Tutorial blog
Ajaran Konfusius
Alam Dharma
Alam Kehidupan
Artikel Buddhis
Bacaan
Bodhisattva
Ceramah
Cerita
Cerita JATAKA
Dhamma
Dharani
Gambar Renungan
Humor
inspirasi
Istilah Dharma
Kata Mutiara
Kata perenungan
Kathina Buddhist Article
Kehidupan Air
Kelas Belajar
Kesehatan
Komik
Kutipan Ceramah
Lirik
Magha Puja Buddhist Article
Master Yin Guang
Master Kumarajiva
Master Yin Guang
motivasi
parrita
Penjelasan Sutra
Petikan Ceramah
Resep Kue
Resep Vegan
Rupang
Serba serbi
Sukhavati
Tanya jawab
TipsNtrik
Unik
Vegetarian Buddhist Article
Waisak Buddhist Article
Wisdom
Rabu, 22 Januari 2014
Sampah, Batu dan Lumpur
Bila kita memperhatikan sebuah SUNGAI yang aliran airnya TIDAK LANCAR,..kita akan mendapati beberapa PENYEBABNYA, Yaitu adanya..
SAMPAH
Kadang kita tidak bisa mengalirkan HAL-HAL yang BΑÍK karena HIDUP kita mengalirkan SAMPAH-SAMPAH..
SAMPAH berbicara tentang sesuatu yang dimasukan dalam diri kita seperti GOSIP, PIKIRAN NEGATIF, KEBENCIAN, IRI HATI, KEMARAHAN, dsb..
Saat kita membiarkan diri kita TERMAKAN oleh GOSIP atau OMONGAN NEGATIF orang lain, maka rasa KESAL, MARAH..KECEWA akan memenuhi HATI kita..
Belajarlah MENGUASAI HATI.. kita tidak bisa MELARANG orang lain MEMBICARAKAN kita... namun kita bisa MENJAGA HATI kita untuk tetap TENANG..
BATU
BATU berbicara tentang KEKERASAN HATI.
Tak jarang perbuatan orang lain membuat kita SAKIT HATI, lalu kita MEMENDAM DENDAM...
Dan biasanya kita akan dihadapkan dengan 2 PILIHAN : Mau MENGAMPUNI atau tetap MENGERASKAN HATI MEMBENCI orang itu...
LUMPUR
LUMPUR berbicara tentang MASA LALU...
Mungkin kita memiliki MASA LALU yang BURUK,yang belum diíselesaikan...
Karena itu, penting bagi kita untuk melupakan MASA LALU kita agar dapat menjadi SUNGAI yang mengalirkan KEHIDUPAN BARU..
SUNGAI tidak bisa mengalirkan KEHIDUPAN BARU kalau masih ada SAMPAH, BATU dan LUMPUR.
Apapun yg Terjadi tetaplah SEMANGAT
Pohon Pisang
Pohon pisang adalah salah satu jenis tanaman tropis, yang mudah ditanam dimana saja, punya banyak manfaat, pelepahnya yang bisa di jadikan bahan kerajinan seperti tas, keranjang dan peredam suara (dalam bentuk anyaman tertentu), daunnya biasa digunakan sebagai pembungkus aneka makanan dan Jantung pisangnya bermanfaat dalam program diet dan mencegah diabetes, dan buahnya mempunyai kandungan nutrisi yang bermanfaat untuk meningkatkan ksehatan otak, melancarkan peredaran darah, mengurangi stress dan masih banyak yang lainya.
Batang pohon pisang jika di tebas melintang berapa kalipun, ia tidak akan mati sebelum berbuah. Dari bagian tengah batangnya ia akan tumbuh lagi menjadi tunas.
Seperti itulah harusnya kita dalam menjalani hidup, berapa kalipun masalah datang seakan ingin menebas habis hidupmu tak akan pantang menyerah untuk bangun dan tumbuh lagi hingga menghasilkan buah.
“Lihat pohon pisang, bila berbuah hanya sekali”
Meskipun hanya berbuah sekali tapi buah yang dihasilkan pohon pisang berjumlah puluhan yang hampir sama rata rasa dan ukuranya.
Begitu pula dengan hidup, jangan berhenti berusaha sebelum menghasilkan karya, walaupun hanya sekali tapi setidaknya bisa dinikmati oleh orang banyak atau orang-orang di sekeliling kita.
Setelah berbuah, pohon pisang itu akan mati. Tetapi sebelum mati dia sudah menyiapkan banyak tunas disekelilingnya yg siap menggantikannya. Pohon Pisang berbuah Pohon-Pohon Pisang yg lain.. Hidup ini berarti apabila kita juga bisa menjadikan orang lain berarti....
Mulailah dengan menjadikan anak-anak kita lebih baik dari diri kita...
Kemarin, Hari ini dan Esok
Dari 7 hari dalam seminggu, sebenar nya ada dua hari yang tidak perlu di khawatirkan. Coba tebak, hari apakah itu?
Dua hari tersebut adalah hari Kemarin dan hari Esok. Siapa yang perlu mengkhawatir kan lagi hari Kemarin?
⇉ Hari di mana semua kesalahan, kekurangan, kecewa, sakit hati kita alami.
⇉ Hari di mana kita kehilangan seseorang atau sesuatu yang kita sayangi.
⇉ Hari di mana kita merasa menjadi orang yang paling bodoh dan orang paling sial sedunia.
⇉ Hari di mana kita menyakiti hati orang yang kita cinta
⇉ Hari di mana kita mengalami kegagalan dan penolakan.
⇉ Hari di mana bahkan mungkin serupiahpun tak ada di dalam kantong kita.
Tetapi bagaimanapun semua hari itu sudah berlalu. Hari itu sudah usai dan berapapun uang yang kita punya, tak akan bisa dipakai untuk membeli dan mengembalikan masa lalu untuk diperbaiki.
Untuk itulah kita tak perlu berulang kali menoleh ke belakang dan meratapi semua yang telah terjadi.
Dan hari lain yang tak perlu kita khawatirkan lagi adalah hari Esok!
→ Hari di mana kita sangat penasaran akan banyak hal yg belum terjadi. Ya...!!! BELUM TERJADI.
→ Hari di mana kita tak tahu sampai kapan nafas kita akan berhembus, dan jantung kita akan berhenti berdetak.
→ Hari di mana mungkin kita akan berhasil tetapi mungkin juga bisa gagal.
•Tetapi mengapa harus kita khawatirkan ........?
Mengapa harus kita pikirkan kalau Hari Ini saja masih bisa kita perjuangkan?
Dan jika Hari Ini ada kesempatan kita melakukan banyak hal..
Maka .....
-> Lakukanlah semua Pekerjaan kita Sebaik Mungkin .
-> Lakukanlah semua hal yg kita Impikan dan kita Inginkan.
-> Lakukanlah semua hal yang bisa membuat orang-orang kita sayangi menjadi bahagia.
-> Lakukanlah semua hal positif yang bisa menggembirakan.
