. Hanya jika manusia menyadari kebenaran pokok mengenai ketidakkekalan segala sesuatu maka ia akan melatih dirinya sendiri untuk melepaskan diri dari nafsu keinginan, karena nafsu keinginan rendah membawa ketidakbahagiaan.
Dalam hubungan ini, Sang Pengendali Pikiran mengucapkan sabda sebagai berikut:
“Dari nafsu keinginan timbul kesedihan,
Dari nafsu keinginan timbul ketakutan,
Bagi orang yang telah bebas dari nafsu keinginan,
Tiada lagi kesedihan maupun ketakutan” (Dhp. 216)
Buddha kadangkala lebih memperhatikan tujuan yang mengandung unsur pengobatan daripada analisis obyektif. Akan tetapi yang terutama mendapat perhatian-Nya adalah pandangan analitis terhadap segala sesuatu, karena hal ini membantu seseorang untuk memahami sesuatu sebagaimana hakekat yang sesungguhnya. Melalui meditasi, Buddha menemukan akar dari penyakit-penyakit universal yang terdapat di hati dan pikiran manusia. Pengetahuan-Nya yang luar biasa sampai ke dalam cara berpikir menempatkan Buddha sebagai Pengendali Pikiran, seorang ahli psikologi, dan seorang ilmuwan terbesar. Tidak disangkal, caranya mencapai kebenaran-kebenaran dari kehidupan rohani ini tidak selalu bersifat eksperimen, namun apa yang ditemukan oleh Buddha tetap benar, dan dalam kenyataannya telah dibuktikan oleh para ahli percobaan. Akan tetapi tujuan Buddha terkait dengan penyelidikan ini berbeda dengan tujuan para ilmuwan. Para ilmuwan lebih memusatkan perhatian untuk memperoleh pengetahuan objektif mengenai sifat-sifat dasar, tetapi pernyataan Buddha tentang sifat-sifat dasar dari pikiran dan jasmani di arahkan untuk mencapai kebebasan, pembebasan tertinggi dari keterikatan. Ajaran-Nya banyak menekankan fenomena pikiran dan mental karena hal ini memainkan peranan penting dalam menimbulkan perbuatan. Dalam agama Buddha pikiran merupakan basis, “Pikiran mendahului segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran membentuk segalanya.” (Dhp.1)
Buddha adalah seorang manusia. Bahkan sesudah Beliau menjadi Buddha Beliau tidak menyatakan diri-Nya sebagai Dewa, Tuhan atau Brahma, yang menciptakan dunia dan mengadili nasib manusia. Ia adalah seorang MANUSIA di antara banyak manusia. Bila ditanya siapakah Dia, jawabannya adalah: “Aku seorang yang telah sadar” dan Beliau menyimpulkan pencapaianNya dalam kata-kata berikut ini:
“Aku mengetahui apa yang harus diketahui,
Apa yang harus dikembangkan telah Kukembangkan.
Apa yang harus ditinggalkan telah Kutinggalkan,
Maka, Aku adalah BUDDHA, Dia yang bangun.”
(Sn. 558)
Pengikut-Nya, menyadari bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah akibat dari perbuatan baik dan perbuatan tidak baik yang dilakukan seseorang, tidak memohon kepada-Nya dan tidak mengharapkan dari-Nya balas jasa ataupun hukuman. Mereka berlindung kepada Buddha dengan menyadari bahwa hidup-Nya dan ajaran-Nya menawarkan pada mereka sebuah teladan dan tuntunan. Dengan mengikuti ajaran-Nya mereka mampu meningkatkan kehidupan rohani dari tingkat yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi, dan akhimya mencapai kebahagiaan yang merupakan hasil dari perkembangan spiritual tertinggi, kebahagiaan Nirwana.
