Minggu, 19 Januari 2014

Hubungan antara Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan Modern

0leh :Robert F. Spencer

Tidak akan ada yang mempermasalahkannya, kiranya, kecuali oleh ilmu pengetahuan itu sendiri, kalau dikatakan bahwa Agama Buddha itu merupakan suatu sistem, yang mempunyai pandangan yang objektif dan mandiri, mengenai sifat dan tujuan kehidupan manusia. Sifat objektivitasnya yang menonjol dari Agama Buddha, itu menyebabkan sistem Agama Buddha itu memisah dari Alam Agama, dan sekaligus mengakibatkan Agama Buddha lalu menggabung dengan jenis penyelidikan ilmiah yang berusaha untuk mencari Kenyataan (=Truth), yang mencirikan India pada zaman Gupta, dan periode-periode awal lainnya dari peradaban India, yang memungkinkan sekarang ini, sebagian besar para cendekiawan dari dunia intellektual, -baik di Dunia Timur, maupun di Dunia Barat-, terdorong untuk sibuk memperkembangkan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai Kenyataan-Kenyataan tersebut.

Penulis dapat memahami pendapat seseorang (walaupun pendapat itu tidak benar), yang mengatakan bahwa Agama Buddha itu memiliki sifat-sifat tersendiri, yang agak berbeda sifatnya dengan sifat-sifat yang terdapat pada Agama-Agama lain; Agama Buddha itu merupakan suatu sistem yang dapat dipergunakan untuk menghayati dan mencapai tujuan didalam hidup dan kehidupan di dunia, yang dilingkungi oleh kesukaran-kesukaran dan yang penuh berisi penderitaan-penderitaan itu. Saya juga dapat memahami pendapat seseorang (walaupun, sekali lagi, pendapatnya itu tidak benar), yang mengatakan bahwa Agama Buddha itu sepintas nampak seperti bukan Agama-Agama lainnya; saya katakan bahwa saya dapat memahami pendapat yang demikian itu, karena pendapat tersebut merupakan kesimpulan dari penilaian yang mendefinisikan Agama sebagai suatu pengalaman mystic, dan para penganut Aliran dari Agama Buddha tertentu, ada yang cenderung kurang tertarik perhatiannya kepada hal-hal yang bersifat mystic, yang katanya dapat menimbulkan gejolak perasaan tertentu, yang dinilai kurang positif.

Alasan yang mengeritik Agama Buddha sifatnya agak berbeda dengan Agama-Agama lain, ialah karena Agama Buddha itu kurang begitu menggaris-bawahi kepercayaan mengenai sesuatu, apabila yang dipercayai itu, merupakan sesuatu yang benar-benar sukar diketahui, atau bahkan bersifat tidak dapat diketahui oleh akal manusia, serta menolak dogmatisme. Yang saya sebutkan terakhir tadi, memang merupakan sesuatu yang mendorong lajunya perkembangan umat Buddha sendiri di Negara-Negara Buddhis, namun kiranya tidak ada penyelidik Agama Buddha yang menganggapnya sebagai pertumbuhan yang berlebihan, yang sia-sia, dan menyimpang dari konsepsi Dharma, yang bersifat ilmiah, dari Pendirinya.

