Rabu, 25 September 2013

Penemuan Mummi Wanita China yang Berusia 700 tahun




Para ahli arkeologi hingga sekarang masih menyelidiki tentang bagaimana jasad ini masih utuh dan tidak mengalami pembusukan padahal wanita ini diperkirakan telah meninggal sejak 700 tahun yang lalu. Banyak spekulasi tentang tehnologi pengawetan pada masa itupun mengemuka di kalangan para ahli.

Adalah Mummi yang diperkirakan berasal dari Zaman Dynasti Ming (1368-1644) ditemukan pada kedalaman dua meter dari permukaan tanah. Yang mengherankan dari Mummi ini jasadnya masih utuh seperti belum lama meninggal. Kondisi jasadnya masih utuh dengan mengenakan pakaian dan alas kaki khas China masa lampau yang masih utuh, bahkan cincin yang dipakai dengan mata cincin batu giok juga masih utuh. Aneh ya.

Rekan dan sobatku, para pekerja konstruksi jalan raya di kota Taizhou, Propinsi Jiangsu, China tanpa sengaja menemukan mumi seorang wanita yang kira-kira berumur 700 tahun. Mumi yang diduga berasal dari jaman Dinasti Ming (1368-1644) ini ditemukan di kedalaman 2 meter dibawah permukaan jalan. 

Ketika ditemukan, kondisi fisik mumi tersebut masih sangat baik, malahan alis matanya pun masih nampak jelas. Pakaian dan alas kaki yg dikenakan mumi tersebut juga masih dalam kondisi utuh. Silahkan lihat gan gambarnya berikut ini :














Keajaiban Alam Di Gurun Gobi

Indah sekali pemandangan di gurun ini...

 
Biasanya kita sering dibayangi dengan suasana gurun yang hanya berlatarkan tempat yang kurang menarik dan panas. Namun terdapat sebuah gurun yang terletak kira-kira 6 kilometer dari selatan bandar Dunhuang, China. 
Ia dikelilingi oleh gunung pasir menjadikan tempat ini satu keajaiban alam. Jika dilihat seolah-olah tempat ini menyerupai bentuk bulan sabit Sejak tahun 1960 kedalaman danau disini terus menurun, tapi pada tahun 2006 kerajaan setempat dengan bantuan kerajaan pusat untuk memulihkan kembali kedalaman danau ini. Yuk kita lihat gambar di bawah ini.




Selasa, 24 September 2013

Kitab Suci Agama Buddha

    Kitab suci agama Buddha yang paling tua yang diketahui hingga sekarang tertulis dalam bahasa Pâli dan Sansekerta; terbagi dalam tiga kelompok besar yang dikenal sebagai 'pitaka' atau 'keranjang', yaitu :








VINAYA PITAKAVinaya Pitaka berisi hal-hal yang berkenaan dengan peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni; terdiri atas tiga bagian :
    1. Sutta Vibhanga
    2. Khandhaka, dan
    3. Parivâra.

    Kitab Sutta Vibhanga berisi peraturan-peraturan bagi para bhikkhu dan bhikkhuni. Bhikkhu-vibanga berisi 227 peraturan yang mencakup delapan jenis pelanggaran, di antaranya terdapat empat pelanggaran yang menyebabkan dikeluarkannya seorang bhikkhu dari Sangha dan tidak dapat menjadi bhikkhu lagi seumur hidup. Keempat pelanggaran itu adalah : berhubungan kelamin, mencuri, membunuh atau menganjurkan orang lain bunuh diri, dan membanggakan diri secara tidak benar tentang tingkat-tingkat kesucian atau kekuatan-kekuatan batin luar biasa yang dicapai. untuk ketujuh jenis pelanggaran yang lain ditetapkan hukuman dan pembersihan yang sesuai dengan berat ringannya pelanggaran yang bersangkutan. Bhikkhuni-vibanga berisi peraturan-peraturan yang serupa bagi para Bhikkhuni, hanya jumlahnya lebih banyak.