Buddha dapat juga disebut sebagai seorang revolusioner dalam pengertian sesungguhnya. Tujuan-Nya yang utama adalah mengadakan perubahan dalam kehidupan rohani manusia, termasuk dunia dan menunjukkan jalan menuju kesucian batin, kedamaian dan kebahagiaan. Akan tetapi Beliau menemukan bahwa masyarakat India sangat memerlukan perubahan secara radikal, karena begitu banyaknya ketimpangan sosial, serta diskriminasi ekonomi dan sosial. Sejauh mengenai perhatian pada ketimpangan ekonomi, Buddha berhasil menciptakan jaminan ekonomi yang stabil dalam kelompok para bhikkhu dan bhikkhuni. Apa pun dasarnya wihara dan dana yang disumbangkan oleh umat awam kepada Sangha selalu merupakan milik Sangha, dan bukan milik perseorangan.
Bagaimanapun juga, Bhagawa menentang semua bentuk diskriminasi sosial. Ketika membicarakan Dharma dalam ajaran-Nya, Beliau tidak membeda-bedakan kasta, suku, kelas, jenis kelamin ataupun perbedaan lainnya Pria dan wanita dari berbagai pekerjaan – kaya dan miskin, kalangan rendah dan kalangan atas, yang terpelajar dan yang buta huruf, brahmana dan luar kasta, pangeran dan fakir miskin, orang suci dan penjahat — semuanya mengindahkan Buddha, berlindung kepada-Nya dan mengikuti jalan menuju kedamaian dan penerangan yang telah ditunjukkan oleh Beliau kepada mereka. Jalan ini terbuka bagi semua orang.
Sebagai orang yang bertingkah laku sesuai dengan apa yang di- khotbahkan-Nya, Buddha selalu memusatkan perbuatan kepada Empat Keadaan Luhur (brahmavihara): cinta kasih (metta), belas kasih (karuna), simpati atau bahagia melihat kebahagiaan orang lain (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha). Buddha dikenal sebagai orang yang telah meletakkan gada (nihita danda), seseorang yang telah meletakkan senjata (nihita sattha). Satu-satunya senjata yang berhasil digunakan-Nya adalah cinta kasih dan belas kasih. Beliau mempersenjatai diri dengan kebenaran dan belas kasih.
Beliau adalah penjelajah terbesar di dunia. Ia berjalan dan berjalan terus sepanjang jalan raya dan jalan kecil di India, merangkul semuanya kedalam pancaran kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tidak terbatas.
Ia bergerak di antara pria dan wanita, bukan sebagai manusia super atau penjelmaan dewa, tetapi sebagai manusia seutuhnya. Dalam kenyataannya, sifat dasar kemanusiannyalah yang terlihat nyata dalam catatan kehidupan dan kegiatan-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci. Buddha membuat orang-orang mengerti bahwa semua orang dapat menjadi Buddha asalkan mau mengembangkan sifat dasar penting yang dapat menuntun menuju penerangan.
Buddha memiliki rasa humor yang tinggi dan sifat ramah yang membuat orang-orang yang datang berhubungan dengan-Nya merasa senang. Namun, agak lucu pula bila kita perhatikan bahwa sebagian orang pada zaman itu, terutama anggota kepercayaan lain, merasa takut kepada Buddha dan tidak berani mengirimkan para murid dan pengikut mereka kepada Buddha, takut kalau-kalau mereka beralih agama. Hal ini tampak jelas dalam catatan berikut ini:
Suatu ketika Nigantha Nataputta (Jaina Mahavira) ingin mengirim seorang siswanya yang terkenal, Upali, menemui Buddha untuk menyangkal kata-kata-Nya dalam perdebatan. Kemudian Dighatapassin, pengikut Jaina, berkata kepada Nataputta: “Bagiku, Yang Mulia, sebenarnya tidak perlu sekali mengirim Upali untuk menyangkal kata-kata Petapa Gotama, karena Petapa Gotama penuh tipu daya; Ia tahu mantra sihir yang dengan itu menarik para pengikut dari sekte-sekte lain. (Gotamo mayavi avattananim mayam janati)” (M.56; A. ii, 190).
Mereka mungkin tidak menyadari bahwa metta yang dimiliki Buddha, kebesaran cinta kasih dan kebaikan hatinyalah yang menarik orang- orang kepada-Nya dan bukan dengan “muslihat yang menarik hati.”