Artikel ini memegang teguh pendapat bahwa Agama Buddha sebagai suatu sistem, itu dapat dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan, karena memiki kesamaan-kesamaan yang besar.Tetapi, juga terdapat perbedaan-perbedaan antara sistem Agama Buddha dan sistem Ilmu Pengetahuan : Sang Pemikir Buddhis itu memiliki kejernihan cara berfikir, sejernih tujuan-tujuannya: apabila Sang Pemikir Buddhis itu mempergunakan ilmu pengetahuan dan methode-methodenya, dia dalam mempergunakan sistem ilmu pengetahuan itu sadar bahwa ilmu pengetahuan itu hanyalah merupakan alat untuk mencapai tujuan, dan bukan merupakan tujuan itu sendiri. Dengan kata lain, umat Buddha melihat didalam ilmu pengetahuan itu, refleksi, atau pencerminan, mengenai prinsip-prinsip yang pernah diungkapkan oleh Sang Buddha, dan bahwa prinsip-prinsip yang terdapat didalam ilmu pengetahuan itu hanyalah merupakan ungkapan ulang saja, dari ungkapan-ungkapan yang pernah dikemukakan oleh Sang Buddha, yang pada zamannya Sang Buddha, hal-hal seperti yang terdapat didalam methodologi ilmiah, itu tidak pernah dianggap mutlak, seperti anggapan banyak ilmuwan sekarang. Sejak zaman sekarang ini, dunia tidak terpisah dari methode-methode ilmu pengetahuan; dalam hal ini, kita hanya akan mengemukakan catatan kita, yaitu betapa sangat bersesuaiannya ilmu pengetahuan itu dengan sistem Agama Buddha, yang telah didirikan oleh Sang Buddha, dua ribu lima ratus tahun yang lampau, di India.

Pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan modern hanyalah merupakan pemberi tambahan perspektif terhadap konsep-konsep yang telah ada di zamannya Sang Buddha, yaitu misalnya konsep tidak tetapnya dari segala sesuatu, mengenai kwalitas yang bersifat illusi atau khayalan, dan mengenai konsep anatman, dan sebagainya, yang telah dikemukakan lama sebelum abad yang sekarang ini. Sebagai tujuan itu sendiri, memang ilmu pengetahuan itu berkemungkinan mampu memecahkan problema-problema yang nyata-nyata dihadapi, misalnya mampu memberikan makan bagi semua penduduk bumi yang makin lama makin bertambah banyak, mampu membuat makin panjangnya umur manusia, tetapi juga makin mampu memberikan sarana-sarana yang effektif untuk menghancurkan kehidupan.

Jika kita tinjau, sekarang ini, ilmu pengetahuan itu tidaklah lebih dari suatu methode yang membuat orang-orang mengkultuskannya, yang menjadi sumber jawaban untuk mengatasi problema-problema; sedang pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya hakiki, misalnya mengenai tujuan manusia, mendapat tempat yang bukan yang paling utama. Nampak terdapat kecenderungan di kalangan para ilmuwan, yang menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai dogma, dengan maksud untuk menyisihkan perasaan-perasaan atau sikap-sikap keagamaan, agar tidak mencampuri kegiatan-kegiatan penyelidikan ilmiahnya. Yang demikian itu terjadi pada beberapa bentuk sekte Hinduisme kuno; mereka mencoba mencari keterangan mengenai Alam Semesta, dengan mempergunakan theori atom, sebagai sarananya, betapa pun cukup tepat konsepsi-konsepsinya; juga dapat kita temui keterangan bahwa para Brahmana di India, di masa-masa yang lampau, itu telah mencoba menghentikan, atau melenyapkan kematian, untuk mencapai keselamatan manusia, yang mungkin dapat kita katakan : mereka itu mencoba berkecimpung didalam aktivitas yang sifatnya ilmiah.

Sekalipun demikian, pada masa yang sekarang ini pun, keadaannya tidak berbeda, didalam kenyataannya, tujuan-tujuan ilmiahnya dari para ilmuwan, di dunia sekarang ini, walaupun terwarnai pula oleh sifat spiritual, tetapi lebih banyak terwarnai sifat materialisticnya.Methode ilmu pengetahuan itu, terutama berisi perumusan suatu hypothesa: pengetesan hypothesa tersebut, dan pernyataan, atau penyampaian hypothesa baru, atas dasar pengetahuan yang dicapai dengan eksperimen-eksperimen yang telah dilaksanakan.