•Sehingga kita tak perlu lagi mengkhawatirkan hari kemarin dan hari esok.
Biarkanlah semua itu berjalan apa adanya. Mari kita berusaha untuk menjadi sebaik Mungkin.
Selasa, 21 Januari 2014
Umat Buddha Sejati
Seperti telah diketahui bersama bahwa masyarakat Buddhis terdiri dari para viharawan dan perumahtangga. Para viharawan adalah mereka yang telah meninggalkan keduniawian dan rumah tangga. Mereka tinggal di vihara agar dapat melaksanakan secara total Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Adapun para perumahtangga adalah umat Buddha yang tinggal dengan keluarga dan bekerja dalam masyarakat.
Dalam kehidupan sebagai umat Buddha, para viharawan maupun perumahtangga pada umumnya melakukan penghormatan kepada Sang Guru Agung yaitu Sang Buddha Gotama. Terdapat minimal dua macam penghormatan kepada Sang Buddha. Kedua bentuk penghormatan itu adalah penghormatan secara fisik dan secara mental. Penghormatan secara fisik dilakukan dengan mempergunakan berbagai benda sebagai sarana, misalnya mempersembahkan bunga, dupa serta lilin di depan Buddharupang atau perwujudan Sang Buddha yang biasanya berbentuk gambar atau arca. Persembahan ini sering pula.diikuti dengan pengulangan sabda Sang Buddha yang lebih dikenal dengan membaca paritta.Adapun penghormatan secara mental dilakukan umat Buddha dengan berusaha secara sungguh-sungguh melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Usaha melaksanakan Dhamma atau Ajaran Sang Buddha ini diharapkan menjadikan umat Buddha semakin baik perilakunya seiring dengan semakin lama ia menjadi umat Buddha.
Sesuai Dhamma, umat Buddha lebih diutamakan melaksanakan bentuk penghormatan secara mental. Hal ini tampak jelas dalam salah satu kisah murid Beliau. Ketika Sang Buddha masih hidup, pernah terdapat seorang bhikkhu yang sangat mengagumi Beliau. Bhikkhu ini bahkan merasa sangat bahagia jika ia mempunyai kesempatan berjalan di belakang Sang Buddha dan terkena bayang-bayang badan Beliau. Mengetahui hal ini, Sang Buddha memberikan nasehat kepadanya. Inti nasehat Beliau adalah bahwa mereka yang mengenal Beliau secara pribadi namun tidak melaksanakan AjaranNya, mereka sesungguhnya sama dengan orang yang tidak mengenal Beliau. Sebaliknya, sekalipun di masa depan apabila dijumpai orang yang tidak mengenal Beliau secara pribadi namun berusaha melaksanakan AjaranNya, orang tersebut sesungguhnya telah mengenal Beliau. Dengan demikian, Sang Buddha lebih menekankan pelaksanaan Dhamma secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari daripada kedekatan secara pribadi terhadap Beliau.
Pelaksanaan penghormatan secara mental kepada Sang Buddha diwujudkan dengan menjalankan AjaranNya. Secara ringkas, intisari Ajaran Sang Buddha adalah upaya mengurangi kejahatan, menambah kebaikan serta membersihkan pikiran.Upaya mengurangi kejahatan adalah kebajikan dalam bentuk negatif. Dalam hal ini, seseorang minimal berusaha keras menghindari lima perbuatan buruk atau lebih dikenal dengan Pancasila Buddhis. Kelima perbuatan buruk yang sebaiknya dihindari adalah melakukan pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan serta makan minum bahan-bahan yang dapat memabukkan serta menghilangkan kesadaran. Dengan melaksanakan kelima latihan kemoralan ini, seseorang akan dapat terbebas dari bentuk kesalahan dalam hidup bersama di masyarakat.
Adapun upaya menambah kebaikan adalah bentuk kebajikan yang positif. Penghormatan secara mental positif kepada Sang Buddha ini diwujudkan dengan melaksanakan minimal lima kebaikan yang sering dijadikan padanan dari lima upaya menghindari kejahatan yang telah diuraikan di atas. Kelima kebaikan itu adalah upaya mengembangkan cinta kasih dan belas kasihan yang sepadan dengan menghindari pembunuhan serta penganiayaan. Mempunyai mata pencaharian yang tidak melanggar Dhamma sejajar dengan upaya tidak mencuri. Mampu menahan nafsu indriya sehingga tidak melanggar kesusilaan. Selalu berusaha mengembangkan kebenaran melalui ucapan, perbuatan serta pikiran atau upaya untuk tidak berbohong. Adapun yang terakhir adalah berusaha mengembangkan konsentrasi dan kesadaran batin secara terus menerus dengan upaya untuk tidak minum dan makan bahan yang menghilangkan kesadaran atau memabukkan.
Jika umat Buddha telah melaksanakan unsur pengendalian diri atas minimal lima perilaku buruk dan telah mengembangkan sedikitnya lima kebaikan di atas, maka umat hendaknya melakukan penghormatan secara mental yang ketiga yaitu membersihkan pikiran. Latihan membersihkan pikiran dilakukan dengan membentuk kebiasaan sering mengucapkan pertanyaan dalam batin : SAAT INI SAYA SEDANG APA? Semakin banyak seseorang mampu menjawab pertanyaan tersebut, semakin kuat pula kesadarannya akan segala tindakan, ucapan maupun gerak-gerik pikirannya. Dengan selalu mengembangkan kesadaran ini, secara bertahap seseorang akan mampu membebaskan diri dari kemelekatan akan masa lampau yang sudah tinggal kenangan dan masa depan yang masih impian. Masa lalu menjadi pelajaran untuk diperbaiki saat ini. Masa depan menjadi tujuan segala perbuatan saat ini. Dengan demikian, saat ini menjadi saat yang paling berharga dalam kehidupan seseorang. Ia akan selalu memusatkan pikiran pada segala yang ia lakukan pada saat ini. Pemusatan pikiran inilah yang akan melenyapkan secara bertahap ketamakan, kebencian serta kegelapan batin yang dimiliki oleh setiap mahluk. Kondisi batin yang terbebas secara menyeluruh dari ketiga akar perbuatan ini sering disebut sebagai kondisi mereka yang telah mencapai kesucian. Hasil usaha keras dan tekun untuk mencapai tingkat kebersihan batin secara menyeluruh inilah yang menjadi tolok ukur seorang umat Buddha sejati.
Oleh karena itu, seorang umat Buddha sejati hendaknya tidak hanya memberikan penghormatan secara fisik saja melainkan juga secara batin. Penghormatan secara fisik, misalnya dengan mengikuti puja bakti di vihara adalah upaya mengkondisikan seseorang agar dapat mengembangkan kebajikan melalui badan, ucapan dan juga pikiran. Artinya, selama seseorang melakukan atau mengikuti kebaktian, batin dan badannya diarahkan untuk selalu berkonsentrasi pada kebajikan serta menghindari kejahatan. Upaya ini memang merupakan kamma baik. Namun, alangkah bagusnya bila upaya baik ini juga diiringi dengan pelaksanaan tiga intisari Ajaran Sang Buddha seperti yang telah diuraikan di atas. Pelaksanaan penghormatan secara fisik dan mental inilah yang seharusnya dilakukan oleh setiap umat Buddha.