    Kitab Khandhaka terbagi atas Mahâvagga dan Cullavagga. Kitab Mahâvagga berisi peraturan-peraturan dan uraian tentang upacara penahbisan bhikkhu, upacara Uposatha pada saat bulan purnama dan bulan baru di mana dibacakan Pâtimokkha (peraturan disiplin bagi para bhikkhu), peraturan tentang tempat tinggal selama musim hujan (vassa), upacara pada akhir vassa (pavâranâ), peraturan-peraturan mengenai jubah Kathina setiap tahun, peraturan-peraturan bagi bhikkhu yang sakit, peraturan tentang tidur, tentang bahan jubah, tata cara melaksanakan sanghakamma (upacara sangha), dan tata cara dalam hal terjadi perpecahan.

    Kitab Cullavagga berisi peraturan-peraturan untuk menangani pelanggaran-pelanggaran, tata cara penerimaan kembali seorang bhikkhu ke dalam Sangha setelah melakukan pembersihan atas pelanggarannya, tata cara untuk menangani masalah-masalah yang timbul, berbagai peraturan yang mengatur cara mandi, mengenakan jubah, menggunakan tempat tinggal, peralatan, tempat bermalam dan sebagainya, mengenai perpecahan kelompok-kelompok bhikkhu, kewajiban-kewajiban guru (âcariyâ) dan calon bhikkhu (sâmanera), pengucilan dari upacara pembacaan Pâtimokkha, penahbisan dan bimbingan bagi bhikkhuni, kisah mengenai Pesamuan Agung Pertama di Râjagaha, dan kisah mengenai Pesamuan Agung Kedua di Vesali. Kitab Parivâra memuat ringkasan dan pengelompokan peraturan-peraturan Vinaya, yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk dipergunakan dalam pengajaran dan ujian.


    SUTTA PITAKA
    Sutta Pitaka terdiri atas lima 'kumpulan' (nikâya) atau buku, yaitu :

    1. Dîgha Nikâya, merupakan buku pertama dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 34 Sutta panjang, dan terbagi menjadi tiga vagga : Sîlakkhandhavagga, Mahâvagga dan Pâtikavagga. Beberapa di antara sutta-sutta yang terkenal ialah : Brahmajâla Sutta (yang memuat 62 macam pandangan salah), Samannaphala Sutta (menguraikan buah kehidupan seorang petapa), Sigâlovâda Sutta (memuat patokan-patokan yang penting bagi kehidupan sehari-sehari umat berumah tangga), Mahâsatipatthâna Sutta (memuat secara lengkap tuntunan untuk meditasi Pandangan Terang, Vipassanâ), Mahâparinibbâna Sutta (kisah mengenai hari-hari terakhir Sang Buddha Gotama).


    2. Majjhima Nikâya, merupakan buku kedua dari Sutta Pitaka yang memuat kotbah-kotbah menengah. Buku ini terdiri atas tiga bagian (pannâsa); dua pannâsa pertama terdiri atas 50 sutta dan pannâsa terakhir terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah 152 sutta. Beberapa sutta di antaranya ialah : Ratthapâla Sutta, Vâsettha Sutta, Angulimâla Sutta, Ânâpânasati Sutta, Kâyagatasati Sutta dan sebagainya.


    3. Anguttara Nikâya, merupakan buku ketiga dari Sutta Pitaka, yang terbagi atas sebelas nipâta (bagian) dan meliputi 9.557 sutta. Sutta-sutta disusun menurut urutan bernomor, untuk memudahkan pengingatan.


    4. Samyutta Nikâya, merupakan buku keempat dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 7.762 sutta. Buku ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta.