Sang Buddha telah mengadakan eksperimen-eksperimen dengan idea-idea, tidak dengan benda-benda, -beliau telah mempergunakan kehidupan manusia yang penuh tempaan-tempaan kehidupan ini, untuk mengukur pengalaman-pengalaman manusia, untuk ditarik kesimpulannya, sebagai jawaban yang dapat memecahkan persoalan, atau melenyapkan penderitaan-penderitaan manusia, setelah masalah-masalahnya dikaji dengan penganalisaan yang paralel dengan cara kerja para ilmuwan.Ilmu pengetahuan itu dicirikan oleh sifatnya yang “teguh pendirian”, apabila sesuatu itu telah dikaji secara ilmiah dan tuntas, serta telah dinyatakan bahwa itu benar, sukar menarik kembali pernyataannya. Penyelidikan terhadap kenyataan (= atau Kasunyataan = Truth) itu tidak selalu mudah dilaksanakan, juga tidak selalu bersifat menyenangkan. Dikatakan juga bahwa Kenyataan itu dapat bersifat menyakitkan hati. Walaupun demikian, tetapi tetap bersifat benar, tetap merupakan kenyataan di mata siapa pun.

Dapatkah kami tambahkan bahwa Buddhisme yang aseli, itu menawarkan suatu usaha, sesuatu usaha yang membuahkan hasil yang baik, yaitu agar setelah menemukannya, mau mempertahankannya dan melihatnya secara objektif. Bagi kita semua, yang hidup di dunia ini, yang semuanya memang mencari kesempatan untuk menghayati saat-saat dapat bebas, walaupun sementara saja, dari terkena hukuman, untuk bebas dari terkena kecemasan-kecemasan; pendek kata, untuk mencapai apa yang kita namai kebahagiaan, yang oleh Sang Buddha mengenai masalah kebahagiaan itu, bersabda sebagai berikut : “Baiklah, anda ingin mencapai kebahagiaan, tetapi ingatlah bahwa penghayatan kebahagiaan itu tidak berlangsung secara abadi; hari ini anda dapat merasa berbahagia, tetapi itu sifatnya tidak tetap!”.

Sama seperti bahwa ilmu pengetahuan itu berusaha untuk mendefinisikan jawabannya secara objektif, tanpa terwarnai oleh emosi, demikian juga Agama Buddha itu membidik sasarannya dengan setepat-tepatnya, bebas dari stress emosional, – tekanan perasaan -, dan memberikan informasi kepada kita secara ringkas sifat yang sebenarnya dari sesuatu itu. Dapat saja kita tidak bersikap yang demikian itu, dan mungkin kita bersikap “teguh pendirian” dan akan melaksanakannya tidak hanya dalam kata-kata saja; tetapi sampai sejauh mana kata-katanya itu, menjadi perbuatan yang nyata, masih harus dibuktikan.Suatu contoh mengenai ciri “keras-kepala-nya” ilmu pengetahuan, yang juga segaris dengan yang diperkembangkan oleh umat Buddha, nampak didalam konsep karma. Bukankah hukum karma itu merupakan konsep dari Agama Buddha, yang sifatnva sederhana, namun lebih bersifat ilmiah!?!. Apabila orang memilih istilah lain, yang lebih nampak sebagai suatu kepercayaan, adalah prinsipsamsara.

Apabila kita tinjau secara objektif mengenai kehidupan-kehidupan di masa-masa kelahiran sebelum yang sekarang ini, baik kita tinjau sebagai berada didalam bidang waktu dan ruang, masalah samsara (atau reinkarnasi, atau tumimbal lahir), itu masih merupakan hal yang memerlukan keterangan-keterangan sejelas-jelasnya (walaupun itu adalah merupakan suatu kenyataan, dan tidak perlu diragukan akan kebenarannya!). Yang merupakan pembicaraan yang penuh arti, adalah bahwa “Diri saya” yang sekarang ini, tidaklah sama dengan “Diri saya” kemarin, tidak sama dengan keadaan satu tahun yang lampau, atau bahkan tidak sama dengan beberapa saat yang lalu. Walaupun tidak nampak dengan mata, namun “Ego” kita (= “Diri” kita), itu telah mengalami perubahan, wujud badan jasmani kita, itu dari satu saat ke saat berikutnya, keadaannya tidak sama. Pula, bahwa “Penghayatan Ke-Aku-an” dari individu, yang memiliki kemauan dan kebebasan ber-kehendak, itu dapat berbuat sesuatu, dan memang selalu berbuat sesuatu. Sesuatu perbuatan itu di-pra-kondisi-kan oleh perbuatan- perbuatan yang mendahuluinya. Perbuatan yang dilakukan sekarang ini, mempunyai effek-effek, atau akibat-akibat, untuk besok paginya, memiliki akibat-akibat di masa yang akan datang, di bidang perbuatan dan fikiran.