Semoga keterangan singkat ini akan menambah semangat para umat dan simpatisan Buddhis untuk lebih meningkatkan upaya memberikan penghormatan secara mental kepada Sang Buddha Gotama.
Semoga semua mahluk selalu hidup berbahagia.
Alasan Menghormati Sang Buddha
Kurangi Kejahatan,Perbanyak kebajikan,Sucikan Pikiran,Inilah ajaran Para Buddha
Saudara-saudara, bersama-sama pada kesempatan ini kita menyambut peringatan Magha Puja. Magha Puja adalah merupakan salah satu hari raya Agama Buddha selain Waisak, Asaddha serta Kathina.
Pada saat Magha Puja, kita memperingati satu peristiwa yang cukup penting sejak jaman Sang Buddha yaitu berkumpulnya 1250 Bhikkhu, yang semuanya ditahbiskan Sang Buddha, yang semuanya Arahat, yang datang tanpa diundang.Kalau kita berbicara tentang berkumpulnya 1250 Bhikkhu yang Arahat pada saat Magha Puja, padahal Magha Puja ini terjadi 7 bulan setelah Sang Buddha mencapai Kesucian, Magha Puja ini kan kira-kira di Indonesia bulan Februari, Magha adalah nama bulan, kira-kira Februari. Kalau Sang Buddha mencapai kesucian di bulan Waisak, atau kira-kira di bulan Mei, maka Magha Puja ini kira-kira 9 bulan setelah Sang Buddha mencapai kesucian. Kalau kita perhatikan lebih lanjut, setelah Sang Buddha mencapai kesucian, Beliau tidak langsung mengajar. Beliau berdiam diri dulu selama 7×7 minggu, sampai dengan pengajaran Dhamma, yaitu di bulan Asadha. Asadha kira-kira di Indonesia bulan Juli. Jarak bulan Juli sampai Februari adalah 7 bulan jaraknya. Jadi selama 7 bulan ini ada orang yang mendengar Dhamma Sang Buddha dan mencapai kesucian, paling tidak 1250 orang yang mencapai kesucian, seperti makna yang terkandung dalam Magha Puja. Berarti kalau 1250 dibagi 7 bulan, berapa orang yang mencapai kesucian dalam sebulan? Sekitar 178 orang. Berarti dalam 1 bulan ada 178 orang yang mencapai kesucian. Satu hari kira-kira ada 6 orang yang mencapai kesucian.
Dengan demikian, ketika Sang Buddha mengajar, setiap hari rata-rata 6 orang yang mencapai kesucian dengan berbagai cara, dengan meditasi, dengan mendengarkan Dhamma Sang Buddha dan sebagainya. Apakah yang muncul dalam pikiran kita saudara? Kalau seorang guru mengajar, dan setiap hari bisa lulus 6, apakah tidak luar biasa cara guru itu mengajar? Anda sendiri yang kuliah, diterangkan oleh sang dosen, berapa persen yang Anda serap di kepala Anda? Apakah Anda bisa menyerap 100%, apakah hanya 70%, apakah 50%, apakah cuman 30% ataukah lupa semua? Apalagi kalau dosennya menjengkelkan, Anda masuk hanya karena absensi, pulang juga tidak mengerti apa-apa. Namun jika dosennya menyenangkan, Anda akan mendengar dengan baik, dan Anda bisa memahami pelajaran yang diberikan dengan baik.Kalau sekarang Sang Buddha mengajarkan Dhamma, 1 hari lulus 6 orang, apakah bukan dosen yang luar biasa baiknya? Rata-rata 1 hari 6 orang yang mencapai kesucian, sehingga 7 bulan setelah hari Asadha ada 1250 orang yang mencapai kesucian, paling tidak, sejumlah itulah mereka yang datang tanpa diundang, mungkin saja lebih dari itu. Namun yang disebutkan dalam Magha Puja Gatha, 1250 orang mencapai kesucian hadir tanpa diundang.
Kalau kita sudah kagum dengan Sang Buddha, maka di dalam Magha Puja Gatha juga disebutkan :“Dengan bunga, dupa dan lilin, saya menghormat Sang Buddha beserta para Arahat”. Kenapa menghormat dengan dupa dan lilin? Kenapa menghormat Sang Buddha dan para Arahat?
Kita menghormat kepada Sang Buddha salah satunya adalah karena Sang Buddha bisa meluluskan 6 orang dalam 1 hari, yaitu 6 orang mencapai kesucian dalam 1 hari. 7 bulan 1250 orang. Dan kenapa kita menghormat kepada para Arahat? karena Arahat inilah yang telah membuktikan kebenaran Ajaran Sang Buddha. Kalau hanya gurunya yang pintar, muridnya tidak ada yang lulus, maka guru boleh pintar tapi tidak bisa mengajar. Mungkin dosen Anda yang pintar, mungkin gelarnya sudah S2 atau S3, tetapi muridnya yang jadi mahasiswanya, sulit sekali lulus. Apakah hal ini karena sebenarnya dosen yang pintar atau murid yang kurang pandai? Tetapi Sang Buddha tidak demikian. Sang Buddha mengajar dan muridNya juga lulus. Ada guru yang mengajar dan muridnya tidak lulus-lulus, tidak bisa sama seperti gurunya, tetapi Sang Buddha ketika mengajarkan muridNya mencapai kesucian, dan itu sama pencapaiannya dengan yang dialami oleh Sang Buddha. Berarti sistimatika pengajaran yang baik sekali. Murid-murid mencapai kesucian menunjukan bahwa sistimatika pengajaranNya bisa diikuti oleh siapapun juga. Kalau sudah ada 1250 orang yang mencapai Arahat dalam 7 bulan, dan setelah itu masih banyak Arahat yang lain, maka tentu kita semua juga mempunyai kesempatan untuk mencapai kesucian pula.