    5. Khuddaka Nikâya, merupakan buku kelima dari Sutta Pitaka yang terdiri atas kumpulan lima belas kitab, yaitu :
    a. Khuddakapâtha, berisi empat teks : Saranattâya, Dasasikkhapâda, Dvattimsakâra, Kumârapañha, dan lima sutta : Mangala, Ratana, Tirokudda, Nidhikanda dan Metta Sutta.

    b. Dhammapada, terdiri atas 423 syair yang dibagi menjadi dua puluh enam vagga. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

    c. Udâna, merupakan kumpulan delapan puluh sutta, yang terbagi menjadi delapan vagga. Kitab ini memuat ucapan-ucapan Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai kesempatan.

    d. Itivuttaka, berisi 110 sutta, yang masing-masing dimulai dengan kata-kata : vuttam hetam bhagavâ (demikianlah sabda Sang Bhagavâ).

    e. Sutta Nipâta, terdiri atas lima vagga : Uraga, Cûla, Mahâ, Atthaka dan Pârâyana Vagga. Empat vagga pertama terdiri atas 54 prosa berirama, sedang vagga kelima terdiri atas enam belas sutta.

    f. Vimânavatthu, menerangkan keagungan dari bermacam-macam alam deva, yang diperoleh melalui perbuatan-perbuatan berjasa.

    g. Petavatthu, merupakan kumpulan cerita mengenai orang-orang yang lahir di alam Peta akibat dari perbuatan-perbuatan tidak baik.

    h. Theragâthâ, kumpulan syair-syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang Buddha. Beberapa syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian yang diucapkan oleh para Thera atas Pembebasan yang telah dicapai.

    i. Therigâthâ, buku yang serupa dengan Theragâthâ yang merupakan kumpulan dari ucapan para Theri semasa hidup Sang Buddha.

    j. Jâtaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu.

    k. Niddesa, terbagi menjadi dua buku : Culla-Niddesa dan Mahâ-Niddesa. Culla-Niddesa berisi komentar atas Khaggavisâna Sutta yang terdapat dalam Pârâyana Vagga dari Sutta Nipâta; sedang Mahâ-Niddesa menguraikan enam belas sutta yang terdapat dalam Atthaka Vagga dari Sutta Nipâta.

    l. Patisambhidâmagga, berisi uraian skolastik tentang jalan untuk mencapai pengetahuan suci. Buku ini terdiri atas tiga vagga : Mahâvagga, Yuganaddhavagga dan Paññâvagga, tiap-tiap vagga berisi sepuluh topik (kathâ).

    m. Apadâna, berisi riwayat hidup dari 547 bhikkhu, dan riwayat hidup dari 40 bhikkhuni, yang semuanya hidup pada masa Sang Buddha.

    n. Buddhavamsa, terdiri atas syair-syair yang menceritakan kehidupan dari dua puluh lima Buddha, dan Buddha Gotama adalah yang paling akhir.

    o. Cariyâpitaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu dalam bentuk syair, terutama menerangkan tentang 10 pâramî yang dijalankan oleh Beliau sebelum mencapai Penerangan Sempurna, dan tiap-tiap cerita disebut Cariyâ.

    ABHIDHAMMA PITAKA
    Kitab Abhidhamma Pitaka berisi uraian filsafat Buddha Dhamma yang disusun secara analitis dan mencakup berbagai bidang, seperti : ilmu jiwa, logika, etika dan metafisika.
     Kitab ini terdiri atas tujuh buah buku (pakarana), yaitu :

    1. Dhammasangani, terutama menguraikan etika dilihat dari sudut pandangan ilmu jiwa.

    2. Vibhanga, menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode yang berbeda. Buku ini terbagi menjadi delapan bab (vibhanga), dan masing-masing bab mempunyai tiga bagian : Suttantabhâjaniya, Abhidhannabhâjaniya dan Pññâpucchaka atau daftar pertanyaan-pertanyaan.