Penulis artikel ini, berpendapat bahwa itulah yang dinamai prinsip-prinsip karma dengan applikasinya. Itu sifat ilmiah, disitu tidak ada sesuatu yang kita namai esoteric, – keajaiban-keajaiban yang bersifat batiniah.Sudah sangat banyak dikemukakan orang mengenai hubungan antara Agama Buddha dan ilmu-ilmu pengetahuan alam, namun kiranya disini perlu juga saya sajikan uraiannya, asal tidak sampai ke hal-hal yang sekecil-kecilnya. Sifat dari zat, sifat dari realitas physik, problema-problema mengenai ruang dan waktu, semuanya telah terdapat secara implicit didalam ajaran-ajaran Sang Buddha.

Penulis artikel ini harus mengakui bahwa Sang Buddha itu tidak acuh tak acuh terhadap hubungan-hubungan yang bersifat mystic yang demikian itu, sama seperti bahwa beliau juga tidak acuh tak acuh terhadap hubungan antara jiwa (= mind) dan zat (= matter). Perhatian Sang Buddha terutama terletak didalam hubungan antara Agama Buddha dengan ilmu-ilmu pengetahuan sosial, yang merupakan bidang yang sangat luas, untuk memahami hubungan antara manusia dengan manusia, dan tidak antara atom dengan alam semesta yang tidak dihuni oleh makhluk.

Didalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial, sebagai misalnya anthropology dan sociology, usaha yang dilakukan orang, adalah memahami bagaimana orang-orang itu bertingkah-laku didalam kelompok, dan mengapa mereka itu bertingkah-laku yang demikian itu. Suatu aspek hubungan (yang sama), kita lihat juga pada ilmu ekonomi, dan ilmu politik. Masih dapat kita teruskan uraiannya, dengan menambahkan lagi dengan suatu disiplin ilmu pengetahuan, yang meng-evaluasi individu, yaitu psychology, atau ilmu jiwa. Didalam semua lapangan yang disebutkan dimuka tadi, orang dapat mengambil kesimpulan bahwa terdapat sesuatu yang maha penting, ialah : bahwa manusia itu bertingkah-laku, karena telah mengalami keadaan dipersyarati, – yang oleh ahli anthropology dikatakan karena terkena pengaruh warisan-warisan kebudayaan.

Kita dapat memahami pendapat orang-orang, yaitu bahwa kita dapat menganggapnya sesuatu tingkah-laku itu benar dan baik, sedang orang-orang lain (yang lain kebudayaannya dengan kebudayaan kita) mungkin menganggap itu sama sekali salah dan tidak baik. Ilmu-ilmu pengetahuan sosial itu mengajar kepada kita mengenai sifat relativisme-nya dari tingkah-laku manusia.Seandainya kita dapat menerima pendapat bahwa tingkah-laku manusia itu bersifat relative, maka sebagai akibat selanjutnya, adalah bahwa tidak ada konsep-konsep mengenai kebaikan atau kejahatan, yang mutlak. Memanglah, bahwa kebaikan dan kejahatan, itu sifatnya sangat relative. Sebagai seorang yang telah terlatih di bidang ilmu-ilmu pengetahuan sosial, yang telah memperoleh informasi-informasi mengenai cara kehidupan bangsa-bangsa di Dunia, yang berbeda-beda itu, penulis artikel ini dapat menerima pendapat yang demikian itu (bahwa tingkah-laku manusia itu bersifat relative).