Tetapi apa gunanya kita menghormat dengan lilin, dupa dan bunga? Lilin kalau kita pasang, sebetulnya itu adalah sebagai lambang penerangan. Walaupun siang hari cahaya lilin ini kurang berarti, umat Buddha tetap memasang lilin. Hal ini karena lilin adalah lambang penerangan. Lilin yang dipasang ada 2 yaitu di sini kiri dan kanan. Kedua posisi ini melambangkan pengertian yang benar tentang hal baik dan hal buruk. Di dalam Dhamma ini, kita harus bisa membedakan dengan jelas antara baik dan buruk. Kalau orang hanya tahu yang baik saja, nanti begitu ia mengetahui hal yang buruk maka ia akan bingung. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seseorang. Ia adalah orang yang benar-benar telah berubah cara berpikirnya. Apa yang membuat dia berubah? Sejak kecil dia diajarkan kebaikan, membaca paritta, menghormat orang tua, tidak mengeluarkan kata-kata kotor; semua yang baik-baik, yang jelek dipotong semua. Suatu saat dia lewat di pinggir sebuah vihara. Dia tidak masuk ke dalam vihara. Kebetulan waktu itu ia hanya lewat dengan mobil. Tiba-tiba dalam pikiran dia muncul kata makian terhadap Sang Buddha. Kata makian ini walaupun telah ia dihindari sejak kecil, ia tetap mendapatkannya dari teman kuliah, televisi, pergaulan dsb. Ia telah mendengarkan sekian banyak kata makian walaupun dia tidak pernah mengucapkannya sendiri. Anda semua tentunya jarang atau bahkan tidak pernah memaki, namun beberapa kata makian pasti masih Anda ingat bukan? Ada ‘kamus” maki-maki yang Anda miliki dalam otak meskipun tidak pernah Anda pergunakan.
Demikian pula dengan anak yang diceritakan ini. Begitu ia melewati depan sebuah vihara, tiba-tiba terpikirlah kata-kata makian dan ia memaki Sang Buddha dalam pikirannya. Ia merasa sangat bersalah luar biasa. “Aku sudah memaki Sang Buddha. Aku bahkan tidak pernah memaki orang biasa. Kini aku telah memaki Sang Buddha.” Pikiran semacam itulah yang menghantui dirinya.
Satu hari, dua hari, tiga hari, dia makin stress, “Aku kok sudah memaki Sang Buddha?” Akhirnya ia sulit tidur, tidak mau makan, dan ia kemudian benar-benar masuk rumah sakit jiwa. Ia masuk rumah sakit jiwa karena ia lewat vihara dan berpikir telah memaki Sang Buddha. Apa sebab keadaan ini bisa terjadi? Orang ini bisa demikian karena ia tidak pernah mengerti bahwa di dalam kehidupan kita, di dalam diri kita ada kebaikan dan tentu ada keburukan juga. Kita telah menjadi umat Buddha bukan berarti kita tidak boleh berpikir buruk, tetapi kita berusaha menghindari pikiran buruk.
Dahulu ada seorang bhikkhu yang baru saja ditabhiskan. Setelah menjadi bhikkhu, ia merasa masih mempunyai pikiran yang buruk. Ia akhirnya stress.”Aku ini sudah menjadi bhikkhu tetapi kenapa saya masih berpikir yang jelek-jelek”. Gurunya mengetahui kebimbangan yang ada dalam pikiran bhikkhu tersebut. Sang Guru kemudian berkata : “Meskipun engkau sudah ditabhiskan menjadi bhikkhu, hal itu bukan berarti segala bentuk pikiran yang dimiliki dapat segera berubah menjadi baik. Tidak demikian memang. Hal yang terpenting dalam menyikapi adanya pikiran buruk tersebut adalah dengan tidak melakukannya. Inilah perbedaan penting antara orang yang sudah menjadi bhikkhu dengan mereka yang belum.
”Nasehat inilah yang diberikan kepada umat yang sedang sakit karena merasa berpikir telah memaki Sang Buddha. Dengan merenungkan nasehat ini setiap hari maka akhirnya dia pun menyadari bahwa didalam dirinya ia mempunyai nilai baik dan nilai buruk.Oleh karena itu ketika kita memasang dupa dan lilin, kita memasang lilin dua batang atau sepasang, ada kiri ada kanan. Kita hendaknya mempunyai pengertian yang benar tentang baik dan buruk. Anda berbuat baik, tetapi di sisi yang lain mungkin anda benci atau mempunyai kebencian dengan objek kebaikan. Misalnya: Ke vihara, adalah berbuat baik, tetapi di satu sisi Anda mungkin punya pikiran “Aku ini sebenarnya malas datang ke vihara. Duduknya harus di lantai. Capai.” Anda mungkin senang ke sekolah. Namun Anda juga punya nilai benci, “Aku sebenarnya senang sekolah atau kuliah. Tapi kalau sudah waktunya harus menempuh ujian, saya sungguh tidak menyukainya.” Begitulah. Kita selalu mempunyai nilai baik, begitu pula dengan nilai buruk sebagai pilihan kita. Hal ini sama dengan memasang sepasang lilin yang bermakna mengetahui nilai baik dan juga nilai buruk.
Oleh sebab itu, pada saat pertemuan di bulan Magha, 1250 itu diberi nasehat oleh Sang Buddha: kurangi kejahatan, tambah kebajikan. Nasehat itu juga dapat disebut sebagai kedua sisi tadi. Bahwa kita masih mempunyai benih kejahatan. Pikiran kita masih bisa muncul pikiran jelek. Itu adalah normal. Kita mungkin masih ingin memaki orang. Kita mungkin masih ingin menyakiti orang. Namun, dengan kita mampu menyadari timbulnya pikiran buruk tersebut, kita dapat berusaha untuk mengurangi, mengurangi, mengurangi, sehingga akhirnya kita bisa menghentikan sama sekali timbulnya pikiran buruk itu.
Sebaliknya di sisi yang lain adalah menambah kebajikan. Sikap baik ini juga harus kita kembangkan. Inilah salah satu sisi kehidupan kita yang lain, bahwa kita mengetahui perbuatan yang baik. Bagaimana seharusnya kita melakukan sesuatu bahwa saya harus berbuat baik begini, saya harus berbuat begitu, saya tahu. Namun, kebanyakan dorongan kebajikan yang dimiliki tersebut hanya berhenti sampai disitu.Satu contoh sederhana:Surabaya banjir. Jakarta banjir, begitu pula dengan beberapa daerah di pantai Utara pulau Jawa. Namun sebaliknya, di beberapa daerah lain tidak ada banjir, adanya tanah longsor. Kita mengetahi bahwa para korban bencana alam itu sangatlah menderita. Kita tahu bahwa di berbagai media massa menyediakan kesempatan untuk membantu korban musibah ini. Mungkin akan timbul dalam pikiran kita : “Aduh kasihan orang yang menderita seperti itu” Namun, pikiran baik kita hanya berhenti sampai di situ saja. Dorongan untuk merealisasikan rasa kasihan tersebut kebanyakan hilang begitu saja. Kita tidak mewujudkan rasa kasihan dalam bentuk tindakan untuk segera membantu para korban dengan tenaga, materi maupun berbagai hal lainnya. Kita tidak melakukan hal itu.Kita sudah mengetahui bahwa telah ada “Dompet” bencana alam berarti ada kesempatan untuk berbuat baik. Kita sudah ingin menolong, namun tidak segera dilaksanakan. Inilah sisi baik dalam diri kita. Sudah baik kalau bisa memiliki hal ini. Namun, selama belum dilaksanakan, maka pikiran baik ini kurang bermanfaat untuk fihak lain. Oleh karena itu pada bulan Magha Sang Buddha mengajarkan, kejahatan yang kita miliki harus dikurangi, sedangkan kebaikan yang kita miliki harus dikembangkan. Kita tentu gampang melihat orang yang menderita di lingkungan kita, mungkin di perempatan-perempatan jalan kita melihat pengemis. Kita mungkin timbul rasa kasihan. Kita mempunyai uang untuk diberikan, namun kadang kita sempat berpikir: “Ah sudahlah, biarkan dulu saja. Besok sajalah baru dibantu. ” Dorongan berbuat baik yang telah timbul segera lenyap begitu saja. Dalam Dhamma hal inilah yang perlu disikapi secara hati-hati. Jangan sampai dorongan kebaikan yang telah kita miliki hilang begitu saja. Mari kita kembangkan. Mari kita lakukan. Kalau kita sudah berfikir hal yang baik, kita harus langsung kerjakan. Dengan demikian, kita bisa memupuk kebajikan sebanyak-banyaknya di masa sekarang.
