Tutorial blog
Jumat, 08 Juli 2022
Mengenal Istilah Dalam Ajaran Konfusius
Kamis, 13 Mei 2021
Tanda Titik di Kepala Bhiksu
Tanda Titik di Kepala Biksu
Menurut tulisan Bhiksu ShengYen dari Dharma Drum/FaGuShan, beliau mengatakan cara ini sebenarnya bukan berdasarkan ajaran dari sang Buddha. Maksud beliau adalah jangan sampai kita menganggap ini merupakan ciri dari Buddhisme.
Namun tanda itu memiliki makna tersendiri, karena tanda ini dilakukan dengan cara menggunakan dupa yang menyala lalu ditindik ke atas kepala sang bhiksu, ini merupakan sebuah cara yang identik dengan membakar jari. Dalam salah satu kitab suci mahayana tertulis bahwa salah satu bentuk persembahan kepada sang buddha adalah membakar jari. Walaupun cara ini tampak ekstrim, namun memang ada yang melakukannya sebagai tanda ketulusan atas aspirasi mencapai pencerahan. Kita harus melakukannya dengan motivasi yang benar. Sama seperti metode Dutanga (praktek keras) yang dilakukan Mahakasyapa. Tidak semua orang sanggup menjalaninya. Tidak semua orang boleh menjalaninya. Sang Buddha bisa aja menyetujui anda menjalaninya tapi belum tentu menyetujui kepada orang lain. Demikianlah ajaran Buddha, sangat bergantung pada sikap batin para siswanya saat mendidik mereka.
Seiring dengan perkembangan jaman, hal itu menjadi kebiasaan Buddhist Tiongkok dan timbul pula segala macam alasan untuk mengartikannya. Tapi ada Bhiksu yang saya hormati mengambil hal itu sebagai bentuk pengabdian.
Menurut sumber lain, tujuan dibuat tanda ini:
- Melatih ketabahan jiwa
- Berjanji sesuatu kepada sang Budha
- Membersihkan karma-karma buruk di kehidupan sebelumnya
Titik itu awalnya dibuat oleh pemerintah di Tiongkok dinasti Yuan (Mongol) untuk memisahkan yang asli dan yang palsu mengingat banyak biksu palsu yang berkeliaran seperti halnya bhante yang tidak memiliki alis karena dulu banyak bhante palsu di Thailand. Ada pula yang bilang hal itu untuk mendiskirminasikan Bhiksu Mongol dan Bhiksu Han. Di India sendiri, hal itu tidak pernah dipraktekkan.
Rabu, 12 Mei 2021
VARUNI Jataka
VEDABBHA Jataka
DUMMEDHA JATAKA
Kamis, 19 November 2020
CARI TAU PENYAKIT
1. # Asthma
Bukan hanya karena terganggunya suplai oksigen ke paru-paru, akan tetapi Dikarenakan sering merasa "sedih" yang membuat kerja paru-paru tidak stabil, Jadi Coba Terus Membuat suasana Hati riang dan Refresing
2. # Liver
Bukan hanya karena kesalahan pola tidur, tapi sifat "ngrasani" orang lain yang justru merusak hati kita, Coba Untuk Membuat hati kita tenang Dan Damai.
3. # Maag
Bukan hanya diakibatkan karena kesalahan pola makan yg tidak teratur, Akan tetapi justru lebih didominasi karena "stress" coba untuk lebih Fress dan memerdekan Diri.
Bukan hanya diakibatkan oleh terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang asin, Daging tapi lebih dominan karena kesalahan dalam memanage "emosi" Jadi Coba dengan cara mengatur Emosi Dan Rasa.
Bukan hanya diakibatkan oleh sumbatan pada aliran darah ke jantung, tapi kita jarang sedekah atau memberi yang membuat jantung kita kurang merasakan ketenangan, sehingga detaknya tidak stabil
6. # Kolesterol
Bukan hanya diakibatkan oleh makanan berlemak, tapi rasa "malas berlebih" yang lebih dominan menimbulkan lemak, Jadi coba perbanyak Gerak Dan Tingkatkan semangat hingga Seluruh organ dapat bergerak.
7. # Diabetes
Bukan hanya karena terlalu banyak konsumsi glucousa, yang manis manis, tapi Bisa saja sikap "egois dan keras kepala" yang mengganggu fungsi pankreas, Coba Ikhlas Dan Rela Dalam segala Hal.
Presentase Indikator penyebab munculnya penyakit adalah karena masalah :
#Spiritual 50%
#Psikis. 25%
#Sosial. 15%
#Fisik. 10%
Jadi kalau kita ingin selalu sehat, perbaiki :
#Diri kita
#Pikiran kita
terutama hati kita dari segala jenis penyakit.
# Hindari:
Dari Rasa iri, dengki, pendendam, fitnah, benci, amarah terpendam, sombong, pelit, egois, keras kepala, sedih, malas, dan lainnya, karena itu sumber penyakit.
# SARAN
Perbanyaklah Doa dan jadilah orang yang mudah memaafkan, Lembutkan hati dan ikhlaskan yang sudah terjadi, Banyak Banyak bersyukur dan nikmati kebahagiaan sekecil apapun Jalin persaudaraan yang mengajak dan selalu mengingatkan dalam kebaikan Serap ilmu dari arah mana saja Dari kawan maupun lawan.
SILAKAN DICOBA DAN RASAKAN PERUBAHANNYA, BELAJAR MENGOBATI DIRI SENDIRI
---SEMOGA BERMANFAAT---
Sabtu, 24 Oktober 2020
Master Chin Kung Menjawab
Bunga Mekar Bertemu Buddha
Pertanyaan :
Praktisi yang melatih Pratyutpanna Samadhi dapat melihat para Buddha di sepuluh penjuru berdiri di hadapannya, apakah ini yang di sebut dengan bunga bermekar bertemu Buddha?