Buddha merupakan perwujudan dari metta, contoh dari cinta kasih dalam tuntunan dan keteladanan. Dalam perdebatan, Beliau selalu tenang dan menghadapi penantang tanpa merasa terganggu, tanpa menunjukkan kemarahan. Saccaka, lawan debatnya, pada akhir perdebatan dengan Buddha, tidak dapat menahan diri untuk berkata: “Bagus sekali, mengagumkan, Gotama yang baik, walau dicecar secara bertubi-tubi, walau diserang dengan kata-kata yang penuh tuduhan, sifat Gotama yang baik begitu jelas, dan wajahnya menunjukkan kebahagiaan sebagai seorang Arahat, yang sempuma, yang telah mencapai Penerangan Tertinggi.” (M36)
Bahkan ketika orang-orang menyerang-Nya dan berusaha mempermalukan dengan kata-kata kasar, air muka Buddha tidak pernah berubah. Dikatakan bahwa Beliau tersenyum, senyuman selalu mengawali ucapan-Nya (mihita pubbangama).
Ernest F. Fenollosa menilai: “Kesan terhadap tokoh ini (Buddha), berdasar pandangan orang untuk pertama kali, menunjukkan Dia memiliki kesucian yang hebat. Anggaplah berkelakar, seorang Kristiani yang berwawasan luas (=dirinya sendiri) juga dapat dengan bebas terdorong untuk membungkukkan diri di hadapan senyuman-Nya yang manis dan penuh kekuatan.”
Tak ada sifat manusia yang menjadi milik khusus (prerogatif) agama, negara, ras atau kebudayaan tertentu. Bagi mereka, semua memiliki mata untuk melihat dan pikiran untuk mengerti akan menyadari bahwa sifat-sifat seperti persahabatan, belas kasih dan kebesaran hati umumnya terdapat dalam diri setiap umat manusia. Akan tetapi ketika orang-orang itu salah jalan dan tersesat, mereka membicarakan dan merencanakan “perang demi keadilan” – kita bahkan membaca mengenai “perang suci”. Perang adalah perang; “adil ataupun suci”; tidak pernah membawa kedamaian. Semua bentuk perang adalah biadab.
Suatu kejadian pada suatu ketika membawa Buddha menuju medan perang. Sakya dan Koliya, dua negara yang bertetangga sampai di ambang peperangan karena memperebutkan air Sungai Rohini. Mengetahui bencana yang akan timbul, Bhagawa lalu menghampiri mereka dan menanyakan kepada mereka manakah yang lebih berharga, air atau darah manusia. Mereka mengakui bahwa darah manusia lebih berharga. Bhagawa berbicara kepada mereka dan perang yang hampir pecah dapat dicegah.
4)Dalam bidang agama dan filosofi, perubahan terbesar yang dilakukan, oleh Buddha ketika Beliau mengecam konsep atta atau atman, roh yang kekal, diri atau aku yang kekal. Ajaran mengenai anatta, tanpa roh yang kekal, semata-mata merupakan ajaran agama Buddha. Buddha menunjukkan bahwa menjadi apapun, dengan berbagai maksud kita menamakan pria, wanita atau pribadi, bukanlah merupakan sesuatu yang statis melainkan dinamis. Perpaduan antara jasmani dan rohani selalu dan terus menerus berubah.
Kini jika seseorang melihat kehidupan dari pandangan ini dan mengerti secara analitis bahwa keberadaannya merupakan rangkaian agregat rohani dan jasmani secara keseluruhan, ia melihat benda-benda sebagaimana yang sesungguhnya. la tidak berpegang pada pandangan salah mengenai “kepercayaan akan adanya pribadi” (sakkaya ditthi), kepercayaan terhadap adanya roh atau diri yang kekal, abadi, tidak berubah dan tetap, karena ia mengetahui melalui pengertian benar bahwa seluruh bentuk kehidupan yang nyata merupakan rangkaian sebab-musabab yang saling bergantungan (paticca samuppada). Melihat bahwa segala sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lain dan kehidupan berhubungan dengan keadaan itu, ia menyadari bahwa sebenarnya tak ada “aku”, tidak ada prinsip aku yang kekal, tak ada diri atau sesuatu mengenai diri, tidak dalam proses kehidupan sekarang maupun di luar kehidupan saat ini. Oleh karena itu, ia bebas dari pikiran mengenai jiwa mikrokosmis (jivatma)atau jiwa makrokosmis (paramatma) atau bahkan jiwa kosmis.