    3. Dhâtukatha, terutama membicarakan mengenai unsur-unsur batin. Buku ini terbagi menjadi empat belas bagian.

    4. Puggalapaññatti, menguraikan mengenai jenis-jenis watak manusia (puggala), yang dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu sampai dengan sepuluh, sepserti sistim dalan Kitab Anguttara Nikâya.

    5. Kathâvatthu, terdiri atas dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan-percakapan (kathâ) dan sanggahan terhadap pandangan-pandangan salah yang dikemukakan oleh berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan metafisika.

    6. Yamaka, terbagi menjadi sepuluh bab (yang disebut Yamaka) : Mûla, Khandha, Âyatana, Dhâtu, Sacca, Sankhârâ, Anusaya, Citta, Dhamma dan Indriya.

    7. Patthana, menerangkan mengenai "sebab-sebab" yang berkenaan dengan dua puluh empat Paccaya (hubungan-hubungan antara batin dan jasmani).
    Gaya bahasa dalam Kitab Abhidhamma Pitaka bersifat sangat teknis dan analitis, berbeda dengan gaya bahasa dalam Kitab Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka yang bersifat naratif, sederhana dan mudah dimengerti oleh umum.
    Pada dewasa ini bagian dari Tipitaka yang telah diterjemahkan dan dibukukan ke dalam bahasa Indonesia baru Kitab Dhammapada dan beberapa Sutta dari Dîgha Nikâya.


Pandangan Keliru Tentang Hukum Karma Di Ajaran Buddha

1. Karma hanya dianggap sebagai hal yang buruk saja.

Pandangan ini beranggapan bahwa karma hanya dianggap sebagai hasil yang buruk saja yang menimpa seseorang yang telah melakukan perbuatan buruk. Pandangan keliru (miccha ditthi) ini terjadi karena adanya kerancuan antara kamma (perbuatan) dengan kamma vipaka (hasil perbuatan) dan pemahaman yang salah terhadap karma. Padahal, karma yang berarti perbuatan sedangkan hasilnya disebut vipaka, tidak hanya berhubungan dengan perbuatan buruk ataupun akibat buruk semata, tetapi juga perbuatan baik ataupun akibat yang baik. Karma vipaka (hasil perbuatan) tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang buruk tetapi juga hal-hal yang baik yang dialami oleh seseorang. Contoh: seseorang gemar berdana sehingga ia dihormati oleh setiap orang. Gemar berdana adalah karma baik dan dihormati orang lain merupakan kamma vipaka (hasil perbuatan) yang baik.


2. Kamma vipaka (hasil karma) dianggap sebagai nasib atau takdir yang tidak bisa diubah.

Pandangan ini dikatakan keliru karena Ajaran Buddha tidak mengajarkan paham takdir (Niyativada), juga tidak mengajarkan paham bebas bertindak (Attakiriyavada), tapi suatu kehendak berprasyarat (Inggris: conditioned).
jika hal itu terjadi maka seseorang tidak akan dapat bebas dari penderitaan-nya. Padahal seseorang dapat mengubah apa yang sedang ia alami. Selain itu, Guru Buddha telah mengajarkan mengenai viriya atau semangat membaja yang berguna untuk mengatasi segala kesulitan. Sebagai contoh, seseorang yang lahir dalam keluarga yang kekurangan (miskin) karena kamma kehidupan lampau yang buruk yang telah ia lakukan dikehidupan yang lalu, ia dapat mengubah kondisi yang dialaminya tersebut dengan bekerja keras sehingga ia tidak lagi hidup dalam kemiskinan.