Namun, hanya didalam ajaran Agama Buddha sajalah, yang beberapa dari konsep-konsep yang kacau, itu telah disusun kembali menjadi berkeadaan teratur. Coba, silahkanlah memperhatikan kenyataan bahwa Sang Buddha itu tidak pernah bersabda : “Janganlah anda…..”. Sang Buddha mengatakan bahwa adalah merupakan suatu idea yang bagus untuk menghindari jenis-jenis tingkah-laku tertentu, dan beliau juga memberikan sejumlah ajaran-ajaran, yang seluruhnya bersifat positif, terhadap para pengikut beliau. Agama Buddha itu ajaran-ajarannya dapat diterapkan bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang, kepercayaan, sistem ekonomi atau sistem politik, yang dianut seseorang. Yang diajarkan Sang Buddha tidaklah lain adalah kegiatan untuk mengembalikan lagi keseimbangan pada diri orang-orang. Bahkan lebih dari itu, Sang Buddha selalu mengharapkan agar pada diri orang-orang senantiasa berkeadaan seimbang kepribadiannya, sesuai dengan sudut pandangan Agama Buddha. Untuk menyadari konsep, atau ajaran anicca, jelas tidak perlu kita permasalahkan, itu adalah merupakan ajaran yang sangat berguna bagi semua orang.

Tetapi umat Buddha itu dapat menolong dirinya sendiri, dalam hal pencapaian tujuan-tujuannya, dengan menyadari dan mengikuti objektivitasnya para sarjana ilmu pengetahuan sosial. Dalam hal ini, yang saya maksudkan adalah bahwa para sarjana ilmu pengetahuan sosial itu dapat menarik-diri, tidak mau tenggelam dalam masalah-masalah yang dihadapi sesama manusia yang sedang mengalami permasalahan itu. Namun kadang-kadang para sarjana ilmu pengetahuan sosial itu ada yang tidak berusaha untuk membuat agar kehidupan sesama manusia berkeadaan lebih baik.

Namun lain yang dilakukan oleh Sang Buddha. Umat Buddha, itu walaupun melakukan yang sama dengan yang dilakukan oleh para sarjana ilmu pengetahuan sosial, yaitu tidak mau tenggelam pada permasalahan yang dialami manusia yang sedang menghadapi sesuatu masalah, tetapi sambil bersikap tidak mau tenggelam pada permasalahannya, Sang Buddha berusaha mencapai pemecahan, secara tidak langsung, didalam mengatasi problem-problema penderitaan yang dialami oleh manusia.

Sang Buddha berpendapat dan menyadari kenyataan bahwa orang yang dapat menolong dirinya sendiri, itu berarti tidak boleh tidak, dia dapat menolong orang lain juga. Sang Buddha itu menaruh perhatian sepenuhnya terhadap problema-problema kemasyarakatan dan kepribadian. Ahli Ilmu Pengetahuan Jiwa Psychoanalisa itu dapatlah didalam beberapa hal diperbandingkan dengan orang yang telah dapat mencapai Penerangan Sempurna (= Kesadaran Nirvana), tetapi orang yang telah memperoleh Penerangan Sempurna (= Enlightenment) itu tidaklah perlu harus diajar bagaimana cara bergaul dengan sesama manusia. Sifat dari Kesadaran Nirvana itu, tidak dapat tidak, juga mendatangkan sikap yang dimiliki oleh ilmuwan. Umat Buddha dapat menerima ketidak-terikatan yang sifatnya kontemplatif dari para ilmuwan. Didalam mengerjakan hal yang demikian itu, dia dapat menjadikan dirinya menjadi umat Buddha yang lebih baik, dan dapat mengikuti atau mempraktekkan lebih dekat dan lebih luas lagi, mengenai ajaran-ajaran pokok dari Agama Buddha. Objektivitas, atau sikap menghadapi masalah-masalah secara objektif, didalam menangani masalah-masalah manusia, tetap merupakan sikap mental yang penting hingga dewasa ini.