Buddha tidak mengakui segala bentuk atman, jiwa atau diri, besar atau kecil yang kekal, karena hal-hal itu hanya merupakan bayangan dalam pikiran. Beliau bertanya: “Ketika suatu atman, jiwa atau diri tidak ditemukan, bukankah bodoh untuk menyatakan alam semesta sebagai atman atau diri dan mengatakan: aku akan menjadi atman setelah kematian, kekal, abadi, tidak berubah dan akan tetap sebagai atman untuk selamanya?”‘
5)Barang siapa yang berakar pada pemikiran mengenai jiwa atau diri itu akan merasa takut dan khawatir ketika ia mendengar bahwa segala keindahan yang disenanginya akan hancur dan ia akan dihancurkan. Oleh karenanya ia menyukai pemikiran mengenai atman, jiwa atau diri yang kekal untuk mempertahankan dirinya sendiri. Itu sebabnya mengapa Buddha mengingatkan para pengikut-Nya agar memandang Beliau bukan sebagai juru selamat yang menyelamatkan jiwa makhluk ciptaannya, tetapi sebagai seorang guru yang menuntun mereka pada jalan yang benar dan mendorong mereka untuk memiliki kepercayaan pada diri sendin. Beliau juga menerangkan kepada para siswa-Nya bahwa jika Beliau meninggal dunia nanti, mereka harus mencari tempat berlindung dan perlindungan dalam diri mereka sendiri sebagaimana juga di dalam Dharma, ajaran-Nya dan bukan pada tempat lain (attasarana anannasarana dhammasarana anannasarana)
6)Namun, sebagian orang terpelajar, tidak dapat menerima ajaran tanpa aku ini, dan oleh karena itu mereka mencoba untuk mengubah ajaran Buddha dengan mengakui pemikiran mengenai “diri” (atta).
Radhakrishnan, contohnya, salah menerjemahkan Dhammapada ayat 160yang berbunyi: “Diri sendiri adalah tuan dari diri sendiri, siapa pula yang dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri? Setelah dapat menaklukkan dirinya sendiri dengan baik, seseorang akan menemukan tuan yang hanya sedikit orang saja dapat menemukannya.”
7)Di sini kata “atta” tidak memiliki hubungan dengan jiwa atau diri. Kata itu digunakan sebagai refleksi atau kata ganti tak tentu yang berarti saya sendiri, kau sendiri, aku sendiri, diri sendiri atau lain-lain. Berikut ini adalah terjemahan yang benar: “Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengenali dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.”
Para peterjemah juga salah mengartikan kata kunci “natha” yang berarti perlindungan, pertolongan dan bukan “tuan”. Penjelasan pada ayat itu mengatakan “nattho ti patitha”nattha artinya perlindungan (bantuan, tempat berlindung, pertolongan). Pikirkan lawan katanya “anatha“. Apakah artinya menjadi “tanpa tuan”‘? Tidak, ini artinya tanpa bantuan, tanpa perlindungan, tanpa pertolongan. Terjemahan yang salah menimbulkan pemikiran yang keliru mengenai diri yang besar menguasai diri yang kecil, jiwa makrokosmis menguasai jiwa mikrokosmis.
Sebagian orang suka berpikir keliru bahwa Buddhisme dapat diperbandingkan dengan filsafat Marxisme karena keduanya dianggap menyangkal Dewa yang kekal dan roh yang kekal. Salah bila mengatakan bahwa agama Buddha mempengaruhi filsafat Marx, atau ajaran agama Buddha mendekati dasar-dasar ajaran Marxisme. Ajaran Buddha mengenai hukum sebab akibat moral (kamma), kehidupan sebelum kelahiran, kehidupan setelah kematian (punnabhava)dan kebebasan tertinggi dari keterikatan (Nibbana), sama sekali asing bagi Marxisme.
Penganut Marxisme percaya bahwa tidak ada yang hidup terpisah dari materi. Bahkan pikiran merupakan hasil dari materi. Mereka percaya bahwa setelah kematian badan jasmani, “kepribadian” yang berhenti hidup.