Sebaliknya, kita juga mengetahi timbulnya pikiran buruk. Kita mengetahui bahwa, misalnya, nyontek adalah tidak baik. Namun, ternyata kita masih sangat sulit untuk menghentikannya. Dalam ujian, kita masihb berusaha menoleh kekanan maupun kekiri untuk mendapatkan jawaban ujian yang kita inginkan. Kadang kita memang mengerti hal-hal yang buruk. Pengertian ini timbul karena dalam diri kita sesungguhnya telah ada ukuran kejahatan. Sayangnya kita masih sering melanggar dan melakukan kejahatan itu. Apakah yang menjadi ukuran? Sederhana sekali. Apabila ketika kita melakukan suatu perbuatan dibarengi dengan jantung berdebar keras karena takut ketahuan orang lain, maka hal itu adalah perbuatan buruk atau tidak pantas kita lakukan. Jangan lakukan tindakan itu.
Kembali pada pesan Sang Buddha kepada 1250 orang bhikkhu di bulan Magha adalah untuk mengurangi kejahatan, menambah kebaikan serta menyucikan pikiran. Mengenai menyucikan pikiran semua orang tentunya sudah mengetahuinya. Para umat Buddha tentu lebih mengetahuinya karena menyucikan pikiran dapat dilatih dengan meditasi. Akan tetapi, berapa orang diantara kita yang rutin melakukan meditasi di rumah?
Padahal kita mengetahui bahwa meditasi adalah untuk mengembangkan pikiran yang positif. Meditasi untuk mengembangkan pengendalian pikiran. Sayangnya, kita tidak mau berjuang melatih meditasi. Oleh karena itu tidak salah, kalau pesan yang sudah diberikan Sang Buddha sekian ribu tahun yang lalu bahwa: kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan serta sucikan pikiran, kembali harus diulang lagi pada kesempatan ini untuk kita semua. Tidak salah, karena kita belum melaksanakannya. Kejahatan yang kita miliki masih terus dikerjakan. Kebaikan yang sudah ada dalam pikiran kita masih belum kita laksanakan. Meditasi yang telah kita mengerti manfaatnya, bahkan sudah sampai bosan dinasehati untuk bermeditasi, tetap saja masih belum kita kerjakan. Oleh karena itu, kita harus terus menerus merenungkan ketiga kalimat : kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan serta sucikan pikiran itu karena ketiga kalimat tersebut sebenarnya telah dilaksanakan oleh seorang yang telah mencapai Arahatta.
Kenapa demikian? Karena di dalam Dhamma diceritakan bahwa para Buddha yang terdahulu sebenarnya jika memberikan peraturan kepada para bhikkhu hanya 3 hal tersebut yaitu: kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan serta sucikan pikiran. Mereka semua kemudian mencapai kesucian tertinggi yaitu Arahatta. Namun, para bhikkhu di zaman Sang Buddha Gotama inilah yang paling banyak memiliki peraturan. Tampaknya hanya diberi ketiga kalimat : kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan serta sucikan pikiran saja masih kurang. Masih banyak bhikkhu yang bertindak kurang sesuai. Oleh karena itu, Sang Buddha kemudian terus menerus memberikan peraturan yang baru sehingga akhirnya mencapai 227 peraturan banyaknya. Namun, sebenarnya dasar utama yang perlu kita mengerti dari semua peraturan itu adalah : kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan serta sucikan pikiran yang akan mengantarkan seseorang mencapai kesucian.
Dengan memasang dua lilin pada saat memulai kebaktian berarti kita sebenarnya diharapkan untuk mampu membedakan antara hal yang baik dari hal yang buruk. Pada saat kita memasang dupa sampai habis meninggalkan sisa lidi adalah melambangkan kehidupan seseorang mulai dilahirkan sampai meninggal dunia. Semuanya pasti mengalami kematian.
Selama umur masih ada, selama kehidupan masih berlangsung, dupa memberikan wewangian ke seluruh penjuru ruangan. Demikian pula dengan kehidupan kita, selama umur masih ada, selama kehidupan masih kita jalani, kita hendaknya selalu bisa mengembangkan kebaikan, menghindari kejahatan, sehingga akhirnya muncullah bunga, bunga yang mewangi. Bunga yang mewangi melambangkan segala sesuatu yang indah, mekar di dalam pikiran kita, yaitu pencapaian kesucian. Oleh karena itu memuja Sang Buddha dan para Arahatta dengan bunga, dupa serta lilin, bukanlah sekedar bunga, dupa dan lilin secara fisik saja, melainkan hendaknya terjadi perubahan dalam perilaku kita. Perilaku kita hendaknya disesuaikan dengan apa yang kita dapatkan, yaitu kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan, sucikan pikiran.
Lebih hebat lagi, Sang Buddha memberikan kalimat yang terakhir setelah ketiga baris yang diuraikan di atas yaitu: Inilah ajaran para Buddha. Kalimat ini perlu disebutkan karena sejak dahulu kala sampai hari ini bahkan di masa yang akan datang, semua Buddha hanya mengajarkan kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan, sucikan pikiran. Kita sebagai umat Buddha, kemanapun kita pergi, apabila mengalami kesulitan untuk mendapatkan buku-buku Dhamma, maupun orang-orang yang dapat diajak berdiskusi Dhamma, maka kita cukup merenungkan ketiga kalimat : kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan, sucikan pikiran, karena itulah yang sebenarnya menjadi intisari Dhamma yang diajarkan Sang Buddha.
Selamat Magha Puja. Semoga pada saat kita melakukan penghormatan dengan bunga, dupa serta lilin kepada Buddha dan kepada para Arahat, kita hendaknya telah mampu merenungkan:”Sudahkan saya menjalani kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan, sucikan pikiran?” Karena dengan kita merenungkan serta menjalaninya, kita akan dapat menambah deretan orang yang telah mencapai kesucian.Kalau Dhamma yang diajarkan Sang Buddha dalam satu hari terdapat enam orang yang mencapai kesucian sehingga selama tujuh bulan terdapat 1250 orang, maka tentunya kurangi kejahatan, perbanyak kebajikan serta sucikan pikiran itu kalau kita laksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pun akan menambah jumlah mereka itu semua.