Jadilah Bijak

Jadilah Bijak

Di suatu padepokan di Tiongkok pernah hidup seorang Guru  yang sangat dihormati karena tegas & jujur. Suatu hari, dua murid menghadap Guru. Mereka bertengkar hebat & nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hitungan 3x7. Murid pandai mengatakan hasilnya 21, Murid bodoh bersikukuh mengatakan hasilnya 27.

Murid bodoh menantang murid pandai untuk meminta Guru sebagai Jurinya untuk mengetahui siapa yg benar di antara mereka, sambil si bodoh mengatakan :  "Jika saya yg benar 3 x 7 = 27 maka engkau harus mau di cambuk 10 kali oleh Guru !" tetapi kalau kamu yg benar ( 3 x 7 = 21 ) maka saya  bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri.

Demikian si bodoh menantang dgn sangat yakin akan pendapatnya.. "Katakan Guru, mana yang benar ?" tanya murid bodoh. Ternyata Guru memvonis cambuk 10x Murid yg PANDAI (yang menjawab 21). Si murid pandai protes . Sang GURU menjawab, "Hukuman ini Bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk  "KETIDAK ARIFAN"-mu  yang mau-maunya berdebat dgn orang bodoh yang tidak tau kalo 3 x 7 adalah 21!!" Guru melanjutkan : lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi ARIF daripada  harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia !

Pesan Moral,. Jika kita sibuk memperdebatkan sesuatu yg tak berguna, berarti kita juga sama salahnya atau bahkan lebih salah daripada orang yg memulai perdebatan! Sebab dengan sadar kita membuang waktu & energi untuk hal yg tidak perlu. Bukankah kita sering mengalaminya ? Bisa terjadi dengan pasangan hidup, tetangga dan keluarga. Berdebat atau Bertengkar untuk hal yang tidak ada gunanya, hanya akan menguras energi percuma. Ada saatnya diam bagi kita untuk menghindari perdebatan atau pertengkaran yg sia-sia. Diam bukan berarti kalah, bukan ? Memang bukan hal yg mudah, tapi janganlah sekali-kali berdebat dgn orang bodoh yg tidak menguasai permasalahan.So...Jadilah BIJAK..

Rabu, 25 September 2013

Gadis Inca Ini Dibekukan Hingga 500 Tahun



 Ini adalah sebuah fakta yang mengejutkan, namun juga ironis. Suku Indian di masa lampau memiliki sebuah ritual untuk mempersembahkan korban pada dewa-dewa yang mereka anut. Namun, suatu ketika di era modern ini, ditemukan jasad gadis Inca yang masih dalam keadaan baik, namun jasadnya sudah berusia 500 tahun lebih.
Kejadian ini terjadi di tahun 1999 di mana peneliti menemukan mumi gadis yang diperkirakan berusia 15 tahun saat dikorbankan ini. Konon, ia adalah salah satu gadis dengan dengan kondisi tubuh yang sempurna, sehat dan cantik. Namun sayang, ia hidup untuk dipersiapkan menjadi sesembahan bagi dewa.
Gadis ini tidak dibunuh langsung, melainkan diletakkan di puncak gunung untuk mengawasi pedesaan, seperti malaikat pelindung. Ritual ini bernama Capacocha.


(c) Time4Learning(c) Time4Learning

Dibandingkan penemuan mumi-mumi pada umumnya, mungkin inilah mumi dengan bentuk tubuh yang paling sempurna. Ia seperti baru meninggal seminggu sebelumnya, bukan seperti sudah bertahun-tahun. Setelah diteliti, gadis ini meninggal karena ada infeksi bakteri, rambut dan organnya utuh, darah mengalir pada paru-paru dan jantung. Ia juga memiliki kulit yang halus dan wajah yang masih berbentuk.