Bagi penganut agama Buddha pertanyaan mengenai agama dan asal mulanya bukanlah merupakan pertanyaan yang bersifat metafisika, tetapi merupakan pertanyaan yang bersifat psikologis dan intelektual. Baginya agama bukan semata-mata keyakinan atau kitab wahyu ataupun ketakutan terhadap sesuatu yang tidak diketahui atau ketakutan terhadap makhluk gaib yang memberi pahala terhadap perbuatan baik dan memberi hukuman terhadap perbuatan jahat yang dilakukan oleh makhluk ciptaannya. Tidak hanya perhatian mengenai teologi, tetapi lebih kepada soal psikologis dan intelektual yang diakibatkan karena pengalaman merasa dukkha, yaitu penderitaan, konflik dan ketidakpuasan terhadap keberadaan empiris dalam sifat kehidupan.
Ketika kita mempertimbangkan isi ajaran agama Buddha, kita dapat melihat sesungguhnya ajaran agama Buddha berbeda dengan ajaran agama lain terutama mengenai konsep penciptaan. Ada banyak kepercayaan dalam agama Buddha, tetap tidak dapat dimasukkkan di antara agama-agama yang terpusat pada penciptaan dan kekuatan-kekuatan supranatural. Agama Buddha tidak mengenal Dewa pencipta yang kekal dan tidak menganjurkan upacara pemujaan dalam bentuk apa pun dan permohonan kepada para dewa. Tidak ada kepercayaan terhadap kekuatan supernatural di luar manusia yang menguasai nasibnya. Dalam agama Buddha manusia menghubungkan seluruh pencapaian dan prestasinya kepada usaha dan pengertiannya sendiri. Agama Buddha bersifat antroposentris, tidak teosentris. Bagi umat Buddha, agama merupakan pandangan hidup, kurang lebih mengenai pandangan moral, latihan spiritual dan intelektual yang menuntun ke arah pencapaian pengetahuan tertinggi, yang mengakhiri seluruh penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang dan berhasil mencapai kebebasan batin yang sempurna.
Dilihat dari pandangan filosofis, Buddha tidak merisaukan masalah yang dikhawatirkan oleh para ahli filsafat Timur maupun Barat dari zaman dahulu hingga sekarang. Dalam pandangan-Nya masalah-masalah metafisika hanya membingungkan manusia dan mengganggu keseimbangan rohaninya. Beliau tahu bahwa pemecahannya tidak akan menghindari seseorang dari penderitaan, dari ketidakpuasan terhadap sifat kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Beliau tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, dan pada saatnya menahan diri untuk menjelaskan hal itu yang dirumuskan secara salah.
Tantangan dari agama Buddha merupakan sarana yang mendorong para pemikir keagamaan untuk meninjau kembali definisi kuno mereka tentang agama, dan menemukan definisi baru yang dapat selaras dengan agama Buddha. Cara umat Buddha memahami kebenaran tertinggi, bangun dari kebodohan untuk mencapai pengetahuan sempurna, tidak tergantung hanya kepada perkembangan kepandaian teoritis intelektual akademis, tetapi kepada pelaksanaan dari ajaran yang praktis. Gabungan yang menyenangkan dari teori dan praktik inilah yang menuntun penerangan dan pembebasan akhir.
Catatan:
1. A. ii, 117
2. Dhp. 276
3. Vin. i, 10; S. v, 420.
4. AA. I, 241; SnA 357; Thag A. 141.
5. Alagaddupama Sutta, M. 22, 138
6. Maha Parinibbana Sutta D. 16, 100.
7. S. Radhakrishnan, Gautama the Buddha(Hinds Kitabs, Bombay)
———————-
Sumber : Spektrum Ajaran Buddha, kumpulan tulisan Piyadassi Mahathera
Penerbit : Yayasan Pendidikan Buddhis Triratna, Jakarta, 2003
Y.A. Piyadassi adalah bhikkhu Srilanka. Beliau telah wafat pada tanggal 18 Agustus 1998 di Colombo, Srilanka

Selasa, 29 Mei 2018

Apakah Yang Di maksud dengan Parami