Semoga Anda selalu yakin dan bersemangat didalam Dhamma.Semoga semua mahkluk, baik yang tampak maupun yang tidak tampak akan memperoleh kebaikan, kebahagian sesuai dengan kondisi karmanya masing-masing.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhittata
Transkrip oleh: Gusti Benawi, Jerman
Editor: Bhikkhu Uttamo
Bangga Sebagai Umat Buddha
Keyakinan pada Ajaran Sang Buddha akan memberikan kebahagiaan di dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang.
Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang seorang umat Buddha berada sendirian di masyarakat. Kesendirian ini dapat terjadi karena jumlah umat Buddha memang tidak terlalu banyak di Indonesia. Namun, jumlah sedikit atau bahkan satu-satunya umat Buddha dalam suatu lingkungan hendaknya tidak membuat seorang umat Buddha kecil hati atau malah rendah diri. Ia hendaknya justru tetap berusaha mempertahankan keyakinannya pada Ajaran Sang Buddha.
Upaya mempertahankan keyakinan walaupun sendirian atau satu-satunya umat Buddha dalam suatu lingkungan ini hendaknya bisa meniru atau meneladani kehidupan Sang Guru Agung, Sang Buddha Gotama. Ketika Beliau masih kecil, sekitar umur tujuh tahun, Beliau sudah mampu bermeditasi sehingga mencapai tingkat konsentrasi yang tinggi. Jelas kemampuan ini adalah kemampuan langka untuk anak seusia Beliau. Kiranya Beliau adalah satu-satunya anak yang mampu mencapai tingkat meditasi seperti itu. Bahkan mungkin sampai saat ini sekalipun. Luar biasa !
Selanjutnya, pada usia 29 tahun Beliau rela meninggalkan istana yang mewah dan keluarga bahagiaNya untuk bermeditasi di hutan belantara yang berbahaya. Tujuan kerelaan Beliau ini adalah untuk berjuang mencari jalan keluar agar umat manusia tidak lagi menderita ketika mereka harus mengalami usia tua, sakit dan mati. Beliau menginginkan semua umat manusia berbahagia, terbebas dari semua penderitaan. Sungguh mulia niat Beliau. Beliau menjadi satu-satunya orang yang berpikir demikian. Luar biasa !
Selama bertahun-tahun tinggal di tengah hutan belantara, Beliau bermeditasi dan berpuasa dengan sangat disiplin. Akibatnya, badan Beliau menjadi sangat kurus hingga seperti tulang berbalut kulit saja. Latihan meditasi yang sedemikian hebat tidak pernah dilakukan oleh pertapa lain sebelumnya. Hanya Beliau satu-satunya pertapa yang mampu melakukannya. Luar biasa !
Namun, karena puasa yang berlebihan ternyata tidak membawa hasil seperti yang diharapkan, maka Beliau mengubah cara puasaNya dengan menerima dana makan agar Beliau tetap mampu menjaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaranNya kembali. Sikap menerima dana makan ini dianggap sebagai kelemahan dan kemunduran latihan puasaNya sehingga Beliau ditinggal oleh lima teman pertapaNya. Padahal kelima teman itu telah bertahun-tahun setia menemani Beliau. Tentu saja, setelah itu, Beliau menjadi satu-satunya orang yang berlatih meditasi tanpa teman yang membantunya. Luar biasa !
Selama sendirian bermeditasi, Beliau akhirnya menemukan cara untuk mengembangkan kesadaran pada segala gerak gerik pikiran, ucapan dan perbuatan. Beliau menemukan cara meditasi yang disebut dengan Vipassana Bhavana atau meditasi pandangan terang. Dengan cara meditasi seperti ini, Beliau akhirnya mencapai Nibbana atau kesucian sehingga Beliau tidak terlahirkan kembali. Apabila seseorang sudah tidak terlahirkan kembali, maka ia pasti tidak akan mengalami usia tua, sakit dan mati. Akhirnya, tujuan luhur inipun tercapai. Beliau telah menemukan dan mengajarkan satu-satunya cara bermeditasi yang dapat mengkondisikan seseorang terbebas dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin. Inilah sistem meditasi yang khas ditemukan oleh Sang Buddha. Sistem meditasi yang mampu membebaskan seseorang dari lingkaran kelahiran kembali, sakit, tua dan mati. Luar biasa !
Menyimak berbagai kelebihan Sang Guru yang luar biasa tersebut, kiranya dapatlah ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang ingin mencapai suatu keberhasilan, ia hendaknya mampu mempertahankan berbagai nilai tertentu. Memang, sebagai akibat keteguhannya dalam mempertahankan nilai tersebut, seseorang mungkin akan dijauhi oleh lingkungannya. Ini adalah hal biasa dan jangan terlalu dipikirkan. Ia harus yakin akan kebenaran serta kebaikan nilai yang ia pertahankan selama ini. Dalam pengertian Dhamma, nilai hidup yang perlu dipertahankan walau mungkin beresiko ditinggalkan oleh siapapun juga yang berada di sekitarnya adalah niat untuk melaksanakan hidup sesuai dengan Dhamma atau Ajaran Sang Buddha. Pelaksanaan Ajaran Sang Buddha ini diwujudkan dengan mengembangkan lima latihan kemoralan atau Pancasila Buddhis. Kelima latihan kemoralan itu adalah latihan untuk tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melanggar kesusilaan, tidak berbohong dan tidak mabuk-mabukan. Selain melaksanakan lima latihan kemoralan, ia hendaknya juga mengembangkan latihan konsentrasi dalam bermeditasi. Latihan kemoralan serta meditasi inilah yang perlu dipertahankan sampai kapanpun juga dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Bertahan untuk selalu melaksanakan Pancasila Buddhis tentunya lebih mudah daripada berusaha keras selalu melaksanakan latihan konsentrasi atau bermeditasi. Pelaksanaan Pancasila Buddhis biasanya masih didukung oleh masyarakat tempat seseorang bertinggal. Pada umumnya, masyarakat juga tidak mudah menerima orang yang gemar melakukan pembu6.nuhan, pencurian, perjinahan, bohong maupun mabuk-mabukan. Bahkan, kadang undang-undang suatu negara pun melarang warganegaranya melakukan lima tindakan buruk ini.
Namun, tetap giat berusaha berlatih meditasi itulah yang agak sulit dilakukan. Apalagi jika ia tinggal dalam lingkungan yang jarang bermeditasi atau malah anti meditasi. Buktinya, meskipun umat Buddha telah mengetahui bahwa Pangeran Siddhattha atau Calon Sang Buddha telah bermeditasi sejak usia tujuh tahun, namun masih sangat banyak umat Buddha yang tidak berusaha menirunya bahkan mereka yang sudah berusia tujuh puluh tahun sekalipun. Padahal, Dhamma lebih mementingkan perubahan perilaku, ucapan maupun pikiran daripada sekedar rajin mengikuti upacara ritual kebaktian. Adapun perubahan perilaku, khususnya cara berpikir hanya bisa dicapai dengan melatih meditasi.