Master Chin Kung Menjawab :
Bertemu Buddha, ada yang benar-benar bertemu Buddha, namun juga ada Mara yang menyamar jadi Buddha. Darimana bisa membedakannya? Dari dalam hatimu sendiri. Setelah hatimu benar-benar telah suci, tak ternodakan, maka akan bertemu Buddha asli. Bertemu dengan Buddha asli juga tak perlu merasa kegirangan, begitu muncul rasa senang, maka Buddha adalah Mara, dia telah merusak kesucian hatimu.
Tujuan dari praktisi pelafal Amituofo adalah “pikiran terfokus tak tergoyahkan”, dia muncul untuk merusak pikiran terfokusmu, karena pikiranmu telah goyah. Begitu anda jadi kegirangan maka akan memberitahu orang lain : “Hari ini saya telah bertemu Buddha, lalu Buddha bagaimana-bagaimana……..”, maka itu anda sesungguhnya bertemu dengan Mara, bukan bertemu Buddha.
Di dalam Surangama Sutra tertera bahwa : “Meskipun melihat kondisi batin Buddha juga jangan dipedulikan, maka ini adalah kondisi batin yang bagus; jika sebaliknya malah melekat, begitu timbul kegirangan, maka kondisi batin ini adalah kondisi batin Mara”. Maka itu apakah itu adalah Buddha atau Mara tidak berada di luar, namun di dalam hati sendiri.
Seharusnya kala diri sendiri melihatnya, seharusnya menganggap tidak melihatnya, hati tetap suci, seimbang dan tercerahkan, takkan terpengaruh oleh kondisi luar, ini adalah kondisi batin Buddha. Meskipun melihat Mara, makhluk halus jahat yang menyeramkan, hatimu juga takkan goyah, seolah-olah tidak ada yang terjadi, rupa yang menyeramkan itu juga adalah Buddha.
Maka itu, hal yang membuatmu kegirangan atau mengeluh, maka kekotoran pikiranmu sudah digantungnya, inilah yang disebut kondisi batin Mara. Sebaliknya jika anda tidak timbul kerisauan, hatimu suci dan seimbang, kondisi batin apapun yang muncul adalah kondisi batin Buddha.
Jika sudah memahami prinsip ini, ketika anda membuka mata dan melihat banyak orang, anda merasa benci, maka muncullah kondisi batin Mara; jika anda melihatnya dan merasa sukacita, maka muncul juga kondisi batin Mara. Melihat semua kondisi batin dan hati tak tergoyahkan, maka pastikan takkan ada khayalan, perbedaan dan kemelekatan, takkan melekat pada “anggapan adanya aku, manusia, makhluk lain, dan kehidupan ini”.
Maka itu, melatih diri itu ada di mana? Yakni melatih hati dalam menghadapi masalah dan kondisi batin yang muncul, tanpa kondisi batin ke mana kita harus melatih diri? Seorang praktisi pergi ke mall jalan-jalan, ini juga melatih diri, di mall banyak tersedia produk-produk yang menarik hati, semuanya boleh dilihat dan diketahui, ini juga adalah kebijaksanaan. Setelah melihatnya bagaimana? Tak tergoyahkan, takkan ada niat pikiran “barang ini bagus ya, saya juga ingin memilikinya”. Samadhi adalah tidak timbul niat pikiran, tidak membeda-bedakan, ini adalah samadhi mendalam; “prajna(kebijaksanaan)” adalah melihat dengan jelas dan memahaminya. Samadhi dan prajna dipelajari dan aktivitas keseharian, mengenakan pakaian dan makan nasi, setiap aktivitas keseharian sekecil apapun adalah sila, samadhi dan prajna.
Maka itu bertemu Buddha, seharusnya bersikap melihat seperti tidak melihat, tak perlu bilang ke orang lain. Pada jaman dulu guru sesepuh Aliran Sukhavati yang pertama Master Hui Yuan, tiga kali melihat Alam Sukhavati, tidak pernah mengatakannya pada orang lain. Hingga saat menjelang ajal, pemandangan Alam Sukhavati muncul kembali, saat itu barulah memberitahu para hadirin : “Pemandangan Alam Sukhavati telah pernah muncul tiga kali, sekarang muncul lagi, saya akan pergi”.
Ketika ada orang yang bertanya padanya bagaimana rupa panorama Alam Sukhavati, beliau menjawab : “Serupa dengan yang tercantum dalam Sutra Usia Tanpa Batas”. Pada jaman Master Hui Yuan, sutra yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Mandarin masih sangat sedikit, hanya ada Sutra Usia Tanpa Batas, sedangkan Amitabha Sutra dan Amitayurdhyana Sutra masih belum diterjemahkan, maka itu pada jaman tersebut mereka mengandalkan Sutra Usia Tanpa Batas. Maka itu jika belum sampai saat menjelang ajal, tidak perlu mengatakannya pada orang lain.
Kemudian guru sesepuh dan para praktisi senior memberitahu kita bahwa andaikata kita memiliki kondisi batin maka boleh diberitahu kepada guru kita, memohon pada guru untuk memberi pengesahan, tetapi tidak boleh sembarangan dibilang ke orang lain. Mengapa demikian? Saat anda memiliki niat pikiran ingin mengatakannya pada orang lain, hatimu telah tercemar. Jika dapat melihat semua kondisi batin serupa tidak melihatnya, hatimu mengetahuinya namun takkan meninggalkan jejak di hati, ini adalah ketrampilan melatih diri yang tinggi!