3. Prinsip kerja hukum karma adalah mata dibayar mata, nyawa dibayar nyawa.

Pandangan ini beranggapan bahwa karma akan selalu menghasilkan bentuk yang sama dengan hasil perbuatan (kamma vipaka), membunuh maka akan akan dibunuh, mencuri maka akan dicuri, menipu maka akan ditipu, dan sebagainya. Pandangan ini keliru karena karma memiliki karakter yang dinamis dan tidak lepas dari kondisi-kondisi yang ada, sehingga tidak selamanya bentuk dari hasil karma akan sama dengan bentuk karmanya. Tetapi yang dapat dipastikan adalah sifatnya, dimana karma yang sifat buruk pasti akan menghasilkan hal yang sifatnya juga buruk, karma baik pasti akan menghasilkan hal yang sifatnya juga baik.


4. Karma orang tua diwarisi oleh anaknya.

Pandangan ini beranggapan bahwa orang tua yang melakukan karma buruk maka hasilnya (vipaka) akan di terima oleh anaknya atau keluarga lainnya.
Pandangan ini keliru karena prinsip kerja karma adalah siapa yang melakukan perbuatan maka ia akan yang menerima hasilnya. 

Dalam Cullakammavibhanga Sutta; Majjhima Nikaya 135, Sang Buddha bersabda:
“Semua mahluk hidup mempunyai kamma sebagai milik mereka, mewarisi kammanya sendiri, lahir dari kammanya sendiri, berhubungan dengan kammanya sendiri, dilindungi oleh kammanya sendiri. Kamma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi.”

Dalam kasus tertentu terlihat sepertinya orang tua yang melakukan karma buruk dan anaknya yang mengalami penderitaan. Hal ini bukan berarti karma buruk orang tua diwarisi oleh anaknya, tetapi ini lebih berarti bahwa karma buruk orang tua tersebut memicu karma buruk si anak untuk berbuah. Dengan kata lain seseorang akan menerima akibat dari karmanya sendiri, tetapi karmanya dapat mempengaruhi atau mengkondisikan karma orang lain untuk berbuah.


5. Segala sesuatu yang terjadi pada saat ini adalah akibat dari perbuatan pada kehidupan lampaunya.

Pandangan ini beranggapan bahwa setiap kejadian yang kita alami; tersandung, jatuh sakit, menang undian, terlahir tampan, semuanya adalah hasil Karma lampau semata-mata. Dengan alasan yang sangat tepat Sang Buddha menolak kepercayaan salah tersebut. Sebab bila demikian halnya, maka sia-sia untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela, sebab keseluruhan hidup telah ditentukan sebelumnya. Pengertian salah seperti inilah yang membuat seseorang bersikap apatis/ pasrah dan tak bersemangat untuk berupaya memperbaiki karma buruknya.

Pada Angutta Nikaya I: 173, Sang Buddha bersabda: ”Ada beberapa pertapa dan kaum Brahmin, yang memercayai dan mengajarkan bahwa apapun yang dialami seseorang, menyenangkan, menyakitkan atau netral, semua disebabkan oleh kamma lampau.. Aku menemui mereka dan bertanya apakah benar mereka mengajarkan hal yang demikian, mereka ternyata mengiyakan.

Aku berkata: “Bila demikian, tuan yang terhormat, seseorang membunuh, mencuri dan berzina disebabkan kamma lampau. Mereka berbohong, berfitnah, berkata kasar dan tak berharga disebabkan kamma lampau. Mereka menjadi serakah, membenci, dan penuh pandangan salah disebabkan kamma lampau? Mereka yang mendasarkan segala sesuatu pada kamma lampau sebagai unsur penentu, akan kehilangan keinginan dan usaha untuk berbuat ini atau tak berbuat itu.”


6. Karma maupun vipaka (hasil karma) ditentukan oleh Tuhan.

Pandangan ini beranggapan bahwa semua yang diperbuat dan dialami seseorang pada masa sekarang, baik hal yang baik maupun buruk tidak lain merupakan kehendak Tuhan.
Pandangan ini keliru karena jika hal itu terjadi maka semua perbuatan dan semua yang dialami seseorang tidak lain hanya merupakan kehendak tuhan, sehingga seseorang tidak memiliki kehendak bebas, hanya akan menjadi “boneka” yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan dan akan menjadi seseorang yang tidak memiliki kewaspadaan dan pengendalian diri.