Melaksanakan kemoralan memang bagus namun masih belum lengkap. Kemoralan, walaupun tidak diajarkan Sang Buddha, seseorang masih bisa mendapatkannya dari tata tertib yang berlaku dalam masyarakat, maupun adat setempat. Dasar pelaksanaan kemoralan adalah upaya menjaga kedamaian dan ketenangan dalam hidup bermasyarakat. Namun, melatih meditasi dengan cara seperti yang telah diajarkan oleh Sang Buddha yaitu Vipassana Bhavana kiranya sangat perlu untuk dipelajari dan dilaksanakan secara rutin. Dengan melaksanakan latihan meditasi ini seseorang akan dapat mencapai kebebasan dari kelahiran kembali. Pelaksanaan yang paling sederhana dari latihan meditasi ini adalah dengan selalu bertanya dalam batin, ‘Saat ini saya sedang apa?’ Kemampuan seseorang untuk selalu menjawab dengan tepat pertanyaan ini menunjukkan bahwa ia telah mampu mengembangkan kesadaran pada setiap saat kehidupannya. Inilah tujuan latihan Vipassana Bhavana.
Apabila seseorang telah mampu berlatih meditasi Buddhis yang disebut dengan Vipassana Bhavanaini maka sesungguhnya ia baru layak merasa bangga sebagai seorang umat Buddha. Kebanggaan sebagai umat Buddha bukan timbul karena ia telah lama mengenal Dhamma ataupun rajin melaksanakan upacara ritual. Bukan itu. Kebanggaan sebagai umat Buddha baru layak dimiliki apabila ia telah mampu melaksanakan Ajaran Sang Buddha dan mampu mengubah perilakunya menjadi lebih baik. Ia yang semula penuh ketamakan, kebencian serta kegelapan batin, apabila setelah mengenal dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha menjadi terbebas dari ketiga akan perbuatan itu maka pada tingkat seperti inilah ia layak berbangga.
Sebagai dasar agar seseorang mampu selalu bertanya, ‘Saat ini saya sedang apa?’ ia hendaknya mulai berlatih meditasi konsentrasi secara rutin. Lakukan meditasi konsentrasi setiap pagi bangun tidur dan malam menjelang tidur sekitar 15 sampai 30 menit setiap kali duduk. Carilah posisi duduk di lantai dengan bersila yang enak, tegak namun tetap santai. Letakkan kedua tangan di pangkuan. Telapak tangan kanan diletakkan di atas telapak tangan kiri dengan kedua ujung ibu jari dipertemukan. Pejamkan kedua mata dan pusatkan seluruh perhatian pada pengamatan saat nafas masuk dan keluar yang mengalir secara alamiah. Tanpa diatur maupun ditahan. Apabila pikiran memikirkan hal lain, maka segera pusatkan kembali pikiran pada obyek meditasi tersebut. Demikian seterusnya sampai waktu meditasi yang telah ditentukan selesai. Dengan rutin melatih meditasi konsentrasi seperti ini, maka pelaku meditasi akan mendapatkan banyak manfaat. Adapun sebagian manfaat yang dapat disebutkan di sini adalah:
1.Bila ia seorang pedagang yang selalu sibuk, meditasi menolong membebaskan dirinya dari ketegangan sehingga ia menjadi relaks kembali.
2.Kalau ia sering berada dalam kebingungan, meditasi akan menolong menenangkan diri dari kebingungan dan meditasi membantu mendapatkan ketenangan yang bersifat sementara maupun permanen.
3.Bila ia mempunyai banyak persoalan yang seolah-olah tidak putus-putusnya, meditasi dapat menolong menimbulkan ketabahan dan keberanian serta mengembangkan kekuatan untuk mengatasi persoalan tersebut.
4.Bila ia tergolong orang yang kurang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, meditasi dapat menolong mendapatkan kepercayaan terhadap diri sendiri yang sangat dibutuhkan. Memiliki kepercayaan terhadap diri sendiri adalah kunci rahasia kesuksesan.
5.Kalau ia mempunyai rasa ketakutan dan keraguan, meditasi dapat menolong mendapatkan pengertian yang benar terhadap keadaan yang menyebabkan ketakutan itu, dengan demikian, ia dapat mengatasi rasa takut tersebut.
6.Jika ia selalu merasa tidak puas terhadap segala sesuatu dalam kehidupan ini atau yang berada dalam lingkungannya, meditasi akan memberi perubahan dan perkembangan pola pikir sehingga menumbuhkan rasa puas dalam batin.
7.Jika ia ragu-ragu dan tidak tertarik terhadap agama, meditasi akan dapat menolong mengatasi keragu-raguan itu sehingga ia dapat melihat nilai-nilai praktis dalam bimbingan agama.
8.Jika pikiran kacau dan putus asa karena kurang mengerti sifat kehidupan dan keadaan dunia ini, maka meditasi akan dapat membimbing dan menambah pengertian bahwa pikiran kacau itu sebenarnya tidak ada gunanya.
9.Kalau ia seorang pelajar, meditasi dapat menolong menimbulkan dan menguatkan daya ingat sehingga apabila ia belajar akan lebih seksama dan berguna.
10.Kalau ia seorang kaya, meditasi dapat menolong untuk melihat sifat kekayaan dan mampu menggunakannya dengan sewajarnya, untuk kebahagiaan sendiri maupun kebahagiaan orang lain.
11.Jika ia seorang miskin, meditasi dapat menolong agar ia memiliki kepuasan dan ketenangan batin. Dengan demikian, ia akan terhindar dari keinginan untuk melampiaskan rasa iri hatinya kepada orang lain yang lebih mampu atau yang lebih berada daripadanya.
12.Kalau ia seorang pemuda yang kebingungan sehingga tidak mampu menentukan jalan hidup ini, meditasi dapat menolong untuk mendapatkan pengertian tentang kehidupan sehingga ia dapat menempuh salah satu jalan yang benar untuk mencapai tujuan hidupnya.
13.Kalau ia seorang yang telah lanjut usia dan merasa bosan terhadap kehidupan ini, meditasi akan menolong untuk mengerti secara mendalam mengenai hakekat kehidupan ini sehingga timbullah semangat hidup.
14.Kalau ia seorang pemarah, dengan bermeditasi ia dapat mengembangkan kekuatan kemauan untuk mengendalikan kemarahan, kebencian, rasa dendam dsb.
15.Kalau ia seorang yang bersifat iri hati, dengan meditasi ia akan menyadari bahaya yang timbul dari sifat iri hati itu.
16.Jika ia seorang yang selalu diperbudak oleh kemelekatan panca indria, meditasi dapat menolong mengatasi nafsu dan keinginan tersebut.