(c) Time4Learning(c) Time4Learning

Sepertinya hal ini karena sebulan sebelum ia dikorbankan, ia menjalani diet dan mengonsumsi makanan khusus. Misalnya diet pati dan protein selama berbulan-bulan, kemudian diberi nutrisi daun koka.
Saat dikorbankan di puncak gunung, mereka diberi banyak sekali minuman yang memabukkan untuk mengurangi sakit dan rasa takut saat akan dikuburkan. Gadis remaja ini meninggal dengan menggunakan pakaian yang baik, sepatu dan perhiasan dengan ornamen yang cantik, dengan dibungkus syal dan duduk bersila.


(c) Time4Learning(c) Time4Learning

Karena cuaca yang sangat dingin dan kekurangan udara, maka ia meninggal perlahan-lahan. Seperti dibekukan. Oleh karena itulah ia meninggal dengan bentuk tubuh yang masih bagus, muda dan baik meski sudah bertahun-tahun.
Meski menjadi salah satu penemuan yang menggegerkan dunia, namun hal ini juga mengundang kontroversial. Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk menyenangkan dewa atau apapun yang mereka sembah, tak selayaknya melakukan pengorbanan yang nampak tidak manusiawi, melainkan dengan perbuatan baik di dunia.


Sumber : Vemale.com




Pohon Uang Ternyata Benar-Benar Ada

Sering orang bilang istilah atau semacam idiom pohon uang, yang dimaksudkan mungkin hanya sekedar kiasan untuk istilah dalam kalimat tertentu. Namun yang satu ini adalah pohon uang sungguhan, dimana di pohon yang dimaksud bisa kita jumpai uang namun jenis uang koin beraneka ragam menempel di dahannya hingga menyerupai sisik-sisik.



Entah apa maksud dari pembuatnya yang jelas pohon uang ini benar-benar ada dan bisa dijumpai di dekat air terjun Ingleton di Inggris demikian dikutip ruanghati.com dari wikimedia, wah pohon uang itu bukan sekedar dongeng ternyata, dari kejauhan sekilas mirip batang pohon biasa yang berkulit dan serat agak kasar dan mirip bersisik, namun setelah kita dekati dan perhatikan benar-benar terlihat ratusan atau bahkan ribuan uang koin berbagai jenis ada menempel dan tertancap di pohon tersebut. Kalau saja pohon itu ada di kampung saya mungkin sudah habis koinnya apalagi kalau koin 500 atau 1000 an



Seekor Katak Kecil Memakai Payung Daun Pada Saat Hujan

Lucu! Seekor katak kecil memakai payung daun pada saat hujan


Katak kecil ini mendapatkan akal biar tidak terkenak hujan, dia menggunakan daun sebagai payung.
Gambar unik dan mengagumkan ini dimana seekor katak pohon sedang berlindung dari hujan diabadikan oleh seorang fotografer Penkdix Palme di  kebun belakang rumah tetanggganya.
Sang katak selama 30 menit berteduh dibawah daun ini, dan kelihatan sangat nyaman dibawah payung daun.
Sang fotografer mengambil foto ini pada enam bulan yang lalu, ia mengatakan sangat terkejut ketika melihat kejadian langka ini, sesuatu yang tidak biasa kita lihat.
Gambar ini diambil di daerah Jember, Jawa Timur, Indonesia.
 Katak kecil kecil tersentak menempel daun untuk berlindung dari hujan di Jember, Jawa Timur, Indonesia.
Amfibi pintar ini menempel pada 'payung' daun selama 30 menit saat hujan turun di sekelilingnya. 





Seorang Bayi Terlahir Tetap Terbungkus Kantung Ketuban




Boja-Realifact Post-Saat masih dalam kandungan, bayi berada dalam sebuah kantung yang berisi cairan ketuban. Kantung ini akan pecah saat menjelang persalinan. Pada kasus yang amat jarang, bayi bisa dilahirkan dengan kantung ketuban yang masih utuh. Bagaimana bisa?

Kasus tersebut baru saja terjadi di Yunani. Lewat bedah cesar, dokter kandungan bernama Aris Tsigris berhasil membantu persalinan bayi yang masih 'berenang' dalam kantung ketuban. Menurut istilah kedokteran, kelahiran seperti ini disebut en caul atau terselubung.