Hal ini telah dibabarkan oleh Sang Buddha dalam Tittha Sutta; Anguttara Nikaya 3: 61:
”jika memang demikian, maka seorang pembunuh, perampok, pencuri atau pelacur tidak perlu bertanggung jawab terhadap semua perbuatan buruknya atau dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan jahatnya, karena semua perbuatannya adalah atas kehendak Tuhan.”


7. Karma buruk dikehidupan lampau dapat dihilangkan/ dihapuskan.

Pandangan ini beranggapan bahwa karma (perbuatan) buruk yang telah dilakukan seseorang, dapat dihilangkan/ dihapuskan.
Pandangan ini keliru karena bagaimanapun juga perbuatan buruk itu telah dilakukan dan telah terjadi, sehingga akibat dari perbuatan buruk itu pasti akan diterimanya dan tidak dapat dihapuskan.

Sebagai contoh, Sang Buddha sendiri tetap menerima hasil dari karma buruk kehidupan lampau-Nya berupa terlukanya kaki Beliau karena batu yang digulingkan oleh Devadatta. Jika karma kehidupan lampau bisa dihapuskan maka Sang Buddha pasti dengan mudah menghilangkannya dan kaki Beliau tidak akan terluka.
Karma masa lampau tetap akan menimbulkan hasilnya seperti yang telah dijelaskan oleh 
Sang Buddha dalam 
Lonaphala Sutta; Anguttara Nikaya 3.99, dengan menggunakan perumpamaan garam yang sama banyaknya, yang satu dimasukkan ke dalam air di cangkir dan dan yang lain ke dalam Sungai Ganga. Garam diibaratkan sebagai karma buruk dan air adalah karma baik. Ketika garam dimasukan ke dalam sebuah cangkir maka rasa garam tersebut akan terasa asin. Sedangkan garam yang jumlahnya sama dimasukan ke dalam sungai, maka air sungai tersebut tidak akan terasa asin. Jadi karma buruk kehidupan lampau akan memberikan hasil/ dampak tetapi dengan adanya karma baik yang banyak yang dilakukan pada masa sekarang maka dampak dari karma buruk tersebut menjadi berkurang bahkan tidak terasa.


8. Hukum Karma hanya berlaku bagi orang yang memercayainya sesuai dengan agama yang dipeluknya.

Pandangan ini keliru, karena Hukum Karma sesungguhnya adalah merupakan hukum alam yang bersifat universal, yang memercayainya ataupun yang tidak memercayainya, tak peduli apapun agama dan kepercayaan yang dianutnya akan tetap menerima akibat dari perbuatan yang dilakukan oleh pikiran, ucapan dan tubuh jasmaninya sendiri.
Demikian pula bagi seseorang yang tidak percaya pada kehidupan masa lampau dan hukum Karma, tetap bisa berbahagia sebagai hasil dari perbuatan baiknya dimasa lampau.
”Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan engkau peroleh. Pelaku kebaikan akan memperoleh kebaikan. Pelaku keburukan akan memperoleh keburukan. Jika engkau menanamkan benih yang baik, maka engkau menikmati buah yang baik.” (Samyutta Nikaya I: 227).



http://api.ning.com/files/veMz9T-GfY4qcDKRQZQq7vS5-1yH0ASBTFS7I9ijxjSG*Sah5tL2yHC7OAtAqKET6PVgAKzmfrDsl27*he-PvGMzbN0Ik6al/karma.jpg
Sumber: ekonapiyanto.wordpress.com

 

50 Keajaiban Tubuh Manusia





Tahukah anda semua? Ternyata tubuh manusia terdapat keajaiban-keajaiban yang tidak kita sangka-sangka, agar anda percaya, marilah kita sedikit mengulik sebagian dari keajaiban tubuh kita ini.