17.Kalau ia seorang yang selalu ketagihan minuman keras / sesuatu yang memabukkan, dengan bermeditasi ia dapat menyadari dan melihat cara mengatasi kebiasaan yang berbahaya itu. Kebiasaan yang memperbudak dan mengikatnya.
18.Kalau ia seorang yang pintar ataupun tidak, meditasi memberi kesempatan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan pengetahuan yang sangat berguna bagi kesejahteraan sendiri, keluarga serta handai taulan.
19.Kalau ia dengan sungguh-sungguh melaksanakan latihan meditasi ini, maka semua nafsu emosi tidak mempunyai kesempatan untuk berkembang.
20.Kalau ia seorang yang bijaksana, meditasi akan membawanya menuju ke kesadaran yang lebih tinggi dan mencapai “Penerangan Sempurna”, ia akan melihat segala sesuatu menurut apa adanya (sewajarnya).
Sedemikian banyak manfaat berlatih meditasi secara rutin yang bisa disebutkan dalam kesempatan ini. Tentu saja masih jauh lebih banyak manfaat lain yang tidak dapat disebutkan di sini. Namun, dengan mengerti sedemikian banyak manfaat meditasi yang mungkin bisa diperolehnya, seseorang hendaknya makin bersemangat untuk selalu berlatih meditasi secara rutin walaupun mungkin lingkungan tidak mendukung. Manfaat meditasi yang layak dijadikan kebanggaan ini tidak dapat dijumpai atau ditemukan dalam buku, apalagi dapat dibeli di warung. Uang tidak dapat dipakai untuk memperolehnya. Seseorang hanya akan mendapatkan semua manfaat tersebut apabila ia mau melaksanakan latihan meditasi secara rutin. Ia akan menemukan semua manfaat meditasi dalam pikirannya sendiri.
Menyadari sedemikian besar manfaat meditasi yang telah diajarkan oleh Sang Buddha, para umat hendaknya berbangga dengan ‘kehebatan’ Sang Guru Agung. Beliaulah satu-satunya guru yang pada usia 7 tahun telah mencapai tingkat tinggi dalam meditasi. Beliau pula yang dalam usia 29 tahun rela meninggalkan keduniawian, istana dan keluarga, untuk berusaha menolong penderitaan semua mahluk. Beliau juga yang pada usia 35 tahun mencapai kesucian karena usahanya sendiri. Beliau pula yang menjadi guru terlama karena mengajar Dhamma selama 45 tahun tanpa memancing timbulnya permusuhan dari fihak manapun juga. Inilah berbagai faktor yang ada dalam diri Sang Guru yang layak menjadi kebanggaan setiap umat Buddha. Namun, umat Buddha hendaknya jangan hanya merasa puas dan berbangga atas sedemikian banyak kelebihan yang dimiliki oleh Sang Buddha. Umat Buddha hendaknya berusaha meniru dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, umat Buddha akan memperoleh manfaat dan kebahagiaan dalam Buddha Dhamma. Umat Buddha yang mampu mengubah perilakunya menjadi lebih baik bahkan mencapai kesucian setelah melaksanakan Ajaran Sang Buddha, maka umat seperti inilah yang sesungguhnya layak berbangga.
Oleh karena itu, mulai sekarang juga jangan ada keraguan lagi dalam diri umat Buddha. Walaupun umat Buddha mungkin hanya satu-satunya dalam suatu kelompok masyarakat. Atau, ia satu-satunya umat Buddha dalam keluarga. Ia hendaknya menjadikan kesendirian ini sebagai pembangkit semangat seperti yang telah diteladankan oleh Sang Guru Agung dalam berbagai kisah di atas. Tunjukkanlah kepada lingkungan bahwa umat Buddha seperti sekuntum teratai yang mampu tumbuh indah dan bersih walaupun berasal dari lingkungan yang basah dan penuh lumpur. Laksanakanlah Ajaran Sang Buddha, khususnya berlatih meditasi dengan tekun serta penuh semangat sehingga umat Buddha dapat mencapai kebahagiaan dalam kehidupan ini, kebahagiaan dalam kehidupan-kehidupan mendatang dan bahkan kebahagiaan ketika ia berhasil mencapai kesucian yaitu Nibbana. Inilah kebanggaan yang layak dimiliki oleh seorang umat Buddha.
Semoga penjelasan ini akan membangkitkan kebanggaan positif umat Buddha karena ia telah mampu melaksanakan dan mendapatkan manfaat dari Buddha Dhamma.
Sesungguhnya orang yang yakin dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha akan berbahagia dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan-kehidupan yang akan datang.
Semoga semuanya selalu berbahagia.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.
Transkrip: Umat Buddha Medan
Editor : B. Uttamo
Kerang dan Airmata
Waktu kerang mencari makan didasar laut , ia akan membuka cangkang penutup badannya. Buka,tutup, buka,tutup.
Suatu hari disaat cangkang seekor kerang muda terbuka, sebutir pasir masuk ke dalam cangkang kerang itu.
Sang kerang muda menangis sambil memanggil-manggil ibunya.
"Bu sakit bu..ada pasir masuk ke dalam tubuhku".
Sang ibu menjawab: "Sabar ya nak, jangan pedulikan sakit itu, bila perlu berikanlah kebaikan pada sang pasir yg menyakitimu itu".
Kerang muda pun menuruti nasihat ibunya. Ia menangis, tapi air matanya ia gunakan untuk membungkus pasir yg masuk ke dalam tubuhnya.
Hal itu terus menerus dia lakukan. Dengan baluran air mata itu, rasa sakitnya pun berangsur berkurang bahkan hilang sama sekali.
Beberapa saat kemudian, kerang2 itu dipanen. Kerang yg ada pasirnya dipisahkan dari kerang yg tdk ada pasirnya.
Kerang tak berpasir dijual secara obral di pinggir jalan menjadi 'kerang rebus'. Sedangkan kerang yang berpasir dijual ratusan bahkan ribuan kali lipat lebih mahal.
Mengapa begitu?
Karena butiran pasir berbalut air mata yang ada di dalam kerang itu telah berubah menjadi Inti Mutiara.
Sama dg kita, bila dalam hidup ini kita tak pernah ditempa oleh kesulitan maka kita tidak akan punya nilai tinggi dan akan bernasib seperti kerang rebus yang dijual secara obral di pinggir jalan.
Sebaliknya kalau kita mampu menghadapi tiap kesulitan bahkan mampu memberi manfaat pada org lain ketika kita mendapat kesulitan, kita akan menjadi kerang Mutiara yg sangat dibutuhkan orang dan yg kita hasilkan juga dipakai oleh orang2 terhormat.
Hidup adalah pilihan.
Anda boleh memilih menjadi kerang rebus atau Mutiara....,
atau hanya sebutir pasir yg bikin air mata mengalir?
(*)
Dan.........
Sukses serta Kebahagiaan itu ternyata sering harus diawali dengan air mata.
Langganan:
Postingan (Atom)