Dr Tsigiris adalah dokter kandungan yang berpraktik di Marousi, bagian timur laut pinggiran kota Athena. Dia mengatakan bahwa kelahiran seperti ini amat jarang dijumpai dan lebih sering ditemui pada bayi yang dilahirkan prematur. Diperkirakan, tak sampai 1 dari 80.000 bayi dilahirkan secara en caul.

Menurut sebuah penelitian di tahun 2010, kelahiran en caul diduga membantu melindungi bayi prematur yang masih rapuh dari tekanan di dalam rahim. Sebagai orang yang membantu persalinan bayi tersebut, dr Tsigiris menyatakan kagum saat melihat bayi yang masih terbungkus kantung ketuban.

"Terkadang alam melampaui dirinya sendiri, bahkan membuat dokter kandungan terdiam," katanya seperti dikutip dari Medical Daily, Jumat (7/6/2013).

Walau dilahirkan dalam gelembung berisi cairan, keselamatan bayi tak akan terancam karena sejak dalam kandungan bayi juga mengalami hal yang sama. Dr Tsigiris mengatakan, bayi tersebut tidak berisiko tenggelam karena plasenta terus memberi makan nutrisi dan oksigen lewat tali pusat.

Tapi bayi tersebut tidak dibiarkan lama berenang dalam cairan ketuban setelah dilahirkan. Dia segera menghirup napas pertamanya setelah kantung ketuban dipecahkan lewat teknik bedah sederhana yang disebut amniotomi, yaitu mengait membran kantung agar terbuka.

Oleh dr Tsigiris, foto bayi tersebut diunggah ke facebook dan mendapat lebih dari 10.000 jempol 'like' dalam waktu 24 jam. Sampai bulan Juni ini, foto tersebut sudah di-'share' hingga lebih dari 8.000 kali dan mendapat hampir 800 komentar.

Pada abad pertengahan di Eropa, bayi yang lahir dengan kondisi serupa sering diasosiasikan dengan hal yang berbau mistis atau tanda-tanda kebesaran. Bidan yang membantu persalinan sering memberikan kantung empedu bayi kepada ibunya agar disimpan sebagai pusaka.

Pada tahun 2011 lalu, aktris Jessica Alba pernah melahirkan seorang putri yang lahir dalam kantung ketuban yang masih utuh. Bayinya kemudian diberi nama Haven.
















Fenomena Hutan Bengkok di Polandia





Di Polandia, ada sebuah fenomena hutan unik yang hingga kini masih menjadi misteri. Pasalnya di hutan yang ditumbuhi ribuan pinus ini memiliki batang pohon yang seluruhnya bengkok ke arah utara. 

Di kenal dengan nama 'Crooked Forest' atau Hutan Bengkok, terdapat sekitar 4.000 pohon pinus tinggi yang batangnya membengkok ke arah utara. 

Terletak di dekat Gryfino, sebelah barat laut Polandia, Crooked Forest telah ditanam sejak tahun 1930. 

Menurut kisahnya, pada awalnya ke-4.000 pohon pinus ditanam dan dibiarkan tumbuh secara alami selama 7-10 tahun sebelum akhirnya dilakukan intervensi oleh manusia. Rumor menyebutkan bahwa pohon-pohon itu sengaja di bengkokan untuk membuat perabot yang akan digunakan untuk masyarakat sekitar. 

Mulai dari pembuatan mebel kayu bengkok, bahan untuk membuat lambung perahu atau untuk membuat belenggu sapi yang biasa digunakan untuk membajak sawah.

Sayangnya belum sempat dimanfaatkan, Perang Dunia II pecah dan membuatnya tidak jadi di panen. Hingga kini, seluruh pohon yang ada di hutan tersebut tetap dibiarkan dan tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kemungkinan siapa yang membengkokkannya.
 


 http://forum.viva.co.id/aneh-dan-lucu/494671-fenomena-hutan-bengkok-di-polandia.html