  • Sebenarnya tubuh kita dapat tetap bertahan hidup walaupun sebagian besar dari organ tubuh kita hilang. Semisal anda kehilangan lambung, limpa, 75% dari bagian hati, 80% dari panjang usus, satu buah ginjal, satu sisi paru-paru, dan organ-organ di dalam rongga panggul anda, anda akan tetap bertahan hidup, meskipun tentu tidak sesehat manusia dengan organ tubuh lengkap.
  • Selama kita hidup, kelenjar air ludah menghasilkan air ludah yang jumlahnya kurang lebih cukup untuk mengisi dua buah kolam renang ukuran sedang. Mungkin air ludah sering dianggap sepele, tapi taukah anda bahwa air ludah membantu pencernaan kimiawi di dalam rongga mulut? Hal itu pula yang membuat kita dapat merasakan nikmatnya sebungkus nasi padang atau sepotong pizza.





  • Sel terbesar di dalam tubuh manusia adalah sel telur (ovum), yang dihasilkan organ reproduksi wanita, indung telur (ovarium), pada saat masa subur. Sedangkan sel terkecil adalah sel sperma yang dihasilkan di dalam organ testis milik pria. Bahkan sel telur (ovum) adalah satu-satunya sel yang dapat dilihat dengan mata telanjang.
  • Otot terkuat yang dimiliki manusia bukanlah otot lengan (bisep dan trisep) milik binaragawan, melainkan otot lidah. Sedangkan tulang terkeras yang kita miliki adalah tulang rahang bawah (mandibula). Kita dapat mengangkat beban berat dengan kedua tangan bukanlah semata-mata berkat kekuatan otot lengan, melainkan karena adanya andil dari posisi sendi, tulang, dan tempat perlekatan otot lengan, bahkan posisi tubuh dan sudut kemiringannya menciptakan daya angkat yang luar biasa, hal tersebut dapat dihitung dengan rumus pesawat sederhana dan daya ungkit pada pelajaran fisika.
  • Kaki manusia tersusun atas 52 buah tulang-tulang kecil, dan jumlah tersebut merupakan 1/4 dari jumlah seluruh tulang di dalam tubuh manusia.
  • Kaki kita memiliki 500.000 buah kelenjar keringat dan dapat memproduksi lebih dari satu pint (0,568 liter) keringat perhari.
  • Asam lambung yang dihasilkan kelenjar di dalam lambung sesungguhnya cukup kuat untuk melelehkan pisau silet. Namun lambung kita dapat tetap utuh karena dinding lambung kita dilindungi oleh lapisan lendir (mukosa) dan karena sel-sel dinding lambung dapat beregenerasi begitu sering (setiap tiga hingga empat hari sekali).




  • Paru-paru manusia mengandung sekitar 2.400 km jalan udara dan 300-500 juta buah kantung udara (dengan luas seluruh permukaan 70 meter persegi, kurang lebih setara dengan luas setengah lapangan tenis). Dan apabila seluruh pembuluh darah kapiler (pembuluh darah halus) paru-paru disambung menjadi satu, panjangnya dapat mencapai 992 km.
  • Udara yang kita hembuskan saat bersin kecepatannya mnecapai 100 meter per jam, sedangkan kecepatan udara saat batuk mencapai 60 meter per jam.

  • Panas yang dihasilkan tubuh kita cukup untuk mendidihkan setengah galon air hanya dalam waktu 30 menit.
    • Tubuh kita mengandung ion mineral zat besi (Fe) yang cukup banyak untuk membuat satu buah paku sepanjang 3 inchi.
    • Kotoran telinga bukanlah sekedar kotoran, melainkan sangat penting untuk menjaga kesehatan telinga kita. Kotoran telinga melindungi bgian dalam telinga kita dari bakteri, jamur, kotoran yang masuk, dan bahkan serangga. Kotoran telinga juga berfungsi untuk melubrikasi liang telinga.
    • Tiap orang memiliki aroma tubuh yang khas dan berbeda dengan orang lain, kecuali bagi mereka yang dilahirkan kembar identik, mereka memiliki aroma tubuh yang sama. 


    • Gigi kita sebenarnya sudah mulai tumbuh sejak kita masih berada di dalam kandungan, yaitu sekitar 6 bulan sebelum kita dilahirkan. Hal ini pula yang menyebabkan mengapa sekitar satu dari tiap 2.000 bayi yang lahir tampak telah memiliki gigi saat dilahirkan.
    • Panjang kepala bayi mencapai 1/4 panjang total tubuh bayi, tetapi ketika telah berumur 25 tahun panjang kepala manusia hanya sekitar 1/8 dari panjang total tubuhnya. Hal ini disebabkan karena kepala manusia memiliki rasio kecepatan pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan kecepatan pertumbuhan badan dan anggota gerak tubuh.
    • Seorang bayi dilahirkan dengan 300 buah tulang di dalam tubuhnya, tetapi ketika telah dewasa jumlah tersebut berkurang menjadi hanya 206 buah tulang. Beberapa buah tulang, misalnya bagian-bagian tulang tengkorak, perlahan-lahan akan saling berfusi (bergabung menjadi satu dengan bagian tulang lain) dan menjadi satu struktur tulang tengkorak.
    • Tidaklah mungkin seseorang dapat menggelitik dirinya sendiri. Hal ini disebabkan karena pada saat kita akan menggelitik diri kita sendiri, otak akan mengirimkan sinyal waspada pada anggota tubuh, sehingga sikap/posisi tubuh, kontraksi otot, dan respon sensoris telah disiapkan untuk menerima rangsang tersebut, pada akhirnya kita tidak akan merasa geli.
    • Hanya kurang dari 1/3 dari seluruh jumlah manusia yang memiliki penglihatan sempurna (visus 20/20), hal ini berarti hanya satu dari tiga orang yang dapat melihat dengan sempurna.
    • Hidung manusia dapat mengingat 50.000 jenis bau yang berbeda, dan wanita memiliki indera penciuman yang lebih tajam dari pria serta dapat mengingat seluruh bau-bauan tersebut dengan lebih baik.


    • Panjang seluruh pembuluh darah yag ada di dalam tubuh manusia apabila disambungkan menjadi satu dapat mencapai 60.000 mil.
    • Tiga hal yang paling sering muncul dalam mimpi seorang wanita hamil adalah katak, cacing, dan tanaman di dalam pot. Para peneliti masih belum mengetahui secara pasti penyebab hal ini, mereka memperkirakan hal ini kemungkinan disebabkan karena pengaruh perubahan hormonal selama kehamilan.
    • Usia rambut manusia rata-rata berkisar antara tiga hingga tujuh tahun, dan tiap hari manusia kehilangan sekitar 60 sampai 100 helai rambut. Tapi jangan khawatir, karena perubahan jumlah rambut anda baru akan dapat dilihat dengan mata telanjang apabila anda telah sekitar 50% dari seluruh jumlah rambut.


    • Sel otak manusia dapat menyimpan informasi hingga lima kali isi sebuah buku kumpulan ensiklopedi, otak menggunakan 20% dari seluruh oksigen yang terikat pada hemoglobin (sel darah merah) di dalam aliran darah manusia, sekitar 80% massa otak tersusun atas air, dan otak tidak dapat merasakan nyeri, otak hanya dapat mengirimkan sinyal rasa nyeri ke anggota tubuh atau organ yang dituju.
    • Gigi adalah satu-satunya bagian tubuh manusia yang tidak dapat memperbaiki dirinya sendiri.
    • Ukuran bola mata manusia tidak pernah berubah sejak lahir, sedangkan ukuran hidung dan telinga akan terus bertambah.